Kekasih Impian MR. Mafia

Kekasih Impian MR. Mafia
ejekan manis


__ADS_3

.


.


.


Raya memeluk Raka yang kini memejamkan matanya di pelukan Raya.


"sabar ya bang..! abang tidak boleh berpikir seperti itu, abang tidak pembawa sial, buktinya abang yang selalu mempertaruhkan nyawa karnaku apa abang juga berpikir aku pembawa masalah bagi abang? ". Kata Raya


"tidak sayang..! kamu tidak pernah membawa masalah bagiku justru aku yang membuatmu dalam masalah". geleng-geleng kepala Raka memeluk Raya lebih erat.


"jadi abang jangan berpikir seperti itu lagi ya? kita hadapi semuanya bersama". Raya berkata dengan lembut mengusap punggung Raka.


Raka melepaskan pelukannya dari Raya, "iya.. kita hadapi bersama tapi jangan buat aku gila sayang, jangan sampai aku mencap diriku memang pembawa sial".


Raya mengangguk mengecup pipi Raka lalu tersenyum lebar, Raka menusuk pipi Raya yang berlesung pipi itu.


"kamu sangat cantik sayang". Raka memuji kecantikan alami Raya


Raya tersenyum, "aku memang cantik..! dan sicantik bermata biru ini adalah gadis milik Master R". Raya menangkup pipinya sambil bertingkah imut di depan Raka.


Raka tergelak menghapus air matanya, "kamu menggemaskan sekali sayangku". Raka mencubit pipi Raya yang menggembung.


Raya tersenyum malu segera ia memeluk Raka menyembunyikan wajahnya yang malu di belahan dada bidang suaminya.


"aku malu". ucap Raya yang masih menyembunyikan wajahnya di belahan dada Raka.


Raka tertawa keras, ia menciumi puncak kepala Raya. astagah..! Raya bertingkah imut Raka yang menggila, Raya tidak pernah seperti itu jadi wajar ia malu karna tidak sesuai dengan image nya yang dikenal dingin dan datar.


cukup lama Raka dan Raya berpelukan, Raka menangkap tubuh Raya yang hampir merosot, senyum Raka melebar.


"istriku tertidur dalam keadaan malu ya? ". gemas Raka menggendong Raya perlahan dengan selimut tebal yang masih membungkus tubuh Raya.


Raka merebahkan tubuh Raya di ranjangnya lalu membenahi rambut Raya, Raka merasa masih merindukan Raya, wajah gadis impiannya yang selama 2 minggu ini tidak ia lihat betapa tersiksanya Raka selama 2 minggu itu.


Raka memang tidak terluka karna pelatihannya tapi hatinya menjerit kesakitan tidak bisa bertemu Raya bahkan tidak mau melakukan VC ataupun menelfon Raya, Jika Raka melakukannya ia bisa saja meninggalkan semuanya dan berlari kembali bertemu Raya.


melihat wajah dan mendengar suara Raya bisa mematikan syaraf otak Raka yang bertekat untuk kuat, Raka bisa saja hilang akal dan sudah pasti akan meninggalkan semuanya demi bertemu dengan Raya, karna itulah ia sengaja tidak menghubungi Raya.


.


.


ke esokan paginya Raya bangun sambil mengucek kedua matanya.

__ADS_1


"ya Tuhan..! abang sayangku gimana sih? masa dia tidak membangunkanku". gerutu Raya bangun sambil berlari sempoyongan menuju kamar mandi.


.


.


Raya keluar dari kamar mandi berjalan menuju ruang ganti, Raya menganga lebar melihat lemari baru hadir di tempat itu, mulut Raya makin menganga melihat isinya.


"ini baju baru semua? ". gumam Raya


"padahal bajuku di mansion Melviano masih banyak, tapi dia belikan juga yang baru". gerutu Raya namun tangannya sibuk mengambil stelan formal berwarna Lilac.


Raya mengambil Pashmina yang warnanya hitam senada dengan garis hitam di Stelan baju Lilacnya,


"Aah..! ". Raya kaget saat keluar Bi Asih dan para Koki sudah menunggunya seperti biasa.


"mana abang Raka bi? ". tanya Raya berkacak pinggang bersiap mengomeli sang suami yang tak membangunkannya.


"tuan sudah bekerja Nona". jawab bi Asih


"haha..! dia bekerja tapi meninggalkanku yang tertidur pulas, bayi besar itu minta di omeli". tawa Raya lalu berubah kesal sambil mengepalkan tangannya dengan lucu.


