Kekasih Impian MR. Mafia

Kekasih Impian MR. Mafia
di usir dari kamar


__ADS_3

.


.


tengah malam.


Raka mendatangi markas Robert.


"biarkan saja dia masuk..! ". titah Robert.


anak buah Robert tak ada yang menyentuh Raka,


Raka di ikuti oleh Jon, Dita, Rio juga Boy. mereka bekerja sama mencari tau dalang ledakan bom itu, tersangka utama nya adalah Robert.


"ada apa Rivalku? aku tidak menyangka kau akan datang ke sini". kekeh Robert dengan raut wajah tenangnya.


"kau yang melakukannya? ". tanya Raka dengan dingin.


"melakukan apa? ". tanya Robert.


"kau yang memasang bom di hotel Cerlyx? ". tanya Raka makin dingin dengan aura tak bersahabat.


"owwh... aku memang ingin kau mati tapi kalau mati karna ledakan bom bukan ide ku.. aku sama sekali tidak berpikir akan memusnahkanmu dengan cepat.. kau tau sendiri kan aku begitu dendam padamu? tujuanku hanya 1 melihatmu menderita di tinggalkan oleh Raya". Robert berkata dengan santainya.


"jangan berbohong kau sialan...! kau yang memasang bom itu kan? kau ingin membunuh anak juga istriku kan? ". Raka menarik kerah baju Robert melemparnya ke dinding.


Robert terbatuk-batuk mencoba untuk berdiri, "anak? "


"woww..! istrimu mengandung?". gelak tawa Robert yang seolah sengaja memancing amarah Raka.


bruggh..!


Raka memukul rahang Robert hingga tersungkur,


"luar biasa..! seorang Raka Mahawira bisa marah dan emosi juga, kau terkenal begitu tenang menghadapi musuh tapi kenapa saat ini kau jadi emosian? bukankah kau yang sering bilang aku terlalu emosi saat bersama Yeri? ". Robert berkata sambil menghapus sudut bibirnya yang berdarah.


"bedebah kau..! " marah Raka berlari ke arah Robert.


Raka dan Robert berkelahi adu kekuatan di ruangan kerja Robert, Dita sampai melongoh melihat pertarungan sengit itu.


"apa ini yang di sebut pertarungan ranah dewa? kenapa kecepatan tangan tuan master mengerikan sekali? bagaimana bisa master secepat itu? gerakannya Benar-benar tidak terbaca dan sangat halus namun mematikan". batin Dita yang sangat tau dunia persilatan.


"kau yang memancingku sialan..! " marah Raka


Robert sampai kewalahan melawan Raka yang tenaganya tidak ada habisnya.


"sial.. dia seperti hewan buas saat ini, kalau begini aku bisa mati konyol". batin Robert


Robert tidak tau perihal ledakan itu, saat suara peringatan itu muncul ia tentu kaget dan langsung melarikan diri tanpa berpikir macam-macam lagi.


"kau akan mati di tanganku sekarang..! akan aku antar kau ke pintu gerbang neraka". ucap Raka menggema

__ADS_1


Raka menghajar Robert tanpa ampun hingga wajah Robert sudah luka lebam dimana-mana, wajahnya Robert sudah penuh dengan darah kepala Robert mulai terasa pusing.


"t.. tunggu...! bu. bukan aku pelakunya". jawab Robert terbatuk-batuk darah.


"kau fikir aku percaya ha? ". Raka mengepalkan tangannya di udara siap ingin menonjok Robert lagi


"su.. sungguh..! ak.. aku tidak melakukannya sialan..! kau tau aku tidak pernah berniat ingin membunuhmu tapi ingin menyiksamu.. jika aku ingin menyiksamu, cara yang akan aku lakukan adalah menculik istrimu dan mengurungnya di tempat terpencil lalu aku kembali padamu untuk melihat kegilaanmu karna kehilangan istrimu itu bodoh..! kenapa aku harus membunuhmu? aku tidak mencoba membunuhmu bedebah gila... " teriak Robert mendorong keras tubuh Raka hingga termundur beberapa langkah.


"aku hanya ingin melihatmu menderita, hidup segan mati tak bisa.. lalu kau fikir aku gila membunuhmu? kau fikir semudah itu urusan kita hah? ". marah Robert membanting vas bunga yang ada disampingnya ke arah tubuh Raka.


Raka dengan cepat mengelak hingga vas bunga itu terkena dinding belakangnya, tangan Raka pun mengepal.


darah di kedua tangannya bukanlah miliknya tapi milik Robert.


"kalau bukan kau siapa lagi pelakunya?". ucap sinis Raka.


