
.
.
"jangan takut kak! ". bisik Aisha
Nia melihat ke arah Aisha, "maaf.. gara-gara aku kalian jadi seperti ini". ucap Nia merasa bersalah.
"kakak ipar bicara apa sih? ". Rhiana berdecak ke arah Nia masih sempat-sempat nya minta maaf padanya dan Aisha.
"kami tidak selemah itu kak". Aisha
"cepat seret dia...! ". teriak salah satu dari 10 Pria misterius.
"sini.. sini.. ". Rhiana menjentikkan jemari cantiknya dengan senyum tipis terkesan meremehkan mereka semua.
"habisi dia ! hanya perempuan bisa apa? ". teriak salah satu dari Pria jahat yang kini mengepung Nia, Aisha dan Rhiana.
perkelahian tidak bisa dielakkan, Aisha dan Rhiana berani melawan semua pria berbadan besar itu.
kaki Aisha menendang Bagian-bagian tertentu para penjahat itu dan pastinya di titik Vital hingga lawannya tidak bisa berkutik dan tangannya juga bisa membanting tubuh besar lawannya.
Rhiana memiliki badan yang kecil dari ukuran Pria yang melawannya tapi kekuatannya melebihi kekuatan Pria-Pria itu.
Nia terperangah sesaat lalu dengan cepat ia menggeleng.
Bruk..
Nia menendang tangan Pria yang hendak memukul Aisha dari belakang.
Nia ingin membuktikan kemampuannya kini tidaklah buruk.
Nia digendong dari belakang oleh Penjahat lain, Nia menendang Pria yang mendekatinya dengan sekuat tenaga lalu meradu kepala belakangnya pada Pria yang menggendongnya hingga tubuh Nia terlepas dari Pria itu. Nia berbalik lalu memutar tubuhnya menendang kepala Pria itu hingga tersungkur, Nia berlari ke arah Rhiana lalu melompat memukul kepala Pria suruhan misterius dari belakang yang hendak menusuk Rhiana dengan pisau lipat hingga Pria itu pingsan.
3 perempuan lawan 10 Penjahat misterius pun kalah, mereka yang tidak pingsan melarikan diri walau badan mereka terasa remuk sedangkan yang pingsan dibiarkan saja tanpa ada yang menolong mereka.
Aisha dan Rhiana kompak melihat ke arah Nia lalu berjalan mendekati Nia.
"sejak kapan kakak bisa beladiri? bukannya kakak terlalu baik ya? ". tanya Aisha
"kakak menyembunyikan kekuatan Kakak ya? ". tanya Rhiana curiga
"siapa bilang kakak terlalu baik? ". tanya balik Nia sambil berkacak pinggang.
"kemampuan beladiri kakak ipar bagus juga, seperti ilmu beladiri Pengawal Melviano". puji Rhiana
"mungkin diajarkan kak Arya". jawab Aisha asal sambil cengar-cengir
"sudah.. sampai kapan kalian menggodaku? aku mau lanjut makan itu". Nia yang kesal berbalik pergi ke arah tempat duduknya tadi.
"siapa yang ajarkan kakak? sepertinya kakak ipar sudah jadi perempuan tangguh ya?". goda Aisha
"beritau kami dong Kakak ipar? siapa yang mengajari kakak? apa memang bang Arya? ". tanya Rhiana penasaran
"Ricis selalu mengomeli kakak bilang kakak ini gadis super bodoh dan sangat polos". curhat Nia
Rhiana dan Aisha tertawa lebar, tanpa mendengar lanjutannya lagi mereka sudah arah ceritanya Nia.
__ADS_1
"kenapa kalian tertawa? ". tanya Nia dengan kesal
Rhiana dan Aisha semakin terbahak.
.
"lapor Tuan..! ketiga perempuan itu sangat jago beladiri dan kemampuan mereka diatas kemampuan kami sebagai pengawal".
Red melempar gelas Wine yang dipegangnya hingga pecah berkeping-keping.
"jadi kalian tidak mampu melawan perempuan? dimana otak kalian? kalian menggunakan cara apa?". marah Red
"ampun Tuan..! kami terlalu meremehkan lawan".
"dasar tidak berguna..! kalian obati diri kalian sendiri lalu lakukan dilain waktu, jangan sampai gagal jika gagal kepala kalian taruhannya? ". ancam Red dengan marah
"baik Tuan".
Red memijit pelipisnya yang terasa berdenyut seketika, ia menatap lurus ke depan dimana Han tengah berdiri menatap ke arah lantai.
"Han? ". panggil Red
"saya Tuan". Han mendongak melihat ke arah Red
"apa yang kau pikirkan? ". tanya Red dengan serius masih terlihat mata Red memerah menahan amarah.
