Kekasih Impian MR. Mafia

Kekasih Impian MR. Mafia
menculik nya!


__ADS_3

.


.


berhari-hari di Kota Y, Raka merasa frustasi sendiri akan sikap Raya yang benar-benar mendiaminya, Raya seperti itu seolah belum bisa menghilangkan rasa kesalnya itu.


hari ini adalah tepat 12 hari Raka dan Raya tinggal di kota Y, belum ada perkembangan hubungan Raya dan Raka hanya ada Raya yang entah mengapa belum bisa memaafkan Raka walaupun tau Raka tidak bersalah.


malam hari Raka perlahan masuk ke kamar Raya, Raya yang tertidur pulas benar-benar tidur dengan nyenyak karna kelelahan tidak terusik sedikitpun.


"kamu cantik sekali sayang". batin Raka melihat Raya tidur dengan rambut indahnya tergerai bebas.


Raka mencari Pashmina dari dalam koper Raya, ia mengambil jaket Raya lalu menggendong kekasih impiannya itu keluar dari kamar nya.


Raka membawa Raya masuk ke mobilnya, "maaf sayang...! aku harus menculikmu seperti ini, aku benar-benar tidak tahan akan sikapmu mendiamiku". bisik Raka dengan lembut mengelus pipi Raya.


Raka kembali mengambil selimut lalu setelah merasa cukup membawa semua perlengkapannya, Raka melajukan kendaraannya dengan kecepatan sedang.


.


.


pagi-pagi


Raya menggeliat,


"kok keras? ". batin Raya malas meraba-raba belakang kepalanya.


"apa aku masih mimpi? ". batin Raya mengerutkan keningnya.


Raya perlahan membuka matanya dan matanya melebar seketika melihat sekeliling, "sial..! dimana aku?? ". gumam Raya


Raya meraba kepalanya, "astagah...! bagaimana aku bisa tidak sadar di culik? ini semua gara-gara manager bodoh itu..! aku jadi kelelahan mengerjakan semuanya dan sekarang aku malah diculik...! "


"kita lihat bedeb*h mana yang berani menculik seorang Nona Muda Melviano". Raya dengan geramnya berkata sambil menggulung rambutnya dengan asal.


"tapi tunggu...! ". Raya memperhatikan mobil nya itu kini.


"ini mobil Raka? ". Raya terus saja mengoceh sendiri sampai ia benar-benar bisa menebak orang yang menculiknya adalah Raka.


"dasar mafia tulen...! kau berani menculikku! ". Raya mengepalkan tangannya lalu keluar dari mobilnya hendak mengamuk.


"Rak...? " marah Raya tergantung seketika melihat pemandangan indah di depannya.


Raya membeku, rasa marahnya tertelan dengan rasa takjubnya melihat tempat seindah itu. tebing tinggi dengan pemandangan laut biru di depannya benar-benar sangat indah.

__ADS_1


"i.. ini..? tempat apa? ". gumam Raya dengan mata berbinar seperti anak kecil.


katakan saja Raya manja, walau dia gadis dingin dan datar, tak banyak bicara, Raya begitu di manja oleh keluarganya terutama Dylan sang Papi yang sering membawa putri kesayangannya hilir mudik ke luar negri yang pasti membawa istri kesayangan Dylan juga.


tapi jujur Dylan tidak pernah membawa Raya ke luar kota bahkan bawa istrinya saja jarang, itu sebabnya Raya tidak tau ada tempat indah di negara kelahirannya itu.


Raya merentangkan tangannya di tepi tebing menghirup semilir angin lautan yang sangat menyejukkan hatinya, suara burung-burung, dan suara deburan ombak menentramkan jiwa Raya. Raya suka ketenangan dengan mendengar suara alam hatinya akan merasa tenang mendengar suara alami itu.


sanggulan Raya terlepas hingga rambutnya tergerai bebas, Raya melompat-lompat senang di tepi tebing seperti anak kecil yang baru saja dapat maninan baru.


"kau tidak marah lagi? ". suara Raka terdengar sayu.


dan juga suara itu membuat Raya menoleh.


Raka mendekat, Raya mengerjabkan matanya melihat rambutnya berkibar karna angin.


"dia melihat rambutku lagi". batin Raya tak lagi bisa berkata-kata.


"kau masih marah? ". tanya Raka memegang tangan Raya dan menatapnya lembut.


Raya melepaskan sebelah tangannya dari Raka sebab berusaha membenarkan rambutnya yang membelakangi angin jadi berkibar ke depan menutupi wajahnya hingga tak bisa melihat wajah Raka.


