
.
.
"abang kayak gini aja nggak apa aku keluarnya? ". tanya Raya tersenyum manis hingga lesung pipinya terlihat jelas.
Raka bukannya menjawab malah melototkan matanya dengan galak, "awas kamu sayang? aku tidak akan membiarkanmu keluar dalam keadaan seperti ini".
Raya terkikik gemas menatap Raka tengah kelimpungan mencari cara untuk menutupi kepalanya.
"handuk bagaimana sayang? ". tanya Raka
Raya menggeleng kepalanya,
"abang..? kenapa ponselmu? coba angkat!! ". pinta Raya mendengar suara dering ponsel suaminya.
sambil menggerutu Raka mengangkat panggilan itu,
"hmm..? siapa? ". tanya Raka dengan kesal tanpa melihat siapa yang tengah menelfonnya.
"abang..! keluar dari hotel ini.. ada bom yang akan menghancurkan aula tadi sekaligus hotel ini". Satria berkata dengan panik.
"apaa?? bagaimana bisa? siapa yang memberi taumu? ". tanya Raka
"tidak usah banyak tanya bang.. Aula sudah kacau balau karna peringatan seseorang, aku mencari kalian tapi tidak ada, awalnya aku pikir kalian sudah pergi tapi mobil kalian masih ada.. cepat keluar saja!! ". Satria
Raka mematikan panggilannya lalu mengambil handuk dan menarik tangan Raya.
"kenapa bang? ". tanya Raya dengan raut wajah penasaran.
"Hotel ini ada bom nya sayang..! Aula sudah bubar kita harus pergi dari tempat ini". jelas Raka
Raya mengangkat gaunnya dan berlari mengikuti suaminya, sementara Raka sibuk menutupi kepala istrinya supaya rambut indah istrinya tidak terlihat oleh pria manapun.
Raka mendengar suara seseorang di lorong pintu menuju keluar hotel,
"haha... aku menemukanmu Anak macan..! sejauh apapun mommy dan daddymu membawamu pergi, aku akan menemukanmu.. haha... ".
Raka merasa perkataan itu bukan untuknya jadi ia hanya fokus berlari membawa istrinya keluar dari hotel.
"abang..! siapa yang mereka maksud? siapa anak macan? ". tanya Raya menongolkan kepalanya hingga rambutnya terlihat.
"sayang.? rambutmu? ". Raka kembali menutupi kepala Raya membawanya sejauh mungkin dari hotel itu.
"benar-benar sunyi..! siapa yang mereka incar? ". gumam Raya yang tidak bisa melihat jalan hanya bisa mengikuti suaminya yang membawanya entah kemana.
di luar sudah banyak orang yang berkumpul di aula pelelangan, mereka malah mengeluarkan ponsel masing-masing seolah menunggu ledakan hotel tersebut.
Raka membawa Raya ke jalan belakang, tidak sempat bagi Raka membawa Raya ke tempat parkiran yang masih dekat dengan kawasan hotel.
Duaaar...!
ledakan dahsyat pun mengguncang tanah, Hotel itu hancur dalam sekejab.
"aaakh...! "
Raka menarik Raya dan memeluknya erat saat tubuh mereka terlempar dan terkena serpihan dinding yang terpencar akibat ledakan itu.
"abang? ". pekik Raya melihat Raka tengah terluka karna ledakan besar di belakangnya.
__ADS_1
Raya bangkit dan melihat keadaan suaminya, "abang? abang bangun bang? abang bisa dengar aku? ". tanya Raya dengan panik menepuk-nepuk pipi Raka.
Raya melihat ke arah gedung hotel tadi, "sialan..! siapa anak macan yang mereka maksud? ".
"abang? ".
Raya mencari ponselnya dan tidak ada, "pasti tas ku tertinggal di kamar tadi". geram Raya
Raya merogoh tubuh suaminya dan mengambil ponsel Raka, Raya menghubungi Satria dan meminta saudara kembarnya itu untuk datang ke belakang hotel.
"abang? bangun bang? ". panggil Raya dengan khawatir.
Raka perlahan tersadar lalu meringis pelan
"abang?". Raya membantu suaminya untuk duduk.
"kamu baik-baik aja sayang? ". tanya Raka mengusap pipi Raya.
Raka bahkan tidak ingat lagi Raya tidak memakai penutup kepala sebab handuk yang menutupi rambut indah istrinya itu sudah terbang entah kemana.
Saat ini Raka khawatir keadaan Raya, "kenapa tidak jawab sayang? apa pecahan dinding beton mengenaimu? ". tanya Raka khawatir.
Raya menggeleng kepalanya, "punggung abang berdarah". Raya menunjukkan telapak tangannya yang meraba punggung Raka.
Raka meringis pelan, "pantas saja sakit".
