Kekasih Impian MR. Mafia

Kekasih Impian MR. Mafia
kacau


__ADS_3

.


.


"hmm... Raka? ". panggil Raya ragu-ragu saat mereka ada di ruangan makan privat berdua sedangkan Jon dan Dita di sudut ruangan makan berdua disofa bukan di meja yang sama dengan Raka dan Raya.


"hmm? ada yang mau kau pesan lagi Raya? ". tanya Raka melihat ke arah Raya


"apa kau tidak marah aku mengacaukan rencana balas dendammu? ". tanya Raya dengan kedua tangannya yang gelisah tengah menyatu di bawah meja.


Raka menaikkan sebelah alisnya, "kapan aku marah padamu hmm? coba aku tanya? aku marah kalau kau tidak bertingkah kan?". Raka menekan kepala Raya sambil tersenyum tipis.


Raya tampak berpikir, "tadi kan berbeda..! aku ikut campur masalah pribadimu".


Raka tersenyum dan menggeleng kepalanya, "tidak apa ! kau boleh ikut campur dengan masalah pribadiku".


Raya tersenyum kikuk dan kembali melihat ke arah meja.


"kenapa kau terlihat berbeda Raya? ". tanya Raka penasaran


Raya menoleh ke Raka, "berbeda apanya? ".


"ada yang beda dengan sikapmu! apa aku melakukan kesalahan? kau terlihat menjaga jarak denganku? ". tanya Raka mendekatkan kursinya ke Raya


Raya tertawa canggung, "tidak ada! kapan aku menjaga jarak denganmu".


"benarkah? ". tanya Raka memicing dan terus mendekatkan wajahnya ke sisi wajah Raya.


Raya menonyor kening Raka untuk menjauh darinya, "menjauh sana..! " usir Raya


Raka tertawa lalu kembali duduk dengan benar, Raya menghela nafas lega,


"syukurlah dia tidak sadar..!". batin Raya


"kau tidak lupa besok kita ke negara M kan? ". tanya Raka serius.


Raya terdiam lalu perlahan memutar kepalanya ke Raka


"jangan bilang tidak bisa." Raka seolah tau isi pikiran Raya.


"a.. aku..! ". Raya bingung menjelaskan alasannya karna pria disampingnya ini terlalu mengenalnya melebihi Raya mengenal dirinya sendiri.


"aku bahkan meninggalkan Perusahaanku yang sedang berjaya untuk ikut dirimu ke Kota Y, aku jadi pengangguran bahkan menjadi supir sekaligus pengawalmu tidak dibayar ! apa kau tidak mengingat itu? ".


Raya jadi serba salah, ia menyesal telah membawa Raka ke kota Y hingga Raya mulai berubah dengan menyukai Raka yang sebelumnya dianggap teman olehnya.


"kau tidak mau ikut? apa salahku Raya? ". tanya Raka dengan lembut.

__ADS_1


"kau tidak salah Raka". jawab Raya hendak mengambil gelas dan ia mau minum namun gelasnya kosong.


Raka di buat heran lalu dengan lembut mengambil gelas Raya dan mengisinya dengan air minum, sungguh Raka begitu pengertian pada Raya lalu Raka berikan ke tangan Raya yang tersenyum canggung dan mulai meneguk gelas air minumnya.


walau Raya tidak mengatakan apapun, tapi Raka tau ada yang salah dengan Raya, Raya seolah menjaga jarak dengannya tapi Raka tidak tau kesalahannya.


"makanannya sudah disaji..! makan lalu minum obatmu ya? ". Raka memotong steak daging dengan sangat kecil


Raya terus saja minum sambil mencuri pandang ke Raka yang tampak sangat seksi memotong makanan.


"kenapa kau mencuri pandang Raya? sial.. kenapa dia sangat seksi? ". batin Raya yang terus saja perang batin.


"kenapa minum terus? ". tanya Raka membuat Raya tersedak.


Raka yang panik mengambil tisu dan membantu Raya mengelap bibir Raya serta menepuk pelan punggung Raya yang terbatuk-batuk.


"kenapa sih Raya? ada apa denganmu? ". tanya Raka dengan khawatir.


"aku bisa sendiri Raka..! " Raya mengambil tisu Raka tadi dan mengelap bibirnya.


Raka mematung melihat Raya mengelap bibir merahnya yang tidak ada noda di tisu putih itu padahal bibir Raya merah.


