
.
.
Raka bersidakap dada menatap Jon yang terlalu lama datang untuk mengantarkannya baju ganti.
"maaf tuan..! saya banyak urusan..! dan juga saya tidak pernah menyangka di malam pertama tuan, anda akan memanggil saya". jelas Jon tanpa merasa bersalah.
"kau mau mengelak? ". tanya Raka makin datar saja.
"saya merasa tidak bersalah tuan..! anda yang mengusir kami tadi dan mengatakan pada kami jangan mengacau ". jelas Jon lagi setenang mungkin.
"kau tidak tau sedingin apa aku Jon tidak pakai baju? bahkan istriku sampai tertidur". geram Raka
"saya tidak bersalah tuan". bela Jon tak mau disalahkan.
Jon tipe bawahan Raka yang setia, kalau dia memang bersalah ia tidak akan bisa melawan atau sekedar membela diri untuk mengurangi hukuman tapi kalau tidak bersalah, Jon akan membuat berbagai alasan agar terhindar dari hukuman.
"tidak bersalah? ". ujar Raka mengulangi sambil tersenyum iblis.
Jon tetap bersikeras mengatakan bahwa dirinya tak bersalah, "maaf tuan..! hari sudah larut malam, silahkan lanjutkan malam pertama anda".
"Jonn..! ". geram Raka saat Jon menunduk hormat lalu berbalik meninggalkan Raka yang tak bisa memaki karna tidak mau membangunkan Raya.
Raka memejamkan matanya, menarik nafas lalu membuangnya perlahan. Raka terus melakukan itu supaya kekesalannya terhadap Jon meredam.
Raka berbalik dan kaget melihat Raya dengan wajah bantalnya yang menggemaskan berdiri dibelakangnya.
"sayang? ". sapa Raka dengan gelagapan karna merasa bersalah telah membangunkan Raya.
"kenapa sih? siapa yang datang? ". tanya Raya dengan suara serak.
"bukan siapa-siapa sayang..! hanya tukang antar baju". jawab Raka menggendong Raya yang langsung melingkarkan tangannya dileher Raka.
Raka meletakkan Raya di ranjang kingsize dengan hati-hati.
"tidurlah sayang..! aku ganti baju terus akan tidur disampingmu". bisik Raka mengecup kening dan pipi Raya.
Raya hanya balas dengan deheman, matanya tidak bisa terbuka karna terlalu mengantuk.
setelah berganti baju Raka masuk ke balik selimut Raya, Raka mengangkat kepala Raya perlahan dan menjadikan lengannya sebagai bantal kepala Raya. senyum Raka kian melebar saat Raya malah terlihat nyaman.
"mimpi indah istriku tercinta". bisik Raka mengecup pelipis Raya dengan penuh cinta.
Raka memeluk Raya dengan mesra lalu memejamkan matanya sambil tersenyum, sungguh ajaib, Raka bisa tertidur pulas saat memeluk istrinya itu.
di mansion Raka.
Jon, Rio, Boy dan dokter Jekky sedang berkumpul bersama para mafia the R, mereka tengah berpesta sekaligus berbincang.
"hebat sekali tuan besar Dylan dan istrinya, mereka berbesar hati memberikan putri berharga mereka pada master kita yang masih banyak kekurangan". decak dokter Jekky.
"tuan master kita sempurna! ". ralat Boy.
"coba bandingkan saja dengan pria hebat di luar sana? master kita masih berada dikelas menengah". ujar Dokter Jekky.
"tuan besar Melviano sangat hebat..! dia jenius hakikie, pasti ada alasan diluar nalar yang membuatnya yakin memberikan Nona Raya pada tuan kita". jelas Rio.
__ADS_1
"aku pernah mencari tau, tuan besar Melviano sudah tau kalau tuan Master adalah pria berbahaya yang dikelilingi banyak musuh". Jon menyahut sambil berpikir
"apa tuan master kita akan mengalami masa ujian?". gumam Rio pelan.
"Ujian? ". beo Jon, Boy dan Jekky bersamaan.
"apa kalian tidak tau cerita Mafia besar tuan Galaxy?". tanya Rio membuat yang lainnya saling pandang tak mengerti.
"Tuan Galaxy menikah dengan siapa? ". tanya Rio berdecak.
"Nyonya Kaisha...! ". jawab mereka bertiga serentak.
"Nyonya Kaisha itu siapanya tuan besar Melviano? ". tanya Rio lagi.
"Adik". jawab mereka bergantian.