"saya tidak memikirkan apapun Tuan". jawab Han dengan serius.
"kau berfikir aku akan kalah? ". tanya Red dengan marah.
"pengawal siapa maksudmu? ". tanya Red
"pengawal Nona Nia Tuan,, Ricis ya?". jawab Han lagi
"ck.. kau hanya tau memikirkannya saja". Red bangkit dari kursi kebesarannya lalu meninggalkan Han.
Han menghela nafas panjang, ia cukup lega karna Red mempercayainya.
"aku tidak tau berapa hari lagi umurku". batin Han berbalik pergi meninggalkan tempat rapatnya.
Han sangat tau melawan Arya Mahardika Melviano itu sama saja mengantarkan nyawa, jadi ia merasa nyawanya tidak akan lama lagi.
jika Han keluar dari pekerjaannya dari Red sama juga ia akan mati, Han seperti makan buah simalakama, situasinya serba salah.
.
Nia pergi ke Perusahaan suaminya bersama Rhiana dan Aisha.
"kalian yakin Kak Arya mau makan ini? ". tanya Nia dengan ragu
"tentu saja Kak..! kami mengenal Bang Arya sejak bayi jadi apa yang ia suka dan tidak kami sangat tau". Aisha
"cepatlah masuk kakak ipar..! jika kalian bercint* beritau kami, biar kami tidak menunggu kalian terlalu lama jadi kami bisa per....hmmm.". Rhiana
Nia membekap mulut Rhiana yang tidak bisa diajak kompromi, "kenapa bicaramu vulg*r sekali? ". tanya Nia berbisik dengan tatapan kesalnya.
Aisha tertawa cekikikan, "sana pergi kakak ipar! ".
__ADS_1
Nia menarik nafas pelan lalu menghembusnya perlahan, Nia berjalan memasuki Lift khusus sedangkan Aisha dan Rhiana pergi ke taman belakang Perusahaan MattGroup.
"Nona? ". sapa kedua perempuan cantik dimeja depan Ruangan Arya.
"dimana Kak.. ehh..? apa Tuan Arya sedang sibuk? ". tanya Nia dengan nada sopan.
"tidak perlu terlalu formal pada kami Nona".
Nia tersenyum canggung dapat penghormatan khusus dari kedua perempuan seksi dan cantik itu.
"kalau begitu aku boleh masuk? ". tanya Nia sambil tersenyum.
"silahkan Nona!!".
Nia pun berjalan melewati mereka berdua lalu mengetuk pintu Ruangan Arya, setelah itu Nia masuk membawa satu paperbag makan siang untuk suaminya.
"Cha? kamu datang? ". Arya berdiri dan merentangkan tangannya pada Nia.
Nia mendekati Arya, dengan malu-malu ia memeluk Arya.
"kenapa tidak masak hmm? ". tanya Arya yang tau Nia tidak masak melainkan beli makanan dari tempat lain.
"tadi Aku pergi ke pasar bersama Rhiana dan Aisha kak". jawab Nia menduselkan kepalanya di belahan dada bidang Arya.
"oh.. kamu bersenang-senang ya? kenapa aku tidak tau? ". Arya
"tapi aku udah chat kakak tapi nggak dibalas". Nia mendongakkan wajahnya menatap Arya.
"oh.. berarti aku yang tidak melihat ponselku". Arya melirik ponselnya di meja nya yang sejak tadi memang diabaikan olehnya.
"baiklah..! ayo makan! aku sudah lapar".
Nia melayani Arya makan, walau Arya tidak terlalu berselera makan tapi Arya memakannya karna perutnya memang sudah minta jatah.
"Kak? ". panggil Nia ragu-ragu
"kenapa? ". tanya Arya mengelus kepala Nia.
"sebenarnya ada masalah apa kakak dengan orang lain? kenapa mereka begitu meremehkanku kak? apa aku terlihat seperti kelemahan bagi kakak? ". tanya Nia penasaran.
Arya menautkan kedua alisnya tidak mengerti maksud Nia.
Arya mengepalkan tangannya mendengar cerita Nia, ia marah tapi tidak menunjukkannya pada Nia.
"apa kamu takut? ". tanya Arya memainkan rambut Nia.
"tidak..! aku ingin membuktikan pada mereka yang menganggapku kelemahan kakak itu menyesal, aku tidak mau membebani kakak". jawab Nia begitu percaya diri sambil tersenyum.
"kelinciku sudah dewasa ya? aku jadi ingin memakanmu". bisik Arya dengan senyum tipisnya.
Nia melebarkan matanya, "kak Arya berbahaya, tapi kenapa aku suka? ". batin Nia mengerjabkan matanya ke Arya.
.
.
.
__ADS_1