
.
.
Nia menunggu Arya yang sedang berada di dapur.
"Tuan Arya buat apa ya? ". gumam Nia penasaran
Nia telah menghabiskan buburnya lalu meneguk air minum sampai benar-benar habis.
"minum obat? obatnya mana? ". gumam Nia melihat-lihat sekeliling.
Arya kembali membawa botol tempat penyimpanan air panas untuk menghangatkan perut Nia juga membawa 1 gelas minuman berwarna hijau kekuningan.
"ini minumlah! ". titah Arya
"a.. apa ini Tuan? ". tanya Nia tergagap melihat warna minuman itu yang terlihat sangat kental dan aneh.
"ini obat yang paling mujarab untuk wanita yang mau mengurangi rasa sakit perut karna datang bulan juga melancarkannya". jelas Arya
"kenapa Tuan bisa tau banyak hal? apa kekasih Tuan pernah mengalaminya? ". tanya Nia keceplosan
Arya beralih ke Nia, "sejak kapan aku punya kekasih?".
"perlakuan Tuan sangat profesional seperti playboy". cicit Nia
Arya menggeleng kepalanya pelan, "tidak ada dan tidak pernah, kau perempuan pertama yang aku perhatikan seperti ini kelinciku".
Nia kaget mendengar dirinya yang pertama, "kok bisa profesional gitu? ".
Arya terkekeh, "keluargaku dominan perempuan tentu aku tau banyak hal dari mereka, Wulan kalau lagi haid juga bisa guling-guling dilantai dan membuat geger 1 mansion Aunty Nova dan Uncle Candra".
"Wulan? dia juga sakit kalau lagi datang bulan? ". tanya Nia tak percaya
"hmm.. Grandma ku yang mengajarkan obat-obat herbal ini, itu sebabnya Wulan jadi gadis normal kalau lagi datang bulan". jawab Arya
"tapi tuan saya pernah dengar Wulan tinggal di AS". Nia
"hmm.. dia tau jadwal nya saat mau datang bulan jadi jauh-jauh hari kami akan kirim paketan obat herbal ini". Arya
"sudah.. aku tidak tega melihat wajah kelinciku ini memucat seperti ini, cepat minum! ". Arya memberikan segelas obat herbal khas buatannya.
Nia meminumnya namun terhenyak merasakan betapa pahitnya obat itu, Arya menatap datar Nia dengan cepat Nia meneguknya sampai habis walau tidak kuat tapi tatapan Arya membuat Nia takut.
Arya memberikan tempat penyimpanan air dengan gambar kartun yang lucu ke perut Nia.
Nia tersentak sesaat namun perutnya terasa lebih baik saat ini.
Arya mengelus kepala Nia, "bagaimana? ".
"terimakasih Tuan". jawab Nia dengan malu
"kenapa wajahmu memerah? ". tanya Arya dengan gemas.
"saya tidak pernah memberi tau siapapun tentang penyakit saya jika sedang sakit". jawab Nia dengan jujur.
__ADS_1
"kenapa kelinciku ini formal sekali hmm? kau kira kita sedang bekerja? ". kekeh Arya mencubit pipi Nia
Nia hanya bisa tersenyum tidak berani menjawab dan tidak tau juga mau jawab apa.
"biasa saja, aku tidak akan tergoda hanya mendengar perempuan datang bulan, itu sudah biasa bagi kami, kalian para perempuan sangat istimewa bisa mengalami seperti itu setiap bulan bahkan bisa memberi keturunan pada suami kalian nanti, jadi jangan malu ya? itu bukan penyakit tapi anugerah". Kata Arya menekan-nekan pelan kepala Nia
Nia tersenyum lebar hingga gigi kelincinya terlihat jelas,
"ada apa dengan tatapanmu? ". tanya Arya dengan gemas
"Tuan sangat hebat! anda sangat menghargai wanita". jawab Nia dengan jujur dengan pandangan berbinar penuh bintang.
Arya terkekeh, "bukankah kamu tau bagaimana keluargaku memperlakukan perempuan? sejak zaman Grandfa ku sulit baginya mencari wanita yang bisa memberi nya keturunan, Grandfa akhirnya bisa bertemu Grandma ku bahkan sudah membawa 2 anak kembar yang mirip dengannya, sejak saat itu kami diajarkan harus sangat menghargai wanita".
Nia tersenyum manis, "Grandma sangat beruntung memiliki Grandfa".
"kalau Grandfa ku dengar dia akan mengomelimu". kekeh Arya
"hah? ". Cengo Nia tidak mengerti
"Grandfa ku akan meralatnya dan bilang Dialah yang paling beruntung memiliki Grandma". jelas Arya dengan senyuman kembali memegang perut Nia.
