
.
.
Raya menatap datar ke arah Raka di ujung pandang tengah di kerumunin bunga kata Dita, tangannya bersidakap memperhatikan hal itu.
Dita mengelus dada di belakang Raya sambil bergumam sendiri dalam hati, sedangkan Pak Jo sudah hilang pagi-pagi katanya sedang diwarung kopi entah dimana warung kopi itu berada.
di rumah itu hanya Dita dan Raya,
"ck..! hilang laparku saat ini". gerutu Raya melihat jam tangannya yang terus berjalan sementara Raka tak juga bergerak dari sana.
"apa data yang Nola cari itu memang benar? tampaknya dia menikmati kerumunan itu". desis Raya menahan rasa kesalnya.
bagaimana tidak? sudah 1 jam berlalu Raka belum ada tanda-tanda kembali ke rumah mereka untuk mengantar sarapan.
.
.
"nona mau kemana? ". tanya Dita mengikuti Raya
"aku mau cari angin segar". jawab Raya ketus
Raya menatap tajam Dita yang mengekorinya, Dita bukannya takut ia malah menggeleng-geleng kepalanya lalu memperagakan dirinya akan di gorok lehernya jika membiarkan Raya pergi sendiri.
Raya menaikkan sebelah alisnya, "siapa? ". tanya Raya dengan datar.
"Tuan besar". jawab Dita berkacak pinggang seolah menantang Raya apakah bisa melawan perintah Dylan.
Raya mendengus dan memilih mengabaikan Dita yang terus mengekorinya seperti anak itik saja.
.
.
"Raya? ". Raka kembali ke rumahnya mencari sosok gadis impiannya.
Raka mengetuk kamar Raya tapi tidak ada sahutan, Raka menghubungi ponsel Raya tapi ternyata ponsel Raya sedang isi Daya (chas).
"Dita? ". Raka menghubungi Dita
"sial..! kemana mereka hingga tak ada yang bawa hp satupun". Raka makin marah saja saat terdengar ponsel Dita disudut kamar yang lain.
sama seperti Raya ponsel Dita juga sedang di isi Daya.
"ini karna semua cicak itu ..! mereka membuang waktuku saja, jika bukan karna Raya mana mau aku datang ke tempat ini". geram Raka
Raka keluar dari rumah itu dan berlari ke rumah Kepala Desa bertanya dimana sekiranya kekasihnya itu pergi namun tak ada yang tau dimana Raya pergi.
"nanti keluar Tuan naik mobil? ". tebak gadis lain yang juga tertarik dengan Raka.
di kota mereka pria tampan seperti Raka benar-benat sebuah berkah, sayang kalau tidak ditatap sepuasnya, kapan lagi mereka kedatangan artis pikir para gadis disana.
"tidak mungkin! Mobil Rayaku masih ada diparkiran". jawab Raka dengan dingin meninggalkan gadis itu.
__ADS_1
Pak Kepala Desa pun membantu Raka mencari Raya.
sedangkan gadis yang telah membuat Raka khawatir sedang berdebat dengan Dita tentang naik perahu di danau atau tidak.
"jangan Nona..! didalam sana bisa saja ada buaya". cegah Dita.
"jangan berisik Dita..! aku mau naik perahu". titah Raya
"Nona jangan.. Perahunya sudah tua, Danau itu sangat tenang Nona. saya mohon Nona jangan bersikeras..! Nona..! setidaknya pikirkanlah nyawa saya Nona saya belum menikah hingga rela jadi santapan buaya".
Raya memutar bola matanya dengan malas, "kau tidak takut di keroyok 10 Mafia hebat tapi takut dengan buaya? dasar aneh".
"Nona..! Buaya bertaring Nona, sejahat apapun manusia tidak akan memakan kita tapi Buaya bisa memakan kita Nona". bela Dita
"aku mau naik". tegas Raya
"tidak boleh naik". tolak Dita
"naik.." tegas Raya
"tidak.. " Dita
"naik.. naik.. naik.. naik.. ". tantang Raya
"tidak.. tidak.. tidak.. tidak.. tidak..! ".. tolak Dita tampak berpikir,,
"Eh.. kelewatan tidaknya". gumam Dita lagi.
"minggir..! " usir Raya
"minggir Tidak? ". Raya melototkan matanya
"tidak mau". balas Dita begitu berani.
"minggir Dita! aku masih sabar". Raya memejamkan matanya dengan gigi merapat.
"tidak mau Nona..! walau anda harus membunuh saya sekalipun". Dita bersikukuh tak mau juga bergeser.
"kalau begitu aku akan bawa kau naik perahu biar mati dimakan buaya". Raya menarik lengan Dita yang bisa mengelak.
