
.
.
sekitar jam 9 pagi.
Raya bangun dari tidurnya, "loh.. kok tubuhku nggak sakit lagi? ". gumam Raya meraba-raba tubuhnya.
Raya tertegun mencium wangi kulitnya seperti wangi Delima bercampur aroma menyegarkan seperti aroma terapi.
samar-samar ingatan sang suami mandi dibawah pancuran shower tanpa memakai apapun muncul dibenaknya, Raya segera menggeleng-gelang kepala seketika saat bayangan bagian bawah Raka terngiang-ngiang dikepalanya saat melihat Raka mandi.
Raya berendam di Bath Up tapi matanya terkadang terbuka dan hal yang pertama yang ia lihat adalah senjata perkasa suaminya.
"pantas saja tadi sakit banget, miliknya besar banget". gerutu Raya memukul-mukul kepalanya yang pikirannya mulai kemana-mana.
Raya menggeleng-geleng kepalanya lalu tak sengaja ia melihat sebuah memo tertancap di lampu hiasnya.
"sayang..! aku bekerja ..ingat kamu jangan bekerja terlalu keras, aku sudah memerintahkan Jon untuk mengambil berkas-berkasmu dan jadwal Rapatmu aku perintahkan Dita untuk jadi Rapat Online saja, aku tidak mau kamu kelelahan sayang. ❤🐈"
begitulah isi memo Raka diselingi gambar hati dan gambar kucing cantik di ujung memo.
"apa ini kucing? apa maksudnya? ". gumam Raya menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal.
Raya memegang rambutnya yang makin halus dan lembut, "apa dia benar-benar merawatku tadi? ". gumam Raya tersenyum manis.
"dia pasti kelelahan tidak tidur sama sekali". gumam Raya yang tau suaminya tidak tidur sama sekali hanya mengurusnya yang terkapar tak berdaya bertempur dengan sang suami.
tubuh Raya tidak sakit lagi, entah apa yang Raka berikan di dalam Bath Up nya tadi pagi, yang pasti tubuh Raya jauh lebih baik bahkan lebih segar dari sebelumnya.
"aakh...! ". Raya terpekik seketika saat dirinya berdiri malah kembali jatuh dengan mulut terbuka.
"apa tulang kakiku menghilang? ". gumam Raya dengan nada tak percaya
Kaki Raya seperti tidak bertulang saat ini hingga tidak bisa berdiri tegak,
"apa masalahnya? ". gumam Raya kebingungan memegang kakinya.
Raya tidak menyerah ia mencoba untuk berdiri, Raya melongoh melihat kakinya bergetar-getar dan saat ia memaksa untuk berjalan bagian intinya terasa berdenyut perih.
"aah.. ". Raya terpekik kembali terlentang tidur di ranjangnya.
"apa-apaan ini..? kenapa sakit sekali? ". gumam Raya dengan nada lirih.
"Bibi...?". panggil Raya berteriak.
"s.. saya Nona". sahut Bi Asih yang mana pintu Kamar Raya memang sengaja di buka sedikit oleh Raka.
__ADS_1
kamar Raka kedap suara jika pintunya di tutup, Bi Asih tidak akan mendengar panggilan istrinya dari dalam kamar, itu sebabnya Raka sengaja membuka pintu Kamarnya sedikit dan melarang Bi Asih dan Para Koki masuk sebelum Raya memanggil.
"Bibi...! ". Raya memberengut kesakitan melihat bagian intinya.
Raya tidak malu berkata jujur pada bi Asih sebab Bi Asih sudah seperti teman bagi Raya, Raya juga percaya Bi Asih orang yang bisa di percaya tidak akan berbicara kepada orang lain.
Para Koki di belakang Bi Asih menahan tawa seketika, Raya memberengut sambil mengerucutkan bibirnya ia kembali masuk ke balik selimutnya, Bi Asih sejak tadi menahan rasa gemasnya akan tingkah Raya.
Raya keliatan bar-bar, tak punya hati, datar, tak ada tingkah imutnya sedikitpun tapi sejak kenal dengan Raka, beginilah tingkah Nyonya Muda Mahawira itu.
"aku malas bangun..! ". rajuk Raya dibalik selimutnya
Raya tau melakukan hubungan itu sakit tapi tak mengira sakitnya sampai lama, pantas saja suaminya mengatur pekerjaannya di dalam mansion saja.
"Nona.. ini sup pereda bagian inti anda setelah itu baru makan bubur Ayam kesukaan Nona". Bi Asih berkata
"Bubur Ayam kesukaanku? ". Raya langsung terduduk dan mengikat rambutnya dengan asal.
