
.
.
.
Arya tersenyum begitu tampannya hingga Nia semakin terpesona dengan ketampanan suaminya itu.
"lewat jalan lain? ". tanya Arya
Nia mengangguk-angguk.
"apa bayaranku nanti? ". tanya Arya dengan senyum misteriusnya.
Nia terbelalak lalu melihat tubuhnya sendiri dengan tatapan polosnya kembali melihat Arya yang terbahak seketika.
"baiklah.! hadiahmu aku terima dengan senang hati". Arya
Nia menggaruk kepalanya yang tidak gatal lalu melihat ke arah lain, ia mengusap kedua pipinya sendiri yang mulai terasa panas.
Arya menuruti permintaan Nia dengan memutar jalan tidak melewati jalan biasa, Arya terpaksa lewat jalan besar yang banyak lampu merahnya.
"mau beli apa? ". tanya Arya yang tau Nia duduk dengan gelisah seolah sedang memikirkan sesuatu.
"a. aku mau beli itu kak". Nia menunjuk sebuah toko kue di sebrang jalan
"tetap disini..! kita akan berputar kesana". Arya
"tapi kakak bisa menunggu disini, aku nyebrang dan beli sendiri tidak apa kak". Nia
"bahaya! bisa saja ada mobil ceroboh sengaja menabrakmu". Arya menjawab dengan serius
Nia terdiam tak lagi berbicara, akhirnya ia menuruti permintaan Arya untuk tetap berdiam diri didalam mobil sedangkan Arya memutar kendaraannya lewat jalur berbeda.
Arya menemani Nia yang sedang membeli kue-kue yang menggugah seleranya.
Nia melihat kue tar yang paling cantik diantara banyaknya kue tar yang lainnya, diam-diam Arya melihatnya.
"tunggu disini! aku mau ke Toilet mereka". pinta Arya mengelus kepala Nia
Nia mengangguk tanpa curiga apa yang Arya lakukan dibelakang sana.
Nia memilih kue yang cantik dan unik dimatanya,
"hei... Nia? ". pekik Sery
Nia terkejut lalu melihat ke arah asal suara
"eeh.. ini Nia ya? wow..! istri Tuan Muda Melviano". Nisa
"masih ingat dulu dia supir kita sekarang dia udah berada diatas kita". Jiji
"Sery, Jiji, Nisa kalian tidak berubah ya? ". Nia tersenyum menyapa ketiga sahabat baik kakaknya itu.
__ADS_1
"hoho.. ya.. yang mentang-mentang udah berubah ya? dimana Tia? ". tanya Nisa
"Kak Tia sekarang ada di Rumah Sakit Jiwa". jawab Nia dengan raut wajah sedihnya.
"apaa? ". pekik Nisa, Jiji dan Sery
"kalian tidak mau melihat kakakku? bukankah kalian sangat dekat dulunya? aku tidak bisa menemuinya". tanya Nia
"kenapa? ". tanya Sery
"bukankah kamu adiknya, saudara kandungnya". Jiji
"bilang aja nggak mau melihatnya". sindir Nisa
"aku tidak mau membuat kak Tia marah, kata dokter dan suster disana, aku yang bisa membuatnya mengamuk, Kak Tia masih sangat membenciku walau jiwanya sakit". jelas Nia dengan kepala tertunduk.
ketiga teman lama Tia saling pandang.
"ya iyalah.. dia memang membencimu". Nisa
"kakakmu tau Tuan Brayen bukan pria baik jadi dia sengaja membuat dirinya terjebak dengan Pria itu supaya bisa menyelamatkanmu". Jiji
"punya kakak sebaik itu kamu perlakukan tidak adil tentu saja dia marah, orang baik juga bisa marah". Sery
Nia hanya diam saja mendengar ketiga wanita itu menghinanya secara terang-terangan.
Nia teringat kata-kata Arya yang bilang dirinya sudah terlanjur dicap sebagai gadis jahat oleh teman-teman Tia jadi bersikap baik pun tidak akan membuat mereka mengerti bahwa Nia tidaklah sejahat itu.
