
.
.
Raya mengerutkan keningnya saat Jon bersama Rio datang tengah malam di mansionnya.
"ada apa? ". tanya Dylan dengan datar sambil bersidakap dada.
Satria dan Arya pun celingukan tak mengerti, sedangkan Alya sudah tertidur pulas di kamarnya, begitu juga Shindy.
"Tuan kami tidak keluar kamar dari tadi sore tuan besar, Nona ! bahkan kami mengetuk pintu kamar tuan master tidak menyahut, tuan tidak mau makan, Tuan, Nona! tolong kami". pinta Rio
"tolong kami tuan besar..! jika tidak percaya tuan muda boleh ikut dengan kami! ". sahut Jon melihat ke arah Satria dan Arya.
"tidak bisa...! Satria pagi-pagi buta harus ke negara D Papi, Satria udah ambil tiket jam penerbangan pagi". elak Satria.
"Eeh.. Satria harus susun koper dulu Pi.. permisi! ". Satria melarikan diri dari tempat itu.
"Hmm.. Arya harus tonton pertunjukan Randi malam ini Pi..! Arya permisi Pi". Arya melarikan diri meninggalkan situasi yang makin menegangkan di sekitar situ.
"Sayang? apa Papi harus ikut? ". tanya Dylan
"tidak perlu Pi..! Raka tidak akan melakukan apa-apa, Papi percaya sama Raya kan? ". tolak Raya dengan serius dan terlihat raut wajah Raya sedang khawatir.
Dylan menaikkan sebelah alisnya, tanpa diberitau tentu Dylan tau ada sesuatu dengan putri sulungnya itu.
"baiklah...! kamu harus kembali besok pagi dan yang antar kamu harus Raka sayang? Papi mau bicara empat mata dengannya! ". kata Dylan serius.
Raya melihat ke arah Jon dan Rio yang mengangguk seolah Raka akan baik-baik saja besok pagi hingga bisa mengantarkan Raya.
"iya Pi". sahut Raya
"terimakasih atas kemurahan hati anda tuan besar! ". ucap kedua orang setia Raka.
"hmm..! kalian membawanya dalam keadaan sehat, jadi kalian kembalikan dalam keadaan sehat, jika ada luka sedikit saja nyawa kalian taruhannya". ancam Dylan
"baik tuan besar..! akan kami ingat pesan anda". ucap Jon dan Rio segera bersimpuh satu kaki seperti seorang prajurit dapat tugas penting dari sang Jendral besar.
Dylan tersenyum tipis, dan Raya pun menyalami Papinya. Jon dan Rio pun ikut-ikutan menyalami Dylan seperti anak SD berebutan salaman dengan sang guru saat pulang sekolah.
Raya hanya menggeleng kepalanya, tapi tidak mengatakan apapun. Raya pun keluar Mansion Melviano di iringi 2 pria gagah sisi kiri dan kanan Raya.
"sepertinya mereka harus cepat dinikahkan". gumam Dylan tersenyum miring lalu berbalik berjalan memasuki Lift.
"gara-gara mereka aku tidak bisa bermesraan dengan istriku..! mengganggu saja". gerutu Dylan.
di dalam mobil tidak ada pembicaraan apapun, Raya diam memainkan ponselnya sedangkan Rio dan Jon fokus melihat jalanan juga situasi, mereka harus menjaga keselamatan Raya.
"ini mobil siapa? ". tanya Raya memecah keheningan.
"ini mobil samaran kami Nona..!". jawab Jon
__ADS_1
"samaran? ". beo Raya
Jon menjelaskan guna Mobil samaran itu bagi mereka.
"tapi kenapa aku baru lihat? ". gumam Raya
"tuan master memesannya demi keselamatan anda Nona, supaya tidak di ketahui musuh tuan master dan anda akan selalu aman Nona". sambung Rio.
Raya mengangguk lalu tersenyum tipis, "dia manis sekali ". batin Raya menahan diri untuk tidak tersenyum lebar.
.
.
setibanya di mansion Raka, Raya disambut oleh seluruh bawahan Raya tapi ditatap tajam oleh Jon dan Rio membuat mereka segera melarikan diri setelah memberi hormat.
Raya mendekati Bi Asih, "apa udah bibi siapkan untuk makan malamnya Raka bi? " tanya Raya
"tadi saya siapkan makan malam seperti biasa Nona tapi Tuan tidak mau membukakan pintu sampai makanannya dingin". jawab Bi Asih terlihat kecemasan diwajah wanita paruh baya itu.
