
.
.
Raka terkekeh gemas melihat semua notifikasi bank di ponselnya, ia benar-benar ingin memakan istrinya itu tapi karna pekerjaannya membuatnya hanya bisa menahan diri.
Raka mungkin tidak pulang selama beberapa hari ke mansionnya, ia sibuk di perusahaannya karna pekerjaannya yang menumpuk hingga dibawa pulangpun percuma saja menurut Raka.
lebih baik bekerja di kantor saja untuk sementara Raya yang telah izin padanya menginap 3 hari di mansion Melviano, Raya memberi tau perihal Satria yang di jebak oleh wanita asing.
"Jon..? datang keruanganku". Raka menekan teleponnya dan mengirim pesan ke Jon.
Jon datang ke ruangan Raka,
"ada yang harus saya kerjakan tuan? ". tanya Jon yang sudah tau apa tujuan Raka memanggilnya.
"cari tau wanita yang menjebak Satria, bantu dia dengan segala kemampuan kita, walaupun dia mendapatkan wanita itu pasti ada rantai terselubung dengan wanita itu hingga dia berani menjebak seorang Satria Melviano". Raka
Jon mengangguk, "saya mengerti tuan". balas Jon yang langsung menerima perintah dari Raka.
.
.
di tempat lain.
"biar Randi yang urus bang!". seru Randi dengan serius.
"Biar aku aja Ran.. jangan kotori tanganmu dengan darah wanita ini. biar aku yang urus". potong Pandu.
"kalian apa-apaan sih? aku juga bisa mengatasinya". Gerutu Alvan.
"sudah cukup..! kenapa kalian jadi berdebat? apa kalian tidak lelah? ". Satria menengahi.
"maaf bang". ucap Randi dan Pandu bersamaan.
Alvan pun meminta maaf sebab mereka bertiga hanya berusaha menghibur Satria yang tidak istirahat selama berhari-hari.
"tidak usah bunuh dia terlebih dahulu, cari orang dibelakangnya". perintah Satria
"baiklah..! kita bagi tugas". sahut Alvan.
"ya.. dia sering ke bar..! apa kami harus datang ke bar untuk mencari siapa saja yang di temuinya? ". Randi
"dia juga sering ke acara pelelangan". sambung Pandu
"baiklah..! Randi, Pandu akan ke Bar mencari tau, kalian tau kan aku tidak suka musik keras dan bau alkohol, dan kamu Alvan pergi ke acara pelelangan !". Kata Satria
ketiga kerabat Satria mengangguk menerima perintah
"iya.. abang istirahat saja.. temui Alice, dia merindukan abang". sahut Arya tiba-tiba
hening seketika,
__ADS_1
"apa abang hanya menemuinya saat dia tidur? kenapa abang tidak menemuinya secara langsung? ". tanya Arya serius.
Randi, Pandu dan Alvan hanya saling melirik satu sama lain tanpa berniat ikut campur, masalah hati Satria bukan urusan mereka jadi biarlah Satria mengatasinya sendiri.
"Arya mau bicara berdua sama abang 4 mata". ucap Arya dengan serius.
Satria pun berjalan duluan, dan Arya mengikutinya hingga tiba di ruangan tertutup yang kedap suara.
"Alice sejak tadi pagi melamun bang..! dia berpikir abang marah padanya hingga tidak mau menemuinya". Arya berkata
"masalahnya rumit..! biarkan abang menyelesaikan perkara wanita ini terlebih dahulu.. abang yakin dia akan baik-baik saja di mansion Melviano". Satria
"ck..! kenapa abang jadi bodoh gini sih? tidak bisakah abang jadi pria keren di depan perempuan yang abang taksir? jadi pria tu harusnya seperti Uncle Gala atau Abang Raka ! jangan jadi pria bodoh deh ngikutin keturunan kita". gerutu Arya seperti wanita saja mulutnya.
"Uncle Keyzo juga sama aja tuh anehnya, malah suka punya 2 wajah buat Aunty Mayra jadi bingung dengan perasaannya". oceh Arya lagi
Satria mengabaikannya saja, jujur Satria memang tidak ingin bertatap mata dengan Alice. ia merasa malu saja bertemu Alice yang melindunginya, selama ini belum pernah ada wanita yang mencoba melindunginya selain maminya.
.
.
Raya bersama Alice dan Alya sekali lagi bercerita di malam hari, Raya yang tadinya serius terhenti kegiatannya melihat ponselnya yang bergetar.
Raya mengerutkan keningnya melihat foto-foto Raka tengah tertidur pulas di kantor,
"tunggu sebentar! ". Raya bangkit meninggalkan Arya dan Alice yang tidak mengerti.
