
.
.
ke esokan paginya.
Raka dan Jon di jaga oleh Rio, Rio tertidur di sofa.
perlahan Raka membuka matanya, Raka sering terluka tapi selalu di lindungi oleh yang maha kuasa, mungkin karna Raka belum membalaskan dendamnya pada keluarganya terlebih dahulu.
"Raya..? ". Suara Raka terdengar serak.
Rio tersentak kaget mendengar panggilan itu, ia bangun dan menatap linglung sekitar hingga ia sadar Raka telah membuka matanya.
"Tuan. .?". Rio berlari ke arah Raka dan tanpa ragu menekan tombol darurat,
"kau..? Rio? ". tebak Raka mengangkat tangannya dan menekan kepalanya yang terasa masih pusing.
"benar tuan..! saya Rio, syukurlah anda tidak amnesia". celutuk Rio
Raka menarik nafas dalam-dalam, "dimana Rayaku? ".
"tadi malam saya tidak bertemu dengan nona tuan, tapi Jekky bilang Nona tidak bisa bertemu dengan saya karna dia harus pulang dan titip pesan saya harus menjaga anda dengan baik". kata Rio
"syukurlah dia baik-baik saja". lega Raka
"apa yang sebenarnya terjadi tuan? bagaimana anda dan Jon bisa terjebak? ". cecar Rio.
bukannya menjawab Raka malah bertanya,, "bagaimana Jon? ".
"Jon baik-baik saja tuan..! dia masih butuh banyak oksigen karna dia terlalu banyak menghirup gas beracun". jawab Rio melihat ke samping.
Raka memutar kepalanya melihat Jon lalu mengepalkan tangannya, tak berapa lama kemudian Jekky dan para suster mendatangi ruangan mereka.
"tuan..? bagaimana rasanya? apa anda merasa sesak saat bernafas? ". cecar Jekky.
"tidak, hanya masih pusing". jawab Raka menekan kepalanya yang masih berdenyut.
"wajar saja tuan kalau masih pusing, kepala anda di pukul oleh mereka". Jekky berkata sambil memeriksa keadaan Raka dengan serius.
Raka hanya diam melihat ke arah Jon,
"ganti infusnya! ". titah Jekky
"baik dokter. !". jawab suster
Suster mengganti infus Raka, Jekky pun berpindah memeriksa keadaan Jon memeriksa oksigen yang di hirup Jon.
"apa Jon akan baik-baik saja Jekky? ". tanya Rio serius
"selama jantungnya masih berdetak dia akan baik-baik aja Rio, hanya saja tubuhnya masih lemas karna gas beracun itu jadi butuh istirahat panjang, jika saja nona muda terlambat mengantar Jon walau 5 detik nyawanya akan melayang".
"Nona muda sangat menakjubkan..! aku belum pernah mengidolakan artis atau model cantik manapun tapi aku mengaguminya yang sangat tangguh dan berani". Rio berdecak kagum membayangkan Raya masuk ke kandang musuh menolong Raka dan Jon.
Raka hanya diam karna ada Suster di ruangannya jadi ia tak banyak bicara,
__ADS_1
"periksa ini! ". titah Jekky.
"baik dokter! ". jawab suster serentak.
setelah memeriksa Raka dan Jon, para suster di suruh keluar oleh Jekky.
"bagaimana tuan? apa yang sebenarnya terjadi? ". cecar Jekky.
"aku akan balas mereka! ". Raka mengepalkan tangannya dengan tatapan tajamnya ke depan.
Rio melirik bulu tangannya yang berdiri, Jekky menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
.
.
siang hari..
tok.. tok..
Rio menoleh ke arah pintu begitu juga Raka, masuklah Raya dengan penampilannya yang simpel tapi bukan itu yang membuat Raka berdebar melainkan di kunjungi Raya adalah hal yang paling mustahil dalam hidupnya.
"hai..? " sapa Raya membawa banyak buah di tangannya.
"Nona..? ". sapa Rio menunduk hormat hingga Raya menatapnya tajam.
"hehe.. maaf nona..! saya sangat mengagumi anda dan sangat berterimakasih telah menolong kedua teman sekaligus tuan saya". jelas Rio dengan kikuk.
"tidak apa..! tuan mastermu juga menolongku, bahkan hutang budiku belum lunas dengan menolongnya semalam". jawab Raya mendekati Raka
"bagaimana keadaanmu? ". tanya Raya
"itu bukan kandang musuh..!". jelas Raya dengan entengnya mencubit lengan Raka hingga siempunya meringis pelan.
