
.
.
.
ke esokan harinya Alya menguap lebar menemani saudara kembar laki-lakinya membeli Souvenir dari Paris untuk Peliharaannya.
"apa abang yakin beli lampu ini? ". tanya Alya dengan malas.
"kenapa? kamu nggak suka dek? ". tanya Arya
"ya ampun bang..! Papi udah sering belikkan cuma yang ini sedikit norak yang itu aja, sebagai perempuan Alya yakin pasti Kelinci kesayangan abang itu suka". tunjuk Alya dengan yakin.
Arya memanggil pelayan dan membeli kedua benda cantik itu, Alya sampai heran dengan tingkah abangnya itu tapi tidak berkata apa-apa sebab Alya tau abangnya itu sangat menjaga harga dirinya.
setelah membeli souvenir Arya dan Alya langsung kembali ke Bandara,
"Ayu bagaimana dek? ". tanya Arya
"katanya dia udah di Mansion". jawab Alya
"sebentar lagi kamu akan dipenjarakan oleh Ayu, tapi kamu tidak merindukannya dek?". kekeh Arya, Alya yang mendengarnya hanya mendengus pasrah.
"selama beberapa minggu tidak melihatnya udah pasti Alya rindu bang tapi kalau udah ada disisi Alya bisa sakit kepala Alya". dumel Alya
Arya tergelak, "dia hanya melakukan tugasnya! kamu harus ingat dia baru saja kehilangan jadi jangan kasar-kasar padanya".
Alya mengangguk, "masalah itu mah abang tenang aja, Alya tidak akan membuatnya sedih karna mengingat Ayahnya yang sudah tiada".
"bagaimana ibunya Dek? ". tanya Arya
"huuh.. katanya pindah kewarganegaraan dan akan tinggal di Indonesia, ingatan suaminya pasti membuat ibu Ayu sulit tinggal dinegara nya". Alya
"hmm.. Ayu wanita yang tangguh! hatinya sekeras baja dan masalahnya sangatlah berat". Arya
"ya..! " Alya memang mengakui sang bodyguard nya itu sangat hebat.
.
.
Indonesia
"Ayuuu?? ". teriak Alya berlari dengan raut wajah ceria menyapa sang bodyguard sekaligus sahabatnya.
"Nona? ". Ayu memutar kepalanya dan ikut berlari karna khawatir Alya tersungkur.
Arya melihat drama 2 teman baik itu hanya menggeleng kepala lalu melihat para manusia yang ada di bandara Indonesia kini tengah tertawa cekikikan antara lucu dan gemas,
__ADS_1
glek...!
ditatap oleh Arya yang mengeluarkan aura tak senangnya segera melarikan diri.
Hap...!
Alya memeluk Ayu dengan erat hingga Ayu tertawa kecil dengan tingkah manja Nona nya, terkadang Ayu merasa Alya bukanlah Majikannya melainkan adik kecilnya yang manja.
"Nona merindukan saya? ". tanya Ayu
"sangat". jawab Alya tertawa lebar
Ayu tersenyum
"bagaimana keadaan ibumu Ayu? ". tanya Alya
"sudah baikan Nona, terimakasih telah memberi saya libur yang sangat panjang". balas Ayu
Alya mendengus.
"hentikan drama kalian ayo pulang! ". Arya menengahi.
.
Alya dan Ayu tiba di mansion Melviano sementara Arya izin keluar setelah membersihkan diri di mansion Melviano.
"mau kemana sayang? ". tanya Shindy keluar dari dapur melihat Arya sudah berpakaian santai.
"kamu sayang..! hati-hati kamu akan jatuh cinta pada peliharaanmu itu dan juga jangan cium kening mami kalau tidak mau diledek oleh papimu". Shindy
Arya terkekeh, "papi kan lagi tidak ada".
"sana pergi..! Mami mau memberi makan malam untuk Ayu dan Alya". Shindy memberi izin Arya bertemu dengan Nia.
Shindy sangat mengenal putranya yang tak berbeda jauh dari Suaminya, Arya, Raya dan Satria sama seperti Dylan (suami) yang memiliki harga diri yang tinggi, enggan mengakui perasaan tapi sudah mengklaim sesuatu atas nama mereka masing-masing walau manusia disebut benda, binatang dan sebagainya.
mereka hanya membohongi perasaan masing-masing demi melindungi harga diri yang pada dasarnya memang arogan.
