
.
.
"Nona..? ". gumam Dita lega yang tadinya syok tapi Raya tidak jadi jatuh karna gerakan cepat Raka tadi.
Raya menatap manik mata Raka.
"jahitanmu lepas!". kata Raya dengan wajah datarnya.
"benarkah? ". tanya Raka memegang tengkuknya.
"dasar bodoh...! kau sengaja ya membuatku berhutang budi? ". Raya berdiri mengulurkan tangannya
Raka menyambutnya, "kau pingsan di rumahku, bisa saja nanti akan ada kesalahfahaman jika kau keluar dari sini".
Raya menghela nafas panjang,
"coba aku lihat? ". Raya membalik tubuh Raka dan sedikit berjinjit melihat kepala belakang Raka.
Raka tersenyum tanpa sepengetahuan Raya, Raka merasa senang kalau dia sakit. jika dengan sakit Raya ada bersamanya, Raka rela menerimanya.
Raka yang tulus bisa merangkul Raya mendekat padanya, memang butuh waktu untuk bisa membuat Raya mencintai Raka tapi saat ini Raka adalah pria asing satu-satunya yang tidak terikat darah dengan Raya bisa berteman dengan Raya.
"aku akan jahit lukamu ini lagi". Raya menarik baju Raka hingga Raka berjalan mundur.
"Eeh.. Nona? ". Dita
"hmm? kenapa? ". tanya Raya belum sadar.
Dita menunjuk Raka, Raya memutar kepalanya dan melihat tangannya menarik baju belakang Raka hingga siempunya berjalan mundur.
"Ooh..! maaf! ". Raya berucap lalu tertawa di tempat makin geger saja isi mansion melihat kecantikan Raya.
Raka terpaku sejenak melihat Raya yang tertawa, segera ia menggeleng kepalanya untuk menyadarkan diri.
Raka berwajah datar menatap Raya yang tengah tertawa. "kau menganggap remeh the king mafia ini hah? ".
Raya masih tertawa hingga deretan giginya terlihat jelas, sungguh cantik apalagi Raya memiliki gigi taring yang membuat kesan manis Raya ditambah lesung pipinya itu bisa bikin senam jantung.
Raka mendekat ke Raya masih dengan raut wajah pura-pura marah, Raya menahan tubuh Raka dengan memegang dada Raka.
"maaf..! aku heran saja kenapa kau tidak mengeluarkan suara tadi? kenapa masih mengikutiku walau dengan jalan mundur? ". Raya
"ck..! bagaimana caraku berbicara kau langsung menarikku". dengus Raka berlalu meninggalkan Raya
"tapi kepalamu terluka Raka..! aku tidak mau hutang budi lagi, cepat kemari". Raya melambai dengan serius.
"tidak apa..! makanlah". tolak Raka
Raka benar-benar ingin melarikan diri dari Raya karna detak jantungnya tidak bisa di kendalikan,
Raya menatap heran saja kepergian Raka, "ckk.. selain Tulen, bodoh dia juga tukang ngambekan".
__ADS_1
Dita hanya melongoh saja melihat nona mudanya tengah mengerucutkan bibirnya,
"sejak kapan Nona memajukan bibirnya seperti itu? sebenarnya apa hubungan tuan Raka dengan nona Raya? kenapa tuan besar memberi tau tuan Raka. apa tuan besar memang mengenal tuan Raka? ". Dita mengoceh dalam hati.
sejak memasuki mansion Raka banyak tanda tanya di kepala Dita tapi tidak berbicara sama sekali, hanya diam dengan wajah bodohnya saja.
.
.
di kamar Raya tidur bersama Dita.
Dita tidur di bawah atas kemauannya sendiri, dan Raya tidak peduli itu karna percuma bicara dengan Dita yang keras kepala menurut Raya hanya membuang waktu saja, jika pada akhirnya Dita hanya melakukan apa yang disukainya bukan yang Raya perintahkan.
"kenapa aku bisa mengantuk? ". gumam Raya keheranan.
Raya bukan tipe orang yang mudah beradaptasi dengan tempat tinggal baru, tapi saat ini Raya malah mengantuk.
perlahan mata Raya mulai meredup, Raya merasa tempat ini sangat aman seperti berada di mansion Melviano.
.
.
ke esokan paginya Raya pergi duluan dari mansion Raka tanpa bisa pamitan, Raya hanya bisa mengirim pesan ke Raka sebab Raya harus menghandel perusahaan MattGroup dimana Satria keluar kota untuk liburan.