"aku beli ikat rambut! ". Raka mengeluarkan ikat rambut yang ia beli di jalanan tadi.


karna tidak ada uang kecil Raka membelinya dengan nominal uang besar tanpa minta kembalian.


Raka juga membuka jaketnya dan memasangnya ke tubuh Raya, karna Raya memakai baju tidur pasti kedinginan terkena angin laut.


1 jam.. 2 jam.. pun berlalu akhirnya Raka bisa mendapatkan maaf dari Raya. Raya sendiri juga tidak mengerti mengapa Raya bisa semarah itu dengan Raka hingga betah mendiami Raka berhari-hari lamanya.


"bagaimana tempat ini? ". tanya Raka melihat Raya duduk disampingnya.


"indah..! terimakasih telah membawaku kesini". ucap Raya dengan tulus


Raka mengelus kepala Raya, "sangat halus..! bahkan di terpa angin pun tidak membuat rambutnya kasar". batin Raka


Raya menoleh ke Raka yang tengah mengelus kepalanya, hatinya yang dingin sedikit suka dengan perlakuan kecil itu.


"aku datang ke kota ini karnamu..! jadi aku mohon jangan abaikan aku". pinta Raka dengan senyuman tipisnya.


Raya mengerjabkan matanya, ia lupa alasan Raka mengikutinya kesini memang karna dirinya.


"iya lah..! bukankah bayarannya aku harus ikut kau ke negara M untuk menghadiri pesta dansa itu kan? ". decak Raya karna tau hal ini bukan gratis.


Raka terkekeh, "sepertinya kau tidak malu lagi karna aku melihat rambutmu".

__ADS_1


Raya melihat ke depan, "awalnya aku memang kaget dan malu karna kau satu-satunya pria asing yang melihat ku tanpa memakai penutup kepala, tapi aku cukup senang karna kaulah orangnya"


"kenapa? ". tanya Raka dengan jantung berdebar.


"karna kau tidak tertarik dengan wanita". jawab Raya dengan entengnya.


Raka malah kecewa jawaban Raya, "kenapa kau bisa berpikir aku ini tidak normal? ".


"kau tidak pernah terlibat dengan wanita manapun, skandal pun tidak ada, bahkan Robert saja ada bersama wanita masuk ke hotel sedangkan dirimu..? aku benar-benar tidak melihatnya walau hanya sekali". jelas Raya sambil tersenyum meledek ke arah Raka.


Raka menarik nafas dalam-dalam, "karna aku mencintai satu gadis". gumam Raka pelan tapi bisa di dengar oleh Raya dengan jelas sangat jelas.


"oh ya? ". Raya menoleh dengan tatapan menuntut jawaban seperti ingin tau sosok gadis pelebur hati pria disampingnya ini.


"dia menolongku saat aku kecil dan memberikan sebuah gelang padaku lalu berkata aku harus bangkit dan tidak jadi gelandangan lagi". curhat Raka menatap ombak lautan di depannya.


"gelang? ". beo Raya seperti sedang berpikir.


Raka menoleh ke Raya sambil tersenyum tipis dirinya mengangguk membenarkan.


"ck...! kau menyukai seorang gadis hanya karna dia memberimu gelang? kau tidak tersinggung gadis itu pasti kasihan padamu". ledek Raya


Raka memutar bola matanya dengan malas, "entah aku yang tidak jelas memberi kode atau dia yang bodoh tidak bisa mengerti". desis Raka dengan gigi merapat


"kau meracau apa? ". tanya Raya tidak jelas mendengar suara Raka


"tidak ada". senyum Raka melebar mencubit pipi Raya.


"kau mau lihat sesuatu? ". tanya Raka mendekat ke wajah Raya hingga jarak mereka hanya beberapa cm saja.


"a.. apa? ". tanya Raya


Raka menyibakkan rambut Raya yang menutupi bibir Raya, Raya merasa heran mengapa tubuhnya tak bisa melawan akan perlakuan Raka.


"sana! ". Raka menunjuk


Raya menautkan kedua alisnya lalu melihat juga arah tunjuk Raka.


"ha? " Raya bangkit seketika dan menatap takjub ke arah sana.


Raka ikut berdiri melihat Raya dari belakang ingin sekali Raka mendekap Raya dari belakang Raya, sayangnya Raka tidak bisa melakukannya sebab Raya bisa marah.


"lumba-lumbanya banyak sekali". gumam Raya dengan nada tak percaya.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2