
.
.
1 hari... 2 hari... 3 hari... Raya mulai bosan di kamar terus-terusan.
"Nona masih mau tetap dikamar? ". tanya Dita terkekeh melihat raut wajah Raya yang datar tak sebahagia hari pertama di dalam kamar.
"apa aku keluar Vila akan melanggar perintah suamiku Dita? ". tanya Raya dengan nada malas.
Raya sudah mulai bosan di kamar terus, jujur Raya tipikal gadis tomboy yang suka keliaran kesana-kemari tapi bukan gadis nakal.
"asalkan jangan jauh dari tempat ini Nona, tapi apa tempat ini aman Nona? ". tanya Dita penasaran.
"hmm.. aman..! sangat aman". jawab Raya tak kalah serius.
"benarkah Nona? anda tidak mengada-ngada kan? ". tanya Dita memicing.
"Ck...! Dita..! Vila dan sekitarnya ini milik Keluarga kami, hutan lebat sana juga milik kami untuk pelatihan. kamu pikir apa? Hutan itu milik negara begitu? ".
"hah?? ". cengo Dita
"m.. milik keluarga Nona? ". tanya Dita sekali lagi dengan mata kian melebar.
"kenapa sih? apa kamu lupa kekuasaan keluargaku? dan asal kamu tau harta kekayaan Morett itu tidak ada apa-apanya dibanding milikku serta keluargaku". ujar Raya dengan serius.
"tapi kenapa Jon membuat cerita seolah-olah serigala jahat itu sangat kaya raya? bahkan lebih berkuasa dari Nona". tanya Dita dengan kesal.
Raya cekikikan geli, "itu karna Keluarga Melviano tidak pernah memamerkan kekayaan kami di setiap Kota kecuali yang diliput berita, dan aku cukup berkuasa menjatuhkannya tapi aku ingin lihat permainannya".
"serigala jahat itu memamerkan keuangan, serta kekuasaannya Nona? dan juga anda bisa saja dalam bahaya". ujar Dita lagi-lagi menyebut ejekan Morett dengan kesal.
"biarkan saja, jika Jon tau kekayaan keluargaku dan kekuatanku, dia akan pingsan". kekeh Raya.
"apa saja kekayaan keluarga Nona? saya ingin membuat pria itu pingsan Nona". tanya Dita kini semangat '45.
"kenapa harus aku beritau? ". ejek Raya menjulurkan lidahnya.
"Nona..! ". rengek Dita.
Raya memutar bola matanya dengan malas, "hati-hati dengan perasaan bencimu itu, benci dan cinta beda tipis".
"Nona,, tidak akan Nona". elak Dita tak percaya.
Raya mendengus, berbagai bujukan Dita pun akhirnya Raya memberi tau kekayaan milik Keluarga Melviano.
Hotel MattGroup, Perusahaan MattGroup, cabang Perusahaan disetiap kota, Punya Vila di puncak, ladang berpuluh-puluh hektar, pulau pribadi, Restaurant milik Kaira (Nolan Food), Kastil di 3 Negara lain terutama Negara Dylan dan Nova lahir, Vila di tepi pantai, dan banyak lagi Investasi di negara lain yang berhasil terus saja menjadi uang masuk untuk Perusahaan mereka.
"cukup Nona..! sa.. saya pusing memikirkannya". Dita menggeleng-geleng kepalanya membayangkan uang masuk Keluarga Melviano.
__ADS_1
"aku tidak bermaksud sombong hanya saja aku tidak suka wanita pengecut itu.! tapi tunggu apa Raka baik pada wanita itu ya? ". gumam Raya penasaran.
"Tidak Nona..! tuan Master tidak pernah tersenyum pada Kliennya bahkan pada Yeri sekalipun". jawab Dita dengan mantap.
"bagaimana kamu bisa tau? ".tanya Raya.
"dia baik padaku artinya dia baik juga pada perempuan lain kan? ". sambung Raya lagi.
"tidak Nona..! Jon si menyebalkan itu membela tuannya habis-habisan saat saya mengejek tuan master hanya gila uang, ketenaran serta haus perhatian wanita jahat itu". jelas Dita masih mengingat jelas pertengkarannya dengan Jon di Negara M malam terakhir pesta.
"Raka tuannya tentu saja dia membela majikannya sama sepertimu membelaku, jika ada yang menjelekkanku apa kamu bisa terima dengan lapang dada? ". tanya Raya menggoda
"enak saja..? hati saya tidak sebaik itu Nona..! saya tidak bisa diam saat anda dicela, kalau saya mendengarnya akan saya hajar sampai berdarah tu mulut yang tak dijaga omongannya". gerutu Dita dengan mata melotot.
