
.
.
Arya bersidakap dada mendengar segala menyesalan Wendy yang selama ini banyak berbuat salah pada Nia.
"bantu Papa Nia.. bukankah kamu punya Tuan Muda Arya? Papa bisa saja meninggal jika tidak Operasi dengan cepat! ". Tia
Arya enggan melirik Tia, ia memilih meninggalkan Nia bersama Wendy dan Tia, Arya yakin Nia akan baik-baik saja.
"apa maksud kakak? ". tanya Nia
"Minta Tuan Arya membantu Papa Kita". ulang Tia lagi
"tidak mau..! Tuan Arya sangat baik padaku Kak, aku tidak mau menyusahkannya lagi". tolak Nia
Wendy menghapus air matanya, "tidak apa..! Mama sudah menjual Rumah dan sebentar lagi sekretaris Papamu akan datang mengantarkan uangnya".
"Hah? kenapa mama jual Rumah? dimana tempat tinggal kita ma?". tanya Tia seolah protes tak terima Rumah mereka di jual.
"jadi maumu apa hah? kau mau Papamu dalam kondisi kritis terus tidak di operasi? jaga mulutmu jika bukan karnamu suamiku tidak akan masuk Rumah sakit". marah Wendy
"ada apa ini Ma..? kenapa Papa bisa masuk Rumah Sakit karna Kakak? kenapa Mama memarahi anak kesayangan mama? ". cecar Nia bertubi-tubi dengan raut wajah yang terlihat bingung.
"kami melihat foto nya bersama Brayen nak..! kenapa kamu tidak bilang kalau kakakmu ternyata merebut pacarmu". Wendy
"dia bukan siapa-siapa Nia lagi Ma". elak Nia menggeleng-geleng kepala
"enak sekali jadi kau Nia.. Kau mendapatkan hati Brayen dan kau juga mendapatkan hati Tuan Arya bahkan saat sudah ada di berita kau itu milik Tuan Brayen Mananta, Tuan muda tidak percaya dan malah masih membelamu". Tia
"aku sudah bilang kak..! Tuanku sangat pintar dia tidak akan terpengaruh dengan akting kakak". jawab Nia dengan serius sambil melihat pintu Ruang Rawat Inap Papanya.
Wendy hanya bisa menangis dalam diam, karma itu berlaku dan saat ini Wendy yakin ia sedang terkena Karma karna kelakuannya sendiri yang tidak becus membesarkan kedua putrinya hingga membuat Tia menjadi dengki dan berani berbuat kejam dengan menjual rasa kasihan orang demi memenuhi kesenangan semata.
Operasi pun di mulai saat Wendy sudah membayar biaya operasi untuk suaminya,
siang hari sekitar jam 1 siang.
Arya kembali membawa satu paperbag juga 3 plastik untuk makan siang Nia dan keluarganya.
"Cha? ". panggil Arya membuat Tia dan Wendy menoleh.
Nia juga menoleh ke arah Arya, "Tuan? Tuan kembali? bukannya Tuan bekerja? ". tanya Nia berdiri dari duduknya.
"aku sudah selesai". jawab Arya meletakkan plastik makan siang untuk Nia dan membuka paperbag nya lalu mengeluarkan sesuatu dari Paperbagnya.
Nia kaget melihat Arya membelinya sepasang sepatu baru berwarna putih, "Tuan? ".
"hmm.. " Arya mendudukkan Nia di kursi
__ADS_1
perlakuan Arya yang begitu lembut ke Nia membuat Tia semakin iri saja sedangkan Wendy tidak bisa berkata-kata karna Arya adalah Pria yang sangat cocok menjaga Nia dengan adanya kekuasaan juga kekayaan pada diri Arya membuat orangtua dari putri manapun yakin bahwa Arya Pria yang sangat pantas untuk putri mereka.
Nia melihat kakinya yang sudah terpasang sepatu pemberian Arya, "terimakasih Tuan! ". ucap Nia sambil tersenyum.
"Tuan..? kenapa dibuang? ". protes Nia melihat sendal kelincinya dibuang oleh Arya
"kotor..! aku bisa beli yang baru untukmu". jawab Arya sambil mengeluarkan sesuatu dari saku celananya.
"aku dapat kalung gratis saat membeli sepatumu". Arya menunjukkan kalung cantik berkepala kelinci hingga Nia terperanjat melihatnya.
Nia berbinar memegang mainan kalung itu, "tuan.. ini sangat cantik masa iya gratis".
Arya mendekat memasangkan kalung itu dengan posisi lumayan intim membuat jantung Nia kini berdegup kencang saja mencium aroma maskulin Tuannya.
"sudah..! makanlah! aku harus kembali". Arya mengelus kepala Nia.
"makan? ". Nia melihat plastik yang Arya bawakan tadi ternyata isinya makanan.
"Hmm.. bawa mobilku ke Apartemen ya? ". Arya juga memberikan kunci mobilnya ke Nia.
Nia hendak berbicara tapi Arya sudah pergi dijemput oleh Ayu yang merupakan pengawal setia Alya.
