Kekasih Impian MR. Mafia

Kekasih Impian MR. Mafia
mendatangi


__ADS_3

.


.


kini Raya berada di pintu gerbang mansion Raka Mahawira.


salah satu penjaga gerbang berlari mendekati mobil Raya, mereka tidak tau kalau didalam mobil itu ada Raya.


tok.. tok..


Dita menurunkan kaca begitu juga Raya, penjaga yang hendak marah terjungkal kebelakang seketika hingga Raya kebingungan langsung keluar dari mobilnya, Dita tetap di tempat hendak keluar juga tapi Raya menahan pintu hingga Dita tak bisa keluar.


"kau tidak apa-apa? ". tanya Raya heran dengan tingkah pria itu.


"ma.. maaf nona.. silahkan masuk..! buka gerbangnya cepatt...!! ". teriak pria itu berlari sampai beberapa kali terjatuh hingga Raya celingukan bingung sendiri.


"apa aku terlihat begitu menyeramkan? ". gumam Raya


"tidak nona". jawab Dita diabaikan saja oleh Raya


penjaga gerbang membuka pintu gerbang mansion mereka terburu-buru seolah takut Raya akan marah.


"Nona..? apa perlu saya bawa mobilnya ke dalam nona?". tanya salah satu pria asing mendatanginya.


"kenapa kalian aneh sekali? aku punya supir terimakasih". Raya langsung memasuki mobilnya tanpa mendengar jawaban penjaga mansion Raka.


"nona muda bilang terimakasih, hatiku melayang seketika".


"bahagianya melebihi menerima gaji ya? "


"haha.. kata-kata spele yang tidak pernah kita dengar semenjak masuk ke dunia mafia".


"kata terimakasih akan keluar saat nyawa kita dalam bahaya diselamatkan oleh sesama rekan".


mobil Raya memasuki mansion mewah Mahawira.


"diam disini..! atau aku akan membunuhmu nanti". ancam Raya dibalas anggukan oleh Dita.


"selamat datang nona".


Raya tersenyum kikuk ke arah mereka semua, "jika kalian seperti ini aku akan pergi.. "


Raya hendak masuk lagi ke mobilnya namun suara seseorang menghentikan nya.


"maaf Raya..! mereka tidak pernah menyambut tamu jadi begitulah kalau ada tamu".


Raya melihat mereka semua yang menunduk sopan dan hormat lalu segera membubarkan diri melanjutkan pekerjaan masing-masing.


Dita mengedarkan pandangannya, akhirnya ia tau Raya tengah menemui Raka. Pria yang pernah diceritakan Dylan walau hanya sepenggal cerita saja.


"aku pernah mencekikmu sekarang aku masuk ke mansionmu kau tidak akan mencekikku juga kan? ". Raya berjalan mendekati Raka begitu juga Raka yang tertawa mendengarnya.


"aku tidak akan mencekik wanita, tenang saja". balas Raka


"ck.. omongan pria mafia mana ada yang bisa dipercaya." cibir Raya


Raka memberi jalan ke Raya yang berjalan duluan, Raka mengikuti Raya lama-kelamaan Raka sejajar jalan disamping Raya.


"Rooftop? ". Raka menunjuk atas.


Raya mengangguk


.

__ADS_1


.


"sekarang katakan!" Raka memainkan gelas cantiknya.


Raka terbiasa seperti itu, ia juga suka minum Wine tapi non alkohol. wine itu buatan para koki di mansion Raka.


Raya menoleh ke arah Raka seketika, "kau tau tujuanku? "


Raka tersenyum lalu meminum anggur merahnya dengan tatapannya hanya kepada Raya.


Raya memutar tubuhnya ke arah Raka, "aku penasaran hubunganmu dengan Robert.. kenapa dia terus menggangguku? "


"dia mengganggumu? ". tanya Raka masih tenang kembali meneguk minumannya.


"hmm.. sangat menggangguku". jawab Raya dengan nada malas.


"kami pernah terlibat cinta segitiga". ujar Raka


"cinta segitiga? ". beo Raya mulai serius mendengarkan.


"kami berteman dahulu sebelum membentuk Anggota mafia masing-masing, ada perempuan diantara kami namanya Yeri. dia mencintai Yeri sedangkan Yeri..."


"mencintaimu? ". tebak Raya


Raka mengangguk sambil melihat minumannya.


"lalu kalian saling mencintai? " tanya Raya


Raka menggeleng


"lalu? dia mencintaimu kau tidak? maksudnya bagaimana? ". tanya Raya


Raka tersenyum ke Raya seolah senang melihat raut wajah penasaran Raya.


"tebak sendiri". Raka bangkit dan berjalan ke arah balkon dan melihat pemandangan dilangit.


Raya menjatuhkan rahangnya, "bocah tengil ini sengaja buat aku penasaran".