"sudahlah..! aku bosan bicara denganmu..! kalian berdua sama saja tapi tidak mau mengalah satu sama lain". decak Raya.
Dita mengerucutkan bibirnya,, "padahal Nona dan tuan master sebelum pacaran juga sering bertengkar". batin Dita
"Eeh...? ". kaget Dita membayangkan dirinya dengan Jon hingga Raya juga ikutan kaget
"dasar aneh! ". gumam Raya bangkit dan keluar dari Vila, di sekitar situ aman dari apapun karna memang wilayah Pasha dan Kaira.
.
.
Raya tidak memakai Pashmina nya seperti biasa, Raya berjalan di tepi pantai bermain air.
"tentu saja! kenapa? ". tanya Raya tanpa melihat ke arah Dita.
"hanya bertanya saja". cengir Dita.
"ck.. aku ingin memukulmu". bentak Raya membuat Dita menunjukkan deretan gigi putihnya yang rapi.
"sana cari mobil-mobilan di garansi mobil Grandfa ku". titah Raya
"Eh.. i. iya Nona". jawab Dita segera melakukan perintah Raya.
.
.
Dylan dan Pasha saling pandang melihat Raka melihat tajam ke arah depan.
"ada apa? ". tanya Dylan melihat ke arah tatapan Raka.
walau sangat jauh dari pandangan Dylan dan Pasha, tapi Dylan tau yang dilihat Raka saat ini adalah Raya yang tengah bermain dengan Dita.
"biarkan dia bermain..! cepat selesaikan tugasmu lalu datang ke pelukannya, bukankah kamu sudah berjanji tidak mengekangnya? ". kata Dylan
__ADS_1
"bukan itu Pi". gelengan kepala Raka
"lalu? ". tanya Pasha
"Raya keliaran tanpa pashminanya, rambutnya itu sangat cantik, Raka tidak mau ada yang melihatnya. biarkan Raka bertemu Raya ya Pi..? Grandfa? ".pinta Raka memelas.
"tidak bisa..! ". jawab Dylan dan Pasha serentak.
"kami juga tidak bertemu dengan istri kami untuk melatihmu tapi apa? kamu malah meminta bertemu dengan Rayaku? ". Pasha menatap datar Raka.
Glek...!
"tenang saja tempat ini sangat aman.. ! Vila dan sekitarnya milik Daddyku jadi tidak akan ada yang melihat rambut istrimu itu, lakukan saja pelatihanmu dan cepat kuasai dengan benar jika ingin bertemu dengannya". Dylan berkata.
"milik Daddy? ". gumam Raka tersenyum kaku melihat Pasha.
"kenapa baru tau betapa kaya nya kami? jika aku mencari pria untuk cucuku, bisa saja aku pilih dari keluarga orang kaya raya kan? tapi bukan itu syarat kami, kami membiarkan mereka memilih pasangan hidup masing-masing, dan tugas kami membentuk kekuatannya kalau Pria, tapi kalau perempuan hanya kami limpahkan kasih sayang". Pasha berkata
"untuk itu buktikan kamu yang terbaik untuk Rayaku". sambung Dylan
Raka mengangguk mantap, ia tidak bisa membayangkan Raya jatuh ke pria lain, tidak bisa. untuk itu Raka kini makin bersemangat untuk bisa mendapatkan 2 ilmu berharga dari Dylan dan Pasha.
.
.
tengah malam.
Raka kembali ke Vila, Dylan dan Pasha memberi waktu Raka untuk bertemu Raya tapi pagi-pagi sekali Raka harus kembali latihan.
sebenarnya Dylan dan Pasha juga merindukan istri masing-masing, mana mau mereka tidur sendirian berlama-lama di dalam tenda ditengah hutan.
"sayang? aku merindukanmu". bisik Raka langsung memeluk Raya yang tertidur.
Raya tersentak, ia mengucek matanya, aroma tubuh Raka bisa Raya ketahui.
"Raka? ". suara serak Raya
"iya sayang..! ini aku". Raka tersenyum mengecup wajah Raya lalu memeluk Raya sambil memejamkan matanya.
Raya pun membalas pelukan Raka, tidur Raya makin nyaman saja kalau berpelukan dengan Raka begitu juga sebaliknya.
"akhirnya aku bisa tidur". gumam Raka tersenyum tipis.
beberapa hari Raka di dalam tenda tidak bisa tidur.
.
.
__ADS_1
.