
.
.
berhari-hari Raka dan Raya lalui bersama, hari ini adalah hari ulang tahun Raka.
"abang mau hadiah apa? ". tanya Raya
"aku tidak mau apapun, hanya dirimu saja sayang". jawab Raka memeluk Raya yang duduk di pangkuannya.
Raka bekerja sambil menggendong istrinya yang sudah selesai bekerja.
"masa sih? yakin? ". tanya Raya dibalas anggukan oleh Raka sambil tersenyum mengecup pipi Raya dengan mesranya.
"oh ya...! ada apa dengan kepiting keriting itu sayang?". tanya Raka
"siapa lagi kepiting keriting? ". gerutu Raya
Raka tertawa, "siska kalau tidak salah namanya.. kenapa dia terus mengganggu Alman juga dirimu?".
"hah? wanita KW itu masih berani mengganggu Alman? ". tanya Raya tak senang.
"siapa dia sayang?". tanya Raka
"siapa lagi? dia istri simpanan kepala anggota dewan katanya". jawab Raya dengan kesal.
"hah? simpanan? istrinya apa tau? ". tanya Raka yang memang tau pria bagian dari anggota dewan itu memiliki istri.
"Alman saat di Mall tidak sengaja menumpahkan Cappucino di baju KW nya bang, tapi dianya malah mengangkat tubuh anak kecil itu tanpa hati, ya Tuhan...!! aku marah sekali bang, tentu saja aku mencakar dan menjambaknya". curhat Raya
"apa dia melukaimu? jika iya.. akan aku habisi hari ini juga". Raka berkata dengan serius.
"tidak sih.. awalnya dia memang mau menamparku tapi Dita menghalanginya, aku mengoyak gaun KW nya. ckk.. ck... ck.. dia bilang gaunnya asli, dia coba-coba menipu aku bang...! gaun itu udah jelas cuma 2 di negara ini pemiliknya itu aku dan Rhiana".
Raka memukul meja, "biar aku beri pelajaran dia sayang".
"ya udah deh..! tapi abang buat istrinya tau kalau Siska itu simpanannya di acara yang ramai, aku mau dia di tampar dan di permalukan oleh istri bar-bar anggota dewan itu".
Raka tersenyum mengelus pipi Raya, "baiklah..! besok malam aku harus menghadiri pesta, apa kamu mau ikut sayang? ".
"aku memang di undang... wleeek...! " Raya menjulurkan lidahnya pada sang suami
Raka tergelak memeluk Raya lebih erat.
"bagaimana keadaan Alman bang? ". tanya Raya melepaskan pelukan Raka tapi masih duduk di pangkuan Raka.
"dia baik-baik saja sayang, neneknya bekerja juga jualan kue di pasar dan Alman sekolah dengan baik". jawab Raka
"apa dia dibuli oleh teman-teman sekolahnya? ". tanya Raya
__ADS_1
"bohong jika aku bilang tidak". jawab Raka dengan jujur.
Raya makin kesal saja mendengar perkataan Raka, "aku apakan anak-anak itu".
"tapi Alman anak yang cerdas sayang !! aku sudah memperhatikan dia beberapa hari belakangan ini sayang, dia bisa mengatasinya sendiri". jelas Raka
"benarkah? boleh aku keluar pergi ke sekolahnya? ". tanya Raya dengan ekspresi Pupple Eyes nya.
Raka mencium sayang kedua mata Raya, "boleh sayang..! tapi jaga dirimu baik-baik dan bawa Dita".
Raya mengangguk senang, ia begitu bahagia bersama Raka yang tidak mengekangnya sama sekali, Raka juga percaya padanya.
Raka sangat mengenal Raya yang tidak suka di remehkan, Raya sangat hebat bagi Raka dan itu sangat Raka akui sejak Raya bisa melawan banyaknya musuh di hutan negara D saat itu.
.
.
Raya dan Dita tiba di sekolah dasar.
Dita keluar membukakan pintu mobil untuk Nona nya, Raya keluar dari dalam mobil melepaskan kaca mata hitamnya dan meletakkannya di atas kepalanya.
mata biru Raya mengedar memperhatikan area sekolah,
"ada apa Nona? ". tanya Dita
"ada apa dengan masa sekolah Nona? ". tanya Dita penasaran.
"masa sekolah aku dan saudara-saudaraku berkumpul tapi saat kuliah kami berpencar kemana-mana". jawab Raya
Dita mengangguk mengerti.
"bel pulang sekolah Nona". senyum lebar Dita
Raya mengangguk sambil memperhatikan kelas Alman yang di beritau Dita.
