Kekasih Impian MR. Mafia

Kekasih Impian MR. Mafia
Part. 54_ tiba-tiba


__ADS_3

.


.


Arya menghela nafas pun merentangkan tangannya, Nia semakin mendekat dan menyandarkan sisi kepalanya di belahan dada bidang Arya, Arya memeluk Nia hingga Nia semakin merasa hangat dan memejamkan matanya.


"lain kali jangan suka cari angin di tepi pantai terutama dimalam hari, lihatlah badanmu berpasir semua". Arya mengelus-ngelus kepala Nia


Nia mengangguk patuh di pelukan Arya sambil tersenyum kecil, Nia teringat malam dimana Arya mengguyurinya air dingin hingga tubuhnya basah dan Nia memeluk Arya dalam keadaan basah, Nia membuka matanya seketika.


"Tuan Arya memang tidak melakukan apapun saat itu". batin Nia mengingat malam pertemuan mereka yang tidak disengaja.


Nia semakin menyukai Pria yang kini dipeluknya, Nia melingkarkan tangannya di punggung kokoh Arya, Arya tidak marah malah tetap mengelus kepala Nia sesekali menyisir rambut Nia yang kusut karna angin.


ke esokan harinya


Nia memainkan ponselnya dan jantungnya berdebar kencang seketika,


Arya mendekati Nia yang terlihat tegang, entah apa yang dilihat Nia dilayar ponsel itu.


"Apa? ". tanya Arya


Nia membeku, tangannya gemetaran hingga Arya menautkan kedua alisnya tapi merampas ponsel Nia yang hampir terjatuh.


Arya melihat berita 1 Rumah di rampok orang jahat dan penghuninya tewas di tempat.


"memangnya ada apa dengan Rumah ini? ". tanya Arya penasaran.


"k.. kakak? ". panggil Nia dengan air mata yang memupuk di mata indahnya.


Arya terhenyak, ia tidak mengerti mengapa Nia menangis dan tangannya gemetaran begitu.


"kenapa Nia? ada apa? apa kamu takut melihat kematian itu? ". cecar Arya menangkup pipi Nia


Kaki Nia seketika melemas dan Arya dengan cepat menangkap pinggang ramping Nia.


"ada apa sebenarnya? ". tanya Arya serius.


"R.. Rumah itu Kontrakan Mama dan Papa". jawab Nia dengan nada gemetar


Arya tersentak lalu melihat kembali layar ponsel Nia, "sial...! ". batin Arya merasa ada yang tidak beres.


"Kk. akkk.. A.. aku mau pulang! ". pinta Nia terisak


"iya.. aku antar ya? kita lihat berita ini bohong atau tidak". Arya


Nia terlihat gemetaran, ia sangat berharap tidak ada berita buruk semoga saja Nia hanya salah mengira, Nia benar-benar takut.


Arya keluar memapah Nia yang pandangannya terlihat kosong, ingatan dimana ia bermanja dengan Bio dan Wendy terngiang-ngiang di kepalanya.

__ADS_1


di luar Vila tidak ada siapapun, semua orang masih tidur di kamar masing-masing dan Arya tidak punya pilihan hanya bisa meninggalkan pesan di ponsel Pasha dan Dylan.


.


.


setibanya di Perumahan Kontrakan Bio dan Wendy.


"kamu yakin disini Rumahnya? ". tanya Arya


"ii.. iya Kak, kenapa ramai sekali? ya Tuhan.. Ku Mohon..! hiks.. hiks.. " Nia mulai menangis menerka-nerka kejadian buruk yang menimpa kedua orangtuanya.


Arya keluar dari mobilnya dan berlari menangkap tubuh Nia yang terhuyung-huyung menuju keramaian itu.


"K.. kak? ". panggil Nia


"iya". sahut Arya


"a.. aku takut". Nia berkata dengan nada gemetar


"ada aku". jawab Arya menuntun Nia berjalan walau sedikit lambat.


beberapa orang pun mulai memberi jalan, mereka tentu mengenal Nia dan Arya karna berita pernikahan mereka sudah ada dimana-mana.


Nia mendengar bisik-bisik tetangga yang menyayangkan nasib malang menimpa Nia.


Nia memekik histeris melihat kedua jasad kedua orangtuanya,


Arya memegang tangan Nia dan memeluk Nia dengan erat.


"aaa... Mama.... Papaaaa... " jerit Pilu Nia di pelukan Arya


Arya mengepalkan tangannya, ia yakin ada konspirasi disini tentang kematian Bio dan Wendy, tidak mungkin karna dirampok semata.