Rio tersenyum tipis, hatinya ikut bahagia melihat Raka bisa dekat dengan gadis impiannya walau bukan sepasang kekasih tapi dekat sebagai teman dengan gadis impian yang selama ini Raka awasi dari kejauhan itu sudah hal ajaib bagi mereka, seolah tak bisa di gapai kini ada di hadapan Raka membawa buah-buahan segar untuk tuannya.
"dasar mafia bodoh..! bagaimana bisa kau tertangkap oleh mereka? ". ejek Raya dengan entengnya
"mana aku tau kalau rekanku akan ada yang berkhianat..! ". jawab Raka begitu mudahnya padahal ia hampir mati sebelumnya.
"Jon..? bagaimana keadaan jon? ". Raya celingukan hingga melihat Jon belum membuka matanya
"dia belum membuka matanya nona..! tapi dia baik-baik saja karna jantungnya masih berdetak". Rio yang menjawab.
"ck...! aku ingin sekali mencabut jantung kalian yang bodoh ini karna mudah di kecohi musuh". ejek Raya melihat Jon dan Raka bergantian.
Raka tertawa kecil, Raya memang sering berkata ingin membunuhnya tapi gadis cantik itu menolongnya.
"apa kau baik-baik saja? ". tanya Raka serius
"aku tidak bodoh tentu saja baik-baik saja". jawab Raya mengambil apel dan mencucinya di westafel yang tersedia sampai bersih.
Raka memperhatikan gerak-gerik Raya yang selalu menawan dimatanya.
Raya kembali dan menyodorkan buah apel yang telah ia cuci ke Raka dengan mata berkedip 2 kali. Raka menerimanya sedangkan Rio menahan tawa melihat tingkah Raya yang tak memotong buahnya seperti di film-film pemeran utamanya akan menyuapi kekasih mereka yang sakit.
__ADS_1
terkadang tidak sesuai ekspetasi namun Rio menganggapnya lucu, gadis yang dikenal dingin dan kasar itu tengah memberi perhatian kecil pada tuannya.
"Jika nona tau sejak dulu tuan master sering terluka menolong nona muda pasti Nona sudah mencintai tuan master sejak dulu". batin Rio.
Raka menggigit buah apel yang diberikan Raya, Raya tersenyum lalu duduk di kursi yang tersedia. Raka terus saja menatap Raya yang tampak sibuk dengan ponselnya.
"sedang apa kau Raya? ". kekeh Raka
"hmm? ". Raya mendongak ke arah Raka.
"kau merekamku ya? ". tuding Raka membuat bola mata Raya memutar malas.
"bahkan ada aktor papan atas pun di depanku tidak akan aku rekam, terlalu tidak penting menyimpannya di ponselku". jelas Raya dengan enteng.
"ck...! " Raka berdecak.
"oh ya.. aku mencari tau siapa dalangnya malam itu". ujar Raya serius.
"aku tau...! Yanzo kan? ". tebak Raka
"bukan..! nama itu digunakan oleh pelaku untuk membuatmu datang ke tempat itu". jelas Raya
"hmm? ". Raka mulai serius mendengarkan Raya begitu juga Rio.
"Sherina..! dia yang melakukannya supaya bisa tidur denganmu dan kau menikahinya". jelas Raya lagi.
Raka dan Rio saling pandang,
"dia berani bermain api denganku rupanya". gumam Raka dengan dingin.
"aku ingin menangkapnya tapi sepertinya ayahnya melindunginya, mereka kabur entah kemana". sambung Raya.
"tidak apa..! aku yang akan mencari tau, terimakasih". ucap Raka dengan tulus menatap manik mata biru Raya.
Raya tersenyum dan mengangguk, "sesama teman memang harus saling membantu..! lain kali kau juga harus menolongku".
"baik nona muda! ". balas Raka menundukkan kepalanya membuat senyum Raya makin melebar.
"bahkan nyawapun akan aku taruhkan melindungimu kedepannya Raya". batin Raka
tak lama kemudian Dita memasuki ruangan Raka membawa makan siang yang sehat dari luar.
"apa itu? ". tanya Raka
"aku memintanya beli makanan sehat di sebrang sana..! ini bagus untuk kepalamu biar tidak geger". ejek Raya.
Rio menelan ludah saja akan keberanian Raya selalu berbicara seenaknya pada Raka, tapi Raka malah tak marah terlihat raut wajah Raka yang sedikit berbinar dengan perhatian kecil Raya.
.
.
.
manis..!! tapi bukan gula.. wkwk.. esok lai.. terimakasih...!
__ADS_1
.
.