
.
.
Raya memejamkan matanya seketika saat Raka menyergap bibirnya dan melum*tnya dengan lembut namun menuntut balas.
Raya meremas punggung kokoh Raka, Raka masih asik mencumbu wajah Raya sampai puas.
"nggh.. " Raya mengeluarkan suara aneh saat tangan Raka mulai meremas buk*t kembarnya.
Raka mengangkat punggung Raya dan tangan Raka melepaskan pengait bra istrinya, Raya meremas bahu Raka yang polos, Raya bahkan tidak sadar kapan Raka melepaskan bajunya itu.
Raya perlahan membuka matanya saat tak merasakan sentuhan Raka, ternyata Raka tengah menatapnya dengan penuh cinta bercampur hasrat terpendamnya selama ini.
"ke.. kenapa bang? ". tanya Raya gugup
"aku merasa ini semua masih mimpi.. rasanya baru kemarin aku menatapmu dari kejauhan tanpa bisa menyentuhmu seperti sekarang". Raka berkata dengan nada berat meraba wajah Raya.
Raya tersenyum hingga kedua lesung pipinya terlihat jelas, Raka suka sekali menusuk pipi Raya yang berlubang itu.
Raya yang tadinya gugup bercampur takut kini perasaan takut itu hilang entah kemana seolah ditelan bumi akan perlakuan lembut Raka.
"jangan takut..!! aku akan lakukan pelan-pelan." senyum tulus Raka mencium kening Raya sampai benar-benar tenang.
Raka memang sangat menginginkan Raya tapi tidak akan melakukan hal itu dengan tergesa-gesa, Raka tidak mau Raya ketakutan seolah dirinya hanya menginginkan tubuh Raya saja, Raka ingin membuktikan pada Raya dirinya tulus mencintai Raya.
Raya meraba tubuh kekar Raka yang sangat seksi dimatanya, memang Raya sudah biasa melihat tubuh bagian atas adik-adik tampannya tapi berbeda jika melihat tubuh pria yang dicintai.
Raka memejamkan matanya membiarkan tangan Raya bermain di tubuhnya,
"cup..! " Raya mengecup leher Raka hingga pria itu makin menggeram kepanasan.
istrinya sepertinya sudah nakal sebab sejak tadi Raka begitu sabar memperlakukan Raya padahal hasratnya sudah di ujung tanduk.
"kamu memulainya sayang, jangan menyesalinya". bisik Raka di telinga Raya menggigit mesra telinga Raya yang merasa tersengat listrik seketika.
Raya mengangguk, cepat atau lambat Raya memang harus menyerahkan tubuhnya juga pada suaminya ini untuk apa jual mahal.
"hmmm.. " Raya mulai melenguh panjang saat Raka bermain di buk*t kembarnya.
Raka melakukannya bergantian, lalu memberi tanda kepemilikan disetiap inci tubuh Raya. Raya tidak ingat apa-apa lagi hanya terbuai dengan sentuhan sang suami.
"aaah... ". jerit Raya seketika bangkit meremas seprainya hingga kusut.
Raka mendiamkan miliknya tertancap di inti Raya,
"sakit sayang?" tanya Raka lembut menangkup pipi Raya yang melihat wajah Raya yang memerah.
__ADS_1
Raya mengangguk-ngangguk memeluk Raka dan meremas punggung Raka terkadang menjambak rambut Raka saat Raka mulai bermain padahal masih pelan dan hati-hati.
" aku akan lakukan pelan-pelan". bisik Raka.
"a.. apa memang sesakit ini? ". tanya Raya dengan suara lirih.
Raka jadi merasa bersalah, "pertama kali memang sakit sayang tapi setelah itu tidak akan sakit lagi".
"benarkah?". tanya Raya dengan takut.
"jangan takut? apa perlu aku cabut lagi? ". tanya Raka jadi tidak tega merasakan tubuh Raya bergetar.
"t.. tidak apa..!" jawab Raya memejamkan matanya di pelukan Raka.
Cukup lama berdiam diri, Raka mulai menggerakkan pinggulnya.
"hmmm". Raya makin erat saja memeluk Raka terkadang ia secara ganas menggigit bahu, telinga dan leher suaminya.