.


Nia terkulai lemas menatap kedua orangtuanya bergantian, air matanya terus mengalir tiada henti bahkan sekedar berteriak saja Nia sudah tidak sanggup.


Arya meminta bantuan pada orang-orang untuk membantu nya memakamkan kedua orangtua Nia.


"..Kak Tia dimana? ". tanya Nia dengan nada lemas dan serak pada salah satu tetangga Wendy dan Bio


"k.. kami tidak tau Nona, terakhir saya melihat kakak Nona itu kemarin siang lalu pergi lagi".


Nia kembali menangis, "kenapa bisa begini? kenapa kakak tidak ada bersama Papa dan Mama? kemana saja Kak Tia? ".


Arya tidak peduli dengan apa yang Tia buat tapi yang Arya khawatirkan adalah keadaan Nia yang sangat kacau, Arya tidak tau siapa yang mencoba memberi bendera perang padanya dengan menyakiti keluarga Nia.


.

__ADS_1


di pemakaman.


Nia kembali menangis tanpa mengeluarkan suara, ia menaburi bunga di makam kedua orangtuanya yang berdampingan.


Nia sedang menahan diri untuk tidak menangis tapi air matanya terus saja mengalir tanpa izin darinya terjatuh begitu saja.


Arya hanya diam melipat kedua tangannya, ia sedang berpikir tentang kematian Bio dan Wendy.


"Mama.. sama Papa jangan sedih lagi ya? Nia tidak sedih kok, N.. Nia cuma tidak menyangka kepergian kalian begitu cepat..! hiks.. hiks.. kenapa sakit sekali Ma.. Pa.. " Nia meremas pegangan tempat bunga nya


Nia kembali menangis saat semua orang telah pergi hanya tersisa Arya dan Nia saja.


Arya juga ikut sedih melihat kesedihan Nia tapi ia tidak bisa berbuat apa-apa, Arya hanya manusia biasa yang tidak bisa menghidupkan manusia yang telah meninggal dunia.


"Cha? ". panggil Arya


Nia mendongak ke Arya, Arya bisa melihat betapa menyedihkannya Nia saat ini matanya yang bengkak dan memerah.


Arya membantu Nia berdiri,


"tidak mungkin Kak..! rasanya baru kemarin Aku bermanja pada mereka, rasanya baru kemarin aku tidak pernah dimarahi oleh mereka, ak... aku bahagia mereka menyayangiku Kak.. aku belum cukup puas dengan semua perhatian mereka, hiks.. hiks... " Nia kembali menangis dan Arya memeluknya


"relakan mereka Cha. ada aku dan keluargaku bersamamu, jangan ikat mereka lagi". Arya mengelus punggung Nia


Arya teringat Kama dan Kalila yang punya kelebihan, mereka mengatakan arwah penasaran itu hanya akan ada saat seseorang masih ada penyesalan di dunia.


Arya tidak mengatakan apa-apa pada Nia, hanya akan menambah kesedihan Nia saja biarlah waktu yang membuat Nia untuk belajar ikhlas.


Tia berlari ke makam Kedua orangtuanya dengan gaun yang masih melekat di tubuhnya,


"Mama.. Papaa? " pekik Tia dengan wajah pucat


Tia melihat Nia dan tanpa aba-aba menampar Nia dengan kuat, Arya menarik tangan Tia lalu mendorongnya hingga jatuh tersungkur dan kakinya keseleo.


"Sialan kau Nia.. kau hanya pembawa sial... pembawa sial...! " jerit Tia dengan marahnya


"ayo kita pergi Chacha!". ajak Arya


Nia tidak mampu berjalan, ia kembali murung bahkan lebih murung dari sebelumnya, Arya menggendong Nia dan tanpa hati memijak tangan Tia yang menampar pipi Nia.


Tia memekik kesakitan,


"kali ini aku maafkan..! jika kau berani menamparnya lagi tanganmu ini yang suka menampar akan aku potong dan ku buang ke lautan". ancam Arya dengan serius.


Arya tau Tia juga sedang terpukul, siapapun sedang marah pasti akan mencari kesalahan orang lain untuk meringankan rasa sakit hati mereka, sama seperti Tia mencoba menyalahkan Nia supaya hatinya menjadi lebih baik.


Nia terdiam saja, pandangannya mulai buram kepalanya mulai pusing dan berdenyut nyeri, ia tidak bisa mendengar apa-apa lagi dan ternyata ia jatuh pingsan di gendongan Arya.


.

__ADS_1


.


__ADS_2