
.
.
masalah di Perusahaan Raka dan Raya telah selesai, tapi Raka tidak bisa membawa Raya berbulan madu sebab Raya masih sibuk di Perusahaan MattGroup yang tidak ada pimpinannya.
Satria dan Arya pergi ke Kota Y menyelesaikan masalah disana, itu sebabnya Raya lebih sibuk dari sebelumnya.
malam hari di Mansion Raka dan Raya.
"kapan mereka kembali sayang? aku tidak sabar ingin membawamu jalan-jalan ke luar negri". Raka mendekati Raya dan mengelus kepala Raya dengan lembut.
"abang jangan ganggu aku ya? nanti aku kasih ciuman plus+plus deh". tepis Raya dengan pelan
Raka tersenyum lebar seketika, ia pun meninggalkan Raya dan duduk di Sofa Ruangan Kerja Raya.
Raya terus saja melihat komputer dan berkas-berkas setinggi gunungnya, Raya tidak mengeluh banyaknya pekerjaannya sebab Satria dan Arya pasti dalam kesulitan juga di Kota Y, bagi merela saling menolong antar saudara itu sangat penting.
Raka melihat ke arah pintu dimana Bi Asih masuk membawa jus dan buah segar untuk Raya, Raka kembali memainkan ponselnya menunggu Raya menyelesaikan pekerjaannya.
"Nona ini cemilan malam nya". Bi Asih meletakkan makanan Raya di meja Raya yang luas namun bagian yang kosong.
"aaaah...! ". Raya membuka mulutnya minta di suapin.
Bi Asih pun tersenyum hangat dan langsung menyuapi Raya.
"hmm.. enak bi..! terimakasih". ucap Raya yang masih sibuk.
"sama-sama Nona, jangan lembur terlalu malam Nona! tidak baik untuk kesehatan mata". gemas Bi Asih.
"issh... apa kaitannya mata sama lembur Bi? ". gerutu Raya dan Bi Asih tertawa pelan membalik tubuhnya memberi hormat pada Raka yang mengangguk lalu keluar dari Ruangan kerja Raya.
tok. ..tok.. tok..
Raka menoleh ke Pintu dimana Rio berdiri, "tuan? ". sapa Rio
"hmm...! ke ruanganku". titah Raka berdiri dari duduknya.
"sayang aku ke Ruangan Kerjaku ya? ". izin Raka melihat Raya yang sama sekali tidak melihatnya.
"iya bang..! ". sahut Raya tak melihat Raka.
Raka pun berbalik pergi bersama Rio yang menutup ruangan Raya.
di Ruangan Kerja Raka, "katakan..?! ". titah Raka
"sesuai perkataan anda tuan, istri baru tuan Reiner sudah di ceraikan oleh Reiner karna berpura-pura miskin". lapor Rio.
"lalu? ". tanya Raka
"Tuan Reiner menyadari mantan istrinya telah bersama Pria lain yang lumayan kaya, pria baru nya bagian dari anggota Dewan. Tuan Reiner marah besar karna merasa di tipu lalu menggila di depan rumah mantan istrinya yang menikah lagi tuan". jawab Rio.
"asik juga, apa dia bisa menikah secepat itu? ". tanya Raka terkekeh.
"saya membantunya tuan, apa tuan keberatan? ". tanya Rio.
"tidak, permainan makin seru..! liburan panjang yang telah aku berikan sudah cukup untuknya...hmm... ada apa denganku Rio? kenapa aku belum puas menyiksanya". Raka memejamkan matanya sambil bersandar di sofa.
__ADS_1
Rio tersenyum tipis, "saya sedang memantaunya tuan, akan saya buktikan padanya bahwa dia tidak pantas menikah dengan wanita kaya".
"hmm.. awasi dia, siapa yang ia targetkan lagi jangan beri kelonggaran." balas Raka
"bagaimana dengan Maria itu? ". tanya Raka
"Tuan Jon mengatakan kalau Tuan Satria mengurungnya di suatu tempat, dia tidak akan bisa keluar tanpa izin tuan Satria, Tuan". jawab Rio
"kemana Jon? ". tanya Raka
"sedang menyiksa Nona Dita tuan". jawab Rio lagi.
"ck...! kenapa mereka tidak pernah bisa akur? ". gumam Raka
.
.
jam 12 malam
Raka kembali ke Ruangan Raya yang belum juga menyelesaikan pekerjaannya.
"sayang? apa masih lama? ". tanya Raka
"sedikit lagi bang". jawab Raya melihat 3 berkas dokumen lagi yang harus ia selesaikan.
Raka setia menunggu Raya di Ruangan kerjanya, Raya meregangkan jemari tangannya sambil menggeliat di kursi nya.
