
.
.
"apa abang tidak mencari tau asal-usul keluarga abang? aku merasa status abang bukan orang biasa". tanya Raya menyandarkan kepalanya di bahu suaminya.
mereka berdua menatap keindahan sunset
"bukan orang biasa? maksud kamu apa sayang? aku tidak pernah berpikir ayahku itu seorang Raja". kekeh Raka merasa lucu membayangkan ayahnya itu seorang Raja.
Raya menghela nafas panjang, "aku tidak tau harus mengatakannya padamu atau tidak bang, apa abang tidak tau alasan kalian di kejar-kejar penjahat saat itu? kenapa orang jahat itu ingin sekali membunuh abang? siapa abang? kenapa ayah abang ingin abang terus saja menyembunyikan status Smith? kenapa abang tidak boleh mengungkitnya? "
"dan juga..! Nola pernah mengatakan ada seseorang yang berusaha mencari tau kalau abang itu benar-benar saudara tiri Maisy atau bukan, sejak saat itu Nola dan Alvan tau ada yang mencoba memata-matai abang tapi lebih tepatnya mengawasi supaya abang tidak mencari tau alasan kematian ayah abang".
Raka masih tidak mengerti maksud perkataan Raya
"maksudnya bagaimana sayang? ". tanya Raka tidak faham.
"issh.. malas bicara sama abang". Raya memilih merebahkan kepalanya di pangkuan Raka sambil menatap keindahan alam itu.
Raka tersenyum lembut mengusap kepala Raya sambil berpikir.
"benarkah? kenapa aku tidak pernah berpikir kesana? kenapa mereka selalu mengejar ayahku? kenapa kami harus pindah-pindah hanya berdua saja sedangkan Ayah malah tidak peduli dengan Herlina itu". batin Raka penuh tanya.
kepala Raka mulai bercabang-cabang memikirkan perkataan Raya.
"maksudmu jati diriku ini penuh misteri sayang? benarkan? ". tanya Raka dengan lembut ke Raya
Raya melihat ke arah Raka, "abang.. kenapa abang bisa kecolongan? aku saja yang mendengar cerita abang aku bisa rasain ada yang salah, seluruh keluarga abang seolah sengaja di perintahkan untuk membuang abang, haha.. lucunya mereka beonya sama lagi bilang abang anak pembawa sial". cerocos Raya tanpa rem.
"beo? ". gumam Raka akhirnya menyadari kebodohannya selama ini.
"lalu aku harus bagaimana sayang? ". tanya Raka serius.
"tapi aku tidak jamin abang akan aman seperti sekarang jika mencari tau". kata Raya dengan tenangnya.
"memang siapa keluarga abang? apa mereka dari kalangan pembunuh? ". cecar Raka penasaran.
"mana aku tau bang..! teka-teki hidup abang terlalu rumit untuk dipecahkan, abang aja tidak pernah berpikir kesana". Raya kini memotret pemandangan senja itu yang makin indah saja dimatanya.
"apa abang penasaran siapa mama abang? ". tanya Raya
"bagaimana menurutmu sayang? ". tanya Raka yang terlihat ragu.
__ADS_1
"sebenarnya aku ingin abang bahagia, tapi menurutku biarkan waktu yang menjawab semua teka-teki hidup abang, abang tau kan pepatah yang mengatakan sebaik-baiknya seseorang menyimpan bangkai suatu saat nanti pasti akan tercium juga.. iya kan? ".
Raka tersenyum lalu mengecup kening Raya.
"kamu selalu bisa membuat hatiku tenang sayang". ujar Raka dengan lembutnya dibalas senyuman oleh Raya.
"aku hanya mengatakan apa yang ada dipikiranku bang.. kan kita udah janji tidak akan menyimpan rahasia apapun.. iya kan? ". senyum manis Raya
Raka mengangguk membenarkan sambil memeluk Raya yang memekik sebab dirinya tidak bisa bernafas.
"bagaimana? masih mau jalan-jalan lagi? ". tanya Raka
"mau". jawab Raya dengan bersemangat.
.
.
di tempat lain.
Reiner di kurung entah dimana,, "lepasin aku brengs*k...!! lepass...! aku ingin memaki anak sialan itu... cepaaat....!! berani sekali kalian menghancurkan hidupku hah...? sialan... anak sial... kemari kau...!! ". amuk Reiner
"kita apakan laki-laki bodoh itu tuan? ". tanya Boy ke Rio.
