Kekasih Impian MR. Mafia

Kekasih Impian MR. Mafia
Pesta topeng (Part. 3)


__ADS_3

.


.


Raya terus saja menatap gerak-gerik wanita itu seperti cacing kepanasan melihat Raka tengah memeluknya.


"siapa dia ya? nanti aku tanyakan sama Raka". batin Raya sedikit penasaran.


"kau sangat mengenalku Raya..! terimakasih". ucap Raka dengan nada pelan


Raya tersenyum dan menepuk-nepuk pelan punggung Raka seolah menyalurkan ketenangan.


Dita menangkup kedua pipinya dengan mata berbinar, ia menyukai Raya berpelukan dengan Raka. apalagi Dita tau Nona nya telah menaruh hati pada Raka yang entah sejak kapan sudah mencintai Raya.


keberanian Raka lah yang menjadi perihal penting hubungannya dengan Raya, Jika Raka mengungkapkan perasaannya dengan Raya maka pertemanan mereka sudah tidak berlaku.


Dita tidak bodoh dengan berpikir Raka hanya menganggap Raya sebagai teman, sejak awal Dita diberi tau Dylan tentang Raka yang meminta Dylan untuk memberi Raya pengawal, saat itu sudah menjelaskan betapa perhatiannya Raka pada Raya.


"kapan acaranya selesai? ". tanya Raya berbisik.


Raka perlahan melepaskan pelukannya, "kalau begitu ikut aku..! aku akan katakan pada mereka kau harus cepat pulang".


Raka pun sudah mulai bosan dengan acaranya, belum lagi acara puncaknya dimana para Calon penerus Tahta mencari pasangannya.


Raya mengangkat gaunnya dan mengikuti Raka yang sedang pamit pada pelanggan setianya dari berbagai negara, entah apa yang Raka bisikkan pada mereka semua hingga orang yang dibisikkan senyam-senyum melihat perut datar Raya.


"ada apa dengan mereka? ". batin Raya dengan polosnya mengelus perut datarnya.


Raya melebarkan matanya saat rekan Raka mengucapkan selamat atas kehadiran bayinya, Raya memang tidak menguasai 100% bahasa negara M, tapi Raya tau 80% bahasa negara itu. jadi sedikit banyaknya mengerti arti pembicaraan mereka semua.


"bayi? siapa yang dimaksud mereka? ". batin Raya tiba-tiba ia merinding.


alhasil Raya dan Raka serta Jon, Dita berhasil keluar dari pesta topeng sebelum acaranya selesai.


.


Raya menarik lengan Raka ke tempat sepi dan menyuruh Dita dan Jon menjaga jarak dengan nya.


"kau mengatakan apa pada mereka tadi? kenapa mereka sangat mudah membiarkan kita keluar? ". tanya Raya celingak-celinguk melihat situasi.


"aku hanya mengatakan pada mereka kekasihku sedang mengandung dan tidak boleh kelelahan". jawab Raka sambil melepas kancing kemejanya,


Tuksedonya sudah dilepas hanya menyisakan Rompi dan kemeja putih di dalamnya.

__ADS_1


"Apaa? ". pekik Raya syok langsung membekap mulutnya dan melihat kiri-kanan lagi.


"kenapa kau bicara seperti itu? mereka bisa salah faham.. mereka akan menilaiku perempuan apaan? aku berpakaian tertutup, apa kata mereka jika aku mengandung tanpa menikah? ". desis Raya dengan geram.


"aku tinggal menikahimu kan? ". senyum manis Raka memasukkan kedua tangannya ke kantong celananya sambil menatap lekat pujaan hatinya.


"kau bicara apa Raka? kau kan suka Robert dan Model pria itu". Raya meledek Raka.


"Ya Tuhan..! aku benar-benar tidak tahan". gumam Raka memijit pelipisnya.


Raya menautkan kedua alisnya tidak mengerti, Raka mengambil sesuatu dari dalam dompet Raka dan mengeluarkan isinya.


Raka memberikan gelang tangan mungil ke Raya, Raya masih menautkan kedua alisnya tidak mengerti.


"apa ini? ". gumam Raya pelan menarik sebelah gelangnya dan Raya memperhatikan benda itu hingga matanya melebar kian melebar seketika.


Kaki Raya tiba-tiba melemas dan Raka menahan lengan Raya,


"kenapa? apa kakimu lelah?". tanya Raka khawatir.


"ja.. jadi cinta pertama mu itu aku? ". tebak Raya akhirnya menyadari pemilik gelang itu adalah dirinya sendiri.


walaupun Raya masih kecil saat itu tapi perhiasan kesayangannya diberi oleh keluarganya saat ulang tahun tentu dirinya tau benda miliknya. apalagi ada tertera nama panjang Raya dibalik gelang itu.


