Kekasih Impian MR. Mafia

Kekasih Impian MR. Mafia
peperangan besar


__ADS_3

.


.


Zain tidak akan mau kalah, ia sudah berlatih berpuluh tahun lamanya supaya bisa melawan Edward.


Zain ingin membuktikan bahwa kedua tangannya tidak hanya bisa mengobati orang lain tapi kedua tangannya juga bisa membunuh orang lain, ia tidak peduli rasa kemanusiaannya sebagai Tabib


sudah cukup lama Zain bertahan dengan memegang teguh prinsipnya seorang tabib tidak boleh melukai manusia sebab pekerjaannya mengobati luka manusia itu sendiri.


"Kau sudah berani rupa nya". Edward menatap tajam Zain.


"ya.. aku sudah berani..! jangan macam-macam denganku lagi yang mulia". jawab Zain dengan berani.


Edward melayangkan tinjunya ke Zain yang di cekal oleh Mira.


"sudah cukup kau membuatku menderita Edward..! tidak bisakah kau mencintai permaisurimu itu? kau tau sendiri aku adalah gadis yang bebas sebelum mengenalmu.. aku tidak ingin terikat peraturan istanamu itu..! dia pantas jadi ratumu". Mira berkata dalam bahasa negara Dubai menatap tajam mata Edward.


Edward mengepalkan tangannya, "kau masih mencintainya? ".


"tentu saja aku mencintai pria yang bebas juga". jawab Mira dengan lantang.


"kalau begitu kita mati bersama..! aku tidak akan membiarkan siapapun memilikimu". seringai Edward mengangkat tangannya tinggi.


Dylan dan Raka saling pandang lalu melihat situasi yang mana Edward membawa seluruh pasukannya ke Gedung Fashionshow ini.


"aku tau kau memancingku kesini Mira.. tapi aku tidak bodoh datang kesini seorang diri". Kata Edward dengan senyuman tipisnya.


Dylan terlihat tenang saja, begitu juga Raka sedangkan Zain melindungi Mira yang bersikeras juga melindunginya.


"sayang..! aku bisa melindungimu". tegas Zain


"jangan langgar sumpahmu Zain..! kamu dan aku berbeda, aku pembunuh sedangkan kamu penyelamat, kita bersatu itu sudah keajaiban.. lakukan saja pekerjaanmu yang melindungi nyawa manusia jangan mengambil nyawa manusia". ucap Mira dengan tegas.


Zain berdecak, "untukmu aku rela melanggar sumpah itu".


"Zainn...! " pekik Mira


"aku tidak peduli.. aku adalah laki-laki tugasku melindungimu tidak peduli siapapun yang akan aku bunuh". kata Zain tak mau kalah.


Para bodyguard Edward menyerang para tamu undangan yang ada di tengah acara Fashionshow.


"Dita..! kau selamatkan Alman dan yang lainnya cepat..!! ". titah Raya dengan sorot mata memaksa


"tapi Nona". elak Dita


"Dita..! jangan berdebat..!! cepat lakukan..! ". teriak Raya.


Dita mengangguk lalu berlari menerobos kerumunan bodyguard mencari Alman, Fika dan Nenek Riel.

__ADS_1


Raka menarik lengan Raya mendekat ke tubuhnya, "aku akan melindungimu sayang! ". bisik Raka dengan suara nya yang terdengar sangat dalam.


Raya mendongak menatap Raka yang tengah menatap tajam ke arah sang Lord Dubai, ia bisa melihat tatapan dendam dan penuh kebencian di mata Raka yang memerah dan berair itu.


Raya mengerjabkan matanya melihat asap hitam di belakang Raka, Raya membekap mulutnya seketika.


"kenapa aku bisa melihat apa yang Kalila katakan? ". batin Raya mengucek-ngucek matanya.


Raya tidak lagi melihatnya, ia teringat kata-kata Kalila bahwa ada arwah gelap yang melindungi Raka hingga bisa lolos dari maut berkali-kali.


Pertarungan tak dapat di hindari, hanya sang Lord yang tampak tenang duduk di sofa mewah yang tersedia di Gedung Fashionshow itu.


ribut...! sungguh ribut..! teriakan pilu dan jeritan meronta-ronta ada dimana-mana, beberapa orang ada yang berhasil menyelamatkan diri dari para pasukan Edward.


Dylan bersidakap dada memperhatikan sang Lord yang merasa sudah menang dan terlihat besar kepala,


"mereka membawa 1000 pasukan tentara Dubai Pi". bisik Shindy.


