
.
.
tak butuh waktu lama, Dita, Satria dan Arya benar-benar telah datang ke mansion Raka, kabar Satria dan Arya tiba sampai ketelinga Raka membuat Raka bangkit dari duduknya.
"apa ada masalah? ". gumam Raka penasaran.
Raka mengira ada masalah sebab jika mengantarkan Dita saja tidak mungkin, Dita bisa pergi sendiri kan ke mansion Raka tanpa harus di antar oleh kedua tuan muda Melviano itu.
Raka bergegas keluar dari Ruangannya di ikuti oleh ke empat orang setianya itu. saat Raka keluar pemandangan aneh yang dilihat Raka, kedua adik iparnya itu tengah menerima Dessert cantik dari para Koki dan Bi Asih.
"kalian tidak mau bersantai dulu? ". tanya Raka dengan senyuman tipisnya.
"oh.. tidak perlu abang ipar, kami benar-benar sibuk". tolak Satria
"iya bang..! lain kali aja, jika tidak di perintahkan oleh adik ipar kesayangan abang itu mengambil ini, kami bisa terkena akibatnya". sambung Arya
Raka tertawa mendengarnya, hingga Jekky merinding di samping Boy. ia tak pernah melihat Raka tertawa layaknya manusia normal seperti saat ini.
"bagaimana pengawal pribadi Alya? apa bisa di percaya? ". tanya Raya serius.
"saat ini belum ada yang Satria percaya kak..! tapi kakak tenang aja, Satria bakal latih yang terbaik lagi dan memberinya tugas melindungi Alya." Satria berkata
"Alya dibawah perlindungan kami kak". sahut Arya
"apa Alya ada di cegat oleh seseorang? ". tanya Raka mendekat ke Satria dan Arya.
"tidak di cegat bang..! hmm.. hanya saja banyak yang memperhatikannya, abang tau sendiri kan dia cantik". Arya yang menjawab.
"tidak ada masalah serius bang..! kami hanya tidak bisa mempercayai seseorang menjadi pengawal pribadi adik kami". sambung Satria
"lalu Dita? ". Raka melirik Dita
"Dita putri tunggal orang setia Papi bang..! tidak ada yang dicurigai darinya, Ayah dan Ibunya orang kepercayaan Papi". Satria menjawab sambil melirik Dita.
Dita menekuk lututnya sebagai rasa hormatnya karna di percaya, dia berjanji pada dirinya sendiri tidak akan berkhianat, Dita sangat tau arti Dylan bagi orangtuanya, Dylan penyelamat mereka hingga saat ini. Dita tidak bodoh dengan berpaling dari Dylan, majikannya terlalu baik hingga tidak ada alasan baginya untuk berkhianat.
semua orang beralih ke arah Jon yang tengah berdecak melihat Dita, Dita melototkan matanya ke arah Jon.
"abaikan saja kucing dan tikus itu Sat, Arya". kekeh Raya.
Satria dan Arya pun tersenyum dan mengangguk mengerti bahwa Dita dan Jon bermusuhan tidak berbeda jauh dengan Raya dan Raka dahulu. Raka dan Raya jarang akur suka bertengkar dimanapun berada tapi semenjak menikah pasangan itu tidak lagi bertengkar.
__ADS_1
"Nona". kedua manusia berbeda jenis kelamin itu merengek pada Raya tidak suka di sebut kucing dan tikus.
"memang iya kan? ". ledek Raka juga ikut-ikutan.
Jon menggeleng-geleng kepalanya tak terima.
"kau tikusnya". tunjuk Jon.
"enggak..! kau tikusnya aku kucingnya". bela Dita.
"enak aja.. kau tikusnya aku lebih besar darimu". balas Jon.
"nggak.. kau tidak cocok jadi kucing karna aku yang cocok, aku lebih imut dibanding kau yang galak lebih cocok jadi tikusnya". jawab Dita dengan santainya.
Rio, Boy dan Jekky pun melongo bodoh melihat Jon bisa bertengkar juga dengan pengawal setia Raya yang sejak tadi masuk ke Mansion tidak ada bermasalah.
Raka membawa Satria dan Arya duduk di sofa sebab kedua pria tampan itu berdiri enggan duduk karna mengira akan sebentar di mansion Raka.
"hmm.. begini bang". Satria memulai pembicaraan.
