Kekasih Impian MR. Mafia

Kekasih Impian MR. Mafia
Merinding


__ADS_3

ting (Bel pintu Apartemen).


Satria dan Alya menoleh ke arah pintu.


"siapa bang? ". tanya Alya


"apa Arya? ". tebak Satria


"biar Alice yang buka! ". pekik Putri Alice dengan ceria.


"jangaaaaan...! ". teriak Satria dan Alya tiba-tiba tapi Alice sudah menghilang dari sisi mereka.


Alice menekuk sebelah kakinya memberi hormat pada tamunya.


"Ya Tuhan..! ini siapa Pi? bukannya ini Apartemen Satria ya? ". Shindy kaget yang membuka pintu seorang gadis cantik bermata hijau.


"iya.. Papi ngga salah kok mi.. disini memang Apartemen anak kita". Dylan pun celingukan bingung sebab ini pertama kalinya bagi sepasang suami istri itu mendatangi Apartemen anaknya.


"terus kenapa malah gadis yang buka Pi? coba di Apartemen sampingnya". Shindy hendak membawa Dylan ke pintu Apartemen lain tapi suara Satria terdengar oleh mereka.


"Mami.. Papi? ". Satria kaget melihat kedua orangtuanya ada di apartemennya.


"Satria? ". Shindy kembali ke pintu Apartemen tadi dan melihat Satria berdiri di dalam apartemen sementara Alice membuka pintunya lebih lebar.


Alya menepuk jidatnya seketika, Sebab Alice begitu tidak sabar hingga membukakan pintu dan mereka ketahuan tidak bisa bersembunyi lagi.


"ada apa ini? kenapa bisa ada anak gadis orang? ". tanya Dylan menatap Alice yang tersenyum sambil menunduk bak di kerajaan saja.


"anak gadis siapa kamu colong sayang? ". tanya Shindy menerobos masuk dan menjewer telinga Satria.


Alice melebarkan matanya seketika melihat pangeran nya di sakiti oleh Shindy.


"ampun Mi.. !! Satria nggak nyolong dia tapi dia nya yang menawarkan diri untuk di culik". jawab Satria malah melenceng tak jelas.


"aadduh.. ahh.. mi.. sakit". Satria merintih kesakitan


"aah.. Pangeran...! jangan sakiti pangeran ibunda Ratu.. jangan.. jangan.. Putri Alice yang salah.. putri Alice yang salah". Alice langsung bersujud di kaki Shindy


Alya membantu Alice yang hendak merantuk-antukkan dahinya ke lantai marmer.


Shindy menjatuhkan rahangnya hingga tangannya sudah tidak lagi menjewer putra sulungnya, Satria menarik nafas lega sambil memperhatikan Alice yang memanggil maminya Ibunda Ratu.


"ibunda Ratu? kenapa gadis ini memanggil mamimu Ibunda Ratu Satria? apa yang terjadi? ". tanya Dylan dengan serius.

__ADS_1


"Papi.. Mami.. duduk dulu ya..? kasihan Alice, dia tidak bisa melihat bang Satria di sakiti". Alya menengahi.


"disakiti? ". beo Shindy dan Dylan bersamaan.


Alice bangkit langsung mendekati Satria dan memegang tangan Satria,


" Panger.. Eeh.. tidak.. kakak baik-baik saja kan? apa telinga Pan.. Eeh.. Kakak sakit? ". tanya Alice yang belum terbiasa memanggil Satria dengan sebutan kakak.


Satria mengusap kening Alice yang merah karna merantuknya ke marmer sampai semerah seperti itu.


Alya menghela nafas saja melihat itu, ia sudah biasa melihat Alice yang sangat menjaga Satria yang dicap sebagai Pahlawan nya yang membawanya terbang ke angkasa.


"lihatlah keningmu..! kau fikir ini istana? kenapa harus melakukan hal tadi? ". Satria berkata dengan datar


Alice berbalik lalu kembali bersimpuh di kaki Shindy,


"maafkan saya Ibunda Ratu, ini semua salah saya. saya hanya ingin bebas dan kak Satria hanya membantu saya". Alice berkata dengan nada memelas.


Shindy membantu Alice berdiri, "kenapa manggil Ibunda sih? disini bukan Istana tapi tunggu... apa kamu berasal dari Kekaisaran? ".


"iya Ibunda.. saya berasal dari Moskow". jawab Alice


"wow.. Rusia? ". tanya Shindy dibalas anggukan sopan oleh Alice.


