Kekasih Impian MR. Mafia

Kekasih Impian MR. Mafia
tugas


__ADS_3

.


.


keesokan paginya.


Raka pagi-pagi buta telah menunggu di tempat janjian, ia memakai tuksedo putih sesuai dengan baju ijab kabul yang di kenakan Raya.


"Raka? kamu udah sampai? cepat sekali? ". Shindy tiba dan melihat Raka tertidur dengan posisi menyandar di dinding, padahal Raka tidak tertidur hanya memejamkan mata untuk menenangkan diri.


"Eh.. Mami? ". Raka bangkit dan menyalami calon mertuanya itu.


"ciee.. abang ipar? ". goda Alya


Raka menggaruk tengkuknya yang tak gatal,


"kalau kak Raya sampai menangis kepala abang jadi taruhannya? ". ancam Satria


"jangan hancurkan kepercayaan kami bang..! Kak Raya adalah harta berharga di keluarga Melviano sampai dia terluka sedikit saja, kaki abang akan aku patahkan, aku tidak mau kakakku tersiksa batin". sambung Arya


"iya..! abang akan pegang semua yang kalian katakan..! terimakasih telah mempercayai abang yang tidak ada apa-apanya ini. abang berjanji akan menjaga Raya dengan sangat baik". ucap Raka dengan serius.


"salam sambutan hangat dari kami abang ipar". Arya dan Satria memeluk Raka dengan singkat.


Alya dan Shindy tertawa saja melihatnya,


.


.


tak berapa lama kemudian, Raya tiba bersama, Dylan, Nova, Nola, Arvan, sedangkan Anak-anak Nova yang lain kuliah di luar negri yaitu Damar dan Wulan bersama sang suami yang mengurus keperluan kedua anaknya, Candra akan kembali sore ini. saat ini Candra masih didalam pesawat.


Mayra dan Keyzo juga tiba dengan mobil berbeda, Raka menutup mulutnya yang terbuka melihat para saksi yang datang, gugup...! Raka makin gugup saja saat ini.


Kanaya dan Rahman tidak bisa datang, mereka tidak bisa meninggalkan pondok pesantren. Ijab kabul Raya dan Raka di gelar secara tiba-tiba.


kini Raya telah tiba di hadapan Raka,, "sayang? ". gumam Raka.


Glek...!,


Raka hendak memeluk Raya namun tiba-tiba telinganya ditarik oleh Dylan hingga yang lainnya tergelak menutupi tawa masing-masing, sebab mereka berada di tempat suci jadi sedikit menghargai.


"enak aja peluk-peluk putriku..! nikahkan dia baru kamu boleh memeluknya". omel Dylan


"i.. iya Pi..! Raka kan cuma meluk aja, Raka rindu sama Raya Pi". jawab Raka sambil meringis kesakitan.


Jon, Rio yang cukup jauh dari Raka pun menganga lebar, seorang master mereka di jewer oleh Dylan seperti anak nakal saja.


"rindu.. rindu.. kepalamu..! tidak ada rindu-rinduan.. hafalkan ijab-kabulmu". tegas Dylan.


Raya tersenyum saja melihat raut wajah Raka yang pasrah di marahi Dylan, Raya tidak bisa mencegah omelan Papinya.


sebenarnya zaman sekarang mana ada pasangan kekasih hanya sebatas pelukan tapi Raka melakukannya, hanya pelukan apalagi Raka mengatakan pelukannya seperti seorang ibu, Raya tau Raka tidak punya ibu.


.

__ADS_1


.


"bagaimana sah? ". tanya pak penghulu kepada para saksi.


"sah..! ". jawab yang lainnya serentak.


semua orang menengadahkan tangan memanjatkan doa, setelah berdoa, pak penghulu memberitau apa saja tugas Raka dan Raya sebagai sepasang suami dan istri.


Raya terkejut mendengar tugasnya sebagai istri harus mematuhi apa saja perkataan suami, sebab surga nya berada pada sang suami.


Raka melirik Raya yang tampak tertekan, Raka menggenggam tangan Raya dan mengecupnya mesra.


"jangan tertekan sayang..! aku tidak akan mengekangmu". bisik Raka membuat Raya menoleh padanya.


"benarkah? ". tanya Raya dengan nada tak percaya


setau Raya, jika pria telah mendapatkan wanita obsesinya bertahun-tahun pasti akan mengurungnya di sangkar emas.


"hm..! aku berjanji". ucap Raka


Raya tersenyum dan mengecup pipi Raya, Raka tertegun hendak menangkup pipi Raya namun melihat tatapan datar Dylan, Arya, dan Satria, Raka tak jadi melakukannya.


"hehe..! ". Raka cengir kuda sambil mengelus kepala Raya.


ucapan selamat pun diberikan oleh kerabat Dylan yang hadir di acara Ijab kabul sederhana Raka dan Raya.