Alman keluar dari kelasnya, jalannya menunduk memperhatikan sepatunya yang kini kotor karna ulah teman-teman sekolahnya.
"Alman...? ". sapa Raya berlari kecil ke arah bocah menggemaskan itu.
Alman mengangkat pandangannya, anak-anak sekelas Alman pucat pasi seketika. mereka selalu di peringatkan oleh kedua orang tua mereka masing-masing untuk tidak mencari masalah dengan keturunan Melviano tapi melihat Raya menyapa Alman dan tau nama Alman membuat mereka ketakutan.
"kakak? ". pekik Alman berlari senang ke arah Raya.
Raya dan Alman pun berpelukan layaknya seorang ibu ke anaknya. Raya memiliki Bayi besar (Raka) itu sebabnya ia tak lagi canggung mengurus bayi besar lainnya (Alman), Raya bisa jadi seorang ibu untuk mereka berdua.
"ada apa sayang? kenapa sedih? ". tanya Raya menangkup pipi Alman.
"tidak apa kak". jawab Alman tersenyum cerah seketika.
__ADS_1
Raya melihat sekujur tubuh Alman yang putih-putih, "kenapa ini Alman? kenapa bajumu di penuhi tepung? astagah...! sepatumu kenapa? ".
Alman menggaruk kepalanya yang tak gatal, Dita memperhatikan sekitar.
"memang kejam..! siapa yang melakukan ini". bentak Raya akhirnya mengetahui adik kecilnya di buli secara fisik.
"kakak.. tidak apa-apa kak..! Alman baik-baik saja". jawab Alman memeluk Raya yang menatap tajam ke segala arah.
jika Anak-anak jahat Raya tidak akan bersikap lembut, ia akan baik pada anak baik-baik saja. Raya benci orang-orang yang suka menindas yang lemah walaupun anak kecil sekalipun.
"a.. ampun.. kakak.. ampuun... " anak-anak sekelas Alman pun bersimpuh ketakutan.
Raya langsung melihat ke arah Alman, "kalian apakan adikku hah? apa kalian sekolah hanya untuk membuli? dimana orangtua kalian? akan kakak buat mereka malu karna ulah kalian yang tidak punya hati".
"t.. tidak kakak". jerit mereka semua menangis
"kalian tidak tau sepatu ini dan baju ini adalah hasil uang pencarian nya sendiri, coba kakak tanya !! yang kalian pakai di tubuh kalian saat ini yang mana beli pakai uang kalian sendiri?" tanya Raya dengan serius.
"tidak ada kan? kalian hanya tau memakai uang orangtua kalian, masih kecil kalian sudah jahat sama orang lain. kakak tidak suka jika kalian berani menyakiti adik kecil kakak lagi? awas kalian..! kakak akan buat orangtua kalian bangkrut biar kalian nggak bisa beli apa-apa lagi". ancam Raya dengan tegas.
Raya tau mereka semua anak-anak manja yang taunya hanya menggunakan uang orangtua saja.
"ada apa ini? ". tanya ibu-ibu yang datang menjemput anak-anaknya pulang sekolah.
"mama..! " anak-anak yang Raya ancam tadi berlari memeluk ibu masing-masing.
"siapa yang berani membuat anakku menangis?". marah seorang ibu berpakaian formal.
"aku...kenapa? ". Raya berbalik menantang wanita itu yang mematung seketika.
"Nn.. nona Melviano? ". lirih mereka semua gemetar memeluk anak-anak mereka yang menangis.
"tanyakan apa yang anak-anak kalian lakukan pada adik kecilku". sinis Raya memeluk Alman yang diam saja menatap Raya dengan sedih bercampur senang akan pengakuan Raya yang menganggapnya adik.
"adik kecil...? ".
mereka tentu tau artinya jika berani menyinggung keluarga Melviano, segera ibu-ibu itu bersimpuh dan meminta maaf pada Alman atas nama anak-anak mereka.
"tidak apa-apa ibu-ibu.. Alman maafkan". jawab Alman tersenyum lebar
"adikku bisa memaafkan anak-anak kalian tapi aku tidak suka sepatu yang dibeli dengan hasil jeri payah nya sendiri pun di rusak oleh anak-anak kalian, apa kalian tidak memberi mereka kasih sayang? kenapa begitu jahat? sekolah bukannya belajar malah membuli orang". Raya menarik tangan Alman pergi dari kerumunan itu di ikuti Dita
ibu-ibu tadi langsung memarahi anak mereka masing-masing dengan caranya berbeda-beda.
.
.
.
__ADS_1