Kekasih Impian MR. Mafia

Kekasih Impian MR. Mafia
jangan anggap lemah


__ADS_3

.


.


"sayang? ". panggil Raka dengan nada berat.


"hmm?". Raya pun menyahut,


tangan Raya meraba-raba di tubuh Raka lalu memegang kening Raka masih dengan mata terpejam memeluk Raka.


"hm... udah baikan". gumam Raya dengan suara khas bangun tidurnya.


Raya memeluk Raka lagi lebih erat,


"sayang..! kamu menggodaku? ". tanya Raka dengan suara berat.


Raya perlahan membuka matanya lalu menatap mata Raka, "hah? kapan aku menggod...? eeh..? wajah abang kenapa? kok merah begini? ".


Raka membalik tubuhnya hingga Raya berada di bawah kendalinya, Raya mengerjabkan matanya.


"kenapa tidak pakai bra saat memelukku hmm? jangan salahkan aku". ucap Raka dengan serius langsung menerkam leher Raya.


Raya mendongakkan kepalanya, ia tidak mengelak sebab tidak suka jika suaminya menahan diri hanya karna kebaikannya padahal Raya tidak pernah mempermasalahkannya. Raka memperlakukannya seperti perempuan lemah saja yang langsung tumbang melakukan hubungan itu padahal Raya tidak selemah itu.


.


.


"sayang? ". panggil Raka kini di dalam Bath Up kamar mandi.


"hmmm? ada apa abang? ". tanya Raya membelakangi Raka sebab suaminya itu tengah menggosok punggungnya.


"kenapa kamu suka sekali memancingku hmm? ". tanya Raka dengan gemas memeluk Raya dari belakang.


"memangnya apa yang aku lakukan? ". tanya Raya dengan tampang polosnya itu membuat Raka membalik tubuh Raya menghadap padanya.


"berlagak polos ya? mau aku makan lagi? ". ancam Raka sambil mencubit kedua pipi Raya.


Raya tertawa kecil, "kalau begitu aku yang akan melakukannya".


Raka menautkan kedua alisnya tidak mengerti, alhasil Raka dan Raya menghabiskan waktu cukup lama di dalam kamar mandi, betapa menggilanya Raka saat ini akan layanan si istri yang paling baik yang paling bisa menyenangkan dirinya.


.


"kenapa kamu terasa sempit selalu sayang? aku suka sekali kenakalanmu tadi". ucap Raka yang sedang sarapan bersama Raya.

__ADS_1


"abang... ". panggil Raya


"iya sayang". sahut Raka meletakkan sendoknya lalu mengelus sayang rambut panjang Raya.


mereka berdua sarapan di balkon sambil menikmati semilir angin yang menyejukkan.


"aku baik-baik saja kan? aku tidak selemah yang abang bayangkan, aku tidak suka abang menahan diri hanya karna tidak mau membuatku lelah. aku suka abang yang apa adanya tapi tidak boleh menahan diri hingga seperti tadi malam! abang menahan diri tidak mau mandi bersamaku saat kita basah-basah mandi di laut, lalu sore nya masih memaksa diri melihat sunset, abang jadi tumbang malam tadi". omel Raya


Raka tersenyum dengan asiknya mengelus wajah Raya, pipi dan mencubitnya dengan gemas, sesekali Raka mengelus rambut Raya dengan sayangnya.


"baiklah sayang..! aku tidak akan menahan diri, kamu tau sendiri kan? umurku sudah sangat dewasa dan aku tidak pernah melakukan hubungan s**s dengan wanita manapun jadi saat aku memiliki istri kamu tau mengerti kan? ".


Raya mengangguk sambil memegang lengan Raka yang kini membelai pipinya.


"selagi abang bisa puaskan saja hasrat abang padaku jangan pada wanita lain, tapi saat aku mengandung anakmu abang harus kurangi itu". Raya berkata sambil tersenyum lebar.


Raka mengusap kepala Raya, "kenapa kamu selalu membuat jantungku berdebar sayang? ".


Raya terkekeh, "abang aja yang baper". ketus Raya


Raka tergelak, "yaah..! aku baper karnamu hanya kamu yang bisa membuatku memiliki perasaan aneh seperti itu".


Raya hanya tersenyum hingga kedua matanya menyipit dan Raka ikut gemas melihat ekspresi wajah Raya itu.


