Kekasih Impian MR. Mafia

Kekasih Impian MR. Mafia
sekian lama


__ADS_3

.


.


Raka tiba di Rumah Sakit terbesar di Kotanya, Raka lari tergesa-gesa memasuki ruangan VVIP 1.


"Ya Tuhan...! semoga istriku baik-baik saja". gumam Raka dengan panik.


"sayang..? ". Raka masuk ke ruangan VVIP 1 menyapa sang istri.


"sayang? katanya ada di rumah sakit, apa kamu sakit sayang? apa terjadi sesuatu? ". cecar Raka khawatir mengelilingi tubuh Raya.


memang tubuh Raya tidak di putar-putar oleh Raka, tapi Raya malah pusing saat Raka memutar-mutari nya mencari luka di tubuhnya padahal tidak ada luka walau hanya segores saja.


"bukan aku yang sakit abang". jawab Raya menahan lengan Raka yang ingin mengelilingi tubuhnya lagi.


"terus siapa sayang? apa Dita? ". tanya Raka


"bukan". jawab Raya menggeleng kepalanya.


"terus siapa? ". tanya Raka sambil memutar pandangannya melihat siapa yang tengah berbaring di ranjang.


Alman berlari masuk ke Ruangan neneknya membawa 2 susu kedelai sehat


"Kakak.. Alman tidak banyak uang, Alman cuma bisa belikan ini buat kakak! Alman janji kalau sudah besar nanti Alman akan belikan mobil untuk kakak". Alman memberikan 2 susu kedelai untuk Raya.


"lalu kamu makan apa Alman? ". tanya Raya berjongkok menyamakan tinggi badannya dengan Alman.


Raka melihat situasi tentu berusaha mencerna semua ini tanpa bertanya pada Raya.


"Alman bisa makan tahu kok kak..! ". jawab Alman dengan polos mengusap perut kecilnya.


Raya sampai menghela nafas panjang, "kamu masih dalam masa pertumbungan Alman..! kamu harus banyak makan banyak biar pintar dan cepat tinggi, makan tahu tidak akan mengenyangkanmu Alman".


"tidak apa kak..! Alman harus hemat supaya bisa belikan Nenek sendal baru". jawab Alman sambil tersenyum


Raya berdiri dibantu oleh Raka saat Alman berlari ke ranjang Neneknya, Raka bisa melihat Nenek Alman tidak mengeluarkan suara.


"apa dia bisu? ". batin Raka menebak


Raka melihat ke arah Raya seolah bertanya lewat sorot matanya, Raya menganggukkan kepalanya lalu menyandarkan kepalanya di bahu kokoh sang suami. Saat Raya memakai Heels tingginya dengan Raka tidak terlalu jauh.


"Dita? ". panggil Raka


"saya tuan". Dita mendekat ke Raka dengan jarak 2 meter.


"belikan makanan terbaik di restaurant disebrang jalan, antar semuanya kesini..! dia harus makan makanan bernutrisi, bergizi juga sehat". titah Raka memberikan Blackcardnya.

__ADS_1


Dita menerimanya lalu segera keluar dari Ruangan itu, jika ada Raka tentu saja Dita bisa meninggalkan Raya.


"kamu menolongnya sayang? ". tanya Raka merangkul pinggang Raya


Raka ingin memeluk dan mencium istrinya tapi ia harus bisa menahan diri karna ada Bocah polos saat ini, Raka tidak mau mengotori mata suci Alman.


"Alman mengingatkanku dengan abang". bisik Raya


Raka memperhatikan tubuh Alman yang sedang berkode jari serta gerakan bibir dengan Neneknya. entah apa pembicaraan mereka hanya Alman dan Neneknya saja yang tau, Raka dan Raya tidak mengerti bahasa isyarat.


.


.


Operasi Nenek Riel pun berhasil, Alman berlari mengikuti Neneknya yang belum sadarkan diri keluar dari Ruang Operasi, Brankar mewah itu di dorong oleh banyak suster.


uang dan Kekuasaan (koneksi) sangatlah penting, berkat Raya Nenek Riel pun bisa operasi.


Jon dan Dita tidak bertengkar malam ini, ia berdua duduk dengan jarak jauh sementara Raya dan Raka berbicara dengan dokter kenalan Raya pernah jadi dokter juniornya Dr. Kinan sebelumnya, kini dokter itu telah jadi dokter bedah THT terbaik di Rumah Sakit Ibu Kota.


"benjolan di pitas suara pasien telah diangkat Nona, beruntung benjolan itu masih kecil jika sudah membesar saya yakin pasien tidak akan bisa berbicara selamanya". kata Dokter dengan ramahnya.


