Kekasih Impian MR. Mafia

Kekasih Impian MR. Mafia
perasaan aneh


__ADS_3

.


.


"hei...? masih marah? ". goda Raya menusuk-nusuk pipi Raka


Raka mendecih melirik Raya sekilas dengan alis mengkerut seperti angrybird, sungguh lucu.


"masih bisa ketawa? ". Raka menatap datar Raya yang masih bisa tertawa karna situasi tadi.


"kenapa marah sih? apa karna aku belum bisa balas budi padamu? kau takut aku terluka ya? ". ejek Raya tak terbesit di pikirannya Raka mencintainya.


Raka melihat kembali kejalannya, mengabaikan Raya yang terus saja menusuk-nusuk pipi nya. Raya sangat cantik tertawa cekikikan seperti itu hingga kedua lesung pipinya terlihat jelas. namun yang membuat Raka fokus sekarang adalah Sherina, wanita yang menjadi dalang kejadian yang menimpa Raya akhir-akhir ini.


"huh..! sepertinya dia tau aku datang kesini". gumam Raya pelan dengan nada tenang.


"maafkan aku Raya..! karna aku kau tidak bisa hidup tenang". ucap Raka serius dengan nada bicara yang penuh makna hingga Raya menoleh ke arah Raka seketika.


"aku tidak selemah itu Raka..! lagian sebelum aku kenal dirimu aku memang sudah banyak musuh, dari saingan beladiri". jelas Raya dengan serius.


"tapi kali ini berbeda Raya..! aku mohon jangan terlalu tenang! aku takut kau benar-benar terluka". pinta Raka dengan nada serius terbesit rasa khawatir dimata Raka itu.


Raya tertegun lalu tersenyum tipis, tangannya mengusap kepala Raka. "aku baik-baik saja..! lagian menghadapi musuh memang harus tenang, seharusnya kau tau itu kan? karna kau seorang bos Mafia kan? lalu kenapa kau terlihat tidak tenang hanya karna masalah kaki tangan? "


Raka memegang tangan Raya dan menggenggamnya, sesekali melirik Raya.


"aku tidak bisa melihatmu terluka Raya..! ". ujar Raka serius


Raya mengerjabkan matanya, merinding..! bulu kuduk Raya kembali berdiri. Raka adalah pria satu-satunya yang berhasil membuat seorang Raya merinding.


"ke.. kenapa? ". tanya Raya


"karna aku tidak suka kau terluka". jawab Raka mengecup punggung tangan Raya hingga mata Raya melebar seketika tapi tak bisa mengelak.


jika pria lain Raya pasti sudah melepas paksa tangannya, atau memukul bibir pria itu tapi mengapa Raka tidak? apa yang salah dengan dirinya.


"ka.. kau? ". Raya tergagap melepaskan tangannya perlahan dari genggaman tangan Raka.


"maaf..! ". ucap Raka menggaruk kepalanya yang tak gatal.


"bodoh...! kenapa kau jadi begini Raka? kau tidak bisa mengontrol diri! ". batin Raka merutuki diri.


Raya melihat arah jendela mobil nya sambil berpikir serius namun sejenak keliatan bingung.


"ada apa denganku? kenapa aku? dia temanku? zaman sekarang kecup punggung tangan hal biasa. tapi kenapa ini berbeda? Papi, Satria, Randi, pandu, kama apalagi, dan Saudara laki-lakiku yang lain sering mencium punggung tanganku tapi tidak ada yang aneh". batin Raya jelas dirinya begitu kebingungan.


Raka melirik Raya, "apa dia marah? ". batin Raka penasaran namun terlihat takut untuk sekedar bertanya.

__ADS_1


Raya dan Raka tiba di rumah mereka. di dalam rumah ada Dita yang berlari ke arah Raya sambil mengomel seperti biasa.


"masuklah! ". titah Raka membuat Dita mengangguk sedangkan Raya melihat Raka sekilas saja.


Raka memutar badan melihat ke arah depan membelakangi Raya, sedangkan Raya berbalik melihat Punggung Raka.


"ada apa denganku? sadar Raya..! kenapa kau ingin melihat wajahnya? ". batin Raya memukul kepalanya sendiri


"Nona..! ". kesal Dita yang sejak tadi mengomel panjang lebar tak di dengar oleh Raya.


"apa? ". tanya Raya dengan tatapan polosnya tak merasa berdosa sama sekali.


"issh..! cepat masuk Nona! mandi dan cerita sama Dita". Dita merangkul pinggang Raya membawanya masuk ke kamar.


