
.
.
Raya berjalan tenang melewati beberapa pelayan yang pura-pura sibuk dengan urusan mereka, padahal diam-diam mereka mencuri pandang melihat Raya yang sangat cantik di lihat secara langsung.
"Nona? ".
Raya menoleh ke asal suara.
"bi Asih? ". Raya berdiri di tempat sambil tersenyum tipis dan Bi Asih mendekati Raya.
"kenapa bi? ". tanya Raya
"saya buat Dessert yang enak Nona, saya mempertaruhkan Nyawa saja sebagai jaminan rasanya yang enak."
Raya melihat Dessert yang didalam kotak cantik, ukirannya sangat indah dan menarik perhatian Raya.
"apa dia tau? ". tanya Raya melirik ke atas.
Bi Asih tersenyum lembut, "Tuan master tidak akan marah Nona..! kami sering membuat seperti ini untuk jadi cemilan bersama-sama".
Raya tersenyum hingga lesung pipinya terlihat, benar-benar menawan pantas saja Master mereka tergila-gila pada sosok Raya bahkan rela menekan perasaannya demi tetap bersama Raya.
"baiklah aku terima. jika aku ketagihan aku tanpa malu akan datang kesini meminta dessert buatan bibi". kata Raya sambil menerima kotak kue nya
"dengan senang hati nona". balas mereka semua serentak.
Raya langsung berbalik keluar mansion megah itu, Dita segera keluar dari mobilnya dan membukakan pintu untuk Raya. Dita tidak pernah bosan menunggu Raya, sifat dingin dan kejam Raya saja dia bisa hadapi apalagi hanya sekedar menunggu, Dita bisa melakukannya.
saat mobil Raya keluar dari mansion itu, semua Pelayan Mansion Raka dan para penjaga mansion yang bertugas terkulai lemas di pijakan mereka masing-masing.
batin mereka berkata-kata mengenai sosok Raya, mereka senang Raya menginjakkan kaki di Mansion itu, yang menandakan Raka cukup diakui oleh Raya.
"tuan master benar-benar hebat..! " gumam Rio mengintip di jendela kamarnya.
tadinya Rio ingin menyambut Raya tapi di cegah oleh Jon, Jon sedikit tau hal yang Raya suka dan tidak suka karna sebelumnya Jon mencari tau lewat kegiatan Raya di kampus.
"seorang tuan putri sulung Shiraya Mahardika Melviano menginjakkan kaki di mansion ini tanpa di minta oleh tuan.. tuan hebat bisa membuat gadis arogan itu masuk ke mansion ini".
Raya kembali ke mansion Melviano
"udah pulang sayang? ". Shindy berjalan cepat menyambut Raya
"ada apa mi? kenapa kalian berkumpul? ". tanya Raya melihat Dylan, Arya dan Alya ada disofa tengah menatapnya.
"ayo duduk..! mami tadi khawatir kamu pergi entah kemana tapi Dita bilang kamu ke rumah teman ya? ". Shindy berkata
"apa itu kak? ". tanya Alya semangat
"oh.. dessert". jawab Raya menyodorkannya ke Dita.
"urus". perintah Raya dibalas anggukan oleh Dita.
"kak..! Kak Dita itu pengawal kakak bukan pembantu kakak". omel Satria
"bodo amat! dia tidak masalah kenapa kamu yang sewot? ". jawab Raya begitu mudahnya
__ADS_1
"kenapa sih kak? ". tanya Arya heran dengan kakaknya yang sudah mulai banyak bicara apalagi mengajak debat Satria.
"apanya kenapa? ". tanya Raya balik.
"kamu dari mana sayang? ". potong Dylan bertanya pada Raya
"dari rumah teman pi". jawab Raya jujur
"laki atau perempuan? ". tanya Dylan
"laki". jawab Raya hingga semua menoleh padanya.
"kakak punya teman laki-laki? ". beo Satria, Arya dan Alya serentak.
"hmm..! dia lumayan berguna! tidak ada salahnya berteman dengannya". jelas Raya mengambil sepotong kue yang telah dita potong
Raya tertegun di tempat merasakan Dessert nan lembut rasa Strawberry bercampur Blueberry, tiramisu, enak sungguh enak hingga Raya membeku karna baru pertama kalinya merasakan yang seperti itu.