"b.. bayi besar? ". beo Bi Asih dan yang lainnya tidak mengerti.


"tuan master kalian itulah, siapa lagi". gerutu Raya melenggang pergi sambil mengomel-ngomel.


Bi Asih dan yang lainnya pun mengekori Raya seperti anak Ayam, sungguh mereka ingin tertawa mendengar omelan Raya terus saja mengocehi bayi besarnya yang menyebalkan itu.


"Nona tidak sarapan? ". tanya Dita kebingungan melihat Raya sudah rapi tapi tidak duduk di meja makan.


"tidak..! aku sudah sangat terlambat". jawab Raya ketus meninggalkan Bi Asih yang tak kuat menahan senyumnya.


Dita menggaruk kepalanya,


"Nona Dita..! ini bekal untuk Nona Muda, nanti Nona pasti makan bekal ini untuk mengisi perutnya yang masih kosong". pinta bi Asih.


Dita membawa bekal yang diberikan bi Asih, ada 2 potong Sandwich di dalamnya untuk Raya dan Dita sarapan.


Bi Asih dan Koki lainnya akhirnya tertawa terbahak-bahak setelah memastikan Nonanya pergi. mereka tidak menyangka tuan master nya yang terkenal dingin dan mandiri begitu manja dan kekanak-kanakan jika bersama Raya hingga Raya menyebut masternya Bayi Besar.


.


.


Raya tiba di Perusahaannya setelah ambil cuti panjang beberapa minggu, tidak ada yang menyambut Raya sebab takut Raya akan marah jadi siapapun yang lalu lalang di sekitar Raya hanya secara naluri menunduk sopan lalu kembali melanjutkan aktifitasnya.

__ADS_1


di Perusahaan MattGroup posisi tertinggi di pegang oleh Satria, lalu Raya dan Arya. jika mereka bertiga datang bersamaan maka sudah pasti disambut dengan baik oleh seluruh staf MattGroup tanpa terkecuali tapi ketiga penguasa Melviano itu datang di jam-jam tertentu, jarang sekali datang bersamaan.


.


"kakak datang? ". Arya bertemu dengan sang kakak di jalan menuju Ruangan Satria.


"ck.. ck.. ck.. Kakak kenapa datang di jam 11 seperti ini? rapatnya sudah lewat". ejek Arya sambil cekikikan.


Raya mendengus sebal, "abang iparmu sepertinya sengaja membiarkan kakak tertidur panjang, beginilah jadinya". gerutu Raya


Arya tergelak, "alasan aja..! abang ipar mah tidak salah, emang kakak aja yang terlalu nyenyak tidurnya". ejek sang adik dengan senyum menyebalkannya.


Dita menahan senyum sekuat tenaga,


"Arya..! jangan sampai kamu mati ditangan kakak". ancam Raya dengan galak.


"mati ? mati? mati.. Arya ngga takut". Arya menjulurkan lidahnya lalu dengan cepat melarikan diri melihat si kakak sudah mulai mengeluarkan tanduk hitamnya.


"dasar cunguk!! ". teriak Raya dengan kesal ke Adik pria bungsunya itu lalu menatap garang ke Dita yang tengah tertawa.


Dita membekap mulutnya cepat, "saya minta maaf Nona". Racaunya dengan mata terpejam.


Raya mendengus meninggalkan Dita yang segera berlari menyusul Raya.


.


.


di Ruangan Raya,


Raya bekerja seperti biasa namun baru 1 jam ia bekerja perut Raya mulai berdemo.


"haissh.. lapar". keluh Raya bangkit hendak keluar dari Ruangannya mencari sarapan namun melihat bekal makanan yang dibawa Dita membuatnya kembali duduk.


Raya membukanya, "lumayan ganjal perutku! awas aja bayi besar itu". gumam Raya melirik tajam ke Sandwich dan menggigitnya dengan penuh dendam seolah makanan itu adalah Raka.


Alhasil Raya makan sandwich sambil bekerja, ia tidak keluar dari pekerjaannya sebab sang suami tidak melarangnya bekerja. Raka membiarkan Raya menikmati hari-harinya seperti biasa walau sudah menikah dengannya.


.


.


.


sip.. Terimakasih selamat beraktifitas...!!

__ADS_1


.


.


__ADS_2