Rio menceritakan berita Viral saat Gala menikah dengan Kaisha, banyak tantangan yang diberikan Pasha dan Dylan hingga mereka semua terkejut tak percaya.
"tuan besar Melviano akan membuat tuan master kita kebal terhadap racun, dan peka terhadap musuh? ". tanya Boy tak percaya.
"hm... bisa jadi". jawab Rio.
mereka sibuk dengan dunia gosip tentang Gala, Pasha, Dylan, serta Keyzo bahkan mereka mulai bercerita mengenai si peretas ternama yang merupakan bagian dari Keluarga Melviano.
"mereka sangat menakjubkan..! ". gumam dokter Jekky dengan nada lemas.
"mereka sudah satu komplit, dan bibit unggul mereka itu berasal dari Tuan Besar Pasha Melviano seorang Bos Mafia terkejam dimasanya, juga Nyonya besar Kaira yang merupakan putri mantan Raja kota A". sambung Boy tiba-tiba.
"dan lagi mereka sangat murah hati dan dermawan..! buktinya tuan master kita mengingat jasa mereka sampai sekarang". Rio
"hmm". sahut mereka dengan penuh semangat.
.
.
pagi-pagi
Dylan dan Shindy memasuki kamar Raka dan Raya,
"ya Tuhanku..! mereka manis sekali". gumam Shindy dengan gemas.
Dylan merangkul mesra istrinya, "apa aku tidak manis Mi?".
"papi tercintaku ini sangat manis". puji Shindy bermain nakal di dada bidang sang suami.
"jangan goda aku sayang! ". decak Dylan menahan tangan Shindy yang terkikik lucu.
.
.
"Raka...? ". Dylan memanggil Raka tepat di telinga si empunya.
"Eh...? ". Raka tersentak kaget hingga Raya terbangun juga sebab lengan Raka bantalnya kepala Raya.
"bangun...! mandi kita ke Vila tepi pantai!". titah Dylan
__ADS_1
"jam segini Pi? ". tanya Raka melihat jam dinding masih menunjukkan pukul 5.04 menit.
"cepat bersiap..! ". perintah Raka
"iya pi..! iya". jawab Raka segera bangkit namun sebelum melarikan diri Raka mencium pipi Raya yang belum sepenuhnya sadar malah terhuyung ke samping.
Dylan tidak marah sebab mereka sudah sah juga.
Shindy menangkap tubuh Raya yang hampir tumbang lagi, "sayang..? bangun nak..! kita harus ke Vila Grandma, dan Granfa".
"tumben mi? biasanya kan Granma sama Granfa yang kesini". racau Raya
"bangun Raya". Dylan bersuara
"iya Pi..! Raya udah bangun..! tapi kamar mandinya di pakai, Raya tidur dulu ya? ". pinta Raya hendak tumbang lagi tapi di tahan oleh Dylan.
Shindy menepuk jidatnya akan kelakuan Raya yang suka tidur lama, tapi bangunnya juga lama apalagi kalau tidak bekerja.
.
.
"Papi... Kita ngapain kesana sih? apa Oma Ella bermasalah? ". tanya Raya
"kita butuh pelatihan! ". kata Dylan singkat
Dita dikursi penumpang paling belakang seorang diri, tugasnya tetap sama menjaga Raya, tapi disamping Raya saat ini sudah ada Raka. Dita sendiri juga bingung mengapa jasanya masih dibutuhkan padahal ada Raka, tapi tidak berani bertanya.
Raka terus saja menatap Raya, Raya melirik Raka yang tak ada bosannya terus melihatnya.
"kenapa wajahku? apa kamu tidak bosan? ". tanya Raya dengan heran mengetuk kening Raka.
"wajahmu sangat cantik sayang dan aku tidak akan pernah bosan menatapmu". jawab Raka dengan senyum lebarnya.
Raya yang gemas mencubit hidung mancung Raka,
"Ekhemm..! ". dehem Dylan dan Shindy
"kami yang senior saja menjaga sikap bagaimana kalian yang masih junior tak jaga sikap? dibelakang kalian ada jomblo! kualat baru tau kalian". omel Shindy
"Dita sudah ada Jon Mi". jawab Raya
"Tidak Nyonya..! " sahut Dita berteriak tak terima.
"Jon? tangan kanan Raka? ". tanya Dylan
"Iya Pi! ". jawab Raya cekikikan.
"Tidak Nyonya..! tidak Tuan Besar..! Nona Muda salah faham". elak Dita
Raka tak peduli apapun, matanya terus saja menatap Raya seolah dirinya itu sebuah CCTV Raya saja.
.
.
.
__ADS_1