"kau cari tau saja sendiri..! ". balas Robert dengan dingin meninggalkan Ruangan yang sudah kacau balau itu dengan tertatih-tatih.


"tuan? kita harus kembali !! ". seru Jon


"mari tuan..! Nona bisa khawatir mencari kita". sahut Dita


"ayo tuan..! sepertinya memang bukan tuan Robert pelakunya". sambung Rio.


"saya juga sudah curiga, tidak mungkin tuan Robert yang akan melakukan balas dendam semudah itu, permusuhan kalian karna hati jadi saya pikir pasti balas dendam juga harus menyakiti hati kan? ". Boy berkata membuat semua orang menoleh padanya.


"yang begitu dendam kesumat padaku hanya dia.. wajar aku berpikir dialah pelakunya, siapa lagi yang melakukannya kalau bukan dia? ". Raka membela diri sambil memijit pelipisnya.


"siaaaall...! siapa yang menjadikanku kambing hitam? akan aku buat dia menderita selamanya". amuk Robert melempar semua pot bunga yang ada di dekat kolam berenangnya.


Robert mengamuk seperti orang gila, ia tidak terima di kambing hitamkan artinya ada orang lain yang memandang remeh dirinya.


.


Raka tiba di kamarnya lalu dengan langkah pelan tanpa mengeluarkan suara Raka berjalan di kamar nya yang gelap menuju kamar mandi.


ceklik...!


suasana yang gelap dan sunyi kini terang benderang seketika, Raka perlahan mengedarkan pandangannya dan melihat Raya tengah melipat kedua tangannya menatap datar Ke Raka.


"masih ingat pulang? ". tanya Raya dengan datar.


"sayang.. aku.. !" Raka mendekat berusaha menjelaskan situasi dirinya.


"tidur di luar..! ". perintah Raya


"hah? tidak mau sayang". tolak Raka berlari ke arah Raya dan hendak menggenggam tangan Raya.


Raya menatap kedua tangan Raka yang memerah, "darah siapa? ". tanya Raya serius.


glek...

__ADS_1


"tadi siapa yang bilang tidak usah pikirkan apapun hah? tadi abang datangi markas Robert? menghajarnya begitu? ". cecar Raya.


Raka mematung tidak bisa berbicara hanya menarik nafas dalam-dalam.


"tidur di luar". usir Raya


"sayang? ". protes Raka


Raya mendorong kesal tubuh Raka keluar kamar itu, "tidur di luar..! sekalian aja tadi tidur di hotel". kesal Raya


"sayang.. aku tidak bisa jauh darimu sayang". Raka berusaha memelas belas kasih Raya.


Raya tidak memperdulikannya, ia benar-benar mengusir Raka keluar dari kamar itu tak peduli alasan suaminya.


"sayang..? aku minta maaf.. sayang". Raka menggedor-gedor pintu kamar nya.


Raka menghela nafas panjang, "sayangku jadi marah.! padahal aku hanya ingin memeluknya". gumam Raka dengan lemas.


Raka benar-benar tidak ingin Raya memikirkan masalah ledakan bom karna dokter menyarankan Raya untuk tidak banyak pikiran, Raka sangat menantikan anak dari Raya, tentu saja dia akan melakukan apapun sesuai perkataan dokter.


"jelang resepsi kenapa ada aja masalahku". dumel Raka.


.


Raka tidur di ruangan tamu, ia menatap langit-langit kamarnya.


"seperti biasa..! penyakit imsomnia ku kambuh lagi". ujar Raka dengan pasrah.


Raka tidak bisa tidur nyenyak jika tidak memeluk istri tercintanya, tapi karna di hukum Raka harus tidur sendiri.


"kenapa mataku tidak mengantuk sedikitpun". gumam Raka dengan heran sendiri, ia melihat jam dinding sudah menunjukkan jam 2 pagi.


Raka sibuk dengan pemikirannya, "siapa Anak Macan? siapa yang dimaksudkan suara misterius itu? ".


sampai jam 4 pagi, Raka sama sekali tidak tertidur bahkan saat mencoba memejamkan matanya pun Raka tidak bisa tertidur juga.


ceklek...


Raka berpura-pura tidur saat mendengar pintu kamarnya terbuka, diam-diam bibir Raka berkedut tipis mengintip Raya tengah berjalan memeluk bantal dengan muka di tekuk masam ke arahnya.


"nyenyak sekali tidurnya". gerutu Raya sambil masuk ke balik selimut Raka.


Raya tanpa berpikir lagi langsung memeluk tubuh suaminya mencium aroma khas suaminya yang seperti obat tidur baginya.


"sayang... aku gemas sekali padamu". batin Raka menahan senyumnya dengan sekuat tenaga.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2