"terimakasih dokter". ucap Raka dan Raya serentak.


sang dokter pun pamit setelah memastikan keadaan pasiennya, ia harus memeriksa pasien lainnya.


"Alman..? ". Raya mengelus kepala Alman yang setia memegang tangan neneknya.


"tidak ada masalah Alman, Nenekmu masih dalam pengaruh obat jadi tidurnya akan lama,, kamu harus ikut kami pulang ya? kamu bersihkan tubuhmu lalu kita kembali lagi kesini nanti malam, bagaimana? ". tanya Raya


"tidak apa Kakak..! Alman jaga Nenek saja, Alman tidak mau meninggalkan Nenek sendirian". tolak Alman.


"kakak akan menjaga Nenek Alman, Alman ikut kakak cantik ya? ". bujuk Dita


"tapi..? ". Alman tampak ragu meninggalkan neneknya sendiri bersama Dita.


"paman juga menjaga nenekmu! pergilah..! kalau nenekmu bangun melihat cucunya bau apa katanya?". sambung Jon.


Alman mengendus ketiaknya dengan polos hingga yang lainnya menahan senyum.


.


.


ke esokan paginya.


Raya harus bekerja di Perusahaannya, Raya meminta bantuan, Rio dan Boy menjaga Alman dan neneknya. Raka membeli Rumah Smith dan mengubah pemiliknya atas nama Alman.

__ADS_1


"abang yakin rumah itu untuk Alman? kalau abang tidak bisa biar Aku beli rumah lain aja". tanya Raya serius menatap Raka yang memperlihatkan isi surat kepemilikan Rumah Smith pada Raya.


"aku tidak mau menginjakkan kaki ke rumah itu sayang, lagian aku tidak punya banyak kenangan indah dirumah itu, Ayahku selalu membawaku kemana-mana jadi kami jarang menghabiskan waktu di rumah." jawab Raka dengan santainya memainkan jemari cantik sang istri.


Raya tak lagi membalas ucapan suaminya malah mengalihkan pandangannya, Raka dengan cepat tidur di pangkuan Raya hingga gadis cantik bermata biru samudera itu menoleh ke arah Raka.


"aku mengantuk sayang..! kamu harus memperhatikanku,, apa kamu lupa sudah punya suami? kamu hanya mengurus Alman dan Alman". gerutu Raka


Raya mengerutkan keningnya, "apa dia cemburu pada seorang anak kecil? ". batin Raya dengan bibir berkedut.


"bagaimana pekerjaan abang? abang kenapa ninggalin Perusahaan coba? sana balik ke kandang! ". usir Raya menahan tawanya sekuat tenaga.


"tidak mau". tolak Raka seperti anak kecil menyelusupkan wajahnya di perut datar sang istri.


Raya mengelus kepala Raka, ia harus sabar sekali mengurusi bayi besarnya ini.


.


.


siang harinya Raya dan Raka pergi menjenguk Nenek Riel.


"Nona..? ". Nenek Riel akhirnya bertemu Raya dan hendak turun dari ranjangnya tapi dicegah oleh Rio yang memang melindungi Nenek Riel atas perintah Raya.


"terimakasih Nona..! terimakasih banyak.. saya tidak tau bagaimana cara membalas perbuatan baik anda Nona". Nenek Riel menundukkan kepalanya dengan hormat ke Raya seolah Raya adalah Ratu dinegaranya.


"terimakasih kakak". ucap Alman yang kini tubuhnya jauh lebih bersih.


"tidak apa..! buktikan kalian bisa bangkit tanpa bantuan orang lain". senyum tipis Raya.


Nenek Riel dan Alman lagi-lagi bersyukur saat Raka memberinya tempat tinggal yang layak, Raya juga telah memasukkan Alman di sekolah terdekat dengan Rumah barunya itu, Alman dan neneknya tidak tau bagaimana luasnya Rumah Smith.


setelah menjenguk Nenek Riel dan Alman, Raya dan Raka makan berdua di Restaurant terdekatnya.


"kenapa hatimu baik sekali sayang? ". tanya Raka berbisik.


Raya tersenyum tipis namun memikat, dan tak sengaja Raya menyenggol seorang pria bersebrangan jalan dengannya.


"maaf.. hei.. ada yang cedera? ". tanya Pria itu


"tidak apa...? maaf". ucap ucap Raya juga.


"Kau...? ". Raka menepis topi pria itu hingga terlihat jelas oleh Raya dan Raka bahwa pria didepannya adalah Robert.


"sudah lama tidak bertemu". senyum tipis Robert menatap Raya.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2