"apa bibi bisa siapkan bubur sayur saja? ". tanya Raya
"baik Nona! ". balas bi Asih langsung bergerak menuju dapur meminta para Koki membuat bubur sayur pesanan Raya.
"apa kalian tidak punya kunci cadangan? ". tanya Raya melihat bawahan Raka satu persatu.
"tidak ada Nona..! hanya tuan master yang memegangnya". jawab Boy sedari tadi diam dibelakang Jon.
"benar Nona..! bahkan jika kami memiliki kunci cadangan, kami tidak bisa masuk jika tuan sendiri tidak memberi izin untuk masuk". sambung Rio.
Raya menghela nafas panjang, "entah apa yang kalian katakan pada dia sampai mengurung diri seperti itu". gerutu Raya melenggang pergi meninggalkan orang setia Raka itu.
Ketiga pria gagah itu saling pandang satu sama lain, akhirnya mereka mengetahui alasan master mereka mengurung diri, ternyata karna memberi tau Raka bahwa Raya diincar Morett.
di dapur.
Raya dilayani oleh Bi Asih saja, sedangkan Para Koki begitu sibuk membuatkan bubur sayur pesanan Raya,
"bagaimana Nona? ". tanya Bi Asih penasaran.
Raya tersenyum dan mengacungkan jempolnya, "Dessert kalian yang terbaik...! " pujinya dengan santai.
Raya bahkan tidak tau perkataan santainya itu membuat para Koki dan Bi Asih makin semangat bekerja malam ini.
"sudah siap Nona..! ". ucap Bi Asih membawa satu nampan berisi bubur sayur yang masih panas.
"eeh.. punya ku bagaimana bi? ". tanya Raya menunjuk Dessert miliknya.
"kami akan bawakan Nona..! " seru koki yang lain.
"kalian masak cepat sekali..! tidak bisa santai-santai apa? ". omel Raya dengan alis ditekuk masam mengelap tangannya dengan tisu.
__ADS_1
Bi Asih dan yang lainnya menahan tawa sekuat tenaga, Raya sangat menggemaskan..! mana ada majikan yang meminta bawahannya kerja lama-lama, malah kebalikannya.
.
.
Raya berjalan keluar Lift diikuti Bi Asih dan 2 Koki Mansion membawa nampan berisi bubur, buah dan jus segar untuk tuannya, sedangkan Bi Asih membawa nampan Dessert milik Raya.
tok.. tok.. tok...
" .....? "
"Raka..? ini Aku Raya..? ". Raya mengetuk-ngetuk pintu kamar Raka.
dalam beberapa detik pintu terbuka, Raya yang hendak mengetuk lagi tangannya pun mengudara sebab pintu kamar Raka telah terbuka.
deg...!!
Para Koki, dan beberapa pelayan yang mengintip merinding seketika saat Raya yang mengetuk pintu kamar Raka langsung di buka, sementara bi Asih, Jon, Roy, bahkan Boy dan dokter Jekky pun tidak dibuka walau mulut mereka sampai berbuih memanggil Raka.
"Raka..? kenapa kau lama sekali? apa kau mau ma..? Ehh..? ". Raya hendak mengomel namun Raka tiba-tiba memeluknya.
Raya menghela nafas panjang, ia mengelus punggung Raka. "aku datang..! kenapa sih? ". tanya Raya dengan lembut.
"aku takut sayang". ucap Raka dengan lemah.
Raya melepaskan pelukannya, ia ingin berbicara tapi terhenti melihat tangan Raka bersimbah darah.
"ini kenapa? ". tanya Raya dengan serius dan terlihat tidak suka melihat tangan Raka seperti itu.
"entah". jawab Raka kembali memeluk Raya.
"Raka..! lebih baik kamu makan...!" Raya berusaha melepaskan pelukannya dengan Raka dan membawa Raka masuk ke kamar Raka lagi,
Bi Asih dan kedua Koki pun segera masuk setelah diberi aba-aba oleh Raya, setelah mengantarkan makanan tanpa diusir mereka semua keluar dari kamar Raka yang berantakan.
Raya bangkit namun di tahan oleh Raka, "sebentar saja..! aku ambil obat untuk tanganmu". Raya mengelus rahang Raka.
Raya pun sibuk membuka laci mana saja yang menurutnya ada kotak P3K, Raya tertegun melihat lukisan besar dirinya di dinding kamar Raka.
"nanti saja tanyakan". Raya menggeleng kepalanya untuk melupakan perihal lukisan itu, ia menyibukkan diri mencari Kotak P3K.
.
.
.
sip...!! Wkwk.. nunggu esok bukan minggu depan, tapi besok... selamat beraktifitas...!!!
.
__ADS_1
.