
.
.
di tempat lain.
"kak? ". Alya masuk ke kamar Raya setelah mengetuk pintu kamar kakaknya.
"hmm? ". sahut Raya dari balik selimut.
Alya berlari kecil ke ranjang Raya dan melihat kakaknya tengah menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut hanya terlihat tangan nya saja sedang meremas ujung selimutnya.
"kakak ngapain? ". tanya Alya menahan tawanya.
Alya baru pertama kalinya melihat sisi menggemaskan Raya yang seperti itu, "abang ipar sangat hebat..! bisa buat kak Raya seperti gadis normal tidak seperti sebelumnya selalu datar dan tidak banyak bertingkah aneh". batin Alya.
Raya perlahan menurunkan selimutnya hanya bola mata birunya saja melihat Alya hingga Adik bungsu Raya tertawa keras seketika.
"apaan sih dek..? sana keluar! ". usir Raya dengan nada kesal melihat adiknya malah menertawainya.
"maaf kak..! maaf". Alya menutupi bibirnya yang masih belum puas tertawa.
Alya akhirnya bisa menahan tawanya lalu mulai berbicara dengan kakaknya lagi.
"kakak kenapa sih? kok jadi aneh? ". tanya Alya dengan senyum mengembang masih gemas akan tingkah kakaknya itu yang lucu.
Raya pun duduk dan menyandar di sandaran ranjangnya.
"entah...! kakak biasa aja tuh". jawab Raya dengan santainya tapi matanya melihat arah lain.
"kakak suka sama bang Raka ya? ". goda Alya
Raya menoleh cepat ke arah Alya, "tidak..! "
"kak..! sekarang jujur aja sama Alya, Alya nggak akan beritau abang ipar kok..! lagian abang Raka itu baik walaupun dia dikenal sebagai Mafia kejam tapi sama kakak dia bersikap lembut". ujar Alya dengan serius.
"apaan sih? dia itu teman kakak tentu saja dia harus baik, lagian kami banyak bertengkarnya". rajuk Raya
"kakak masih tidak menyadarinya? kakak tu suka sama abang Raka, itu sebabnya kakak tidak suka dia didekati banyak perempuan, bahkan ingin rasanya kakak menjerit pada perempuan-perempuan itu kalau abang ipar itu seorang Bos Mafia yang kejam bisa membunuh tanpa berkedip, biar mereka takut dan tidak ada yang berani dekat dengan bang Raka, hanya kakak saja yang dekat dengannya".
Raya mematung mendengarnya, Sebelumnya Raya memang ingin menjerit memberi tau para gadis-gadis di kota Y kalau Raka itu Guy biar mereka menjauhi Raka tapi tidak terbesit di otak Jenius Raya kalau dirinya cemburu.
"kakak memang pernah ingin berteriak memberi tau mereka kalau Raka itu Guy biar mereka ilfil dan tidak mendekati Raka lagi". curhat Raya mulai serius ke Alya
Alya tertawa kecil, "sama aja kak..! masa iya kakak Alya yang sejenius ini bisa tidak faham akan namanya perasaan sih? kenapa kakak sangat polos bikin gemes aja".
__ADS_1
"jadi kakak harus bagaimana? kan dia Guy". tanya Raya setelah terdiam beberapa saat.
"memang kakak ngga tanya sama abang ipar kalau dia suka perempuan bukan laki-laki? ". tanya Alya dengan serius.
menurut Alya mana mungkin Raka Guy, dilihat dari sisi manapun Raka terlihat seperti pria normal hanya saja dia memang bersikap dingin dan sinis pada orang yang tidak diminatinya.
"kakak pernah bilang tapi dia nggak ngaku bahkan bilang kalau dia suka satu gadis yang memberinya gelang saat masih kecil". jawab Raya
"gelang? ". beo Alya
"apa kak Raya pernah memberi gelang sama bang Raka? ". batin Alya juga tidak mengerti.
"kakak fikir itu hanya akal-akalan dia aja yang bilang masih normal, kamu pikirkan saja pakai logika dek..! mana ada pria jatuh cinta pada perempuan hanya karna diberi gelang? dan lagi saat itu dia bilang masih kecil, hah! mana mungkin bisa kakak percaya". Raya mendumel
"kak...! Cinta itu tidak akan bisa disamakan dengan Logika! kalau Cinta pakai Logika bagaimana diluar sana duda bertemu gadis, bukankah itu tidak masuk akal? gadis bersama Duda?"
perkataan Alya membuat Raya membeku, benar apa yang dikatakan adiknya itu.