Raya melihat jam dinding menunjukkan pukul 1 malam,
"abang? ". Raya bangkit dan berjalan ke arah Raka.
Raya langsung melompat memeluk Raka, Raka tertawa gemas dan menggendong Raya seperti Koala, Raya memejamkan matanya di pelukan hangat sang suami.
"lelah? ". tanya Raka.
"tidak lagi". jawab Raya
"kalau begini kapan kita berbulan madunya sayang? aku pikir selama 1 minggu ini kita tidak akan bisa kemana-mana". Raka mengelus punggung Raya.
Raya perlahan membuka matanya, ia merasa bersalah tidak bisa berbulan madu dengan suaminya.
.
.
di kamar
"mau kemana sayang? ". tanya Raka saat Raya bangkit dari Ranjangnya.
"kebelet". jawab Raya berlari kecil ke kamar mandi.
Raka tersenyum lembut melihat rambut panjang Raya yang berkibar sana-sini, sangat cantik dilihat dari belakang.
di depan Westafel, Raya berkaca.
"Raya..! dia suamimu, atas dasar apa kau membuatnya menunggu? pernikahan kalian sudah hampir 2 bulan? siapkan dirimu". Raya mengoceh sendiri.
__ADS_1
Raya menarik nafas dan membuangnya perlahan, ia mengusap dadanya yang berdebar kencang.
"yah... gugup sekali". gumam Raya memberanikan diri keluar dari kamar mandinya.
"bagaimana jika sekarang saja? ". tanya Raya di depan kamar mandi.
Raka langsung duduk dari tidurannya.
"s.. sekarang? kamu yakin sayang? ". tanya Raka
"hmm.. tidak masalah bagiku bang, bulan madu kita bisa minggu depan". Raya berkata sambil mendekati Raka.
Raka tersenyum lembut lalu menarik tangan Raya hingga masuk ke pelukan Raka, Raka berbalik hingga Raya terlentang di ranjangnya dan Raka sudah pasti menindihnya.
"untuk sekarang kamu tidur saja sayang, apa menurutmu aku begitu tidak sabar hmm? aku juga harus memikirkan dirimu bukan hasratku saja, percayalah aku baik-baik saja". gemas Raka lalu mencium kening Raya lama.
"abang yakin? jika mau sekarang aku tidak akan menolak". tanya Raya
Raka menggesek tubuhnya dengan tubuh Raya hingga tubuh Raya menegang saat ini, gugup sekali dia.
"aku bilang besok saja sayang, jika melakukannya sekarang ! kamu tidak akan bisa datang ke kantor, apa kamu yakin tidak masalah? ". bisik Raka di telinga Raya.
"apa efeknya begitu? ". tanya Raya mengerjab-ngerjabkan matanya.
"ya...! ini... ". Raka dengan berani meraba bagian bawah Raya.
Raya makin tegang saja saat ini, ia tidak tau harus bagaimana menatap Raka, wajahnya Raya merona, sungguh malu sekali Raya.
"akan terasa sakit, aku yakin kamu tidak akan bisa berjalan dengan normal". jelas Raka menggoda kini tangannya naik meraba bagian atas tubuh Raya.
"jadi sekarang aku ingin melihat saja seluruh tubuh milikku ini". lanjut Raka menyeringai tipis.
Raya membulatkan matanya, "maksud abang? ".
"apa aku tidak boleh melihat milikku? ". tanya Raka lalu mengecup bibir Raya.
"b.. boleh". jawab Raya gugup bercampur malu.
"sayang..! kamu sangat tau menyenangkanku". gemas Raka sambil membuka satu persatu kancing baju istrinya.
Raya memejamkan matanya saat Raka menatap lama tubuhnya yang masih tertutup bra dan cel*n* dal*m,
"ke..kenapa abang? ". tanya Raya masih begitu malu merasa Raka hanya menatapnya saja walau Raya tidak melihatnya.
"apa aku bisa menahan diri sayang? ". tanya balik Raka dengan mata berembun, bukan mau menangis melainkan tersirat nafsu di dalamnya.
Raya membuka matanya dan bersitatap dengan mata Raka ternyata sang suami terlihat tersiksa menahan diri.
"tidak apa bang..! lakukan saja, jika tidak bisa bekerja nanti aku mungkin hanya berada di ruangan kerjaku saja, aku boleh pinjam Jon dan Dita mengambil berkas-berkas ku di kantor? ".
Raka langsung mengangguk,, "kamu boleh memijamnya sayang, apa yang aku miliki milikmu juga tidak perlu izinku".
"hmm.. kalau begitu jangan menyiksa dirimu sendiri". ujar Raya lagi.
.
.
__ADS_1
.