Kekasih Impian MR. Mafia

Kekasih Impian MR. Mafia
perjalanan


__ADS_3

.


.


Raka telah tiba di mansion Melviano dan tentu dirinya bersikap sopan pada calon mertuanya.


"ada apa tante? ". tanya Raka penasaran Shindy terus saja tertawa.


"oh.. tidak ada Raka..! putri mami sangat lucu, sangat-sangat lucu." jawab Shindy tapi Raka malah tidak faham siapa yang Shindy maksud sebab putri Shindy ada 2 Raya juga Alya.


"siapa tante? ". tanya Raka penasaran


"sebentar lagi kamu harus memanggil mami sama tante..! kalau Raya telah menerimamu beritau tante sayang..! tante akan nikahkan kalian dengan cara jitu". kekeh Shindy


Raka mengerutkan keningnya tapi bibirnya tertarik keatas.


"Raka tebak tante akan menikahkan kami dengan cara di grebek? ". tebak Raka membuat Shindy tertawa cekikikan.


"apa Raya suka cara itu tante? ". Raka malah ragu Raya suka cara pernikahan seperti itu.


"hei.. bagaimana cara kalian menikah itu harus sah dimata agama tidak perlu di depan banyak orang, tante hanya tidak mau kamu terpikat akan kecantikan Raya hingga melakukan dosa besar nantinya..! tante tidak mau punya cucu diluar nikah".


Raka menggaruk kepalanya yang tak gatal, "tante setuju Raka sama Raya? ".


"tentu saja..! kamu harus ungkapkan perasaanmu dengan cepat pada Raya, sepertinya dia sudah menaruh hati padamu". saran Shindy


Raka berkaca-kaca mendengarnya, ia tak menyangka keluarga Raya akan menerimanya padahal dirinya jauh dari kata baik, dari segi pekerjaan dan lainnya walau punya banyak uang tapi bisa saja Shindy memiliki tipe menantu idaman untuk sang putri kesayangan supaya hidupnya bahagia.


"kenapa menangis sih? ". tanya Shindy menangkup rahang kokoh Raka.


Raka tersenyum dan menggeleng kepalanya, "Raka kan hanya anak yatim piatu! bahkan tante terima keadaan Raka jika saja tante memilih menantu kaya raya dan latar belakang keluarga yang bagus pasti bisa membesarkan nama keluarga Melviano".


Shindy tersenyum lembut, "tante tidak butuh latar belakang keluarga yang hebat..! lagian nama keluarga Melviano sudah terkenal tidak butuh sokongan keluarga lain."


Raka tertawa kecil tapi matanya masih memerah,


"tante heran kamu ini benar bos mafia atau tidak? kenapa cengeng sekali hmm? apa kamu pernah lihat keluarga Melviano sengaja mencari ketenaran?". kekeh Shindy gemas akan tingkah Raka seperti bocah kecil yang butuh perhatian.


"bagaimanapun Raka masih manusia tante..! Raka haus akan kasih sayang keluarga". jawab Raka membuat Shindy tertawa


"ada apa sih? ". tanya Raya tiba-tiba membuat Raka segera menghapus air matanya.


Raya mendekat membawa tasnya sedangkan Dita membawa koper Nona nya begitu juga dengan kopernya.

__ADS_1


"tidak apa sayang..!" jawab Shindy


"benar mi? ". tanya Raya memperhatikan mata Raka yang merah seperti habis menangis.


Shindy mengangguk sedangkan Raka tersenyum tipis, selama di perjalanan tidak ada pembicaraan diantara keduanya. bahkan Dita dan Jon pun saling melirik satu sama lain didepan Raka dan Raya.


Jon akan memarkirkan mobilnya di tempat khusus diarea bandara supaya saat kembali dari negara M tidak kerepotan lagi.


Jon dan Dita tentu mengikuti majikannya, walau mereka tidak banyak bicara tapi sebagai pengawal mereka kompak menyelamatkan tuan mereka walau caranya berbeda.


di dalam pesawat Raya melihat ke arah Raka, "ada apa sih Raka? kenapa kau menangis? ". tanya Raya penasaran sudah menyimpan pertanyaan itu sejak dalam perjalanan kemari.


"mamimu sangat lembut! aku kangen ibuku, bagaimana dia? apa dia mengingatku? atau dia memang tidak ada! aku tidak tau dimana dia. kau tau sendiri kan? aku haus akan kasih sayang keluarga, sebelumnya aku tidak tau apa artinya sebuah keluarga tapi setelah bersama keluargamu aku tau sedikit arti keluarga".


Raya mengerjabkan matanya, ia tidak tau harus berkata apa, sebab Raya tau Raka memang besar sendiri tidak ada keluarga saat masa pertumbuhannya itu sementara Raya berbeda.