"lancar bahasa indonesia? bagaimana bisa? ". sahut Dylan.


"saya suka bahasa Indonesia, saya banyak menguasai bahasa asing". jawab Alice


"ayo duduk Pi.. Mi !". ajak Alya


Shindy dan Dylan saling pandang lalu kembali menatap Alice yang mata hijaunya itu tengah berkaca-kaca hingga Shindy menjadi iba.


"kalau begitu kenapa di sini? mami dengan senang hati kalau dia dibawa ke mansion kita". Shindy berkata.


"mi.. dia pengacau mi..! dia memang terlihat normal tapi kelakuannya seperti anak-anak Mi..! Satria aja stres karna dia, Satria tidak mau mami stres karna dia". selah Satria.


"tapi dia jimat kekaisaran sana sayang, apa bisa dibawa ke mansion kita?". Dylan terlihat keberatan berurusan dengan Jimatnya negara R (Rusia).


"tidak apa Pi.. mata nya indah sekali.. aku suka". Shindy tersenyum senang melihat bola mata Alice yang terbilang unik.


Shindy sudah pernah melihat bola mata warna Abu, hitam, coklat, biru tapi belum pernah melihat warna Hijau itu sebabnya Shindy takjub.


"dia imut Pi.. Mami pasti tidak akan kesepian kalau Alice tinggal bersama kita di mansion, disini dia kesepian karna abang sering tinggal dia kerja kesana-kemari". Alya berkata.

__ADS_1


Shindy menangkup pipi Alice yang tampak mengerjab polos, ia tidak mengerti tapi ia tau kalau dirinya sedang di perebutkan.


Alice tersentak seketika saat Shindy menggenggam tangannya.


"Ibunda jangan pulang..! ". ucap Alice tiba-tiba serius.


"apa maksud mu nak? ". tanya Shindy.


"yang mulia jangan kembali.. ada hujan badai nanti dan mobil yang mulia akan di timpa pohon besar, jangan sampai Ibunda ratu terluka yang mulia". sambung Alice lagi.


Alya tampak serius mendengarkan.


"sudah aku bilang jangan gunakan kekuatanmu Alice..! kenapa kau selalu mengoceh hal itu? papiku bisa menjaga mamiku". Satria berdecak kesal dengan ocehan gadis bermata hijau itu.


"kekuatan? ". beo Shindy dan Dylan tidak mengerti.


sekali lagi Dylan dan Shindy mendengarkan cerita Alice dimana Alya pernah di ramal akan menjalin kasih dengan pria jahat.


"Apa benar itu? bagaimana bisa manusia meramal masa depan seseorang? ". gumam Shindy tak percaya memperhatikan tangannya.


"tapi kami harus pulang..! ".Dylan berkata dengan serius.


"kalau begitu jangan lewat jalan pertama yang mulia". kata Alice.


"berhenti memanggilku Yang Mulia.. aku bukan Raja". pinta Dylan


"lalu Putri ini harus memanggil apa yang mulia?". tanya Alice dengan berkaca-kaca


"papi jangan bicara seperti itu padanya..! dia Jimat kesayangan Moskow, mana pernah dirinya dibentak oleh tuannya hanya sering di kurung demi keuntungan mereka sendiri". selah Alya


Dylan menghela nafas panjang lalu berucap pelan, "maaf..!".


Alice tersenyum cerah seketika hingga Satria menggeleng kepala saja akan perubahan raut wajah Alice yang sangat cepat.


benar apa yang Alice katakan, ditengah perjalanan tiba-tiba saja hujan badai, beruntung saja mereka menaiki mobil padahal biasanya naik motor.


"pi.. ternyata benar pi.. lihat nih..! di jalan Kunang ada pohon besar tumbang menutupi jalan bahkan ada mobil tertimpa dan ada juga korban yang tewas". Pekik Shindy menunjukkan layar ponselnya ke Dylan.


Dylan terkejut sesaat,


"aku merinding Pi..! apa yang dikatakan Alice memang benar". Shindy mengusap-ngusap kedua bahunya yang benar-benar merinding akan ramalan Alice.


"jika kita lewat jalan ini mungkin aku terluka ya Pi? aku tadi memang udah was-was jadi menghitung waktu ke jalan sana dan tepat sekali waktunya di dekat pohon besar itu". Shindy

__ADS_1


"sudah sayang..! tidak apa.. kita baik-baik saja". Dylan mengecup sayang punggung tangan Shindy yang terlihat takut.


__ADS_2