"mana tuan Jon? ". tanya Rio.
"tuan meminta saya untuk memusnahkan pria ini tuan.. tapi saya tidak tau hukuman yang pantas untuknya". adu Rio pada Jon.
Rio tau Jon itu hukumannya hampir sama kejamnya seperti yang Raka berikan, itu sebabnya mereka semua sering menanyakan hukuman musuh pada Jon jika Raka tidak ada di mansion.
"kalau aku, hanya ingin dia dibuat gila dan menderita seumur hidupnya". Jon berkata dengan santai.
"baik tuan..! kami akan racik ramuan gilanya". balas Rio yang langsung setuju.
"sialan kalian... siapa kalian...? kenapa kalian mengacaukan rencanaku hah? apa kalian tidak punya kerjaan lain? ". marah Reiner
"dasar pria penggila harta..! seharusnya kau setia dengan wanita bernama Herlina itu". kekeh Jon dengan sinis.
Reiner terdiam, "apa kalian pelakunya? kalian yang sudah membuat Maisy gila? kalian pelakunya? kalian orang-orangnya anak sial itu? iyaa?? ". bentak Reiner.
brakh...
"tuan kami tidak pembawa sial tapi kau yang mencari sial dengan mendatangi kami". Jon dengan tatapan tajamnya yang memerah menatap Reiner menggenggam erat jeruji besi.
Reiner sampai melangkah mundur dengan raut wajah ketakutan, ia mengedarkan pandangannya tidak ada celah untuk melarikan diri.
__ADS_1
"kau yang mencari sial dengan masuk ke keluarga Smith". sambung Rio
Boy hanya menatap sinis dan jijik pada Reiner yang tidak ada malunya sama sekali, sudah tau salah malah berkoar-koar memaki orang lain dengan sebutan sial.
"lepaskan aku..! " ucap Reiner dengan nada pelan.
Jon dan Rio tertawa namun tawanya malah membuat Reiner yang seorang Pria biasa ketakutan, belum lihat saja bagaimana hawa menakutkan pria yang disebutnya anak sial itu.
.
.
di Apartemen Satria menepuk jidatnya seketika melihat kelakuan Putri Alice.
"apa kau tidak bisa diam dan tidak usah memasak? kenapa aku tinggal mandi sebentar udah berantakan begini hah? kau tau kan aku tidak suka rumahku berantakan". desis Satria menatap Putri Alice yang meringkuk di balik meja
"sedang apa kau? cepat keluar !!". titah Satria
Putri Alice keluar dari kolong meja sambil menutupi lehernya
"kenapa lehermu? ". tanya Satria mendekat dan memegang lengan Putri Alice yang menggeleng-geleng kepala tak ingin dilihat oleh Satria.
"cepat perlihatkan!". titah Satria
Alice menurunkan tangannya hingga Satria mendekat dan mendongakkan dagu Alice, Alice dengan polos melihat ke langit-langit dapurnya.
"Alice...! aku tidak memintamu untuk memasak.! lihatlah lehermu sampai merah seperti ini, memang kau apakan minyak goreng itu sampai mengenai lehermu hmm? jika tangan aku masih bisa mengerti tapi bagaimana bisa dileher? menurutmu aku harus percaya? ".
"maaf pangeran..! tadi minyaknya lompat-lompat". jawab Alice menundukkan kepalanya kembali.
Satria menghela nafas lalu menarik tangan Alice, "siapa yang menyuruhmu memasukkan minyak saat kualinya masih banyak air".
Satria mematikan kompornya lalu membawa pergi Alice dari dapur, Alice hanya bisa menurut,
"apa kau tidak mau bebas dari sini? aku tidak pernah mengurungmu? katakan saja jika kau ingin pergi". Satria berkata sambil mengobati leher Alice.
"aku tidak tau cara naik mobil, aku juga tidak tau cara naik motor, aku tidak kenal negara ini". Alice bergumam-gumam kecil.
"apa kau mau aku carikan teman? ". tanya Satria
"teman? ". beo Alice tampak berbinar
Satria mengangguk dengan datar lalu memperhatikan leher Alice, "kenapa harus seperti ini warnanya? jika begini orang yang melihatnya bisa salah faham kalau aku melakukan sesuatu dengan gadis aneh ini". gumam Satria menggeleng kepalanya.
.
__ADS_1
.