"kalian mau ku buat jadi pengemis di lampu merah sana? ". tanya Nia dengan datar
"jangan rusak moodku, karna kalian sudah menganggapku wanita jahat bagaimana jika aku benar-benar menunjukkan perilaku ku yang jahat hmm? ". tanya Nia melangkah mendekati Sery
"apa kau mau Perusahaan perhiasanmu itu jatuh bangkrut? ". tanya Nia dengan serius ke Nisa
"dan kau..? mau ku tutup Restaurantmu itu? ". tanya Nia ke Jiji
"kau..? kau bilang aku jahat kan? apa perlu ku tunjukkan warna asliku? aku akan melepas oksigen di tubuh kekasihmu itu?". tanya Nia dengan senyum tipisnya ke Sery terkesan seperti wanita jahat yang tak punya hati.
ketiga wanita seksi itu terlihat ketakutan dengan ancaman Nia, mereka tidak pernah melihat Nia seperti saat ini.
"cepat pergi...!!". bentak Nia
Ketiga teman Tia itu segera melarikan diri sampai tergelincir oleh heels masing-masing.
Nia menarik nafas dalam-dalam lalu menghembusnya perlahan, diam-diam Arya tersenyum dibalik dinding, ia mendengar semua perkataan Nia yang sedang mengancam ketiga manusia yang pernah menindas Nia.
"kenapa lagi kau? ". tanya Nia dengan kesal melihat jemari tangannya bergetar karna takut.
Arya mengintip juga melihat Nia ingin tau pada siapa Nia marah, Arya menahan senyum seketika melihat Nia tengah memarahi tangan juga kakinya sendiri karna gemetar.
Nia tidak pernah mengancam orang lain dengan kata-kata menyakitkan, jadi saat berakting jadi wanita jahat tentu membuatnya gemetar karna bukan sifat aslinya.
Nia terduduk disampingnya lalu mengomel-ngomel sendiri.
__ADS_1
"bukan salahku...mereka yang memancingku sendiri, siapa suruh berkata seperti itu, apa kesalahanku pada mereka?".
Nia menghibur diri sendiri hal itu membuat Arya tertawa gemas dibalik tembok.
.
"kenapa wajahmu Cha? ". tanya Arya yang baru saja kembali melihat wajah Nia yang sedikit memucat.
"tadi ada orang jahat kak, aku mengancam mereka dan melihat wajah ketakutan mereka membuatku senang tapi kaki, tanganku gemetaran setelah berbicara seperti itu pada mereka". jawab Nia dengan jujur
Arya tertawa, "sudahlah..! ayo cepat pilih kue yang mau kamu beli".
Nia berdiri dari duduknya dan melanjutkan keseriusannya mencari kue yang bisa diberikan pada Keluarga Melviano di mansion.
setibanya di Mansion
Nia disambut baik oleh keluarga Arya, bahkan perlakuan khusus itu membuat siapapun menebak Anak Shindy dan Dylan itu adalah Nia bukan Arya, Arya tidak keberatan diperlakukan seperti anak tiri oleh kedua orangtuanya sendiri.
Arya tau Nia tidak punya orangtua lagi, Nia belum puas dengan kasih sayang kedua orangtuanya tapi sudah meninggal dunia sebelum Nia puas dengan kasih sayang mereka.
di dapur Melviano
"bagaimana keadaanmu sayang? ". tanya Shindy
"baik Mi.. " jawab Nia sambil tersenyum manis
Shindy mengelus kepala Nia, "hari ini ulang tahunmu kan sayang? ".
Nia melihat ke arah Shindy, "mami tau? ".
"tentu saja..! kamu mau makan apa sayang? hari ini adalah hari spesialmu jadi Mami akan memasak makanan yang kamu mau". Tanya Shindy dengan lembut.
Nia tersenyum haru lalu memeluk Shindy dengan erat hingga Shindy terkekeh mengelus punggung Nia.
"terimakasih Mi..! Nia bahagia sekali memiliki mertua seperti Mami". ucap Nia dengan nada bergetar.
"iya.. iya.. ayo katakan mau makan apa menantu kelinci mami ini? hmm? ". Shindy melepaskan pelukannya dengan Nia dan tangannya mengelus kedua pipi Nia
Nia tampak berpikir
Nia sudah biasa disebut kelinci oleh Keluarga Arya, sebab pertama kali tiba di Mansion Melviano Arya mengenalkan Nia itu peliharaannya seekor kelinci.
.
"apa kamu masih marah sama papi son? ". tanya Dylan menepuk bahu Arya
Arya tertawa pelan, "tidak Pi".
"Papi sangat tau rasanya saat diganggu diwaktu seperti itu". decak Dylan menggeleng kepalanya
Dylan dan Arya saling pandang lalu tertawa bersama-sama, Dylan memahami Arya karna dirinya juga lelaki.
.
__ADS_1
.
.