"hmm.. jangan salahkan Papi bawa 2000 Tentara Pasukan perang Papi dulu". jawab Dylan


"Papi bisa mengumpulkannya? ". tanya Shindy


"hmmm.. tapi masih dalam perjalanan kemari". jawab Dylan.


"berapa menit lagi? ". tanya Shindy.


"mungkin sekitar 20 menit lagi". jawab Dylan melihat jam tangannya.


Pertarungan pun terjadi, Raka melindungi Raya seolah Raya tidak bisa bertarung saja, Raya sesekali mencuri tendangan tipuan saat Raka menggendongnya.


Raya tentu mengerahkan kemampuannya saat Tentara Sang Lord menyerang nya dengan Raka.


Shindy dan Dylan bertarung melawan tentara Edward begitu juga Zain dan Mira.


mereka berenam bisa menghabisi beberapa puluh orang tentara Edward.


"wow..! kemampuan kalian boleh juga tapi aku yakin kalian juga akan kewalahan dan pada akhirnya akan kalah". ucap Sang Lord dengan percaya diri.


brukkh...


pintu terbuka lebar bala tentara Satria datang bersama 2000 pasukan nya, Arya bersama Randi dan Pandu ikut dalam peperangan antar negara ini.


Edward berdiri dari duduknya melihat banyaknya pasukan Tentara Pasukan setia Dylan saat masa berperangnya dahulu.


anak-anak dari pasukannya setianya dulu ikut aktif bergabung dengan Melviano, sebab kedua orangtua mereka begitu menghormati Dylan sang Jendral besar yang menyelamatkan hidup kedua orangtua mereka.


"shiit...!? " umpat Edward.


Pasukan Dylan menancapkan pisau-pisau mini ke jantung musuh-musuhnya hingga gedung itu semua bermandikan darah, pembantaian besar-besaran pun terjadi.

__ADS_1


Keluarga Melviano memang tidak bisa di remehkan, Rio, Jon juga Boy beserta para mafia the R juga datang membawa senjata api.


"keluarkan senjata kalian! ". teriak Edward.


bala tentara Edward masing-masing membawa senjata api tapi karna terlalu meremehkan lawan mereka tidak menggunakannya sama sekali.


dor.. dor.. dor..


hanya tersisa 500 pasukan Edward yang harus melawan 2000 pasukan Dylan, belum lagi orang-orang Raka yang membidik jantung musuh-musuhnya tanpa berpikir lagi.


Mafia the Xylver juga datang bersama Alvan dan Kama.


Kama tidak suka keluarganya di serang, walaupun ia belajar agama tapi didalam agama berperang membela kebenaran juga diperbolehkan.


pertarungan terus saja berlanjut hingga pasukan Edward benar-benar sudah menipis, ia bersiul lagi untuk memanggil pasukan lainnya yang berjaga di luar.


"kami sudah menghabisinya!". seru Alvan dengan lantang.


"sudah tidak ada". sahut Kama mengejek.


Edward melihat mereka semua dengan sorot mata tak senang.


"kau fikir aku kalah? ". tanya Edward dengan tatapan membunuhnya.


Edward mengeluarkan senjata tajamnya.


dor.. dor.. dor..


semua peluru mengenai tubuh Edward


"aku tidak kalah! ". gumam Edward yang sosoknya sang Penguasa tidak pernah merasa kalah atau terkalahkan.


Edward memilih bunuh diri dari pada mati ditangan musuhnya,


"di kehidupan selanjutnya ku harap kita bertemu lagi Mira, dan saat itu akulah yang akan menguasai hatimu". ucap Edward yang sudah terbatuk-batuk darah.


Dor..!


Edward menembak kepalanya sendiri hingga darah bercipratan dimana-mana.


Raya melongoh saja akan perbuatan sang Lord itu, tak sama sekali tidak mau kalah bahkan tanpa segan bunuh diri sendiri walau di kepung oleh mereka semua, betapa arogan dan sombongnya si penguasa satu itu.


bodoh..! karna cinta semua orang jadi bertindak gila, tidak ada yang bisa menang kalau seperti ini.


Zain berkata dengan lantang, "tidak akan aku biarkan Miraku mencintaimu walau di kehidupan selanjutnya".


semua orang-orang Dylan menurunkan senjata melihat Sang Lord sudah tiada dengan bunuh diri sendiri.


.

__ADS_1


.


__ADS_2