
.
.
Raka mendengarkan penjelasan wanita sexy di depannya tengah berpose bak model terseksi di dunia saja.
Raka tidak peka, ia hanya fokus mendengarkan, "kenapa bisa seperti ini? "
"ha? ". linglung wanita itu
"namamu Riril kan? ". tebak Raka dibalas anggukan cepat oleh Riril.
"tidak perlu dijelaskan lebih rinci, saya mengerti saat anda membacanya". Raka berkata sambil menatap tajam Riril yang sangat dekat dengannya.
Riril gelagapan lalu segera angkat tubuhnya dan berjalan pelan nan seksi ke bangkunya lagi, Jon memutar bola matanya jengah akan semua wanita yang menemui Raka pasti akan bertingkah bak perempuan penggoda.
"Hanya nona muda yang tidak seperti mereka". batin Jon mengakui Raya yang tak pernah menggoda Raka malah sebaliknya.
Raka harus mempertaruhkan nyawa untuk Raya hingga bisa berteman dengan Raya seperti saat ini, Raka menolong Raya saat pingsan malam itu hingga Raya mengajak Raka untuk berteman padahal sebelumnya mereka hanya pernah bertemu saja tapi Raya tidak berniat ingin mengajak Raka menjadi temannya.
"lalu bagaimana tuan? ". tanya Riril
"hmm.. aku akan tandatangani..! sampai jumpa di acara pelantikan kita". Raka berkata sambil berdiri dari tempatnya setelah menandatangani secara cepat di berkas itu.
Riril mendekat namun Jon segera menghalangi dan memberikan berkas yang sama. mereka mencetak 2 Berkas untuk Perusahaan Raka satu dan Perusahaan Riril satu.
"tuan.. anda tidak mau makan siang bersama saya? ". tanya Riril saat Raka hendak meninggalkannya.
"tidak..! ". jawab Raka lalu keluar dari ruangan privat itu meninggalkan Riril yang ternganga tidak percaya.
"walaupun aku tidak secantik Raya melviano itu tapi aku kan seksi, siapa yang menolak kemolekan tubuhku? ". geram Riril tak rela melihat Raka benar-benar meninggalkannya tanpa berbalik sedikitpun.
.
.
sore itu juga Raka pergi ke Hotel hendak menemui rekan Mafia nya.
"tuan". bisik Jon
"aku tau, berhati-hatilah". bisik Raka dengan jalannya yang super tenang.
brak...!!
Raka berhenti di tempat lalu matanya yang tajam melihat sekeliling,
"serang....!! ". teriak beberapa mafia bayaran keluar dari tempat persembunyian
Jon dengan cepat menendang satu diantara mereka, Raka menatap gerakan beberapa mafia bayaran yang sedang berlari untuk menghajarnya.
Raka menendang tulang kering, dada, betis, mematahkan persendian tangan. belum selesai yang pertama berdatangan lagi yang baru seolah mereka semua tidak ada habisnya.
Raka menarik satu orang meninju perutnya dan melemparnya ke dinding,
"tuan.. ini jebakan". teriak Jon
"aku juga tau". jawab Raka dengan jengah.
__ADS_1
Raka tidak kewalahan sama sekali melawan mereka semua,
"cepat pakai topeng oksigen kalian". teriak salah satu diantara mereka.
Jon dan Raka melihat para mafia itu sedang memasang topeng oksigen di wajah mereka.
"tuan..! ayo kita melarikan diri". ajak Jon
Raka dan Jon pun saling bertolak punggung,
"akan aku cincang tubuh manusia yang berani merencakan hal licik ini".
"saya akan bantu cincangkan tuan". sahut Jon merasa geram juga akan pelaku yang membuat mereka terjebak seperti sekarang.
saat mereka bertarung kabut mulai memenuhi koridor, Raka dan Jon hendak melarikan diri bukan kabur tapi ingin keluar dari tempat itu karna musuh mereka menggunakan gas beracun untuk mengecoh Raka dan Jon.
kabut makin tebal, Raka dan Jon terpisah.
"tuan..? master..? ". teriak Jon
brak...!
Jon jatuh tak sadarkan diri, Raka yang sempat bertarung dengan orang yang menyerangnya namun tempat itu berkabut jadi Raka tidak bisa melihat dengan jelas gerakan lawannya.
Raka meringis seketika saat ada sesuatu menancap di tengkuknya, (jarum suntik).
brak...! Raka menendang pelakunya hingga tak sadarkan diri tapi Raka tidak melihatnya.
