Kekasih Impian MR. Mafia

Kekasih Impian MR. Mafia
perasaan


__ADS_3

.


.


"ah..! ". Pekik Raya terduduk seketika sambil memegang perutnya.


"sayang? ". Raka pun berbalik kembali ke Raya memegang lengan Raya dengan raut wajah khawatir.


"kenapa sayang? ". tanya Raka


"perutku sakit seperti biasa bang". jawab Raya


Raka menggendong tubuh Raya dan mendudukkannya di ranjang.


"aku cari obat pereda senggugutannya ya? ". Raka mengelus pipi Raya yang mengangguk.


setiap kali Raya datang tamu bulanan, Raka akan merawat Raya seperti biasa, betapa sabarnya Raka merawat istrinya yang sedang sakit.


"aku carikan bubur bagaimana? ". tanya Raka


"emang abang tau jual bubur di mana? ". tanya Raya balik.


"kan bisa sharelock sayang". jawab Raka membuat Raya mengangguk.


"tunggu sini ya? ". pinta Raka dengan lembut.


"iya..! jangan lama-lama". jawab Raya


Raka mengecup kening Raya lalu segera keluar dari kamarnya,


"apa malam-malam ada jual bubur? ". gumam Raya tampak berpikir


.


3 jam kemudian.


"sayang? ". Raka masuk membawa 2 kantong plastik.


"abang? ". Raya pun bangkit sebab dirinya tadi tertidur selama Raka pergi.


saat Raya baru saja bangun Raka telah kembali.


"maaf lama sayang..! aku membuat buburnya terlebih dahulu". ucap Raka sambil mengeluarkan kotak buburnya


"abang masak sendiri? ". tanya Raya


"udah.. ayo makan buburnya". alih Raka


Raya hanya tersenyum, inilah yang sangat Raya sukai suaminya memang cab*l tapi sekali Raya sakit, suaminya akan berubah seperti seorang Ayah sekaligus Ibu bagi Raya.


"tangan abang kenapa? ". tanya Raya melihat tangan Raka berdarah.


"aah.. tadi kepotong karna terburu-buru aku takut kamu kelaparan sayang, aku mencari bubur dimana-mana tapi malam hari tidak ada jual bubur jadi aku buat sendiri saja menyewa dapur restaurant". jawab Raka seolah tidak peduli luka di tangannya itu.


"ambilkan obatnya cepat...! ". titah Raya


"sayang..! makan dulu ya? ". bujuk Raka

__ADS_1


"ngga mau..! ambil cepat, biar aku obati terus aku baru mau makan". tolak Raya


Raka menghela nafas pasrah lalu mencari kotak P3K,


Raya mengobati suaminya dengan hati-hati, Raka kini mengelus-ngelus perut datar istrinya yang sedang senggugutan kecil tidak separah tadi lagi.


"apa harus periksa ke dokter sayang? ". tanya Raka


"setiap pertama kali datang tamu bulanan di hari pertama pasti begini bang, aku udah tanya dokter katanya biasa". jawab Raya.


"aku hanya ingin kamu tidak lagi merasa kesakitan setiap dapat tamu bulanan". ucap Raka dengan nada lemas tangannya tetap setia mengelus perut Raya.


Raya tersenyum saja sambil memakan bubur buatan suaminya.


"abang juga makan..!". pinta Raya dibalas gelengan oleh Raka tapi melihat tatapan tajam istrinya mau tak mau Raka harus makan juga suapan Raya.


.


"cepat hadir diantara kami ya sayang..! Papa menunggumu". ucap Raka berbisik di perut Raya.


Raya terkekeh saja mengelus rambut Raka yang tengah asik berbincang-bincang dengan perutnya, anehnya perut Raya merasa baikan malam ini, setiap Kali Raya dapat tamu bulanan semenjak menikah dengan Raka benar-benar hal berbeda bagi Raya, biasanya Raya menahan derita senggugutannya sendirian tanpa diketahui keluarganya, tapi bersama Raka tidak ada yang bisa Raya tutupi.


"kamu pengen anak laki-laki atau perempuan sayang?". tanya Raka


"hmm..? laki-laki". jawab Raya.


"aku mau anak perempuan..! kelimanya anak kita perempuan". jawab Raka


Raya mengerutkan keningnya dengan heran, setau Raya bagi seorang penguasa bisnis seperti Raka pasti menginginkan anak laki-laki untuk penerus Perusahaannya tapi Raka malah ingin anak perempuan sudah pasti membuat Raya bingung.


"anak laki-laki hanya akan membuatku cemburu nanti". jawab Raka dengan enteng.