"kau tidak pakai pemerah bibir?". tanya Raka memperhatikan bibir Raya


Raya mendorong Raka supaya menjauh darinya, "tidak...! aku tidak memakai benda itu". jawab Raya


"ha? ". cengo Raya


"bibirmu cantik sekali! selama ini aku pikir kau pakai pemerah bibir". jelas Raka masih mengelus punggung Raya


merinding...! lagi-lagi Raya merinding mendengar pujian Raka.


"makanlah..! kau harus minum obat". Raka menukar piringnya dengan piring Raya yang berisi Steak daging yang sama namun belum di potong-potong.


setelah makan berdua, Raka membantu Raya minum obat, benar-benar aneh tapi perhatian kecil Raka tentu membuat Raya sedikit malu. pikirannya mulai kacau akan perlakuan manis Raka itu.


sementara Dita cengar-cengir dengan wajah tertunduk melihat kemesraan majikannya itu. Jon hanya cuek tak peduli akan kemesraan tuannya itu karna sudah biasa juga menurutnya.


.


.


di kamar Raya


Raya yang tadinya berjalan tenang dan santai saat pintu kamarnya tertutup, ia berjalan gontai seperti zombie menyeret heelsnya dengan lemas.


Raya tumbang di ranjangnya dengan posisi telungkup,, "ada apa denganmu Raya? dia temanmu! bahkan perlakuannya sebelumnya juga sama kan? kenapa kau malah terbawa suasana? kenapa? kenapa kau berubah? apa kau tidak tau dia itu suka Pria ingat... tubuh pria...! ya Tuhan.. kenapa aku harus terlibat dengan namanya cinta ? sungguh sulit di mengerti".

__ADS_1


Raya mulai memutar-mutar tubuhnya seperti kepompong ke kiri dan kanan hingga ranjangnya berantakan.


"aaaakkkh....!" Raya mengacak-ngacak selimutnya dengan kesal


kepala Raya mana suka dengan perasaannya tapi hatinya menguasai seluruh tubuhnya, bahkan di puji sedikit oleh Raka tubuhnya merinding dan hatinya bergetar.... senang! hatinya senang mendengar pujian Raka. dan sialnya matanya tak bisa diajak kompromi selalu mencuri pandang hanya untuk sekedar melihat wajah Raka saja.


Raya benar-benar berubah itu yang membuatnya tidak nyaman sementara Raka hanya menganggapnya teman begitulah fikir Raya.


"aku harus bagaimana? ". gumam Raya bangkit dengan nada lesu


Raya melepas heelsnya lalu menyeret kakinya ke kamar mandi, Raya berpikir harus menenangkan kepalanya yang kacau dengan mandi air dingin.


.


.


ke esokan hari nya.


"kamu benar-benar pergi ke negara M sayang? ". tanya Shindy memastikan


"iya Mi..! huh..! Raya udah terlanjur janji sama Raka, mami tau sendiri kan kalau udah berjanji sama bocah tengil itu bagaimana jadinya? dia akan menuntutnya terus". oceh Raya sambil memasukkan lagi dan lagi gaun serta baju santainya ke dalam koper.


"kenapa kamu banyak sekali bawa gaun sayang? ". tanya Shindy heran sebab Raya tidak terlalu pemilih dengan pakaian tapi hari ini Raya membawa banyak gaun seolah akan pesta berhari-hari disana.


"eeh..! biar aja mi..! Raya tidak mau beda dari yang lain, kita tidak tau model berpakaian orang di negara sana". bohong Raya dengan begitu profesional.


"oh.. benarkah? ". gemasnya Shindy malah percaya akan kebohongan putri sulungnya itu.


"papi belum pulang mi? ". tanya Raya


"iya sayang.. biasalah dia sama bagus pergi ke kota W tidak mau bawa mami". rajuk Shindy


Raya menggeleng kepalanya tapi bibirnya tersenyum, "sejak kapan papi bawa mami ke luar kota? nanti Papi bisa naik tensi, marah-marah nggak jelas kalau tangan mami dikecup pria lain".


"alah...! anak udah 4 pun masih cemburuan aja papimu itu, makin parah malahan". oceh Shindy


"tapi mami senangkan? kayaknya mami sama papi nggak ada bedanya tuh". goda Raya


"kamu udah pintar godain mami ya? nanti Raka pasti akan bertingkah sama padamu". goda balik Shindy mencubit kedua pipi Raya


Raya mematung seketika hingga Shindy tertawa keras meninggalkan anaknya dengan raut wajah lucunya itu, Raya seperti anak kecil yang baru saja ketahuan mencuri uang mami nya serta terlanjur menghabiskan uang itu tanpa tersisa.


"kenapa mami bisa tau?". gumam Raya dengan nada tak percaya.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2