
.
.
hari-hari terus berlalu dan Nia tidak bisa menebak apa yang sedang difikirkan Arya.
"dia semakin kuat dan kakak terlihat tenang-tenang saja bahkan masih bisa bekerja". geram Nia
"bergumam apa hmm? ". Arya tiba-tiba muncul memeluk Nia dari belakang.
"bergumam kapan hari hujannya". jawab Nia
"kamu pikir bisa membodohiku hmm? ". tanya Arya dengan gemas.
Nia mendelik, "kakak tau? "
"mana aku tau". jawab Arya
Nia memukul kesal lengan Arya, "dengarkan aku dulu kak".
"oh.. iya? baiklah..! ayo katakan Nyonya". pinta Arya
"kakak sudah kuat? kapan kakak berlatih nya? ". tanya Nia
"aku sudah kuat sedari dulu Cha..! ilmu beladiriku sudah yang terpuncak, untuk apa aku berlatih lagi? ". Arya berkata dengan Arogan
Nia mengerutkan keningnya, "lalu kapan kakak melatihku berjalan tanpa mengeluarkan suara? ".
"ilmu peringan tubuh itu berlatihnya di hutan Cha". jawab Arya
Nia melebarkan matanya, "benarkah? ".
"hmm..! ". jawab Arya
"kalau begitu ayo kita ke Hutan! ". ajak Nia
"aku harus bekerja Cha..! mungkin minggu depan aku bisa mengajarimu". Arya
"oh.. " Nia mengangguk mengerti
Arya sudah banyak cuti minggu ini jadi Nia tidak berani meminta Arya untuk cuti lagi.
"kenapa tidak membeli sesuatu hmm? apa menurutmu Blackcard yang aku berikan itu kosong?". tanya Arya mengendus bahu Nia yang terbuka sebab bajunya Nia sudah dibuka oleh Arya.
"bukankah kakak bilang buat perawatan? bedak-bedak mahal itu masih ada". jawab Nia dengan jujur.
"apa kamu tidak mau membeli yang lain? seperti pesawat, Rumah, atau apapun". tanya Arya
Nia menganga lebar, "buat apa? ".
"buat mu, uang masukku terus bertambah tapi istriku terlalu hemat". bisik Arya
Nia membeku, "Istri? kenapa terdengar manis sekali". batin Nia
"jadi kakak maunya apa? ". tanya Nia dengan polos
"beli sesuatu yang bisa membuatmu bahagia, kamu menafkahiku secara batin jadi kamu tidak perlu hemat cha..! bagi-bagikan pada orang lain juga tidak masalah". Arya
"bagi-bagikan?". Nia putar badan dan menghadap Arya.
__ADS_1
Nia menatap Arya dengan serius.
"a.. aku boleh ngasih beasiswa untuk anak sekolah yang tidak mampu bayar biaya kuliah kak? ". tanya Nia
Arya terkekeh, "boleh".
Nia memekik pelan lalu memeluk Arya dengan gemas, "baiklah kak..! aku akan gunakan uang kakak dengan baik".
"ya.. tidak boleh biaya'in calon mahasiswa laki-laki". peringatan Arya
"hah? kenapa? apa beasiswa tergantung jenis kelamin? ". tanya Nia tidak peka
Arya menghela nafas, "ya sudah..! jangan terlalu dekat dengan manusia berjenis kelamin laki-laki".
Nia tidak berpikir yang lain tapi ia mengangguk-angguk menuruti kemauan Arya, tak terbesit di pikirannya bahwa Arya sedang cemburu.
"apa haidmu sudah selesai? ". tanya Arya mengelus punggung Nia
Nia tersenyum dibahu Arya, "udah kak".
"bagus". Arya langsung menggendong Nia yang terpekik seketika.
Nia tentu tidak menolak, selama 5 hari sebelumnya Arya merawatnya dengan sangat baik karna setiap Nia datang bulan akan sangat menyiksa.
kasih sayang Arya yang seperti itu membuat Nia selalu ingin menawarkan diri menjadi makanan Arya, ia ingin mengandung anak-anak lucu dari benih suaminya tapi Tuhan belum mempercayainya.
.
siang harinya Nia menemui kepala sekolah di SMA nya dahulu.
"selamat datang Nona..! " sapa seluruh majelis guru yang pernah menyayangi Nia sebelum menjadi istri Arya.
Nia berdecak tak suka, "ibu bicara apa sih? Nia sama seperti dulu kok bu".
"jadi tujuan Nia kesini mau cari siswa-siswi yang kurang mampu? ". tanya bu KepSek.
"iya bu..! Nia mau bantu biaya perguruan tinggi mereka sampai lulus". jawab Nia
para guru Nia saling pandang lalu tersenyum tulus, mereka tau ketulusan Nia yang mau membantu orang lain sebab dahulu Nia tidak mampu kuliah bahkan sempat diragukan oleh banyak orang Nia tidak bisa melanjutkan ke jenjang kuliah, namun Nia bersikeras hingga membuahkan hasil.
mereka tentu sangat tau betapa berkuasanya Keluarga Melviano, dan menurut mereka Nia pantas bersama Keluarga hebat yang tidak pernah salah menilai seseorang itu.
