
.
.
Dita mulai pusing melihat Raya mondar-mandir seperti setrikaan di depannya.
"Nona..! bisakah Nona duduk saja? ". tanya Dita memegang kepalanya yang terasa pening melihat kelakuan aneh majikannya itu.
"ish.. diam Dita..! kau beritau aku apa yang harus aku lakukan..! aku malu bertemu dengannya". kesal Raya berkacak pinggang sebelah sementara tangannya yang lain memegang pelipisnya yang merasa pusing juga memikirkan jalan keluarnya.
"tapi kenapa Nona malu bertemu tuan master muda? ". tanya Dita dengan heran.
"issh..! jangan tanya-tanya aku Dita..! lebih baik kau diam dan beritau aku jalan keluarnya supaya aku tidak bertemu dengannya". omel Raya
"hanya ada satu cara Nona". ujar Dita langsung Raya mendekat ke Dita
"apa..? ". tanya Raya tak sabar.
"minta tuan Satria menemui tuan master". jawab Dita membuat Raya berpikir sejenak.
"tapi...?? ". kata Dita tergantung.
"apa? ada tapinya? ". tanya Raya serius mendengarkan dengan alis mengkerut waspada.
"tuan master akan tau kalau Nona menghindarinya dan akan mencari Nona sampai di ujung semut sekalipun". sambung Dita sambil tersenyum tak berdosa
Raya memejamkan matanya dengan bibir mengecil, sungguh dirinya geram akan perkataan Dita setelah kata Tapi itu.
Raya tau Raka tipikal Pria yang sangat keras kepala, jika dia sudah mencari sesuatu harus ia dapatkan walau butuh waktu lama sekalipun, jika harus dan penting pasti harus Raka temukan.
tok.. tok... tok..
Raya terlonjak kaget mendengar ketukan pintu ruangannya,
"Dita.. Dit.. cepat Dit.. Ditaa...! ". desak Raya
"Nona.. saya tidak tau bagaimana caranya lari dari perkataan anda yang telah terlontar pada tuan master...! saya tidak tau Nona". bela Dita malah pusing sendiri.
"Ditaa...! " Raya memanggil pengawalnya itu namun terlambat Raka telah masuk ke ruangan Raya dengan Jon.
Raya segera berbalik dan berlari ke arah balkon ruangannya menatap gedung lain sambil mengatur detak jantungnya yang berdetak 2 kali lebih cepat.
"Raya? ". Raka memanggil Raya
"Nona Raya ada di balkon tuan! ". sahut Dita dengan sopan
Raka menoleh ke Jon lalu menundukkan kepala saat Raka menatapnya tentu Jon tau artinya dirinya harus keluar meninggalkan Raya dengan Raka.
"mari Nona Dita! ". ajak Jon membuat Dita menoleh ke Jon dan melihat ke arah Raka yang sedang menatap datar dirinya.
"Eh..? i.. iya". Dita pun mengikuti Jon keluar dari ruangan Raya.
"semoga anda baik-baik saja Nona..! entah kenapa anda sendiri jadi begitu, padahal sebelumnya baik-baik saja". batin Dita sesekali melihat kebelakang.
tinggal lah Raka dan Raya saja di ruangan itu, Raka berjalan ke arah balkon dan tersenyum lembut melihat Raya yang di terpa angin sungguh sangat cantik pasminanya berkibar padahal Raya tengah membelakanginya.
__ADS_1
"ada apa? ". tanya Raka tiba-tiba sudah di samping Raya.
"tidak ada..! a.. aku tidak apa". jawab Raya
Raka mengerutkan keningnya mendengar suara Raya yang berbeda, "kenapa suaramu Raya? ". tanya Raka menarik lengan Raya hingga melihat ke arah Raka.
"ke.. kenapa suaraku? ". tanya Raya tergagap.
Raka mendekat dan Raya mematung tak bisa bergerak, Raya memejamkan matanya saat telapak tangan Raka berada di keningnya.
"sudah aku tebak..! badanmu panas Raya". ujar Raka
"ha? aku tidak panas..! ". jawab Raya memegang keningnya juga.
"suaramu berbeda jadi saat aku memegang keningmu perkiraanku benar..! kamu terkena demam bagaimana kamu bisa bekerja? hmm? ".
Raya terdiam sambil memasukkan telapak tangannya dan memegang lehernya yang memang terasa panas.
"aku memang panas..! tapi kenapa dia yang mengetahuinya dari pada aku? ". batin Raya
"aku akan bawa kau ke rumah sakit..! ". seru Raka menarik tangan Raya.
Raya melihat tangannya yang di genggam Raka, saat mereka berdua berjalan di Lobi utama pun dapat dilihat oleh orang-orang MattGroup.