Raka menutupi mulut dan hidungnya sambil mencari Jon yang tak terdengar lagi suaranya. mereka memang kejam dan saling membunuh sesama musuh tapi bersama teman mereka akan setia walau berada dilubang neraka sekalipun.
"Jon..? ". suara Raka mulai bergetar memanggil Jon yang tak menyahut.
Raka sempoyongan seketika saat tengkuknya di pukul, Raka sampai menyandar di dinding lalu menggeleng kepalanya yang terasa pusing.
"dia belum juga pingsan".
"hebat juga".
"cepat bawa dia ke dalam hotel, bisa marah besar nona kita".
Raka berusaha untuk melawan tapi tenaganya mulai melemah karna suntikan, pukulan dan bau gas beracun itu.
Raka di bawa paksa oleh beberapa orang yang memakai masker oksigen,
Raka masih sadar tapi tenaganya benar-benar tidak ada, "apa yang mereka suntikkan padaku? ". batin Raka
.
tempat lain, mereka membawa Raka dan Jon pergi dari kawasan hotel pertama.
Raka dibawa masuk ke dalam kamar hotel pesanan tuan mereka.
Jon tak sadarkan diri dibuang di luar hotel,
"Jon? ". Raya berbisik menampar-nampar pipi Jon.
Raya tentu mengenal Jon, Rio, dan orang-orang setia Raka. Raya kebetulan ada di parkiran hotel itu karna Dita butuh sesuatu disana dan tak sengaja ia melihat banyaknya mobil membawa seseorang dengan kepala di tutupi, dan membawa Jon. Jon ditinggalkan sedangkan yang di tutup kepalanya dibawa entah kemana.
__ADS_1
"Nona? ". bisik Dita.
"cepat bawa dia ke mobil! ". pinta Raya serius
"tapi Nona bagaimana? ". tanya dita tak terima
Raya menatap tajam ke arah Dita, "bisa ngga nurut sama aku? tolong dia atau telfonkan seseorang untuk menolongnya lalu kau bisa mengikutiku asalkan jangan mengacau".
"baik nona". jawab Dita langsung mengangkat tangan
Raya melihat Dita yang seperti itu walau heran namun sekian detiknya ia mengerti, 1 pria berpakaian hitam keluar dari semak-semak.
"sudah aku tebak ada yang mengikutiku tadi". senyum miring Raya
"nanti kami akan terima hukuman Nona! sekarang kita harus kembali nona". bisik Dita
"tidak..! aku tidak tau siapa yang mereka bawa tapi melihat Jon aku yakin dia bagian dari Raka, Raka temanku aku akan menolongnya". Raya
"tapi itu bukan tuan master nona". jelas Dita
"aku tidak peduli, menolong rekan setianya setidaknya mampu mengurangi hutang budiku padanya". kata Raya berlari tanpa mengeluarkan suara.
Dita memberi kode pada pengawal bayangannya lalu dengan cepat pria itu menolong Jon, Dita segera menyusul Raya.
Raya melihat lantai tujuan salah satu mafia bagian dari mereka membawa banyak minuman.
"lewat sini nona! ". bisik Dita menarik lengan Raya.
Raya mengikuti Dita yang membawanya masuk ke dalam lift lain tepat di ujung koridor.
"kau hafal tempat ini? ". tanya Raya
"lumayan nona..! saya pernah jadi OG disini". jawab Dita
"OG? gajinya tidak seberapa dibanding saat ini kan? ". Raya heran saat tau pekerjaan Dita sebelumnya.
"saya jadi mata-mata tuan Satria nona untuk beberapa bulan". jawab Dita begitu tenang.
Raya mengangguk akhirnya mengerti alasan Dita,
"saya tau tempat tidak terekam CCTV nona". ujar Dita membuat Raya beralih ke arahnya.
"aku tidak takut CCTV". kata Raya
"sebelum kita tau dimana mereka menyembunyikan pria tadi saya yakin mereka akan waspada di ruang pengawas cctv, jika mereka melihat Nona ! bagaimana menurut nona? ".
"ck..! aku bisa menyamar melewati cctv". balas Raya
"tidak perlu seperti nona. ! percayakan pada saya". pinta Dita serius
Dita tidak takut akan tujuan Raya untuk masuk ke kandang musuh, walapun masuk ke lubang Mafia terkejam pun Dita akan mengikuti Raya tanpa berpikir sama sekali.
keluarga Dita adalah abdi setia Dylan di masa kejayaannya sebagai panglima besar.
Raya dan Dita keluar dari lift, Raya mengikuti Dita yang membawanya ke jalan tikus yang aman dari rekaman CCTV.
.
__ADS_1
.