Ayu memberi hormat pada Nia lalu mengikuti Arya yang melewatinya
Nia menatap kunci mobil Arya lalu melihat sepatu dan makanan yang Arya berikan, Nia berkaca-kaca haru ia tidak bisa berkata-kata baginya memiliki Arya adalah anugerah terindah di hidup Nia tapi apa salah Nia jatuh cinta pada Tuannya sendiri. peliharaan manapun pasti mencintai Tuannya begitu juga dengan Nia yang memiliki hati dan perasaan.
"Tuan Arya begitu mencintaimu ya? ". Tia menyindir
Tia yang hendak berbicara lagi benar-benar terdiam apalagi melihat tatapan Mama nya.
"ayo makan ma..! Tuan Arya membeli makan siang untuk kita". Nia menyimpan kunci mobil Arya lalu mengambil plastik yang ada disampingnya.
Nia memberikan makanan nya ke Tia,
"kalungmu cantik sekali..! berikan padaku". pinta Tia berdiri tegak hendak mengambil kalung Nia.
Nia mengelak, "hati-hati dengan kemarahan Tuanku, kakak minta saja pada Tuan Brayen".
Tia mengepalkan tangannya, Nia benar-benar makin berani melawannya.
"Tuan Arya sangat mengasihimu nak..! kamu jangan mengecewakannya ya? ". Wendy berbicara dengan nada lembut dan lemah.
Nia mengangguk patuh, "Tuan Arya sangat baik Ma..! Nia tidak akan mengecewakannya bahkan tidak berani".
Wendy terkekeh pelan sambil menghapus air matanya, apa yang Nia katakan memang benar, tidak ada yang berani melawan Seorang Arya apalagi membantah nya.
.
.
__ADS_1
Malam hari Operasi Bio pun berhasil, Wendy memeluk Nia sambil menangis haru sedangkan Tia pergi ke toilet.
"kamu pulang aja nak..! Mama akan jaga Papamu disini! ". Wendy
"tapi ma..? ".
"tidak apa..! pulanglah! bukankah kamu ada dikasih kunci mobil Tuan Arya? hari sudah larut malam nak! pantas saja Tuan Arya memberikan mobilnya padamu, dia pasti tau kamu akan pulang selarut ini dan dia tau kamu tidak akan dapat mobil di larut malam begini". Wendy
"Mama bagaimana? ". tanya Nia
"tidak apa sayang..! Mama bisa tidur disofa". Wendy mengelus kepala Nia
Nia akhirnya memilih pulang, hari sudah larut malam dan dipastikan tidak ada taksi lagi di jam ini.
"mana Nia ma? ". tanya Tia
"dia sudah pulang". jawab Wendy
"apaa..? aku juga mau pulang dengannya, kita sudah tidak punya rumah Ma, aku harus pulang ke rumahnya lah.. dia tinggal di Apartemen mewah Ma.. pasti banyak kamarnya". Tia
"dasar tidak tau malu". Wendy melirik Tia yang berani menumpang dengan Nia atas semua yang pernah Tia lakukan terhadap adiknya itu.
Tia mengabaikan Mamanya, ia berlari keluar Rumah Sakit mencari Nia tapi terlambat Nia sudah membawa pergi mobil Arya.
"sial...! enak sekali dia membawa mobil Tuan Arya". geram Tia melihat mobil Arya yang meninggalkan Area Rumah Sakit.
Tia mencari-cari taksi di luar sana dan tidak menemukan apa-apa membuatnya makin marah saja,
"pantas saja Tuan Arya memberikan mobilnya pada Nia, jam segini mana ada taksi". Tia memukul-mukul badannya sendiri yang di gigit nyamuk dan kakinya di gigit semut karna terlalu lama menunggu taksi yang tak kunjung terlihat olehnya.
Nia memarkirkan mobil Arya di tempat biasa lalu masuk ke Lift, sebuah mobil hitam berhenti didepan Gedung Apartemen milik Melviano itu.
"Nia benar-benar mendapatkan hati Tuan Muda Arya". gumam Brayen mengepalkan tangannya.
segala kemewahan yang Nia dapatkan dari Arya membuat Brayen semakin marah mengira Nia adalah kekasih Tuan Muda Arya.
awalnya Brayen hanya ingin memastikan Nia ada di Rumah Sakit atau Tidak karna Tia terus mengirim pesan padanya, tapi melihat mobil Arya yang masih terparkir di area Rumah Sakit membuatnya enggan masuk dan memilih menunggu di tempat yang lumayan jauh dari area Rumah Sakit tapi masih bisa melihat Mobil Arya.
tanpa di duga oleh Brayen bahwa Nia lah yang membawa mobil itu hingga Brayen mengikuti mobil yang dibawa Nia.
.
.
.
wissh.. ketagihan buat kisah Arya dan Nia, kalau kisah Alya dan Al udah bahagia ya? tinggal nunggu kembali dari Pelatihan dan Ijab kabulnya aja.. wkwk..
.
__ADS_1
.