
.
.
Nia merawat Bio dengan sangat baik, membersihkan wajah Papanya, mencukur kumis Papanya hingga Wendy bertanya-tanya sendiri akan kebodohannya selama ini.
"apa benar aku yang telah salah selama ini? kenapa aku bisa begitu bodoh? kenapa aku tidak tau sifat anak-anakku sendiri? ". Wendy menyesali semua perbuatan yang pernah ia lakukan selama ini.
"Ma? ". Nia beralih ke Wendy yang tersentak
"iya nak..! ". sahut Wendy kagetnya.
"Mama tidak makan buah? Nia bawa banyak buah". Nia melihat buah pemberiannya sama sekali belum di buka oleh Wendy.
"eh.. iya nak..! Mama buka dan makan ya? ". Wendy mengambil buah yang Nia bawa dan membuka nya sambil tertawa pelan.
sekitar jam 3 sore.
"Mama? ". panggil Tia baru masuk ke Ruang Inap Bio lalu melihat Nia ada di dalam itu juga.
"Kau..? ". Tia berjalan cepat ke arah Nia.
Brayen masuk membawa makan sore untuk Nia, Tia dan Wendy.
"kenapa kau meninggalkan aku tadi malam? ". tanya Tia dengan nada cukup tinggi
Nia mengerutkan keningnya tidak mengerti, "apa maksud kakak? ".
"jangan pura-pura bodoh..! ". ejek Tia dengan sinis.
Nia yang tidak mengerti hanya diam tanpa berniat menjawab lagi.
"kau tau mama sudah menjual Rumah kami tapi kau malah tidak punya hati sama sekali membawaku tinggal di Apartemenmu". marah Tia dengan sinis.
"kenapa kamu tidak membawa kakakmu Nia? apa karna masih marah padaku? kamu masih cemburu padanya yang telah merebutku? ". cecar Brayen berjalan ke arah Nia.
Tia juga ikutan mendekati Nia demi mendapat izin tinggal di Apartemen mewah milik Nia.
Nia terpekik seketika saat Brayen memegang pergelangan tangannya menariknya ke arah dinding.
"lepaskan aku ...!". pekik Nia dengan tatapan benci
"lepaskan aku! ". pekik Nia semakin melototkan matanya.
"minggir Tuan..! aku ingin bicara dengannya! ". Tia menepuk-nepuk bahu Brayen.
"kau bicara saja seperti ini! aku masih ingin menatapnya". acuh Brayen yang masih menatap wajah Nia.
Tia mendecih kesal, entah apa yang ada pada diri Nia hingga Brayen dan Arya terpikat oleh gadis ini.
"bawa aku tinggal di Apartemenmu jika kau masih menganggapku sebagai kakakmu". pinta Tia dengan serius mengintimidasi.
__ADS_1
"Apartemen itu bukan milikku, aku tidak bisa sembarangan membawa orang lain kesana..! Tuanku bisa marah besar nanti". jawab Nia dengan kesal.
"kau tinggal jelaskan apa yang terjadi pada ku kan? Tuan Arya pasti mendengarkan perkataanmu, bawa aku tinggal disana! ". perintah Tia
"aku tidak bisa bawa orang lain ke Apartemen Tuanku... ". jawab Nia dengan berani
Tia mengepalkan tangannya, "adik macam apa kau hah? apa karna aku mencuri Tuan Brayen kau jadi seperti ini? kalau kau mau mengambil Tuan Brayen lagi ambil saja !!".
"tidak..! Aku tidak akan mengambil bekas kakak! ". jawab Nia dengan lantang.
"oh.. berani kau hah? ". Tia menjambak rambut Nia
"lepaskan tanganmu..!". perintah Brayen
Tia mendorong tubuh Brayen sekuat-kuatnya,
"dasar jal*ng..!". decak Brayen bersidakap dada melihat pertengkaran mereka bukannya melerai.
Wendy yang mulai mengetahui watak Tia pun segera bangkit dari sofa dan berusaha melerai perkelahian kakak dan adik sedarah kandung itu.
"lepaskan kak..! ". teriak Nia
"bawa aku tinggal di Apartemen mu sialan..! kau dan Tuan Arya memang bersama bukan berarti kau jadi besar kepala menjadikan dia milikmu. ! kau harus aku beri pelajaran biar sadar diri ". geram Tia menjambak rambut Nia
Nia menjambak rambut Tia hingga Tia memekik kesakitan.
"lepaskan tanganmu! ". teriak Tia
"Tuan Arya adalah Tuanku saja, Kakak tidak pantas untuknya, aku tidak terima jika kakak bersamanya". teriak Nia
"lepas....!". Tia mendorong Wendy yang berusaha melerai perkelahian nya bersama Nia.
"Mama? ". pekik Nia melihat Wendy terduduk.