"Raka..! " panggil Raya.


"hmmm". balas Raka tanpa menoleh ke arah Raya


Raya berjalan ke arah Raka dan memukul punggung pria itu yang tertawa ditempat.


"ceritakan dengan jelas". pinta Raya serius


"aku sudah menceritakan intinya Raya". gemas Raka menekan kepala Raya.


Raya menarik nafas panjang lalu menyerang Raka yang dengan cepat mengelak.


"kenapa pukulanmu agresif sekali kawan? ". tanya Raka seolah meledek.


"aku benci diremehkan". kesal Raya


Raka menggeleng kepalanya, "aku tidak meremehkanmu..! aku hanya terlalu malas mengungkit masa lalu".


Raya terdiam seketika dengan tangan menggantung di udara.


"jadi dia masih larut dalam masa lalu nya kan? dia menggunakanku untuk balas dendam padamu? karna perempuan bernama Yeri itu? ".


"benar sekali". jawab Raka seadanya kembali menatap langit berbintang.


"haissh.. lalu kenapa aku terlibat? kami tidak punya hubungan apa-apa". tanya Raya heran

__ADS_1


"karna kita dekat, itu saja". jawab Raka


"jadi semua perempuan yang dekat denganmu akan didekati olehnya". tebak Raya


Raka mengangguk, "masih belum terlambat melarikan diri Raya, kau masih ingin hidup tenang kan? dunia kami sangat kejam, tidak baik perempuan cantik sepertimu masuk dalam permainan kami".


"kau menyuruhku melarikan diri? ". tanya Raya melebarkan matanya tak suka


Raya tidak cinta dengan Raka tapi ia benci disebut lemah apalagi disuruh lari dari keadaan, Raya bukan tipe perempuan yang terima dikatakan lemah jika ada dalam masalah ia akan menantang dan melawan nya bukan lari seperti perempuan lainnya.


"iya.. dengan begitu Robert tidak akan mendekatimu atau mengganggumu". jawab Raka dengan enteng.


"ckk..! jangan panggil aku Shiraya Mahardika Melviano kalau aku kabur, aku putri Melviano tidak akan mundur atau sekedar melarikan diri jika sudah masuk ke medan perang".


Raka mencubit pipi Raya hingga Raya menoleh tajam ke arah Raka.


"bangunlah dari mimpimu..! kau harus bebas diluar sana". tekan Raka


Raya menepis tangan Raka, "lagian aku juga yang salah telah merangkulmu hingga foto kita diambil dan jadi berita".


"hmm.. hidup tentramku runyam karna mu Raya". Raka meledek sambil menatap langit.


Raya menghela nafas. "maaf..! bukannya balas budi aku malah membuatmu dalam masalah".


"bukankah aku yang harusnya minta maaf". Raka menoleh ke Raya.


"sudahlah..! sekarang kita teman dan jangan suruh aku mundur, aku benci melarikan diri dan tidak suka kalah".


"maksudmu? ". tanya Raka


"kita akan lawan bersama dan menang bersama! selama ini aku tidak pernah kalah". Raya


Raka menganga lebar menatap Raya. "bagaimana bisa kau begitu berani Raya? boleh berani tapi jangan bodoh! nyawamu taruhannya".


Raya tertawa hal itu membuat jantung Raka seperti ingin berhenti detik itu juga.


"aku makin tertarik masuk ke duniamu". Senyum lebar Raya seperti bahagia dapat mainan baru.


Raka mencubit pipi Raya hingga siempunya melirik ke tangan Raka.


"aku ingin kau sadar Raya! kau sudah gila". Raka


Raya kembali tertawa menepis tangan Raka yang masih mencubit pipinya.


"aku pasti mimpi..! mimpi apa aku bisa bertemu gadis gila sepertimu" gerutu Raka


Raya menarik rambut Raka hingga mendongak keatas.


"aku akan membunuh saat ini juga". Raya tersenyum jahat.


Raka menepis pelan tangan Raya. "aku lelah bicara denganmu..! aku mau melihat bintang, jangan ganggu aku! sana pulang !! nanti pengawalmu bertambah karna pulang terlalu malam".


entah kenapa Raya mengerucutkan bibirnya, "iya juga! ya udah aku pulang".


Raka tidak melihat Raya yang seperti tadi, mungkin bisa gila Raka jika melihat Raya si ratu Arogan dan dingin tengah ber agyeo (tingkah imut).


Raka melihat Raya yang meninggalkannya. "bahkan pemandangan disini melihat langit terasa indah saat bersamamu Raya.!"


Raka sengaja bertingkah sebagai teman untuk Raya, nyaman sebagai teman. hanya dengan seperti itu Raya akan tetap bersamanya, egois tapi Raka berjanji akan melindungi Raya sepenuh jiwa dan raganya.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2