"kau baru menyadarinya? ". senyum lebar Raka melangkahkan kakinya menjadi selangkah lebih dekat ke Raya.


bahkan Rilly dan Sam masih ingat hari itu jika Raya mengungkitnya pada kedua pasangan suami istri yang telah bahagia kota S, menjadi CEO perusahaan Cabang MattGroup dikota sana. walau begitu Rilly masih sering berkomunikasi dengan Shindy terutama Satria.


"ba.. bagaimana bisa? ". Raya tergagap melihat wajah Raka yang sangat berbeda jauh saat Raya melihatnya hari itu.


"aku bahkan tidak mengenalimu..! kenapa kau bisa mengenaliku? ". tanya Raya tidak mengerti.


"aku sudah mencari tau tentangmu setelah itu baru aku memulai semuanya dari Nol". jawab Raka memegang kedua tangan Raya.


Raya mengerjabkan matanya, "lalu Robert? kau tidak mencintainya? model pria itu? ".


"berapa kali aku katakan Raya..! aku tidak mencintai Robert, aku bahkan tidak memandang Yeri. saat itu Yeri memang mencintaiku tapi aku tidak, dan masalah model itu aku tertarik dengan Style pakaiannya. malam itu aku langsung beli baju itu tanpa di nego dan diantar langsung ke rumahku". jelas Raka dengan sabar.


"wow..! bagaimana bisa kau menyukaiku hanya karna aku beri kau gelang ini? ". Raya memperlihatkan gelang kecilnya yang sudah pasti tidak muat lagi di pergelangan tangan Raya kini.


"aku jatuh cinta pandangan pertama padamu..! percuma memberi banyak kode kalau dirimu tidak Peka akan semua yang aku lakukan untukmu, saat ini aku memberanikan mengungkapkan perasaanku padamu". Ujar Raka dengan lembut.


"jadi malam kau membantai mafia penjual organ dal*m itu karnaku? ". tebak Raya akhirnya mendapatkan jawaban dari teka-teki Raka yang membunuh 1 komplotan mafia kejam.

__ADS_1


"iya". jawab Raka lebih dekat lagi ke Raya.


Raya mendongak sedikit, "kenapa kau diam-diam melakukan hal seperti itu demi aku? ". tanya Raya mengangkat jemari tangannya dan membelai rahang kokoh Raka.


Raka memegang punggung tangan Raya dan mengecupnya mesra.


"aku ingin mencabik-cabik siapa saja yang berani melukaimu". jawab Raka.


"baiklah..! aku percaya kau mencintaiku". senyum manis Raya dengan jantung berdebar, begitu juga Raka.


"kamu menerimaku? ". tanya Raka


Raya mengangguk pelan. Raka tersenyum lebar, sangat lebar lalu memeluk Raya dengan gemas.


"maafkan aku Raya..! aku bukan pria romantis seperti pria lain, mereka menyatakan perasaan dengan memberi sesuatu untuk gadisnya seperti bunga, cincin, kalung atau apapun. tapi aku malah mengembalikan gelang kecilmu yang kini sudah tidak muat lagi di pergelangan tanganmu". ucap Raka dengan nada sedikit merasa bersalah.


Raya tersenyum di bahu Raka, "aku tidak butuh Pria romantis diawal..! bukankah kamu bisa belajar dengan nalurimu?".


"hmm.. aku akan ingat itu". senyum senang Raka masih memeluk Raya dengan gemas.


kepala Raka terasa penuh seolah di dalam otaknya itu ada kembang api dan juga hati Raka penuh dengan taman bunga.


.


.


di kamar penginapan Raka.


Raka berteriak keras seketika, beruntung kamarnya kedap suara tidak ada yang bisa mendengar jeritan Raka saat ini.


Raka seperti orang gila karna begitu senang telah jadian dengan Raya, Raya menerima nya tanpa berpikir panjang.


di kamar lain tepatnya di kamar mandi Raya, Raya berendam di dalam BathUp sambil memejamkan matanya mengingat betapa bodohnya Raya tidak memahami perasaan Raka selama ini, Raka bahkan rela masuk kandang musuh hanya untuk membantai komplotan orang yang telah melukainya.


"Raya...! kenapa kau tidak pernah berpikir Raka mencintaimu..? dasar tolol. " Raya merutuki dirinya sendiri yang tak pernah berpikir benar mengenai perasaan Raka.


.


.


.


Bonus Part kan? terimakasih..! selamat beraktifitas.

__ADS_1


.


.


__ADS_2