Raka di luar mengusap wajahnya dengan kasar, "bagaimana jika Raya marah dan mendiamiku lagi? 10 hari dia mendiamiku kepalaku sudah mau pecah, berhari-hari diabaikan olehnya, apa akan di diamkan lagi olehnya? ".


Raka menyesal tidak bisa menahan diri berani mengecup tangan Raya tanpa tau apa yang Raya pikirkan.


.


.


ke esokan harinya.


Raka, Raya, pak Jo, dan Dita pamit pada Pak Kepala Desa karna urusan mereka di kota itu telah selesai, bahkan yang terkendala pun telah Raya selesaikan, Raka tidak membantu Raya karna tau karakter utama Raya yang tidak suka di remehkan.


Raya tersenyum sopan juga dan Raka tersenyum tipis sambil mengangguk kecil.


para gadis-gadis disana berkumpul hanya ingin melihat Raka yang dikenal sebagai kekasih Raya si Nona Muda Melviano.


Raya melihat kearah Dita yang mengangguk segera mengeluarkan sebuah amplop tebal dari dalam tasnya.


"pak..! ini bantuan dari Nona saya, memang tidak seberapa tapi mohon di terima ya pak! ". kata Dita


"eeh..? kami tidak terima sogokan mbak! ". tolak Pak Kepala Desa


Raya tertawa kecil, "sogok? dalam kamus keluarga saya tidak ada kata seperti itu Pak! uang itu gunakan untuk membeli pakaian lebih bagus untuk anak-anak tempat ini dan buat taman bermain kanak-kanak di tempat luas itu supaya mereka bisa bermain sesuai umurnya. "


seketika Pak Kepala Desa jadi malu sendiri karna berpikir Raya menyogoknya.


"Tuan...! tuan..? ".


Raka menaikkan sebelah alisnya saat gadis-gadis Kota Y memberikannya banyak makanan buatan mereka masing-masing untuk dibawa Raka pulang ke Kota.


Raya melirik Raka yang melihat ke arahnya juga, Raya mengalihkan pandangannya karna terciduk oleh Raka.


"terimakasih Nona..! saya akan manfaatkan uang ini untuk anak-anak disini". ucap Pak Kepala Desa dengan tulus.

__ADS_1


Raya dan Dita saling pandang dan mengangguk sambil tersenyum ramah, Pak Jo pun berpamitan dengan Pak Kepala Desa sebab selama di sini, mereka teman kopi di warung.


Raya berjalan ke mobil Raka dan menatap datar gadis-gadis itu hingga segera menjauh dari Raka.


atap mobil Raka terbuka tapi bagian belakangnya sudah banyak makanan pemberian gadis-gadis itu.


"kami bisa pergi kan? ". tanya Raya dengan dingin.


"b.. bisa Nona". jawab mereka semua serentak


Raka lega saat Raya menyelamatkannya, Raka tidak mungkin menampar atau meninju semua gadis-gadis itu sebab daerah ini bukan kekuasaannya lagian mereka juga tidak melukai Raka hanya mengganggu ketenangan Raka saja.


Raka membukakan pintu mobilnya untuk Raya masuk, Raya pun masuk ke mobilnya sedangkan pak Jo dan Dita juga sudah masuk ke mobil belakang Raka.


Raka berlari pintu lain dan masuk ke mobilnya, mobil Raka perlahan meninggalkan area kota itu.


"senang ya? ". tanya Raya melirik Raka dengan datar.


"apanya? ". tanya Raka tidak mengerti.


"gadis-gadis itulah". jawab Raya


"huuh..! aku tidak bisa menyepak atau menendang mereka kan? aku bisa apa? ". Raka malah terlihat tenang seolah hal itu bukan masalah besar.


Raya mendengus, "ya...! makanlah semua bawaan mereka..! aku jamin kau akan jadi bab* dalam waktu beberapa jam".


Raka menggaruk kepalanya yang tak gatal, "aku tidak bisa memakan semuanya sendiri, nanti akan aku bagikan pada bawahanku".


"kau mau makan itu? ". tanya Raka


"tidak..!". tolak Raya bersidakap dada.


"kau masih marah padaku? ". tanya Raka membuat Raya terdiam seketika.


"a... aku tidak marah". jawab Raya melihat arah lain.


Raka yang mendengarnya langsung tersenyum tipis yang pasti ia senang dengan jawaban Raya.


.


.


.


Ok...!


.

__ADS_1


.


__ADS_2