Raya menelfon Jon yang mengirimkannya pesan tadi.
"benar nona..! tuan tidak pulang 2 hari karna pekerjaannya yang ia tinggal beberapa hari benar-benar banyak". Sahut Jon.
"baiklah..! aku akan datang ke kantornya, apa dia jarang makan siang? ". tanya Raya yang sangat tau suaminya tidak akan ingat makan jika sedang serius bekerja.
Jon tentu menjawabnya dengan jujur, Ia ingin Raka makan tapi tidak bisa memerintah tuannya itu yang sangat keras kepala.
sekitar jam 9 malam Raya datang ke kantor Raka yang memang tidak di kunci.
"abang? ". panggil Raya saat masuk ke Ruangan suaminya.
"hmm.. sayang? ". racau Raka yang masih tertidur di meja.
Raya mendekati Raka dan mengelus kepala Raka, "abang? ".
Raka perlahan membuka matanya lalu yang pertama Raka lihat adalah Raya yang tengah khawatir menatapnya.
"sayang?". panggil Raka mengangkat tangannya meraba wajah Raya dan mencubit pipinya.
"abang enggak mimpi..! ayo bangun kita makan malam bersama". Raya menurunkan tangan Raka dan membantunya duduk.
Raka bangkit dan mengikuti langkah kaki istrinya yang menuntunnya berjalan menuju sofa.
"abang kenapa tidak makan sih? kerja boleh tapi harus makan lah dan ingat istiharat ! nanti kalau abang pingsan bagaimana? karna tidak tidur dan tidak makan." omel Raya dengan kesal.
__ADS_1
"sayang..! aku rindu". Raka mendekat ke Raya dan mencium leher Raya yang tertutup pashmina.
"abang.. makan dulu deh! ". pinta Raya mendorong tubuh Raka.
Raya akhirnya bisa membujuk Raka makan bersama walau Raka terlihat masih sangat mengantuk bahkan masih mengira Raya adalah khayalannya.
"abang? ". panggil Raya dengan gemas saat Raka sudah tidur di sofa.
Raya membenarkan posisi tidur Raka lalu menyelimutinya dengan selimut yang Raya bawa untuk Raka tidur di kantor.
"muah..! selamat malam suamiku". bisik Raya mencium kening Raka.
Raya keluar dari kantor itu dan mendekati Dita yang telah menunggunya di dalam mobil, itu alasan kenapa Raya tidak bisa tidur bersama suaminya terlebih lagi Raya belum puas berbicara dengan Alice.
.
ke esokan paginya Raka tersentak bangun lalu mengedarkan matanya ke segala arah.
"apa aku memang bermimpi? ". gumam Raka dengan suara khas bangun tidur.
Raka menarik nafas dalam-dalam lalu berjalan ke ruangan pribadinya yang tersembunyi, ia membersihkan diri lalu berganti pakaian.
Raka melihat ada sebuah memo di meja kerjanya,
"abang..? jangan lupa sarapan ya? jika abang rindu sama aku katakan saja..! aku adalah istrimu panggil aku kapanpun abang mau.. aku cinta abang..! Istrimu Raya". begitulah memo Raya.
Raka menebarkan senyumnya, "jadi aku tidak bermimpi".
Raka langsung menghubungi Raya.
"sayang datanglah..! aku sangat merindukanmu". kata Raka
Raya langsung mematikan panggilannya, lalu mengirim pesan pada Raka.
"siap meluncur..!! ". pesan Raya
tak butuh waktu lama, Raya tiba di ruangan Raka. Raya merentangkan tangannya di depan pintu dan Raka berjalan cepat lalu memeluk Raya, mengangkat tubuhnya membawanya berputar di udara.
Raya tertawa di pelukan Raka, "abang udah sarapan?".
"belum..! aku ingin memakanmu". bisik Raka menggendong Raya membawanya ke ruangan pribadinya.
Raya hanya kaget melihat Raka memiliki ruangan pribadi sebab Raka tidak pernah memberi taunya.
"abang bajuku bagaimana? ". tanya Raya
Raka menunjuk lemari tertutup di ruangan ganti nya,
"apa disana ada baju untukku? ". tebak Raya dibalas anggukan oleh Raka.
Raya langsung tersenyum manis dan melingkarkan tangannya di leher Raka. Raka adalah suami terbaik bagi Raya jadi sebagai istri yang baik Raya ingin memuaskan suaminya yang sangat mengerti dirinya, Raya juga ingin mengerti kebutuhan Raka seperti se**.
.
__ADS_1
.
.