Raya benar-benar kesakitan, tubuhnya seperti itu karna memang bentuk pertahanan dirinya saja. Raka tidak marah ia membiarkan istrinya melampiaskan rasa sakitnya dengan segala kelakuan bar-bar Raya, asalkan Raya tidak menendangnya saja dari ranjang.
lama kelamaan Raya mulai tenang, ia mulai mendesah, meracau, menjerit saat Raka mulai merubah-ubah tempo kecepatannya.
"aaah.. ". Raka dan Raya mulai tenang setelah mencapai puncak kepuasan bersama, deru nafas keduanya saling bersahut-sahutan.
"capek...! ". letih Raya dengan mata mulai terpejam-pejam lelah.
"terimakasih sayang..! ". Raka menciumi wajah Raya sambil melepaskan miliknya dengan hati-hati.
Raka tersenyum tipis, walau lelah Raka menggendong Raya dan membawanya ke kamar mandi. Raka memandikan Raya dengan lembut,
hari sudah menunjukkan pukul 5 pagi, tadi Raka melihat jam dindingnya.
"lama sekali kami melakukan hubungan itu". gumam Raka pelan lalu terkekeh mengingat keganasan Raya saat bahunya mulai terasa perih di siram air.
"istriku bar-bar sekali, udah kayak kucing aja gigit-gigit". gemas Raka mengelus kepala Raya yang berendam di bath Up.
Raka sengaja membiarkan Raya berendam aroma terapi di bath up nya supaya tubuh Raya tidak sakit-sakit saat bangun.
.
.
Raka menyelimuti Raya dan mencium sayang pipi serta puncak hidung Raya.
"kamu cantik sekali sayang, aku beruntung menjadi pria pertama bagimu". ucap Raka menyibakkan anak rambut Raya.
sekitar jam 7 pagi.
__ADS_1
Raka keluar dari kamarnya, ia mendekat ke Bi Asih lalu membisikkan sesuatu di telinga wanita paruh baya itu. para koki hanya saling pandang tidak mengerti apalagi makin penasaran saja mereka melihat bi Asih tengah cengar-cengir malu menatap tuannya.
"buatkan sup kesukaannya bi, jangan dibangunkan ok?". pinta Raka menepuk-nepuk bahu bi Asih yang ia anggap Ibunya sendiri ditempat ini.
"baik tuan". jawab bi Asih dengan nada bersemangat
Raka tersenyum tipis lalu berlalu dari mereka semua sambil bersiul senang sesekali Raka melompat seperti memasukkan bola basket ke ring nya.
para Koki dan Pelayan mengelilingi bi Asih dengan raut wajah penasaran, mereka seperti reporter mewawancarai bi Asih.
"sepertinya sebentar lagi Mansion kita akan ribut suara anak-anak". heboh Bi Asih hingga yang mendengarnya membeku cukup lama mencerna ucapan Bi Asih.
"suara anak-anak? ". gumam mereka belum menyadari makna anak-anak yang dimaksud Bi Asih.
"Nona sedang kelelahan karna baru aja buka segel". teriak Bi Asih
"hah? ". pekik mereka semua menjerit gembira seketika.
.
di meja sarapan.
"tuan? ". sapa Jon dan Dita yang sudah memakai baju formal siap bekerja.
"Jon kau temani Dita mengambil berkas-berkas penting yang harus Raya tandatangi...!". titah Raka serius.
"lalu anda bagaimana tuan? ". tanya Jon tidak mengerti.
"diam dan dengarkan saja perintahku..! sana panggilkan Rio". titah Raka lagi
"baik tuan". jawab Jon tak berani lagi bertanya langsung bergerak menelfon Rio dan sedikit menjauh dari Raka.
"kau Dita..? ". lirikan tenang Raka lalu kembali fokus dengan sarapannya.
"saya tuan". jawab Dita menunggu perintah.
"kau buat Rapat penting di Perusahaan MattGroup jadi Rapat Online, bisa? ". tanya Raka serius.
tanpa bertanya ataupun penasaran Dita langsung berkata,, "baik tuan..!". jawab Dita hendak bangkit namun Raka kembali bertanya.
"kau tidak bertanya kenapa istriku tidak bisa datang ke kantor? ". tanya Raka.
"tidak Tuan.. ! saya percaya apapun yang anda perintahkan demi kebaikan Nona saya". jawab Dita lalu menunduk hormat membawa kabur roti sarapannya yang didalamnya banyak selai coklat.
Raka tersenyum tipis lalu kembali bersiul senang, sesekali Raka tertawa gila sendiri mengingat adegan percinta*nnya dengan Raya.
.
__ADS_1
.
.