"Dita..! " geram Raya
"maaf Nona". ucap Dita
Raya dan Dita pun berkelahi, Raya menendang perut Dita namun mengelak, Raya mengambil kesempatan itu untuk masuk Perahu tapi Dita menarik lengan Raya hingga terhuyung kebelakang.
"kau membuatku marah Dita". kesal Raya mulai mengeluarkan taringnya
Dita tak mau kalah juga mengeluarkan jurusnya berupa sayap burung, bisa-bisa nya mereka berkelahi di tepi danau yang tenang itu.
"Raya...! ".
deg...!
Suara itu menghentikan aksi perkelahian sengit antara Majikan dan pengawal itu di tepi danau dan ada perahu di samping mereka.
__ADS_1
punggung Raya terasa dingin sungguh dingin,
"syukurlah anda datang tepat waktu tuan.. ! kalau tidak Nona sudah ada di tengah danau dengan perahu rusak ini tanpa peduli ada bahaya apa di dalam sana". adu Dita membuat Raya menelan ludah.
"anda tidak boleh naik perahu Nona!! di dalam sana ada buaya". kata Pak Kepala Desa.
"iya Nona..! perahu sangat mudah di hancurkan oleh buaya, alangkah baiknya anda naik kapal saja". sambung gadis yang lain.
Raya memutar kepalanya dan tersenyum canggung melihat raut wajah Raka yang menyeramkan, sungguh membuat nyalinya menciut bahkan untuk bersuara saja ia tidak bisa.
Raka mendekati Raya hingga gadis cantik bermata biru itu melangkah mundur dan hendak lari,
"jangan lari Raya..! ". teriak Raka mengejar kekasih impiannya itu.
Dita membekap mulutnya melihat aksi kejar-kejaran nona dan tuannya itu, sementara pak Kepala Desa pun malah pusing melihat adegan itu dan gadis-gadis lainnya malah berdecak iri dan kagum akan pemandangan itu tapi bisa apa? Raka tidak tertarik dengan mereka karna memiliki kekasih yang punya kecantikan dewi seperti Raya.
"Raka...! " jerit Raya saat Raka berhasil menarik pinggangnya hingga masuk ke pelukan Raka.
mata tajam Raka tak berekspresi selain tatapan marah seperti di khianati seseorang saja.
Raka menggendong Raya seperti karung beras hingga gadis itu memekik memukul punggung Raka.
"Raka lepas..! lepasin aku..! kenapa kau tidak main sama gadis-gadis itu saja ha? aku kelaparan kau lama sekali membawa sarapan". teriak Raya
Dita berlari mengikuti tuan dan Nonanya sambil menunduk sopan pada Pak Kepala Desa yang menganga lebar mendengar celotehan gadis pendiam yang tak banyak bicara seperti Raya.
padahal Raya bukan Pendiam tapi terlalu malas berbicara dan tak suka hal yang berisik tanpa Raya sadari dirinya berisik sendiri.
"turunkan aku.. ! " teriak Raya
"mau apa setelah aku turunkan? ". tanya Raka dengan suara beratnya.
"apalagi? aku mau makan buaya di danau itu lah untuk mengganjal rasa laparku, cepat turunkan aku !! ". amuk Raya memukul-mukul punggung kokoh Raka.
sementara yang mendengar amukan Raya malah merinding, bagaimana bisa seorang gadis cantik seperti Raya makan buaya yang masuk kategori hewan buas.
"makan buaya? ". gumam para gadis kota Y bergidik ngeri seketika.
Raya di gotong seperti itu oleh Raka memasuki rumah, sementara pak Kepala Desa tidak bisa memaksa juga untuk masuk sebab ada Dita yang terus mengekori Raya, jika hanya Raya dan Raka saja mungkin Pak Kepala Desa akan menikahkan mereka detik ini juga.
.
.
.
hai.. hai... nggak sabar adegan actionnya? menurut Nae fokuskan sama kisah cinta mereka dulu deh baru mereka couple melawan musuh bersama-sama kayaknya manis tu... wkwk.. jadi nikmati alurnya ya? kalau buru-buru nanti cepat tamat nggak asih dong.. hehe..
Nae aja yang Up cuma 3 sehari kayaknya kurang gitu bacanya tapi mau bagaimana lagi cuma segitu aja kemampuan nya Nae bisa Up, apalagi sekarang lagi sibuk nih jadi IRT karna Orangtua pulang kampung ada acara pesta disana.. wah.. wah.. kok jadi curhat ya? hehe.. terimakasih...
selamat beraktifitas..!!
.
.
__ADS_1