
.
.
di tempat lain.
Satria mengelilingi salah satu wanita yang kini ada di hadapannya.
"kau ingin menjadi pengawal keluargaku? ". tanya Satria dengan datar.
Satria itu ramah dan baik hati tapi kalau masalah keselamatan keluarganya, jangan heran Satria berubah kejam dan tak berperasaan.
"benar tuan". jawab wanita itu begitu serius.
"mengawal siapa? ". tanya Satria
"..? "
"jawab..! ". titah Satria
"apa boleh memilih tuan muda? ". tanya wanita itu
"tergantung kemampuanmu". jawab Satria.
"saya akan buktikan tuan". jawab wanita itu begitu tegas.
Satria tak menyahut hanya berpaling meninggalkan wanita itu, Satria keluar dari kawasan seleksi pengawal Melviano yang mendaftar. Satria pulang ke mansion dengan mobil mewahnya, ia kembali ke kawasan mansionnya dan masuk ke gedung pelatihan Pengawal baru bagi yang sudah dinyatakan lulus setelah berbagai seleksi.
"dimana Nola? ". tanya Satria melihat Alvan tengah melatih otot-otot perutnya, di gedung itu banyak alat-alat fitness.
"ada di lantai 2". jawab Alvan dengan santainya masih sibuk berolahraga keringat bercucuran di belahan dada bidangnya.
Satria langsung berlari kecil masuk lift dan pergi ke satu ruangan khusus IT milik Nola dan Alvan, kedua saudara kembar itu jago IT sedangkan yang di mansion mereka milik sang Mommy (Nova).
"Nola..? ". sapa Satria duduk di sofa
"iya". sahut Nola sibuk mengotak-ngatik komputernya..
"apa ada masalah dengan data diri wanita bernama Maria itu? ". tanya Satria
"Nola ketemu kak..! tapi wajahnya bukan yang ada di profil pengajuan kerja, Nola yakin bukan wajah itu". jawab Nola
"sudah ku duga". gumam Satria tersenyum miring.
"apa ada bukti dia operasi plastik? ". tanya Satria
"tidak...! Nola udah cari nggak ada tapi lihat wajahnya saja berbeda, apa dia mengatakan sesuatu? ". tanya Nola
__ADS_1
walau sikembar Nova dan sikembar Shindy beda bulan tapi melahirkan di hari yang sama namun mereka enggan memanggil abang satu sama lain seolah mereka hanya berteman. bagi mereka bukan panggilan yang bermasalah tapi hati dan kesetiaan.
"dia bilang pernah kecelakaan wajahnya rusak parah jadi harus di operasi". jawab Satria
"Nola yakin..! dia palsu Sat.. tunggu sebentar ya..? Nola sedang progress data penting". pinta Nola dengan serius.
Satria bangkit dan berdiri di belakang Nola yang melihat layar komputer canggihnya. Nola dapat hadiah dari mendiang kakeknya (papanya Candra) berupa komputer tercanggih buatan perusahaannya.
"Clear...! okehh ! terkunci ". gemas Nola menekan tombol enter.
Nola memperlihatkan seluruh data mengenai wanita bernama Maria, "sosok Maria yang sesungguhnya hilang Sat..! dan yang mendaftar di tempat kerjamu bukan Maria".
"baiklah.. ! sekarang bantu aku mencari tau siapa wanita itu". pinta Satria
"Okeh...! beri Nola waktu untuk mencari wanita ini, Nola ingin tau apa hilangnya Maria berkaitan dengan wanita ini, dia pasti bukan orang sembarangan Sat, dia bisa mengelabui orang lain tapi tidak dengan Nola".
"hm..! kamu yang terbaik". Satria menekan gemas kepala Nola
"aku belum keramas Sat..! ". ujar Nola dengan datar.
Nola memang pakai Pasmina tapi di ruangan tertutup itu ia melepas kerudungnya,
Satria berdecak sebal langsung berjalan ke westafel dan mencuci tangannya, "jorok..! "
"biarin..! tuan muda 1 yang buat saya yang jenius ini jadi super sibuk, karna itu juga saya jadi tidak sempat keramas.. ..wlek...! ". dengan beraninya Nola menjulurkan lidahnya.
Satria melakukan pemanasan lalu ikut berolahraga dengan Alvan.
"kapan damar dan wulan selesai kuliah? bukannya mereka lagi libur? ". tanya Satria
"biasa lah..! jiwa mereka itu berpetualang, biarkan saja mereka bermain disana dengan teman-teman nya". jawab Alvan dengan mudahnya.
