Kekasih Impian MR. Mafia

Kekasih Impian MR. Mafia
patuhi


__ADS_3

.


.


.


"kenapa kamu manis sekali sayang? ". Raka menangkup pipi Raya dengan mesra.


Raka melupakan perasaan takutnya meninggalkan Raya,


"aku memang sangat cantik". jawab Raya malah melenceng.


Raka tergelak membuat Raya tersenyum, setidaknya Raka bisa melupakan masalahnya itu.


"kamu memang sangat cantik sayang..! ". gemas Raka memainkan rambut panjang Raya.


Raya tertawa saat Raka kembali memeluknya, Raka memang suka sekali memeluknya dimanapun berada.


"aku akan ikuti pelatihan itu tapi kamu tetap disini sayang..! aku takut Morett datang ke kamu saat aku sedang tidak ada disisimu". pinta Raka dengan serius.


senyum Raya memudar lalu segera melepaskan pelukannya, "kamu tau? ".


"tentu sayang..! karna tau hal itulah, aku mengurung diri saat itu". jawab Raka


"siapa yang memberi taumu? Dita? ". tanya Raya tak suka


"Jon". jawab Raka sejujurnya


"huh...! tangan kananmu itu terlalu jujur". gerutu Raya.


Raka tersenyum tipis, "itu lebih baik sayang, aku tidak mau kamu berada dalam bahaya..! aku sudah mengawasi wanita itu sedang sibuk dengan dunia mereka, aku yakin cepat atau lambat dia akan datang kesini (indonesia) ".


"iya aku tau". jawab Raya


"dia tipikal wanita licik yang membunuh keluarga tersayang targetnya, aku tidak mau dia melukai Alya sayang, dia juga bagian darimu yang paling berharga ". jelas Raka dengan raut khawatir membayangkan hal itu bila terjadi.


"tenang saja Raka..! aku sudah meminta Arya dan Satria menjaganya bahkan mengirimkan pengawal bayangan untuk adikku saat kuliah". jawab Raya


"apa akan aman? ". tanya Raka.


"tentu saja..! saat aku kembali dari Negara M, aku sudah mencari tau apapun tentang wanita itu". jawab Raya


"maafkan aku..! aku tidak pernah menyangka wanita itu akan menargetkanmu saat aku membawamu ke acara pesta malam itu". ucap Raka merasa bersalah.


"kamu menyesalinya? ". tanya Raya membuat Raka mengangguk lemah.


"tapi aku tidak menyesalinya sama sekali". jawab Raya


"kenapa sayang? ". tanya Raka heran.

__ADS_1


"jika aku tidak ikut kamu ke Negara itu mungkin sampai sekarang kita masih berteman, aku tidak akan pernah tau kalau kamu itu benar-benar pria normal, aku mengira kamu menyukai pria terutama Robert". jelas Raya


"kenapa kamu bisa berpikir aku menyukai Robert sayang? apa aku pernah berpelukan dengannya didepanmu? kami selalu berdebat setiap bertemu bahkan saling tendang-tendangan satu sama lain. dari mana kamu menilai rasa suka itu? ". tanya Raka benar-benar penasaran.


"Yeri mencintaimu, Robert mencintai Yeri, tapi kamu tidak mencintai Yeri sudah pasti kamu mencintai Robert. Yeri ingin kamu bahagia dan meninggalkan Robert supaya bisa bersamamu". jawab Raya


Raka menganga lebar mendengar penjelasan singkat Raya, memang penjelasannya sangat singkat tapi rasanya seperti menyentil harga diri Raka yang seorang pria sejati.


"sayang? aku akan memakanmu saat ini kalau tidak juga percaya...! aku benar-benar normal sayang". gemas Raya mencubit kedua pipi Raya yang tertawa tapi pipinya merona.


"mau aku makan sekarang hmm? ". Raka menindih tubuh Raya


Raya menggeleng kepalanya sambil cekikikan sendiri, "maaf suamiku.. maaf..! aku tidak sengaja, bukankah kamu yang memancingku untuk menjawab tadi? hmmm? hahaha ".


Deg...!


jantung Raka bergemuruh hebat, "kamu panggil aku apa sayang? ". tanya Raka menatap lekat istrinya yang berada di bawah kukungannya.


"apa? ". tanya Raya balik tidak sadar.


"hayo ulangi..! cepat..! ". pinta Raka.


Raya mengerjabkan kedua matanya dengan polosnya tidak tau apa-apa, Raka yang gemas menggelitiki Raya hingga tertawa lepas.


inilah yang membuat Raya nyaman bersama Raka, Raka sangat baik bahkan sangat baik dalam menjaganya, Raka menjadi teman untuk Raya dan Raya menjadi sosok ibu bagi Raka. Raka yang tidak pernah merasakan kasih sayang ibu serta kehadirannya sejak kecil.