"kenapa kak? tidak enak? ". tanya Alya mengambil kue itu sepotong dan memasukkannya ke dalam mulutnya
Alya pun melebarkan matanya, lidahnya meleleh seketika.
"kenapa sih? ". tanya Shindy
Shindy pun melakukan hal yang sama karna penasaran dengan rasa kue itu.
"aaakkkh...! ". pekik Shindy
"kenapa sayang? ". tanya Dylan khawatir.
"ini enak banget mas". heboh Shindy mengambil dengan tangan satu lagi.
"makan satu". Raya melirik Dita dengan pipinya yang belepotan cream
Dita mengambil satu dengan sopan dan raut wajahnya berubah, memang sangat enak.
"woww... !! kenapa bisa seenak ini? kakak beli dimana?? ". pekik Alya dengan mulutnya sama belepotannya dengan Raya.
Dylan pun penasaran dan memakan kue itu sepotong, Dylan mengangguk-ngangguk mengakui dessert ukuran besar itu memang sangat enak.
"dek..? " Raya mengudara melihat Alya tengah melarikan kue nya
"Alya yang punya.. hihihi.. ". tawa gembiranya berlari memasuki Lift.
wajah mereka semua sudah belepotan kecuali Dylan, Satria dan Arya. hanya Shindy, Raya dan Alya saja makannya begitu rakus namun terlihat imut pastinya.
"kamu beli dimana sayang? rasanya benar-benar meleleh". tanya Shindy
"dari koki di rumah teman! katanya enak bahkan berani mempertaruhkan nyawanya untuk menjamin rasa kue itu". jawab Raya mengambil tisu dan mengelap tangan dan bibirnya.
"mempertaruhkan nyawa? ". beo mereka kompak.
"ya udahlah.. tangan Raya terasa lengket, mandi dulu ya. !". Raya pun pergi dari sana.
Dylan melihat ke arah Dita dan mengajaknya berbicara empat mata.
"apa temannya pria yang aku beritau padamu? ". tanya Dylan serius.
__ADS_1
"benar tuan". jawab Dita
"oh..! ya sudah kembali ke kamarmu". titah Dylan dibalas tundukan hormat oleh Dita
.
.
Raka di mansionnya kembali melukis wajah Raya yang tadinya tertawa di depannya.
"aku tidak menyangka bisa membuatmu dekat denganku Raya, walau takut.. ya kamu benar.. kita akan hadapi bersama, aku jamin cinta kita akan bersemi di dunia Mafia". gumam Raka begitu bahagia melihat hasil lukisannya.
.
ke esokan harinya,
Raka keluar mansion menuju perusahaannya, ia di hadang oleh sebuah mobil mewah dan keluarlah Robert dengan penampilan formalnya.
Raka menghela nafas lalu keluar dari mobilnya memasukkan kedua tangannya ke kantong celananya.
"apa? ". tanya Raka
"kita impas..! anak buahmu dibunuh oleh anak buahku begitu juga sebaliknya". kata Robert
"lalu apa maumu? ". tanya Raka dengan dingin seperti biasa.
"kedepannya jangan ada saling membunuh..! aku akan balas kau dengan cara berbeda, tapi aku tidak janji anak buahku akan menyerangmu karna tergantung mood ku".
Raka melihat arah lain,
"sudah? singkirkan mobilmu aku mau lewat". tukas Raka dengan serius.
"owwh..! ". Robert segera memasuki mobilnya dan memberi jalan untuk mobil Raka pergi.
Robert tersenyum misterius melihat kepergian Raka, "kau tidak tau rencanaku master? bukankah kau seorang master yang selalu mengetahui rahasia lawanmu? ".
Raka tiba di perusahaannya. Raka harus menemui Klien hari ini bertemu di restaurant ternama.
"maaf membuat anda menunggu..! ". Raka duduk di depan klien yang sedang menunggunya
wanita itu hendak marah namun melihat Raka adalah rekan kerjanya yang baru membuatnya membeku di tempat, Jon sebagai asisten Raka sudah tau gelagat wanita itu.
"bisa kita lanjutkan? ". tanya Raka dengan wajah datar.
"bisa". jawab wanita itu langsung berubah mode anggun.
"kenapa papa tidak bilang kalau aku akan bertemu dengan CEO tampan? haissh.. ". teriak wanita itu dalam hati.
.
.
.
selamat beraktifitas...!!
.
__ADS_1
.
.