"maaf..! aku terlalu penasaran, sekarang malah membuatmu sedih". ucap Raya


"tidak apa..! aku merasa sedikit lebih baik bercerita padamu". Raka mengusap kepala Raya


Raya tersenyum hingga Raka mencubit pipi Raya dan Raya menepisnya pelan.


"tidak ada kerjaan selain mencubit pipiku? ". tanya Raya tersenyum tapi menahan rasa kesal


Raya terdiam lalu menatap lurus kedepan,


"dasar aneh..! kenapa aku merinding lagi? ". batin Raya dengan kesal dan tak habis fikir.


.


malam hari Raya tertidur pulas di samping Raka dengan kepala bergeser kesana-kesini.


Raka perlahan membawa Raya bersandar di bahunya, Raya langsung cari tempat nyaman di bahu Raka hingga pria tampan itu tersenyum secara hati-hati mengecup kening Raya.


Raka yang jarang tertidur di malam hari, kini malah langsung tertidur pulas mencium aroma tubuh Raya begitu menenangkannya. seolah Raya adalah obat tidurnya Raka.


mereka tertidur sampai pagi dan pramugari serta pramugara mulai membagikan sarapan untuk penumpang kelas 1 tapi beberapa penumpang lainnya malah gemas melihat Raya dan Raka yang tertidur pulas tak terusik sama sekali.


Dita dan Jon pun tidak berani membangunkan pasangan itu, lalu Jon berdiri mengambil sarapan untuk Raka dan Raya lalu Jon mengucapkan terimakasih.


suara peringatan Pramugari pun mulai mengusik tidur pasangan itu, pesawat akan mendarat karna sebentar lagi akan tiba di negara tujuan para penumpang.


Raya mengucek matanya dan Raka pun sama, mata mereka mengedar sama-sama linglung.

__ADS_1


"udah sampai? ". tanya Raya dengan suara serak.


"sebentar lagi Nona..! pakai pengamannya". bisik Dita.


Raya pun mengangguk dan memasang pengaman masih sempat menguap lebar tapi Raya tutupi.


"apa aku tertidur pulas? ". batin Raka melirik jam tangannya dengan seksama.


Raka tidak pernah tidur sepulas itu, ia melirik Raya akhirnya mengerti mengapa dirinya bisa tertidur begitu nyenyak. Raka melihat ke arah Jon yang mengangguk sambil tersenyum tipis.


"aku jadi ingin cepat menikah dengannya supaya tidurku bisa nyenyak memeluknya setiap malam". batin Raka meregangkan persendian tubuhnya yang terasa segar. sudah lama sekali Raka tidak tidur selelap itu.


mereka tiba di negara M, Raya berjalan sempoyongan seolah masih belum sadar sepenuhnya. Raya habis bangun tidur harus mandi jika tidak tubuhnya akan lemas tak bertulang.


"aku gendong? ". tanya Raka


Raya menguap lebar dan mengangguk sambil merentangkan tangannya dengan mata terpejam, bodolah perasaannya itu yang penting saat ini Raya memang tidak mampu berjalan bahkan Dita tidak bisa membantunya berjalan karna membawa koper-kopernya, Dita hanya bisa mengomel mengikuti majikannya.


Raka menggendong Raya di punggungnya, baru beberapa menit saja Raya sudah tumbang kepalanya di bahu Raka dan tangannya yang melilit leher Raka mulai melonggar hingga Raka tertawa kecil.


"dia tertidur? ". batin Raka dengan gemas.


tibalah mereka di hotel penginapan


Dita dan Raya satu kamar dan Raka serta Jon berbeda kamar, tapi kamar mereka bertiga tetanggaan tidak jauh.


"apa Raya memang seperti ini? ". tanya Raka menatap lekat Raya yang kembali mencari posisi nyaman di ranjang empuk penginapan mereka kini.


"tidak tuan..! Nona biasanya tidak seperti ini, tapi akhir-akhir ini Nona memang jarang tidur di malam hari karna katanya tidak bisa tidur". jawab Dita


"kenapa? apa dia sakit? punya insomnia?". cecar Raka


"s.. saya tidak tau tuan..! setiap saya minta periksa kerumah sakit Nona tidak mau katanya masalah pikirannya saja". jawab Dita tergagap sambil menundukkan kepalanya.


"mari kita keluar tuan..! ". Jon menengahi


Raka akhirnya keluar dari kamar Raya, memberi waktu untuk Raya istirahat lebih puas menjelang malam nanti mereka akan menghadiri acara pesta topeng.


Dita akhirnya bisa bernafas setelah merasa tercekik beberapa menit yang lalu.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2