"benar sudah baikan? ". tanya Arya sekali lagi
Nia mengangguk-ngangguk sambil tersenyum lebar," memang masih sakit Tuan tapi tidak sesakit tadi".
"hmm.. Obat itu hanya mengurangi rasa sakitnya 80% sisanya kamu tahan sendiri keistimewaanmu itu". kata Arya
Nia mengangguk lagi dengan patuh.
Nia tidak pernah merasakan perasaan ini, dimana ia dirawat oleh seseorang bahkan mama nya sendiri pun tidak tau penyakit Nia jika sudah datang tamu bulanan tapi Arya yang baru kenal sudah tau penyakit nya.
.
.
Nia memeluk boneka kelincinya sambil memegangi perutnya yang sudah lebih baikan walau masih sakit tapi tidak separah pertama kalinya.
keesokan harinya.
Nia melihat ponselnya dan banyak pesan masuk dari nomor asing, Nia tau nomor itu milik Kakaknya.
Nia terperanjat kaget membaca pesan-pesan Tia, Nia terlalu bahagia berada di lingkungan keluarga Arya hingga tidak sempat melihat berita yang sedang viral di medsos.
"hah? benarkah? ". Nia menutup bibirnya seketika melihat foto-foto Tia bersama Brayen benar-benar jelas tanpa di blur sama sekali tapi membuka foto itu memakai akun yang khusus 18+ keatas.
Arya sudah memikirkan semua hal, ia juga tidak mau mengotori mata suci pemilik akun yang masih dibawah umur.
Nia tidak mengalaminya tapi tangannya gemetar membaca seluruh pesan Tia yang menuduhnya menghasut Arya untuk menyebarkan foto-foto itu.
Nia bangkit dari duduknya tanpa memakai alas sandal ia berlari keluar kamarnya.
"Tuan? ". Nia berlari kecil ke kamar tamu.
Nia mendengar suara dari dapur, Nia berlari kearah dapur dan melihat Arya sudah mempersiapkannya sarapan dan obat herbal yang sama.
"ayo minum dan sarapan! perutmu tidak boleh kosong kalau tidak perutmu akan tambah sakit walau sudah minum obat sekalipun". Arya
__ADS_1
Nia tidak berani berbicara, alhasil ia mematuhi perintah Arya.
"kau tidak memakai sandal cha? ". tanya Arya tidak sengaja melihat kaki mulus Nia tidak memakai apapun.
"hah? s.. saya? ". Nia tergagap
Arya melepaskan sandalnya dan meletakkannya di kaki Nia.
"pakai..! ". titah Arya
"lalu Tuan? ". tanya Nia
"aku tidak datang bulan jadi tidak memakai sandal juga tidak masalah". jawab Arya membuat Nia makin malu lalu memakai sendalnya
"sebenarnya apa hubungan sendal dengan datang bulanku? ". batin Nia tidak mengerti
"sudah.. jangan pikirkan lagi, kakimu tidak boleh dingin itu saja jawabannya". jelas Arya seolah tau isi pikiran Nia.
Nia menganga mendengarnya, ia tidak mengerti mengapa Arya tau isi pikirannya.
"T.. tuan? ". cicit Nia
"hmm? mau tanya apa? ". tanya Arya bersidakap dada seolah sudah siap menjawab pertanyaan Nia
"hm.. i.. itu hmm.. ". Nia tidak tau mau berbicara apa
Arya menggeleng kepalanya, "masalah kakakmu? " tebak Arya
Nia terhenyak lalu mengangguk patah-patah
"aku tidak suka kamu membelanya, aku sudah cukup sabar dengan apa yang dia lakukan padamu, ada satu hal yang harus kamu ketahui, aku ini bagian dari Mafia the Xylver, tanganku mudah membunuh orang kamu mengerti maksudku kan? ".
Nia tergagap seketika, "i.. iya maaf tuan". cicit Nia
Nia hampir lupa betapa berkuasanya Keluarga Melviano baik di dunia bisnis maupun di dunia hitam alias dunia Mafia.
"tenang saja dia tidak akan mati ditanganku, jadi jangan membelanya kalau kamu mau dia selamat". kata Arya dengan santai
Glek...!
Nia tak berani lagi berbicara bahkan ia kini menahan nafas.
"bernafaslah". kata Arya
Nia pun bernafas hingga bibir Arya berkedut menahan tawanya melihat kebelakang demi menyembunyikan dirinya sedang gemas terhadap kelakuan Nia.
.
.
.
Mafia Guys.. hahaha...
.
.
__ADS_1