Nia melepaskan rambut Tia dan hendak menolong Wendy tapi tangan Tia makin kencang saja menarik rambut Nia.
"kau bawa aku tinggal di Apartemenmu..! aku tidak akan lepaskan rambutmu ini!". ancam Tia dengan ganas menjambak rambut Nia.
"aaahhh! ". Nia memegang pergelangan tangan Tia untuk mengurangi rasa sakit kepalanya tapi Tia seolah mengerahkan tenaga dalamnya menjambak rambut Nia
Brayen yang melihat Nia terlihat kesakitan pun mencoba membantu Nia.
"lepaskan Nia sialan..! ". teriak Brayen
"jangan ikut campur Brayen..! bukankah kau masih menginginkannya? ". Tia berkata dengan serius ke Brayen.
Brayen berdecak tak berdaya, Tia berjanji akan membuat Nia kembali pada Brayen dan Tia akan mendapatkan Arya Melviano.
"lepaskan aku kak..! ". teriak Nia
"apa susahnya bawa aku tinggal di Apartemenmu hah? aku tidak akan melepaskan rambutmu sampai kau mengizinkanku tinggal di Apartemenmu". marah Tia makin ganas menarik rambut Nia.
__ADS_1
Nia menjerit kesakitan, Ia lebih memilih rambutnya rontok semua dari pada mengizinkan kakaknya tinggal bersamanya, Nia sangat tau alasan Tia tinggal di Apartemen yang sama dengannya yaitu dengan menggoda Tuannya.
Nia memang merasa dirinya tidak pantas dengan Arya tapi bukan berarti Nia rela membiarkan wanita seperti Kakaknya bersama dengan Tuannya.
"berani kau melukainya setelah aku ancam hari itu hah? sepertinya ancamanku hari itu tidak membuatmu jerah". kata-kata itu membuat tangan Tia lepas menjambak rambut Nia.
Brayen berbalik melihat Arya ada di tempatnya, sedangkan Wendy lega ada Arya disini yang bisa menyelamatkan Nia.
Nia segera berlari ke arah Arya dan memeluk Tuannya dengan erat hingga Tia makin geram dengan Nia yang berusaha menfitnahnya, Brayen mengepalkan tangannya melihat Nia yang memeluk Arya didepan matanya.
"hiks.. hiks.. Tuan..!". Nia menangis di pelukan Arya
Arya melepaskan pelukannya lalu melihat rambut Nia yang berantakan, Arya memegang kepala Nia yang seolah mendinginkan kepala Nia yang pasti terasa panas ditarik oleh Tia dengan kejam.
Arya melihat pergelangan tangan Nia yang memerah, "berani sekali kalian menyentuhnya! ".
Arya tau pergelengan tangan Nia di pegang oleh Brayen, tangan Nia putih salju hingga cap merahnya terlihat jelas, besar cap itu sudah bisa ia tebak adalah perbuatan Brayen.
Nia memeluk Arya lagi, "Tuan..? kita pergi saja Tuan.. aku tidak mau disini".
Arya memejamkan matanya menahan emosinya saat ini, Arya tidak sama seperti Satria yang sabar terhadap wanita ia memiliki sifat seperti Pasha yang sangat membenci miliknya di sentuh.
"**.. tuan? ". Tia tergagap dengan wajah memucat
"T.. tuan..? saya tidak punya tempat tinggal, Nia punya tempat tinggal dan saya hanya ingin menumpang tinggal di Apartemennya tapi dia malah marah-marah dan bilang Tuan adalah miliknya." Tia berusaha menjelaskan situasinya.
Arya tidak mendengarkan perkataan Tia, Ia menggendong Nia membawa Nia berjalan ke arah Sofa dan mendudukkan Nia dengan hati-hati disana.
"apa kepalamu sakit? ". tanya Arya
Nia mengangguk dengan mata memerah dan Arya bisa melihat Nia begitu berharap padanya untuk tidak percaya sandiwara kakaknya.
"tunggu disini..! aku panggil dokter untukmu! ". Arya mengelus kepala Nia
Arya berjalan ke arah Brankar Bio dan menekan tombol bantuan disana,
"aku tidak pernah main-main dengan perkataanku. ! kau terima saja hadiahku". kata Arya dengan serius tak melihat ke arah Tia sama sekali
"dan kau...! aku akan balas kau dengan setimpal, aku akan membuatmu sadar telah berhadapan dengan siapa". Arya melihat ke arah Brayen dengan tatapan dingin dan aura permusuhan yang kuat
dokter pun datang dengan beberapa suster, betapa terkejutnya mereka ada Arya didalam Ruang Inap ini.
"bukan dia pasiennya tapi gadisku". Arya melihat ke arah Nia yang tampak memegang pergelangan tangannya.
dengan cepat dokter dan para suster berjalan ke arah Nia.
.
.
.
__ADS_1