.


.


"R.. Raka..? ".


"hmm? ". Raka menyahut dan mendekati Raya.


"ka.. kamu.. hm.. itu.. ti.. tidak.. hmm..? ". Raya terbata-bata gugup.


Raka tersenyum lalu memeluk Raya hingga istrinya itu benar-benar sampai tenang,,, "kita pacaran kan? ". tanya Raka


"iya..! tapi sekarang kita sudah suami istri, kata pak penghulu tadi derajatmu lebih tinggi dariku. aku harus mendengarkan apapun perkataanmu". gumam-gumam Raya.


Raka terkekeh, "aku akan mendengarkanmu..! agama memang mengatakan derajat pria lebih tinggi dari perempuan saat berumah tangga tapi menurutku kamu lebih berharga sayang..! jangan gugup dan anggap aku sebagai temanmu..! kita tidur bersama, berpelukan satu sama lain, aku tidak akan melewati batas sayang".


"apa perkataanmu benar-benar bisa aku pegang? ". tanya Raya


"tentu saja..! sekarang bersihkan tubuhmu, kita mandi gantian ya? ". bujuk Raka.


Raya menebarkan senyum manisnya, pria yang telah sah menjadi suaminya ini sangat pengertian, bahkan sangat mengerti dirinya.


.


.


"k.. kenapa? ". tanya Raya melihat Raka yang menganga menatapnya.


"kamu cantik sekali sayang". puji Raka tersenyum lebar

__ADS_1


Raya tersenyum, "kamu tidak akan tergoda? ".


"hmm.. aku selalu tergoda". jawab Raka


"ha? ". cengo Raya.


"aku bisa menahan diri, tenang saja! aku bahkan bisa menunggumu bertahun-tahun apalagi sekarang". jelas Raka mendekat lalu mengecup bibir Raya dengan singkat dan cepat melarikan diri masuk ke kamar mandi.


Raya terpaku, perlahan ia menyentuh bibirnya.


"eeeh..? ". Raya menggeleng-geleng kepalanya lalu tersenyum tipis.


setidaknya Raka hanya menciumnya saja tidak lebih, sebenarnya apapun perkataan Raka harus Raya turuti tapi Raka sepertinya tidak mau memaksa Raya.


"tenang Raka.. tenang..! tenangkan jantungmu.. tenang..!". Raka di dalam kamar mandi Raya mengelus dada.


Raka bisa menghirup aroma tubuh Raya di sekitarnya, "wangi sekali! ". gumamnya pelan.


Raka selesai mandi dengan handuk putih melilit menutupi bagian intinya saja, dada Raka terbuka bahkan masih basah. Raka keluar sambil mengusap kepalanya yang basah dengan handuk.


"sayang? aku pakai baju apa? ". tanya Raka kebingungan


Raya menoleh ke Raka dan dengan cepat berbalik, ia malu melihat penampilan Raka yang seperti itu.


"ma.. mana aku tau baju mana yang kamu pakai Raka.. apa Jon tidak memberimu baju tadi? ". tanya Raya membelakangi Raka.


"tidak..! kenapa kamu membelakangiku sayang? ". tanya Raka malah heran.


"kamu tidak pakai baju". jawab Raya dengan kesal.


Raka tertawa lebar, "kamu boleh melihat semuanya sayang".


Pipi Raya yang merona makin merah saja seperti kepiting rebus, "a.. aku tidak mau lihat..! pergi ke ruang gantiku cari baju yang pas untukmu".


Raka pun melihat arah tunjuk Raya, ia melangkahkan kakinya ke ruang ganti Raya, sayangnya tidak ada baju yang pas untuk Raka. Raka memakai jubah mandi milik Raya, hanya itu yang muat di tubuhnya. Raka kini keluar dari ruang ganti dan menelfon Jon.


"kenapa? apa tidak ada yang pas? ". tanya Raya melihat Raka belum memakai baju melainkan jubah mandi.


"tidak sayang..! baju tidurmu memang besar tapi lengannya kecil. aku tidak mau otot-ototku ini tersiksa". jelas Raka memukul-mukul lengan kekarnya


Raya terkikik, "maaf..! aku lupa kalau kamu laki-laki".


"apa sayang? kamu lupa kalau aku laki-laki?". gemas Raka, Raka yang makin gemas mendekati Raya lalu menggelitiki Raya hingga gadis cantik itu tertawa kegelian.


untuk sesaat Raya melupakan dirinya telah menikah dengan Raka. Raka lebih suka Raya yang seperti saat ini tidak terbebani tugas sebagai seorang istri.


.


.


.


kodratnya baju perempuan tidak akan muat dipakai oleh laki-laki, kalau lengan laki-laki itu besar.. hehe.. selamat beraktifitas...!!


.

__ADS_1


.


__ADS_2