Ricis datang membawa banyak amplop berisi uang untuk dibagi-bagikan pada murid yang kurang mampu.
"lihatlah betapa tulusnya hati Nia? Tuan Muda sangat hebat bisa menemukan perempuan seperti Nia". batin Ricis ikut tersenyum melihat anak-anak murid memeluk Nia dan mengucapkan terimakasih, tapi wajah bahagia Nia yang lebih dominan.
kalau laki-laki Ricis akan bergerak dengan melarang mereka untuk tidak memeluk Nia karna Arya sudah memperingatinya (Ricis) untuk menjaga Nia dari manusia yang berjenis kelamin laki-laki.
.
"apa Nona lapar? ". tanya Ricis
"tidak Ricis, aku mau ke Perusahaan Kak Arya aja". jawab Nia dengan berbinar
"kamu menghabiskan uang sekitar 1 M untuk dibagi-bagikan pada mereka, bahkan guru pun kamu kasih buat apa? ". tanya Ricis dengan heran
"benarkah? sudah sebanyak itu? kenapa aku tidak tau? ". tanya balik Nia tak percaya menghabiskan uang sebanyak itu.
"Nia.. Nia.. kamu membantu mereka dengan jumlah banyak tentu saja banyak pengeluaran terutama guru-gurumu". Ricis
__ADS_1
"kamu tidak tau Cis.. mereka sangat baik padaku dulu bahkan sering memberiku uang saku semasa sekolah". Jawab Nia
Ricis menggeleng kepalanya pelan, ia tidak lagi bertanya karna menurutnya terserah Nia yang memang tidak terlalu hoby shooping sementara memiliki suami kaya.
jika bedak dan kosmetik mahal untuk perawatannya Nia akan mengomel-ngomel bilang mahal dan lain-lain, tapi jika memberi orang lain Nia tidak tanggung-tanggung, benar-benar dermawan.
ciiiiiitttt....!
ngerem mendadak
"Nia..! " Ricis menoleh ke Nia
Nia menatap lurus kedepan dimana ada Pria tengah menunggu dengan mobil yang membentang jalan di tengah-tengah jalur mereka kini.
"kita balik aja!". Ricis
"tidak usah Cis..! aku mau menemuinya". tolak Nia dengan serius
"jangan Nia.. berbahaya". peringatan Ricis
"kalau kamu takut aku dalam bahaya ayo kita keluar..! ". ajak Nia
Ricis berdecak sebal lalu melihat sekeliling tidak ada siapapun hanya mobil itu saja bersama Pria pengecut yang tidak pernah berani menemui Arya.
Ricis panik saat Nia tiba-tiba keluar dari mobil tentu Ricis ikut keluar dan berjaga-jaga dibelakang Nia.
Nia menatap lurus ke Red dan berjalan dengan tenang ke arah Pria yang ingin ia pukul dengan panci gosong.
"siapa kau sebenarnya? kenapa kau memusuhi suamiku? ". tanya Nia bersikadap dada
Red mendekat hingga jarak nya dengan Nia hanya 1 meter saja, Nia melangkah mundur hingga jarak mereka berkisar 3 meter, Red ingin melangkah maju lagi tapi Nia mengangkat tangannya.
"disitu saja..! ". ketus Nia
"aku hanya suka padamu". jawab Red tersenyum tipis terkesan tampan tapi tidak dimata Nia.
"suka..? haha.. jangan membodohiku, aku tidak pernah bertemu denganmu kapan kau menyukaiku? kau pikir aku bocah 3 tahun yang bisa dibohongi? ". tanya Nia dengan galak dan ketus.
"benar.. aku menyukaimu, kamu wanita pertama yang menarik dimataku setelah sekian banyak wanita yang datang padaku." Red
Nia memutar bola matanya dengan malas, "ternyata kau tidak bisa diajak bicara..! ayo Ricis..! ". ajak Nia
"aku bisa diajak bicara". Red berusaha mengejar Nia dengan memegang tangan Nia.
Nia berbalik dan menendang pangkal paha Red yang terbelalak seketika dengan muka memerah, Ricis membekap mulutnya syok dengan keberanian Nia menyakiti seorang ketua Mafia.
"ayo lari..! " ajak Nia menarik Ricis
Han keluar dari mobil mendatangi Tuannya karna khawatir, Han memegang bahu Red yang terlihat begitu kesakitan.
"Tuan? ". panggil Han ragu-ragu
.
.
.
haha... bahaya itu.. tapi Nae suka biar mampus sekalian, Nia udah dendam banget sama Red karna berani masuk ke dalam mimpinya.
__ADS_1
.
.