Kekasih Impian MR. Mafia

Kekasih Impian MR. Mafia
Part. 55_ orang baru


__ADS_3

.


.


Tia memekik memaki Nia yang membuatnya hidup menderita, ia menangis di makam kedua orangtuanya.


Arya membawa Nia ke Apartemennya bukan Apartemen tempat tinggal Nia melainkan tempat tinggal Arya.


raut wajah Arya begitu khawatir juga terlihat serius merawat Nia, ia tidak memikirkan apapun lagi selain fokus menurunkan panas badan Nia.


Nia benar-benar demam tinggi dan tidak juga turun hingga Arya membawa dokter ke Apartemennya, Nia mengalami Depresi berat.


"Nona sudah dalam kondisi stabil Tuan, Nona hanya butuh istirahat". lapor Dokter panggilan Arya dengan sopan


Arya mengucapkan terimakasih dan mengantarkan dokter itu ke luar Gedung Apartemen menyewakan taksi untuk dokter itu.


Arya kembali ke Apartemennya dan merawat Nia yang tidak lagi sepanas tadi.


"Cha..! maafkan aku..! aku terlalu mengabaikan kedua orangtuamu, aku berjanji akan mencari dalangnya dan membalaskan dendammu". Arya memegang tangan Nia dan mengelus kepala Nia dengan lembut.


Arya memejamkan matanya perlahan ia membuka matanya dan tatapannya berubah dingin dan sorot mata yang tidak bersahabat, siapapun yang melihat tatapan Arya yang tak biasa akan langsung gemetar ketakutan, Arya jarang marah tapi sekali marah ia tak ada yang bisa menghentikannya.


Arya bangkit dari duduknya dan mengeluarkan ponselnya, Arya menghubungi Nola dan Alvan, karna ikatan keluarga yang erat Nola dan Alvan memilih kembali ke Kota mencari pelaku yang membuat kedua orangtua Nia meninggal dunia.


mereka (Nola dan Alvan) hanya pergi berdua dan tidak memberi tau Keluarga yang lainnya.


.


kini hari sudah menunjukkan pukul 02.09 malam.


Arya masih serius menatap komputernya, semua bukti-bukti yang didapatkan oleh Nola dan Alvan sudah ia dapatkan, kini Arya sedang menelisik pelakunya yang berantai cukup panjang hingga Arya cukup kesulitan mencari pelaku utamanya.


Arya tersentak dapat kiriman baru dari Alvan dan ternyata Pelakunya adalah Brayen,


"tidak mungkin dia, aku tidak bodoh hingga percaya walau semua bukti mengarah padanya". gumam Arya tak percaya pelaku utamanya adalah Brayen.


Arya tidak akan mengambil keputusan dengan cepat, ia menghubungi Nola dan memberi perintah mencari tau apa saja kegiatan Brayen selama 3 hari yang lalu.


.


"hiks.. hiks... Mama.. Papa". isak tangis Nia membuat Arya berdiri dari duduknya.


Arya berlari ke kamarnya dan melihat Nia meringkuk dan menangis sesegukan, Arya mendekati Nia dan duduk disamping Nia.


"Cha? ".

__ADS_1


Nia membuka matanya dan perlahan menatap Arya, "Kakak? ". panggil Nia dengan air mata yang memupuk di mata indahnya


Arya memeluk Nia dan mengelus kepala Nia hingga tangis Nia pecah seketika.


"a.. aku tidak kuat kak..! aku merasa aku adalah gadis kuat dan tangguh, sanggup menahan semua penderitaan seperti dibuang dan dihina oleh orang tercintaku tapi kenapa mereka meninggalkanku kak? apa aku pembawa sial? hiks.. hiks.. aku tidak tau kalau aku benar-benar pembawa sial.. jika aku pembawa sial kenapa aku dilahirkan? kenapa?".


Arya menenangkan Nia yang baru saja pulih, Arya tidak mau Nia drop lagi hingga berakhir di Rumah Sakit.


Nia kembali tak sadarkan diri hingga Arya menggeram marah pada siapa yang membuat Nia seperti sekarang.


.


pagi-pagi sekitar jam 07.10 WIB


"nama saya Ricis Tuan Muda". kata seorang gadis tomboy dengan stelan formalnya.


Ricis adalah bagian dari orang-orang terpilih dari Pelatihan Satria, Arya memperkerjakannya untuk menjaga Nia selama Arya pergi.


"ya.. tugasmu temani dia, jangan sampai dia pergi dalam keadaan apapun". Arya memberi perintah


"baik Tuan Muda...! suatu kehormatan bagi saya dipercaya menjadi Pengawal pribadi istri Tuan Muda". kata Ricis dengan sopan namun ada tutur kata tegas dalam perkataannya.


