
.
.
"jadi ada segerombolan pria membawa kabur wanita ular itu? ". tanya Raka sekali lagi dengan tangan terkepal.
"benar tuan..! saya sudah selidiki lewat CCTV dan memang benar dia dibekap dan dibawa masuk ke dalam mobil". lapor Rio.
"kau mengikutinya? ". tanya Raka
"tidak tuan..! mereka datang tidak terduga jadi kami tidak sempat menyadarinya". jawab Rio
"bisa jadi dia bertemu dengan Kadal betina itu". gumam Raka memejamkan matanya dengan nada berat.
"kadal betina? ". beo Rio tidak tau siapa yang Raka maksud.
"siapa lagi? buronan kalian itulah..! sudah sana pergi..! jangan ganggu aku dengan masalah kedua wanita sialan itu, mood ku sedang baik jadi jangan mengacau! besok akan aku beri pelajaran si wanita ular". ujar Raka dengan malas sambil mengibas-ngibaskan tangannya.
Rio pun pamit pergi dibalas anggukan oleh Raka.
Raka memejamkan matanya lalu tersenyum mengingat kesehariannya bersama Raya.
"ini yang namanya pacaran dengan wanita yang dicintai! sungguh senang tapi sayang tidak bisa di cium". gumam Raka pelan.
Raka menggeleng kepalanya seketika sebab mulai memikirkan hal yang membuatnya memanas,
"sadar Raka..! sadar". Raka menepuk kepalanya sendiri yang sedang berpikir jauh.
.
ke esokan paginya Raya terbangun lalu menggeliat manja di ranjang empuknya, perlahan kening Raya mengkerut mengingat sesuatu.
"kenapa aku bisa ada di ranjang? ". gumam Raya masih enggan membuka mata.
Raya perlahan meraba-raba, "benar..! ini memang ranjang ".
Raya membuka matanya seketika dan menoleh kiri-kanan.
"bukan kamarku..!". gumam Raya menatap serius kamar yang kini ia tempati.
"bangunannya mansion Raka?". tebak Raya
brughh...
Raya menoleh ke asal suara,, "Dita? ". gumam Raya pelan.
"aaakh...! " ringis Dita yang terjatuh dari sofa.
Dita bangkit dengan penampilan acak-acakannya, ia mengusap bok*ng nya yang terasa sakit.
"Hei.. Dita? ". panggil Raya meledek.
Dita mengucek kedua matanya seperti anak kecil lalu mengedarkan pandangannya, samar-samar ia melihat Raya di ranjang.
Raya menahan tawa melihat Dita jalan sempoyongan seperti itu, lama-lama Dita tidak seperti pengawal Raya melainkan adik kecil yang minta di jaga dan disayang oleh Raya, sungguh menggemaskan.
"Nona? ". Dita mengucek matanya sambil merebahkan kepalanya di ranjang Raya tapi kakinya bersimpuh di lantai.
"sedang apa kau? ". tanya Raya dengan aneh melihat cara Dita duduk.
__ADS_1
"saya mengantuk Nona". racau Dita.
"lalu siapa yang menyuruhmu kesini? ". Raya menepuk kepala Dita yang sangat lucu.
tok.. tok.. tok..
pintu di ketuk Raya menoleh dan masuklah bi Asih dengan para pelayan mengantarkan sarapan, baju ganti dan lain halnya untuk Raya.
"terimakasih bi". ucap Raya dibalas senyuman lebar oleh wanita paruh baya itu.
para pelayan pun merasa senang dengan ucapan padat namun maknanya sangat mahal itu dari bibir merah Raya pada mereka, seorang Majikan mengucapkan rasa terimakasih pada bawahannya sungguh membuat mereka tidak merasa rendah dimata sang majikan malah dihargai.
.
.
"kemana dia bi? ". tanya Raya mengedarkan pandangannya mencari Raka.
"tuan master pergi kantor Nona..! katanya tuan sudah masuk ke kamar Nona tapi masih tidur dan tidak mau membangunkan Nona". jawab Bi Asih.
Raya mengangguk saja, Raka memang seperti itu dan Raya tidak terlalu memikirkannya.
di tempat lain.
Raka menatap proposal perusahaan Smith yang kini dikuasai oleh ibu tirinya.
"sudah cukup bermain-mainnya! saatnya kalian terjun bebas di jurang kemiskinan". seringai Raka.
Jon hanya diam di depan Raka menunggu perintah dari tuannya itu.
"Jon".