Raya bahkan tidak sadar Bi Asih dan Para Koki lainnya menahan tawa seketika melihat tanda kepemilikan dileher Raya. mereka tidak menyangka tuan master mereka begitu ganas padahal mereka tau Tuan Master mereka itu tidak pernah bermain wanita.
Raya tidak sadar akan tanda cinta suaminya itu, ia fokus minum sup lalu memakan bubur kesukaannya dengan raut wajah bahagia,
.
.
"bagaimana Nona? apa sudah baikan? ". tanya Bi Asih melihat Raya berdiri tegak.
sungguh malu sekali Raya harus ketahuan oleh bi Asih sebab ia baru saja buka segel setelah 2 bulan menikah.
.
.
Raya keluar kamarnya jalan mengendap-ngendap tapi kakinya tidak bisa berjalan normal,
"gara-gara suami perkasaku itu! lihatlah hasil perbuatannya". gerutu Raya seperti seorang maling yang takut ketahuan oleh pemilik rumah saja tingkahnya kini.
"aaakh..! " Raya berteriak kaget saat masuk ke Ruangannya ada Dita dan Jon sibuk dengan urusan masing-masing.
"maaf Nona..! saya di tugaskan tuan master menjadi asisten kedua anda hari ini". jelas Jon dengan situasinya saat ini berada di ruangan Raya.
"Nona.. 5 menit lagi Rapat Online pertama di adakan, 2 jam lagi Rapat Online ke dua dengan Klien yang sedang berada di hotel penginapan, dan jam 1 siang nanti ada Rapat dengan pekerja di Kota Y bersama Tuan Muda 1 (Satria), dan Tuan Muda 2 (Arya)". jelas Dita dengan profesional menyiapkan segala keperluan Raya di meja kerja.
"aah.. iya.. maaf merepotkan kalian". ucap Raya berusaha berjalan anggun menahan rasa perih di intinya saat memaksa berjalan normal.
"tidak masalah Nona". jawab Jon dan Dita serentak.
__ADS_1
Dita dan Jon memang selalu bertengkar setiap saat tapi kalau masalah pekerjaan mereka bersikap Profesional satu sama lain, tidak ada pertengkaran diantara mereka.
Raya menghela nafas lega saat siksaannya telah berakhir dengan duduk di kursi kebesarannya, ia tidak lagi memaksa diri berjalan normal padahal intinya masih sedikit sakit.
Rapat Online pun di mulai, berkat Dita dan Jon pekerjaan Raya jauh lebih mudah. Jon membaca setiap berkas-berkas Raya dan menjelaskan rangkumannya pada Raya hingga Raya mengerti tanpa membaca lagi.
jam 12 siang..
Bi Asih dan Para Koki membawa menu makan siang untuk mereka bertiga yang masih berkutat dengan pekerjaan masing-masing.
"bibi.. Bubur !". pinta Raya melambai-lambai ke Bi Asih
dengan semangat namun berhati-hati Bi Asih membawa mangkuk bubur panas ke meja kerja Raya.
.
.
selesai rapat dengan Adik-adiknya di Kota Y, Raya masih melanjutkan VC nya saat Dita dan Jon pamit keluar Ruangan Raya, sebab pekerjaan mereka telah selesai. Raya tentu mengizinkan mereka pergi.
"bagaimana dek? apa kesulitan disana? ". tanya Raya ke layar komputernya.
"tidak kak..! Arya dan bang Satria bisa menyelesaikan semuanya dengan baik, cuma masalah perempuan aja kak..! mereka norak semua". bisik Arya mendekatkan bibirnya ke layar ipednya dari sana.
Raya terkekeh, "saat kembali nanti kalian pasti dibekali banyak makanan dari mereka semua".
"benarkah? lihatlah bang Satria kak". Arya memperlihatkan Satria yang tampak pusing di recoki banyak gadis-gadis kota Y yang memang heboh kedatangan Pria tampan.
Raya tertawa keras, ia senang sekali melihat penderitaan adik nya itu.
"tidak apa..! biar laku kalian". gelak tawa Raya
"enak aja..! Arya tidak mau wanita kota sini, mereka norak sekali". geleng-geleng kepala Arya membayangkan hal mustahil itu.
"ck..! hati-hati kalau bicara, nanti kemakan omongan sendiri baru tau rasa". ejek Raya.
Arya mendecih tak suka, "nggak bakal". balas Arya percaya diri.
.
.
.
owwh... sudah buka segel kan? bulan madunya tunggu Satria dan Arya kembali dari Kota Y ya?? wkwk...
.
__ADS_1
.
.