Raya membelalakkan matanya, "abang..! kenapa cemburu sama buah hati kita sendiri? ".


Raka nyengir kuda, "aku mau perempuan aja".


"enak aja..! abang pikir anak itu bisa di tentukan jenis kelaminnya saat lahir? aku mau laki-laki biar punya menantu perempuan yang cantik jelita". kesal Raya


malam itu perdebatan mereka karna anak laki-laki dan perempuan, Raka tidak mau mengalah begitu juga Raya tapi walaupun Raka memiliki anak laki-laki nanti tidak mungkin Raka tega membunuh darah dagingnya sendiri, Raka hanya tidak mau berbagi kasih sayang dengan anak laki-lakinya, ia cemburu saja membayangkannya bukan benci.


.


.


di Mansion Melviano.


"wow...! apa kamu tidak bisa menyimpan kekuatan itu? ". tanya Alya serius menatap Alice.


Alice dan Alya semakin dekat saja seperti saudara kembar, Alya memiliki kepribadian yang ceria begitu juga Alice, apalagi Alice sangat ingin memiliki teman.


"kekuatan itu muncul begitu saja setiap kali aku memegang tangan orang lain". gerutu Alice memperhatikan kedua tangannya.


"kalau begitu pakai sarung tangan bagaimana? ". tanya Alya.


"tapi bukannya itu terlihat aneh? ". tanya Alice yang kini benar-benar lancar berbahasa indonesia.


"tidak aneh". jawab Alya berlari ke arah ruangan gantinya dan kembali membawa sarung tangan putih nan cantik.

__ADS_1


"pakai ini saat kita keluar nanti malam Alice". pinta Alya.


"aku tidak bisa Alya..! aku takut kamu akan dalam bahaya hingga aku tidak bisa meramalmu". tolak Alice


"apa aku dalam bahaya? ". tanya Alya


"kamu akan bertemu dengan Pria bernama Gerry itu, pria pertama yang membuatmu menderita karna cinta". kata Alice


"huh...! aku akan cekik dia sampai mati". gumam Alya memperagakan Raya mencekik seseorang.


Alice hanya mengerjab tidak mengerti.


malam-malam Alice dan Alya telah bersiap mengenakan gaun Pesta yang indah, Alya sama seperti kakaknya memakai Pashmina dengan model kekinian hanya Alice yang tidak menutup rambutnya, Rambut Alice di sanggul cantik.


"wwoww..! kalian cantik sekali". puji Shindy menatap Alya dan Alice bersamaan.


"Arya..? ". panggil Dylan


"iya Pi.. udah siap juga". jawan Arya


"kenapa abang pi? ". tanya Alya


"dia akan menemani kalian juga". jawab Dylan


Alya menghela nafas pasrah, ia lupa kalau papinya sangatlah posesif. Dylan tidak ingin putri bungsunya terjerat gaya bebas anak-anak kuliahan zaman sekarang.


.


.


"kenapa Alice? ". tanya Alya melihat Alice yang tampak bengong.


"aku tidak punya keluarga sepertimu..! ibuku telah meninggal di tumbalkan oleh mereka untuk kesejahteraan kekaisaran mereka, mereka sangat kejam." lirih Alice seketika.


"hei.. tidak boleh menangis nanti make up mu luntur". pinta Alya


Alice mengangguk-ngangguk hendak menghapus air matanya tapi di cegah oleh Alya.


"bisa rusak dandananmu Alice". kata Alya dengan gemas.


Alya mengambil tisu dan mengelap dengan hati-hati air mata Alice.


"luar biasa..! air matamu seperti kristal Alice". puji Alya dengan takjub.


Alice mengerucutkan bibirnya hingga Alya tertawa, setiap kali Alice menangis pasti semua keluarga Alya akan mengatakan hal yang sama, air matanya seperti kristal apalagi saat mata hijau Alice berkaca-kaca.


"abang Satria katanya datang juga ya bang? apa benar? ". tanya Alya ke Arya.


"hmm.. katanya dia datang juga.. Ayah dari teman mu yang ulang tahun itu rekan bisnis bang Satria". jawab Arya dengan santai.


"aku bertemu kakak Satria? udah lama tidak melihat kakak". gumam Alice dengan gembira.


Alya menggeleng saja kepalanya, Alya tau setiap kali Alice tertidur pulas Satria akan masuk ke kamarnya memperhatikan gadis bermata hijau ini tidur, Alya merasa yakin abangnya menaruh hati pada Alice walau hanya rasa kasihan tapi Alya merasa ada perasaan terselubung di hati Satria.


.


.

__ADS_1


__ADS_2