"iya.. katakan saja Satria..! abang akan jawab pertanyaanmu jika abang tau sesuatu". Raka menyahut sambil menggenggam tangan Raya yang kini duduk disampingnya.
"ada seorang wanita yang mendaftar jadi pengawal namanya Maria, tapi kenapa kewarganegaraan wanita itu Negara M? kami tidak mengerti kenapa pengawal dari Negara asing bisa berbahasa Indonesia dan mendaftar jadi pengawal kami". Arya yang berbicara karna sudah sepakat dengan Satria akan memberi tau Raka.
Jon mengabaikan Dita yang mengomel-ngomel padanya, Jon melangkahkan kaki ke arah Raka dan kedua adik iparnya.
Satria dan Arya tau Raka sering ke Negara M jadi tidak ada salahnya bertanya langsung dengan abang iparnya, toh Raka tak mungkin tidak menjawab pertanyaannya karna sudah dianggap keluarga oleh mereka.
"Maria? ". Raya merasa ada yang aneh dengan tingkah suaminya.
"jangan terima wanita itu Sat.. Arya.. beritau abang dimana dia tinggal..! abang akan menangkapnya dan membunuhnya". ujar Raka serius.
Satria dan Arya saling pandang, "apa dia musuh abang? ". tanya mereka serentak.
"Jon..? ". panggil Raka
"baik tuan. ". jawab Jon yang mengerti.
Jon menceritakan sosok Maria yang menyamar jadi pengawal Melviano bukan Maria yang sesungguhnya,
"aku tau bang". jawab Satria dan Arya serentak.
"kami mencurigai satu nama yaitu Morett..! dia hilang kontak setelah bertemu dengan wanita itu". jawab Satria
__ADS_1
Raya akhirnya mengerti, "oh... dia sudah datang rupanya? mau gunakan trik murahan itu ya? dasar bodoh..! ". batin Raya tersenyum miring.
"benar Tuan, wanita itu pernah mempermalukan Nona Muda di acara pesta". jawab Jon
"mempermalukan? ". Satria dan Arya kompak melihat ke Raya yang tidak pernah cerita apapun.
Satria, Arya saling bertukar informasi dengan Jon dan Raka, mereka semua akhirnya mengerti satu hal bahwa Morett ada dibalik masalah menimpa Maria.
.
.
.
kini Raya tengah melamun menatap ke arah Balkon kamarnya, rambut panjangnya beterbangan.
"sayang? angin malam tidak baik untukmu". Raka menyelimuti tubuh Raya sambil memeluknya dari belakang.
Raya menoleh ke arah Raka yang mengecup sayang pelipisnya, "terimakasih".
"sama-sama sayang, lain kali tidak ada kata terimakasih diantara kita". bisik Raka dengan mesra.
Raya tersenyum kembali melihat ke arah depan,
"jangan pikirkan wanita itu sayang..! aku dan Satria yang akan mengatasinya". ujar Raka dengan lembut.
"sebenarnya aku ingin melawannya sendiri tapi abang tidak mengizinkanku untuk melawannya". gumam Raya tak bersemangat.
"sayang..! aku dibuang karna dikatakan pembawa sial, apa kamu percaya itu? ". tanya Raka membalik tubuh Raya menghadap padanya.
"tidak ada anak pembawa sial Abang". ucap Raya
"tapi kata-kata itu sudah melekat di kepalaku sayang..! aku hanya memiliki Ayah tapi dia meninggal di depan mataku, aku dekat dengan Pamanku tapi dia jatuh sakit dan meninggalkanku, keluarga mereka semua membuangku karna pembawa sial! aku hanya penyebab meninggalnya orang yang aku cintai. aku tidak mau kamu... kam..ka... ". Raka tidak sanggup melanjutkan kata-katanya.
Raya menghela nafas panjang, ia memiliki bayi besar artinya Raya harus banyak mengalah, Raya harus mengerti trauma Raka yang belum hilang dari pikiran pria itu.
"hidup dan mati manusia ada di tangan yang maha kuasa, bukan ditangan manusia". kata Raya dengan serius mengusap rahang kokoh Raka.
Raka tidak membalas keluarga Pamannya karna merasa tidak ada yang salah dengan keluarga itu, sebelum paman nya sakit dan meninggal keluarga itu menerimanya dengan baik tapi saat meninggal barulah mereka mengusir Raka, Raka tidak dendam karna merasa dirinya memang pembawa sial.
.
.
__ADS_1
.