"lagian Cinta itu tanpa syarat kak..! jika sudah jatuh Cinta tidak peduli umur atau bahkan latar belakang, semua kekurangan akan jadi istimewa bagi pasangan yang sedang jatuh cinta".
"apa kamu belajar Cinta dek? kenapa kamu bisa tau tentang Cinta? seolah kamu ini pakarnya saja". tanya Raya penasaran
Raya tak menyangka adiknya yang terkenal manja di keluarganya bisa sedewasa ini, bahkan memberi Raya nasihat dan jalan keluar dari permasalahannya.
"ya ampun kak..! belajar Cinta itu hal biasa bagi perempuan kak.. maka nya kakak rajin nonton drakor biar faham tentang cinta". senyum lebar Alya
"tentu saja..! Alya kan memang putri bungsu Melviano yang sangat cantik walau dikenal manja, Alya dewi kecil Melviano". ujar Alya dengan nada bangga
Raya terkekeh,,
"jadi cerita Raka itu bisa jadi benar dek? ". tanya Raya serius.
Alya mengangguk, "bukankah kakak yang bilang beberapa minggu yang lalu kalau bang Raka sangat menjaga ucapannya dan tidak pernah berbohong".
"jadi kakak harus bagaimana? mana mungkin kakak tanya siapa gadis yang dia suka itu". Raya menekan kedua pipinya seolah dirinya sedang berpikiran buntu saat ini.
"coba kakak tanya sama diri kakak sendiri..! apa kakak pernah bertemu dengan bang Raka saat masih kecil? kakak memberi gelang mungkin? ".
Raya terpaku seketika, "kakak memberi gelang? ". gumam Raya tampak berpikir.
Raya belum sadar dirinya pernah memberi Raka gelang, jika Raka menunjukkan gelang pemberian Raya saat itu mungkin Raya akan ingat.
.
.
__ADS_1
Raya di dalam kamar mandi berendam di bath Up nya seperti biasa memainkan Iped nya.
"ciri-ciri suka sama lawan jenis? aku memang seperti ini? tapi dia bagaimana? ". gumam Raya
"dia baik dan lembut padamu artinya dia menaruh hati padamu". Raya membaca sebuah artikel pakar Cinta.
"dia suka padaku? tapi siapa gadis yang memberinya gelang? ". gumam Raya penasaran.
Raya menggeleng kepalanya, "aku tidak mau mengungkapkan perasaanku padanya, lagian cuma rasa suka masih bisa hilang kan? haha.. aku tidak mau menjadi orang ketiga diantara dia dengan gadisnya itu".
Raya tidak mempermasalahkan dirinya harus memiliki Raka atau tidak, Raya memang selalu mendapatkan apa yang dia inginkan tapi kalau masalah hati mana mungkin Raya paksa.
"berteman saja sudah cukup". senyum tipis Raya melihat artikel mengenai Raka sebagai pimpinan utama New R Group yang kini sudah diakui oleh negara.
"dia tidak pernah menatapku seperti ini". gumam Raya memperhatikan tatapan Raka yang dingin dan tajam ke arah kamera
"aaah...! berhenti berpikir yang tidak-tidak Raya..! kau pikir dia menyukaimu? dia menyukai Robert dan model laki-laki itu? ". oceh Raya malah melenceng.
Raya sengaja berbicara seperti itu supaya Raya berhenti memikirkan CEO tampan sekaligus Mr. Mafia itu.
.
.
ke esokan harinya
di ruangan kerja Raya.
Raya kembali bekerja dan tersentak kaget mendengar ucapan Dita yang mengatakan kalau tamunya saat ini adalah Raka dari New R Group.
"kok bisa dia? ". protes Raya
"ha? apanya bisa dia Nona? ". tanya Dita
berkat Raya Dita jadi gadis multitalenta, bisa jadi asisten dan juga pengawal Raya sudah pasti gajinya double.
"Raka..? kenapa dia jadi tamuku hari ini? ". tanya Raya memukul meja
Dita sampai kaget, "bukankah Nona yang memintanya beberapa minggu yang lalu sebelum kita pergi ke kota Y?".
Raya terdiam lalu memijit pelipisnya, "astagah.. ! aku jadi serba salah". gumam Raya dengan frustasi.
Raya menyukai seorang teman malah membuatnya malu padahal tidak tau saja Raka mencintai Raya sebelum menjadi teman Raya.
.
__ADS_1
.