Dita dan Jon mengekor dengan mobil Raya sedangkan Raka membawa mobilnya sendiri membawa Raya. Raya diam saat Raka membawanya ke Rumah Sakit dan diperiksa oleh dokter.
dokter Kinan telah membuka klinik sendiri tidak lagi bekerja di Rumah Sakit setelah menikah dengan Bagus.
"bagaimana dok? apa dia baik-baik saja? ". tanya Raka ke dokter wanita yang memeriksa Raya
"huh...! kenapa aku seperti anak kecil tidak bisa melawan? ". batin Raya
.
"jadi tidak ada masalah ya dok? setelah minum obat dan istirahat yang cukup Rayaku akan baik-baik aja dok? ". tanya Raka setelah mendengar penjelasan dokter wanita itu.
"iya tuan..! perutnya harus di isi terlebih dahulu baru minum obatnya! ini resep obatnya yang harus di tebus tuan". kata dokter wanita dengan sopan
Raka mengangguk menerima resepnya dan kembali ke brankar, ia tersenyum tipis melihat Raya memejamkan matanya.
"Raya? ". panggil Raka dengan lembut
Raya membuka matanya dan bangkit di bantu oleh Raka.
"aku tidak apa kan? ". tanya Raya
"iya..! kita tebus obatnya dulu baru kita makan siang! ". Raka berjongkok dan tanpa ragu memasangkan heels Raya.
Dokter wanita hanya tersenyum melihat kedua pasangan itu, sangat serasi.
Raya melihat saja apa yang Raka lakukan, "seorang Bos Mafia kini berada di kakiku? memasang heels ku? apa yang kau fikirkan Raya? ".
Raya mengoceh dalam hati.
Raka membawa Raya ke apotik untuk menebus resep obat, Raya bahkan tidak melawan hanya diam seperti anak kecil digandeng ayahnya.
__ADS_1
"hei.. kau...! "
Raya tidak terlalu mendengarkan suara itu karna pikirnya perkataan itu tidak untuk dirinya.
"kau...? kau tuli ya? ". marah wanita kini didepan Raya. Raya menatap datar sepasang kaki dengan heels cantik itu.
Raya perlahan mendongak dan memiringkan kepalanya melihat Maisy.
"siapa kau? ". tanya Raya pura-pura tak kenal.
"kau pembawa sial..! sejak aku bertemu denganmu aku akan terkena sialnya juga..! kau membuatku di usir dari rumahku dan jadi gelandangan". amuk Maisy hendak mencakar Raya yang bangkit mengelak seketika.
"kau yang terlilit hutang kenapa kau malah menyalahkanku? ck.. lucu sekali". tawa meledek Maisy.
beberapa orang yang ada di Rumah Sakit menatap aneh Maisy, sungguh berani sekali Maisy melabrak seorang putri sulung Melviano. mereka berpikir Maisy sudah tidak waras.
"aku akan mencekikmu supaya kau tidak lagi membawa sial". desis Maisy dengan geram
di sudut ruangan, Dita melihat gelagat Maisy.
"Nona..! ". bisik Dita hendak turun tangan tapi di cegah oleh Jon membuat Dita menatap pria itu dengan tajam.
"lepaskan aku..! Nonaku dalam bahaya! ". desis Dita dengan marah.
"kau pikir tuanku membiarkan Nona Raya terluka? ". perkataan telak Jon membuat Dita berusaha melepaskan diri dari Jon sebab tau pria itu tidak akan melepaskan nya, padahal Jon tau Raya sedang dalam bahaya karna ada Maisy.
Raya masih tenang lalu tanpa aba-aba, tiba-tiba saja Raka telah menarik lengan Maisy dan mendorongnya kasar hingga heels wanita itu patah. Maisy menjerit kesakitan dan melihat pelaku,
"T.. tuan? ". gumam Maisy terkejut melihat Raka.
Maisy tidak menyangka Raka akan ada bersama Raya,
"kau tidak apa Raya? ". tanya Raka memegang kedua bahu Raya
"tidak apa..! sepertinya adik tirimu itu kurang di didik dengan benar". ujar Raya tersenyum miring.
"adik tiri? ". beo semua orang.
Raka tidak marah Raya mengatakan hal itu, biarkan saja Maisy tau kalau dirinya adalah anak laki-laki keluarga Smith yang di buang sejak kecil.
"adik tiri apa maksudmu? ". bentak Maisy tak mengerti.
"aku sudah tebus obatnya..! ayo kita pergi..! ". ajak Raka menarik bahu Raya meninggalkan Maisy yang berteriak seperti orang gila.
Raka malah berpikir Raya membantu balas dendamnya, jika Maisy merasa diatas awan karna adik tirinya, maka saat diatas awan itu Raka akan hempaskan Maisy tanpa ragu dengan menyebar Vidio **** Maisy ke berbagai media.
.
.
.
ok.. selamat baraktifitas..!!
.
__ADS_1
.