.


Robert menatap potret Raka dan Raya yang berada di bandara, rumor kejam pada Raka telah mereda karna salah faham.


"mereka bulan madu? bagaimana si brengs*k ini bisa mendapatkan hati Raya? aku saja sulit mendapatkanya, Raya berbeda dari perempuan lain. apa yang ada dalam diri laki-laki brengs*k ini". gumam Robert.


"apa aku harus memisahkan mereka? ".


"iya.. pisahkan mereka, aku harus membuat salah satu dari mereka saling membenci dan aku pastikan Raya lah yang akan membenci Raka. aku akan buat Raka itu seorang pria brengs*k yang pandainya hanya mempermainkan hati wanita".


Robert tertawa jahat, ia sudah cukup makan hati melihat betapa bahagianya Raka memiliki Raya.


"jika aku tidak bisa memiliki Yeri maka kau juga tidak bisa memiliki Raya, kau akan merasakan apa yang aku rasakan..! hahaha". tawa Robert makin menggila.


Robert berjanji akan memisahkan Raya dengan Raka, setidaknya membuat Raya membenci Raka hingga kabur dan meninggalkan Raka sendiri sama seperti dirinya yang di tinggal pergi oleh Yeri.


sampai detik ini Robert tidak tau dimana keberadaan Yeri, entah dia masih hidup atau telah meninggal tidak ada yang tau. Robert masih mencintai Yeri karna rasa cemburunya membuat dirinya sering bertingkah bodoh membentak dan memarah-marahi Yeri bahkan tanpa hati sering menarik tangan dan mencengkram dagu Yeri saking cemburunya itu.


.


di tempat lain.

__ADS_1


"abang..? kenapa abang mengurus Alice? apa abang menyukainya? ". tanya Alya penasaran.


"tidak..! abang hanya kasihan padanya". jawab Satria


"abang cinta itu tumbuh dari berbagai perasaan salah satunya seperti rasa kasihan, dan perasaan yang bermula dari rasa kasihan akan membuat abang melindunginya, tidak membuatnya menderita yakinlah pada Alya abang akan mencintainya dengan sepenuh hati". jelas Alya


Satria mengusap kepala Alya, "kamu sudah pandai membahas Cinta ya? abang banyak kasihan pada orang lain apa abang mencintai mereka juga? Morett? dan banyak wanita lainnya".


Alya terdiam lalu mengangguk membenarkan, "iya juga ya". gumamnya membuat bibir Satria berkedut menahan tawa.


"tapi abang..! Alice bilang abang akan menikah dengannya dan memiliki 3 anak kembar". jawab Alya


Satria terbahak seketika, "kamu percaya omong kosongnya? dia suka cerita dongeng itu sebabnya dia selalu berkhayal abang ini Pangerannya".


Alya ingin menyelah tapi segera mereka melihat ke arah dapur saat mendengar teriakan Alice.


Satria dan Alya berlari ke arah dapur,


"aaah...! " Alice mengusap tangannya yang terkena cipratan minyak panas.


"kenapa kau selalu terkena minyak panas hah? apa yang sudah aku bilang? jangan main kompor ini jika kau tidak bisa". Satria menarik lengan Alice dan melihat lukanya.


"perih Pangeran". ringis Alice.


"berapa kali aku bilang aku bukan Pangeran, bisa tidak berhenti memanggilku itu? kepalaku sakit mendengarnya".


"hah? terus aku manggil apa? suamiku? ". tanya Alice dengan polos.


"astagah..! " Satria memijit pelipisnya sedangkan Alya tertawa cekikikan geli di pintu dapur.


"aku manggil apa? ". tanya Alice


"Satria". jawab Satria.


"tapi Alya memanggil pangeran abang ! apa aku boleh memanggil abang juga? ". tanya Alice berbinar


"tidak boleh..! panggil Kakak saja". titah Satria


"kenapa? ". tanya Alice sedih.


Satria menghela nafas, "kakak juga bagus artinya sama dengan panggilan abang itu, aku hanya tidak suka orang lain memanggilku abang karna panggilan itu sudah biasa hanya untuk kerabatku saja".


"aku bukan kerabatmu kan? jadi aku panggil Kakak? ". tanya Alice dibalas anggukan oleh Satria.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2