Arya mengangguk lalu melihat ke arah kamarnya dimana Nia masih tidak sanggup menerima kenyataannya.


Arya meninggalkan Apartemennya dan pergi ke Markas para perampok bayaran yang membunuh kedua orangtua Nia, namun sebelum itu ia harus pergi ke Perusahaan untuk memberi pelajaran pada Brayen.


Arya yakin semuanya terhubung dengan Brayen, walau Brayen tidaklah pelaku utama tapi Brayen bisa saja pelaku sampingan yang sedang memanfaatkan situasi, karakter Brayen membuat Arya mengerti bahwa Brayen itu Pria pengecut yang hanya bisa bersembunyi dibalik tembok.


.


jam 9 malam, di tempat Markas perampok bayaran kelas menengah.


Arya memasang bom di setiap sudut markas itu, ia bisa mendengar musik dan sorak-sorakan meriah orang-orang di dalam Markas itu,


"Chachaku menderita dan Kalian sedang bahagia ya? baiklah aku bantu kalian cepat menuju ke gerbang Neraka". seringai Arya


Arya tidak mau membuang waktu dengan menghabisi mereka satu persatu karna Arya tau pelaku utamanya bukan mereka melainkan ada yang lebih berkuasa dari para Perampok Bayaran itu.


Arya tau berapa bayaran Perampok kelas Menengah itu, bayaran mereka tidaklah murah dan Brayen tidak akan sanggup membayar mereka kecuali Brayen menjual Perusahaannya.


Arya mengambil Bom dari Markas The Xylver, bom racikan khusus Keyzo dan Kama ada di Markas The Xylver dan Arya tentu punya kuasa untuk mengambil senjata berbahaya itu.


Arya memegang remot Bom nya dan berbalik badan berjalan tenang meninggalkan tempat itu, ia naik ke mobilnya dan melaju kencang meninggalkan tempat itu namun sebelum menjauh Arya menekan remotnya hingga ia menghitung mundur.


"10...9... 8....7....6....5....4.....3....2.... 1 ..."

__ADS_1


Arya dengan sabar menghitung mundur dan


"Duar... duarrr.. duarrrr!! ".


ledakan dahsyat pun terjadi, semua yang ada di dalam Markas Perampok Bayaran itu hancur berkeping-keping.


Arya masih belum puas, "itu masih teguran kecil". gumam Arya dengan sinisnya melirik kaca spionnya.


.


Nia terbangun sekitar jam 1 malam lagi, ia tertidur hampir 2 harian penuh.


"Nona? ". sapa Ricis dengan sopan


Nia tersentak kaget, "..si.. siapa kamu? ". tanya Nia dengan raut wajah panik melihat sekeliling.


"a.. apa aku di culik? ta.. tapi tempat ini tidak asing, tadi aku ingat ada Kak Arya disini". batin Nia ketakutan.


"saya Ricis Nona, saya akan menjadi pengawal anda untuk kedepannya". kata Ricis


"p.. pengawal? aku tidak punya pengawal, lagian yang punya pengawalkan Alya dan aku mengenalnya yaitu Ayu, sedangkan kamu siapa?".


Ricis menggaruk kepalanya yang tidak gatal, "Kak Ayu adalah senior saya Nona".


"hah? Senior? ". beo Nia


Ricis menjelaskan apa saja tingkat senior di dalam Pelatihannya menjadi orang-orang Kepercayaan Melviano, Nia mengangkat tangannya hingga Ricis terdiam.


"sudah cukup..! kenapa kamu malah curhat membuat kepalaku makin pusing saja, aku ingatkan ya? selain makanan jangan bahas apapun padaku.." Nia


Ricis terkekeh lalu dengan cepat ia merubah raut wajahnya menjadi tegas dan tak berekspresi hingga Nia bergidik ngeri melihat langsung perubahan wajah Ricis.


"apa kamu artis? ". tanya Nia malah melenceng


"tidak Nona.. saya seorang Pengawal". jawab Ricis


Nia hendak berbicara namun bunyi perut Nia membuat Nia begitu malu.


"saya sudah pesankan makan malam untuk Nona, saya tidak bisa memasak jadi memesan Online Nona, jika anda tidak suka makanan dingin saya akan memanaskannya kembali karna jam sekarang sudah tidak ada antar makanan Online lagi". kata Ricis membuat kepala Nia semakin berdenyut.


untuk sesaat Nia melupakan kesedihannya.


.


.

__ADS_1


__ADS_2