Raya mengusap rahang Raka, "abang? tahan ya? kita ke rumah sakit sekarang".
"baiklah..! kita periksa keadaanmu". jawab Raka malah memikirkan keadaan istrinya.
"abang..? " protes Raya
Raya menggeleng pelan kepalanya, percuma bicara dengan suaminya yang keras kepala itu, Raka bahkan tidak sadar dirinya terluka masih sempatnya memikirkan keadaan dirinya.
tak berapa lama Satria datang, Satria berlari ke arah mereka.
"bagaimana keadaan kakak?". tanya Satria khawatir.
"bantu kakak bawa abang iparmu ke rumah sakit". pinta Raya membantu Raka bangkit.
Satria melihat ke arah Raka yang punggungnya terluka, jas juga baju kemeja Raka robek.
"abang ipar terluka?". tanya Satria sambil memapah Raka
"ya.. cepatlah..!!". sahut Raya khawatir.
"periksa Raya juga Satria.. dia pasti syok tadi". Pinta Raka
"abang..? kondisi abang lebih memprihatinkan ketimbang aku". omel Raya
"aku tidak mau periksa sebelum kamu di periksa juga sayang". ujar Raka serius.
"abang..? ". Raya
"udah jangan debat. ! kita periksa kak Raya juga abang di ruangan yang sama". selah Satria.
.
.
__ADS_1
di Rumah Sakit.
Raya tampak termenung mendengar perkataan dokter bahwa dirinya tengah mengandung, Raya sudah memakai pashimina hitam yang dibeli Satria tadi saat dalam perjalanan menuju rumah sakit.
"kenapa sayang? apa kamu tidak senang kamu hamil?". tanya Raka menggenggam tangan Raya
sementara dokter sedang sibuk menjahit punggung Raka yang robek.
"bukan gitu abang..! aku bukan mikirin kandunganku". jawab Raya sambil tersenyum tipis mengelus perutnya yang masih datar.
"jangan kepikiran sayang? kamu ingat kata dokter tadi kan? kamu tidak boleh banyak berpikir tidak baik untuk anak kita". kata Raka dengan senyum tertampannya.
Raya menatap Raka yang tengah bahagia walau terlihat sedikit pucat, bagaimana bisa suaminya tersenyum sebahagia itu padahal punggungnya robek, terlihat sekali jahitannya cukup panjang sebab dokter belum juga selesai menjahit luka suaminya.
"Satria? ". panggil Raka
"iya bang". sahut Satria mendekat
"belikan istriku makan malam di Restaurant depan, tadi Raya bilang padaku ingin makan lobster". pinta Raka sambil mengeluarkan dompetnya
Satria langsung berbalik pergi tanpa mengambil kartu milik Raka,
"jangan bergerak tuan..! kami sedang menjahit luka anda". pinta dokter pria di belakang Raka tanpa segan menahan bahu Raka untuk tidak berdiri.
Raya masih sibuk dengan pemikirannya,
"anak macan? siapa yang disebut anak macan?". batin Raya
Raya menoleh ke TV mendengar berita ledakan bom di hotel CerLyx,
"tidak ada korban jiwa? ". beo Raya
Raka menoleh ke arah TV, "berarti kita yang terakhir tadi ya? sialan.. bedebah mana yang sedang bermain bom dengan musuhnya hingga anak dan istriku hampir jadi korban ledakan bom sialan itu".
Raka memaki si pelaku tanpa berpikir bahwa dirinya juga akan menjadi korban jika tidak keluar tepat waktu.
Raya terdiam mencerna situasi tadi, "abang dengar sendiri kan? tadi ada yang bilang kalau dia menemukan anak Macan itu? siapa anak Macan abang? "
"mungkin orang lain ada dibelakang kita". jawab Raka tak terbesit di pikirannya dengan hal lain.
"tapi kata Satria hanya kita yang menghilang abang". jawab Raya
"hmm? benarkah? apa musuhku? apa mereka tau kamu mengandung sayang? itu sebabnya suara itu bilang anak macan? ". cecar Raka berpikir anak macan itu adalah anaknya bersama Raya.
"abang..! kita aja baru tau ada nyawa di perutku terus bagaimana orang lain bisa tau ada anak di perutku? ". kesal Raya
Raka menggaruk kepalanya yang tak gatal, "aku akan cari tau sayang..! jangan pikirkan apapun ya? aku mohon..!". pinta Raka dengan lembut.
Raya mengangguk patuh tapi otak cerdasnya masih saja kepikiran, Jujur Raka juga curiga dan banyak pertanyaan di benaknya tapi ia berpura-pura tidak tau supaya istrinya tidak kepikiran.
.
.
selamat berakfititas pagi...!!
.
.
__ADS_1