Arya mengecup kening Shindy lalu melarikan diri mengambil kembali Souvenir nya yang diletakkan dilantai olehnya.
"dasar anak sama Papi sama aja tidak ada bedanya sama sekali sama-sama suka membohongi perasaan masing-masing". Shindy bergumam sendiri sambil berjalan menuju lift.
.
setibanya di Restaurant tempat Nia Bekerja.
"ada apa ini? ". gumam Arya melihat keramaian di lobi utama (kasir).
"dasar jal*ng...! kau bilang apa sama Brayen hah? kau marah besar karna aku merebutnya begitu? kau gilaaa? aku dan dia sudah tidur bersama dan kau juga mau merebutnya? apa tidak ada pria lain yang bisa kau dapatkan hah? Brayen milikku dan kau... maka nya jadi perempuan tidak usah jual mahal, udah miskin sok punya harga diri". maki seorang wanita yang wajahnya sedikit mirip dengan Nia bisa disebut kembar.
__ADS_1
"aku yang memilikinya duluan kau menyerah cari pria lain sialan..!". maki Sitia lagi dengan marah (Tia).
Tia berusaha memukul Nia tapi beberapa pelayan dan Manager melindungi Nia, mereka juga tidak bisa berkata-kata sebab Tia juga termasuk 20 Top anggota VIP di Restaurant ini.
"Lepaskan aku...! lepaskan aku..! kalian tidak lihat betapa murahannya dia hah? pecat dia gilaaa... " amuk Tia seperti orang kesurupan.
Nia hanya bisa menangis dalam diam, Tia memang sangat jahat padanya yang sejak kecil sering menfitnahnya berbuat jahat pada Tia hingga kedua orangtua kandungnya membenci Nia seperti anak tiri karna terlalu jahat tanpa tau Tia lah yang sangat jahat.
Tia seperti Serigala berbulu domba sungguh licik dan jahat hanya karna Nia sejak SMP begitu disayang oleh orangtuanya, Nia selalu juara umum sedangkan Tia hanya bisa jadi yang kedua tidak sepintar Nia.
"tidak kak..! Aku tidak pernah merebut Brayen aku tidak mengatakan apapun padanya". bela Nia sesegukan.
"Chacha? ". gumam Arya mendengar isak tangis Nia.
Arya segera berjalan cepat ke arah kerumunan lalu bersuara,, "minggir kalian...! ".
Deg...!!
Seketika situasi menjadi hening lalu putar badan melihat kearah Arya, mereka segera memberi jalan sedangkan Tia yang benar-benar marah memanfaatkan situasi dengan cepat melepaskan diri dari para pelayan dan berlari ke arah Nia.
Arya mendekat dan dengan pergerakan cepat ia menahan pergelangan tangan Tia, "berani kau menyentuhnya dengan tangan ini, aku akan mematahkan jemari mu ini dalam hitungan detik".
Tia melototkan matanya seakan mau keluar dari sarangnya melihat Arya kini sedang berada di hadapannya.
"T.. tu. ann Mel..viano? ". gumam Tia seakan amarahnya surut begitu saja melihat Arya ada dihadapannya.
Arya tersenyum sinis lalu mendorong Tia yang melangkah mundur dan terjatuh tak elit karna heelsnya sendiri.
"Tuan? ". Nia mengusap air matanya.
Tia mendongak menatap Arya tak percaya, hatinya bertanya-tanya mengapa orang yang sangat berkuasa ini mendorongnya.
Arya berbalik badan dan berjalan mendekati Nia,
"angkat kepalamu! ". titah Arya
Nia mengangkat pandangannya dan bertatapan dengan mata biru laut Arya, Arya menatap tajam jejak di pipi Nia.
Arya memegang dagu Nia, "berani sekali dia menampar peliharaanku.!". gumam Arya dengan mata terpejam.
"kalian...! ". Arya menunjuk para Pelayan yang membela Nia tadi.
"tampar dia..! aku akan bayar 1 M 3 Orang pertama yang menamparnya sekuat tenaga". Arya berkata dengan tenang
"hah? ". gelisah, semua pelayan gelisah antara mau dan takut menampar Tia.
"aku akan melindungi pekerjaan kalian". sambung Arya.
.
__ADS_1
.