"oh". jawab Satria mengerti.
"kenapa? ada masalah dengan calon pengawalmu? apa ada yang mencurigakan? ". tanya Alvan.
"hmm.. seekor tikus yang ingin masuk ke kandang hewan buas". kekeh Satria membuat Alvan tertawa sambil menggeleng kepalanya.
kasus saudara Rilly sebelumnya juga pernah masuk ke kediaman Melviano mengaku sebagai Rilly padahal sekali lihat saja orang lain akan tau wanita asing itu bukan Rilly pengawal setia Shindy, alhasil 1 Mansion menyiksa Rilly palsu sampai memilih mundur sendiri.
sepertinya kejadian yang sama akan terulang kembali, bedanya Satria harus konfirmasi tujuan wanita itu. jika hanya demi uang mungkin hukumannya hanya disiksa batin saja, berbeda jika tujuannya untuk dendam, Satria atau yang lainnya tidak akan bisa membiarkannya hidup keluar dari mansion mereka.
.
.
seorang Pemuda tampan keluar dari pesawat pribadi keluarga Melviano, benar sekali.. dia adalah Raka Mahawira, saat ini Raka kembali seorang diri sebab Dylan dan Pasha telah tiba 2 hari sebelumnya.
__ADS_1
Raka melepas kacamata hitam yang bertengger di hidung mancungnya, "sayang..! aku kembali". gumam Raka dengan senyum tipisnya.
Raka keluar dari area bandara, ia mengabaikan tatapan banyak orang padanya. saat ini pikiran Raka hanya ingin bertemu dengan belahan jiwanya yang telah menyiksa dirinya berhari-hari lamanya di negara D.
Raka melihat Jo, Raka kenal Pak Jo adalah Supir keluarga Melviano.
"tuan..? saya menjemput anda untuk diantar ke Vila tepi pantai tempat Tuan besar menunggu". kata pak Jo.
Raka tersenyum tipis dan mengangguk, "cepat ya Pak Jo..! kalau perlu lewat jalan pintas, aku sangat merindukan istriku". pinta Raka
"baik tuan". jawab Pak Jo menahan senyum membukakan pintu untuk Raka yang segera masuk ke mobil Jo.
setibanya di Vila tepi pantai, Raka disambut oleh Pasha, Kaira, Shindy, Dylan, Ella dan Ramzi. Dita yang melihat dari jendela kamar Raya hanya melebarkan matanya tapi tak mengatakan apapun pada Raya yang tengah sibuk merajut pakaiannya.
"sepertinya mereka sengaja memberi kejutan? lebih baik aku diam aja". batin Dita memilih diam.
"kenapa disana Dita? cepat ambilkan aku benang nya". pinta Raya tanpa menoleh ke Dita
Dita terlonjak kaget, ia buru-buru menutup tirai kamar Raya lalu pergi mengambilkan benang untuk sang majikan.
diluar.
"selamat atas keberhasilanmu Raka, Papi bangga padamu". ucap Dylan
"terimakasih Papi, ini semua berkat Papi dan Grandfa". jawab Raka sambil tersenyum.
"ini perjuanganmu". sambung Pasha
"hebat sekali..! ". decak kagum Ella membuat Ramzi segera merangkul Ella membawanya masuk ke Vila sebelah.
Kaira dan Shindy hanya saling pandang sambil menggeleng kepalanya melihat Ramzi membawa kabur Ella yang memekik meminta di turunkan.
"masuklah..! Raya tidak pernah betah di dalam rumah atau di dalam kamar tapi semenjak menikah denganmu dia suka di dalam kamar, Raya bilang kamu harus selamat untuk bisa membawanya jalan-jalan keluar". Shindy menangkup rahang Raka.
"terimakasih Mi..! Raka benar-benar tercekik terlalu merindukannya permata mami yang satu itu". cengir Raka menggaruk kepalanya yang tak gatal.
Kaira dan Shindy tertawa.
"ck.. tercekik? ". beo Pasha dan Dylan meledek.
Raka mendengus saja, ia segera masuk setelah menyalami keluarga barunya itu. Dylan dan Pasha sudah persis sebagai teman Raka yang jahat tak punya hati melatih Raka juga sering membuli Raka, tapi Raka malah suka, menurutnya sikap seperti itu tidak munafik.
.
.
.
__ADS_1