.


.


"Raka akan ikuti pelatihan itu Pi". jawab Raka


"bagus..! ". Pasha tiba-tiba datang.


"bagus itu anak ku tuan". sahut Ramzi tak suka


"eeh..! siapa suruh nama anakmu Bagus? ". ejek Pasha dengan acuhnya.


Ramzi mendengus, "kami kehabisan stok nama tuan, dan hanya itu satu-satunya nama yang terbaik untuknya".


"mana peduli aku, kasih aja namanya suparno, Barjo, supardi kek, kepiting, atau cicak sekalian kenapa harus Bagus? ". acuh Pasha


"tuan? kenapa nama anak saya yang tampan harus diberi nama kampungan? itu nama ketinggalan zaman saat kita masih muda tuan, mana ada nama-nama itu zaman sekarang, dan juga saya tidak pernah berpikiran memberi sebutan nama bangsa hewan untuk anakku". gerutu Ramzi.


"siapa bilang? Leon? itu bangsa hewan kan? ck.. kau tidak akan menang melawanku Ramzi". ejek Pasha


Dylan menepuk jidatnya dan memberi kode kepada Raka untuk mengikutinya.


Pasha dan Ramzi masih sibuk berdebat mulut, karna sudah tua tenaga mereka harus disimpan untuk tempur dengan istri tercinta, mereka tidak bisa berkelahi terlalu lama karna mudah lelah, jadi mulut lah senjata mereka kalau bertengkar.

__ADS_1


"ada apa ini? ". tanya Ella berkacak pinggang


"hmm.. kenapa? suara kalian terdengar sampai lautan samudera". sambung Kaira juga berkacak pinggang.


"dia sayang..! ". Pasha dan Ramzi saling tunjuk satu sama lain seperti bocah saja.


Kaira dan Ella saling pandang dan tersenyum licik, "kalian mau tidur diluar ya? " tanya Kaira dan Ella serentak.


sontak saja kedua pria tua nan masih tampan dan terlihat masih gagah itu membelalak sambil menggeleng-geleng kepala tak terima. Tepi pantai memang indah tapi dimalam hari cuacanya sangat dingin ditambah angin laut, tidak bisa bertahan pasti menggigil walau pakai jaket tebal 10 lapis sekalipun, berjam-jam siapapun mana akan tahan.


"lari...! ". Ramzi berteriak


Pasha pun berlari ke dalam Vila seolah takut Kaira mengunci pintu Vila hingga dirinya tidak bisa masuk, Kaira dan Ella saling bertos ria lalu cekikikan berdua. umur tak menjadi halangan untuk siapapun bertingkah usil dan nakal.


begitulah hari-hari tua mereka di Vila itu, sungguh menyenangkan tidak ada beban fikiran, uang pun tidak pernah kesulitan walau mereka tidak bekerja. Pasha dan Kaira sudah lama menabung sejak Dylan beranjak dewasa dan sudah merencanakan akan menghabiskan masa tua di Vila tepi pantai itu.


"kenapa Dita? ". tanya Raya heran


"eeh.. hehe... tidak ada Nona hanya saja saya baru melihat tuan besar akan bertingkah seperti anak-anak yang lucu padahal tuan besar dulunya bos Mafia yang kejam". jawab Dita malu karna ketahuan oleh Raya mengintip dari jendela.


Dita melihat Pasha dan Ramzi berlarian seperti anak kecil.


"Grandfa ku memang seperti itu, didepan musuh dia akan terlihat menakutkan tapi bersama orang terkasihnya akan bersikap kebalikannya". jawab Raya dengan santai memainkan game di ponselnya.


"Nona main apa sih? apa disini ada jaringan internet?". tanya Dita keheranan.


"WIFI". jawab Raya dengan tenang.


"hah? kasih tau saya sandinya Nona..! saya juga bosan nih, anda sangat patuh pada tuan Raka yang meminta anda dikamar saja, dan anda benar-benar di dalam kamar saja".


"huh..! mengganggu saja". Raya mengulurkan tangannya.


Dita dengan senyum lebarnya memberikan ponselnya.


seharian ini Raya dan Dita menghabiskan waktu di kamar. Raya memang keras kepala tapi perkataan suaminya harus di turuti kan? Raya merasa sudah banyak dosa, tidak ada salahnya mencari banyak pahala mendengarkan perkataan suami.


.


.


.


cie mbak Raya nya patuh banget tuh.. kita lihat berapa hari mbak Raya kuat didalam kamar terus.. wkwk.. selamat beraktifitas..!!


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2