
.
.
"oh jadi begitu ceritanya". ucap Raya dan Nola bersamaan
wajah Nia sudah merah seperti tomat saja di atas ranjang Rumah Sakit.
"entah apa yang ada dipikirannya itu, bisa-bisanya dia lari setelah Arya menyelamatkannya hari itu". gerutu Arya
Raka menepuk-nepuk pundak Arya sambil tersenyum tipis.
"dan kau...! ". Arya menunjuk wajah Nia yang kaget menatap Arya.
"apa kau fikir aku Pria brengs*k sampai kau harus kabur begitu? iya? ". tanya Arya dengan galak.
Nia tersenyum dengan kikuk ia menggaruk kepalanya sendiri.
"s.. saya melihat baju saya berganti tuan.. ja.. jadi saya...? ". Nia berkata dengan takut-takut ia kembali melihat Arya dengan raut wajah lucunya.
Nia merasa bersalah sudah berprasangka buruk dan meragukan Keluarga ternama yang dikenal sangat menghargai perempuan, tidak pernah ada satupun Pria dari Keluarga Melviano terkena skandal menyakiti perempuan.
Nia tau itu tapi situasi dan keadaan membuatnya berpikir yang tidak-tidak, setau Nia orang Kaya dan berkuasa itu tidak pernah memikirkan perasaan rakyat jelata, itu sebabnya Nia langsung berpikir seperti itu apalagi Nia lah yang salah karna masuk ke kamar Arya Melviano dalam keadaan kacau.
"sudah.. sudah.. kamu jangan membuatnya takut lagi Arya! ". Raya melototi Arya yang berani mengintimidasi gadis malang nan lucu itu.
jujur bibir Raya berkedut sejak melihat tatapan unik Nia yang menggemaskan, Nola juga menahan senyum melihat itu sedangkan Arya masih bisa menjaga imagenya, Raka malah acuh sebab yang menggemaskan baginya hanya Cerry (putri kecilnya Raka) dan Raya saja.
"Arya...! ". panggilan Dylan membuat Arya membeku di tempat.
Arya memutar kepalanya secara perlahan dan melihat Dylan bersama Alya berada di Ruangan yang sama dengannya.
"Papi? ". gumam Arya dengan senyum canggungnya.
"bagaimana jika Mamimu tau? kamu pikir bakal lolos dari jeweran nya? ". Dylan melangkahkan kakinya mendekati Arya.
Nia melebarkan matanya dengan cepat ia menarik selimut dan menutupi seluruh wajahnya hanya jemari tangannya saja yang terlihat.
Alya berlari mendekati Raya dan memperhatikan gadis yang tengah bersembunyi menutupi seluruh wajah nya supaya tidak terlihat oleh Tuan Besar Melviano yang dikenal sebagai Jendral Perang ternama di masa mudanya.
"kenapa dia bersembunyi kak? ". bisik Alya penasaran.
Raya dan Nola menggeleng kepala sambil menahan senyum.
"Kamu ikut Papi nak..! ". Dylan menarik lengan Arya yang terpaksa mengikuti Papinya.
__ADS_1
Alya berbalik melihat ranjang memperhatikan Nia yang masih bersembunyi
"halo kakak ipar? ". sapa Alya menyapa Gadis yang masih betah menutupi seluruh tubuhnya itu.
"hei.. jangan membuatnya pingsan lagi!". peringatan Nola.
"hah? memang memanggil kakak ipar bisa buat dia pingsan ya? ". tanya Alya dengan polos ke Nola.
sementara Raka dan Raya bertatapan lalu Raka memanggil sang istri.
"sayang..? ". panggil Raka
"iya Bang..? ". sahut Raya mendekati Raka.
"aku keluar.. ! kamu disini aja ya? ". izin Raka merasa kalau perempuan yang ada disekitarnya butuh waktu untuk bergosip antara perempuan.
"iya abang sayang..! ". Raya tersenyum manis.
Raka mengecup pipi Raya membuat Nola dan Alya jadi jengah saja melihat kemesraan sepasang suami istri yang sangat populer itu.
Raka keluar dari Ruangan inap Nia yang tadi hanya pingsan malah dirawat inap, sungguh lucu sekali.
kini Alya mendengarkan cerita Arya dengan Nia yang terjadi di Singapura betapa terkejutnya Alya, ia tidak menyangka kakaknya yang tak pernah berdekatan dengan perempuan kini terjebak situasi membingungkan diantara Nia dan Arya.