"buat sedramatis mungkin menagih hutang mereka yang sebanyak ini. ! kalau mereka bersikeras meminta tenggang waktu, minta rumah itu untuk jadi pelunas hutang". titah Raka
"baik tuan".
Jon langsung berlalu dari ruangan Raka tentu menjalankan perintah Raka.
.
.
di rumah Smith.
"tidak mungkin hutang kami sebanyak itu pak..! kami sudah jual perusahaan kami pada kalian apa itu tidak cukup? ". bentak Herlina tidak terima
"Nyonya anda harus tau Perusahaan anda sudah jatuh bangkrut dan tidak ada pemegang saham lagi di dalamnya, apa anda pikir ada orang yang mau membeli cangkang kosong dengan harga mahal? ".
Nyonya Herlina memekik histeris, sementara suaminya bernama Reiner pun sudah sakit kepala akan hutang piutang istri kayanya itu.
"sial...! kalau begini percuma aku bertahan di sisinya! lebih baik aku pergi cari istri baru yang lebih kaya lagi". batin Reiner dengan senyum tipisnya yang licik.
"ada apa ini? ". Maisy tiba di rumahnya dan melihat banyak orang di dalam rumahnya.
"Maisy..! kita jatuh bangkrut nak..! rumah ini akan di jual untuk tambahan bayar hutang kita". Nyonya Herlina berjalan ke arah Maisy dan memeluk Maisy
Maisy menepuk-nepuk punggung mamanya
"apa ini adil? kenapa kalian tidak beri kami tenggang waktu? ". bentak Maisy.
__ADS_1
"maaf Nona..! kami sudah beri waktu 2 minggu tapi Nyonya Herlina merasa hutangnya sudah lunas dengan menjual Perusahaannya yang sudah tidak berguna lagi itu, kami datang untuk menagih sisanya".
"berapa hutang kami? ". tanya Maisy
"tagihan anda yang paling banyak Nona..! totalnya 5M tapi sudah dibayar 3 M".
Nyonya Herlina hanya bisa menangis sedih tidak bisa apa-apa lagi, mana ada ia uang 2 M untuk tambahan membayar hutangnya.
"kalau begitu beri aku waktu 2 jam saja untuk mencari uangnya". pinta Maisy.
"tidak bisa Nona..! sama seperti Ibu anda selalu minta tenggang waktu sampai saat ini anda juga masih punya muka minta tenggang waktu? ".
Maisy mengepalkan tangannya, ia memang boros tapi rumah ini mana mungkin ia biarkan terjual begitu saja.
.
.
Maisy, Herlina dan Reiner di tendang keluar dari Rumah Smith tanpa membawa apapun. sungguh kejam dalam hitungan menit mereka menjadi gelandangan.
"kamu mau kemana sayang? ". cegah Herlina melihat Reiner hendak pergi.
"kita cerai saja..! aku tidak mau hidup susah". perkataan telak Reiner membuat kaki Herlina goyah.
"Sayang..! ". jerit Nyonya Herlina di cekal oleh Maisy.
"sudahlah ma..! dari awal Maisy udah tau pria itu tidak baik bahkan dia pernah masuk ke kamarku ma! dia pria ranj*ng juga mata duitan!, udah berapa kali Maisy bilang tinggalkan dia".
"tapi mama cinta sama dia Maisy". isak Nyonya Herlina.
"cinta apanya? sudahlah ma..! sekarang Cinta mama tidak penting..! kita harus cari tempat tinggal". Maisy menarik lengan Nyonya Herlina pergi dari tempat itu.
.
"bagaimana? ". tanya Raka dengan mata terpejam menunggu laporan dari Jon sambil bersandar di kursi kerjanya.
"semua berjalan sesuai rencana Tuan..! rencana anda sangat licin dan tak ada celah untuk di curigai". puji Jon dengan senyum tipisnya.
"tentu saja..! ini masih permulaan". seringai Raka dengan mata terpejam.
"bagaimana dengan rumah Smith Tuan? anda yakin rumah itu di jual? ". tanya Jon
"hmm.. jual saja aku terlalu jijik memasuki rumah itu bahkan kenanganku bersama Papa disana lenyap seketika saat wanita itu membawa pria asing tinggal disana lalu menduduki posisi kepala Keluarga Smith".
"aku tidak butuh rumah itu". gumam Raka masih dengan mata terpejam.
Jon tidak lagi berbicara, untuk apa Raka memikirkan rumah itu jika tuannya itu sudah punya Mansion yang 7 kali lipat megahnya dari rumah Smith.
.
.
.
balas.. balas.. balas... wkwk..
.
.
__ADS_1