"apa tuan akan bekerja? ". tanya Rio
"tidak..! aku mau ke rumah sakit jenguk Jon, dia sudah sadar kan? ". jawab Raka
"hmm.. ayo kita kesana.. ! setelah itu kau cari tau dimana rubah licik itu bersembunyi dengan tuannya". kata Raka.
"baik tuan". balas Rio.
"kau akan menggantikan posisi Jon untuk sementara waktu". Raka
"pekerjaan saya sudah santai kenapa ditambah tuan?". protes Rio diabaikan saja oleh Raka.
.
.
Raka kini ada di ruangan inap Jon bersama Rio dan Boy.
"bagaimana keadaanmu Jon? apa nafasmu sesak? ". tanya Raka
"tidak ada tuan..! kepala anda berdarah tuan?". tanya Jon melihat kepala Raka basah dibelakangnya
Jekky masuk dan melihat hal itu, "kenapa jahitannya lepas lagi? ".
Rio hanya diam tanpa berani berbicara karna ia tau Raka akan marah nantinya.
"sini saya jahit lagi tuan". Jekky
__ADS_1
mereka sibuk berbicara masalah kejadian keracunan gas itu, hanya ada Jekky, Rio, Boy dan Jon saja di ruangan itu bersama Raka.
"apa menurut tuan Yanzo tidak terlibat? ". tanya Jon
"tidak tau..! jika rubah licik itu bisa memakai nama Yanzo artinya dia juga terlibat". Raka
"dimana mereka bersembunyi". gumam Rio penasaran.
"kau cari tau Rio..! kau cari tau siapa saja yang terlibat, jika rencana itu berantai maka aku akan pecahkan salah satu rantainya hingga lepas". kata Raka
Rio menarik nafas dalam-dalam lalu menebarkan senyum paksanya, tidak mungkin ia menolak nya di depan Jon.
"sudah tuan". Jekky selesai mengganti perban Raka,
Jekky benar-benar kagum Raka yang benar tidak takut apapun walau nyawanya di ujung tanduk saat berperang sekalipun Raka tidak akan lari, dan menurut orang setia Raka hanya satu perempuan yang pantas di juluki Ms. Mafianya Mr. R yaitu Raya.
Raya sangat pantas menjadi pendamping Raka, tangguh, tidak takut apapun.
.
di tempat lain tepatnya di pulau terpencil.
Sherina mengamuk dibawa kabur oleh papanya,
"kenapa papa tidak melepaskanku? aku tunangannya mr. R pa..! dia tidak akan membunuhku kalau kami sudah tidur bersama, dia tidak sejahat itu akan mencampakkanku pa..! "
"papa menggagalkan rencanaku..! keluarkan aku dari sini, aku mau kembali ke kota.
brakkh..!!
"apa kau tidak tau apa yang terjadi disana ha? ". marah Lorent yang tiba-tiba menerobos masuk ke kamar Sherina.
"papa..? aku tidak tau apapun pa..! bukankah papa ingin jabatan tinggi? aku bisa memenuhinya pa..! aku ingin dia pa.. aku mencintai mr. R". mohon Sherina dengan air mata buaya nya.
"mr. R dibantu oleh Mafia the Xylver! tidak ada yang mau bertarung dengan mereka..! kau tau sendiri betapa kuatnya mafia the Xylver itu". Lorent.
Sherina mengamuk dan berteriak frustasi..
"She tidak peduli pa..! She hanya mau Mr. R. hanya dia tidak ada yang lain, hanya mau mr. R aja".
"lalu bagaimana dengan nona Melviano? dia putri ketua mafia besar itu, apa kau mau disantap oleh mereka ha?, mereka akan menyiksa penghianat tanpa ampun walau perempuan sekalipun". Lorent
"kenapa bisa ada wanita perebut itu pa? Raya itu baru masuk ke dunia mr. R kenapa hati mr. R bisa begitu mudahnya jatuh cinta dengan perempuan itu? kenapa?? dia bahkan menutupi kepalanya, aku jauh lebih seksi pa..! aku seksi, siapa yang tidak suka She.. siapaaaa...? "
Lorent malas berbicara dengan putrinya yang sangat keras hati, ia lebih memilih pergi tanpa berbalik melihat sherina yang makin histeris saja amukannya.
.
.
.
.
__ADS_1
.