.
.
"aaah...! ". Alya terpekik seketika saat heelsnya menginjak lantai yang licin.
"Nona..? ". pekik ibu-ibu pembersih Toilet Rumah Sakit.
buukhhh..
Alya mengerutkan keningnya saat tubuhnya tak terasa sakit sama sekali, "kok nggak sakit? ". gumam Alya
OG pun segera mendekat dengan wajah memucat walau lega Alya selamat tapi pekerjaannya dalam bahaya saat ini, mencari pekerjaan bagi Ibu-ibu Rumah Tangga sangat sulit dan tentu ia tidak mau kehilangan pekerjaan yang menjadi sumber uang masuknya.
"kamu tidak apa? ". tanya pria asing dibawah Alya
Sontak saja Alya membuka matanya dan terperanjat kaget melihat sosok Pria yang tak lagi pernah berjumpa dengannya.
"Basreng? ". bibir Alya bersuara membuat Al tertawa kecil seketika.
Alya melebarkan matanya lalu mencoba untuk bangkit tapi lantainya masih licin dan sekali lagi Alya terjatuh beruntung Al bangkit dan menangkap tubuh Alya dengan cepat.
__ADS_1
"baru kali ini aku dengar dari seorang gadis mengenalku dengan nama makanan bukan wajah tampan atau sitampan". canda Al menahan rasa gemasnya menatap Alya di pelukannya
Alya berusaha melepaskan diri dari pelukan Al tapi Al berkata dengan serius, "aku akan bantu! tapi aku mohon tenanglah kalau tidak Kakimu akan terkilir lebih parah lagi".
"kakiku? ". Alya berusaha menggerakkan kakinya dan sontak saja ia meringis pelan baru menyadari kakinya sakit.
"sakit? ". tanya Al dibalas anggukan oleh Alya
"aku bantu..! ". Al berkata dengan lembut dibalas anggukan oleh Alya.
Al membawa Alya ke Dokter tulang, Alya tidak memekik seperti kebanyakan perempuan diluar sana saat posisi tulang Kaki Alya di benarkan, Al menelan ludah melihat Alya memejamkan mata sambil menggigit bibir bawah belum lagi kedua tangannya meremas seprai Ranjang (Brankar) pemeriksaan.
"sial...! kenapa aku gemas sekali melihatnya? ". batin Al ingin sekali menyentuh tangan Alya mencium keningnya dan Al juga ingin memberikan bahunya untuk di gigit Alya supaya tidak menggigit bibir Alya sendiri.
"sudah Nona! ". kata dokter sambil tersenyum ramah ke Alya yang terlihat kuat.
"terimakasih dokter! ". ucap Alya dengan tulus membuat si dokter dan para suster kaget lalu ikut tersenyum.
mereka lupa siapa Alya, seorang putri konglomerat ternama di Negara Indonesia yang sangat dermawan adalah keluarga Melviano, mereka berpikir itu hanya untuk menjaga nama baik Melviano saja tak disangka oleh mereka ternyata rumor itu memang benar.
.
"bagaimana keadaan kakimu? ". tanya Al dengan khawatir duduk disamping Alya.
Alya tersenyum tipis, "sudah lebih baik! terimakasih".
"sama-sama". balas Al dengan tangan tergantung di atas kepala Alya.
Alya melihat ke arah tangan Al seperti hendak membelai kepalanya namun masih terlihat ragu.
"sebagai ucapan terimakasihku anda boleh mengusap kepalaku". Alya berkata dengan serius.
Al yang mendengarnya malah berbunga-bunga padahal tidak melakukan apa-apa tapi entah mengapa Al ingin sekali membelai kepala Alya layaknya benda berharga yang disayang dan tak boleh di rusak.
Al mengelus kepala Alya, mereka bertatapan saling melempar senyum satu sama lain.
"lain kali tidak boleh". ucap Alya dengan tatapan galaknya membuat Al mengulum senyum tertampannya.
"eeeh... ". Alya kaget saat ponselnya bergetar
Al masih mengelus kepala Alya sementara Alya berbicara dengan serius dengan Raya dan Dylan di telfon lalu mematikannya setelah menjelaskan situasi Alya yang tidak juga kembali hingga keluarga nya kebingungan menunggu Alya.
.
.
__ADS_1
.