
.
.
Raka mengantarkan Raya ke mansion Melviano disambut baik oleh keluarga Raya.
"abangg...! ". Alya melompat memeluk Raka layaknya seorang abang kandung saja.
Alya tidak mencintai Raka tapi menganggap Raka seperti abang kandungnya, Alya yang memang seorang gadis manja suka bermanja dengan Satria, Arya dan Papinya.
Raya sudah biasa melihat Alya yang begitu manja dengan temannya itu,
"iya dek..! ". sahut Raka terkekeh mengelus kepala Alya
sejak bergabung dengan keluarga Melviano, Raka merasakan yang namanya keluarga seperti punya ayah dan ibu serta punya Adik perempuan dan laki-laki. keluarga Melviano tidak seburuk yang dibayangkan, di luar sana Keluarga Melviano dikenal dingin dan pasti tidak asik pasti banyak intrik perebutan tahta di dalamnya, tapi saat ada yang mengalaminya masuk ke dalam keluarga itu akan berbeda, Keluarga Melviano sangat hangat layaknya keluarga sederhana. tidak ada perebutan kekuasaan di dalam keluarga hebat nan kaya raya itu.
"Tante...! om! ". Raka menyalami Dylan dan Shindy yang tersenyum.
Dylan hanya mengangguk dengan senyuman tipis sedangkan Shindy tersenyum manis akan kedatangan pria yang berhasil memasuki sedikit hati dingin putri sulungnya.
"dimana Satria dan Arya Tante? ". tanya Dylan
"oh.. biasalah.. Satria ada di gedung itu sedang melatih pengawal, dan Arya keluar sama Randi katanya mau melihat pertunjukan balap". jawab Shindy.
Raka mengangguk,
"abang beli apa buat Alya? ". tanya Alya dengan mata berbinar.
"dibawa masuk dulu tamunya sayang! ". usul Shindy.
Alya merangkul lengan Raka membawa masuk pria tampan itu, sedangkan yang lainnya mengekor dan Dita serta pak Jo sibuk mengurusi barang-barang Raya dan barang mereka juga di bantu beberapa pelayan mansion.
"mau makan malam disini Raka? ". tanya Shindy
"tidak usah mi..! dia punya banyak makanan dikasih oleh gadis-gadis di sana". Raya lah yang menjawab dengan nada sedikit menyindir.
Alya mengerjabkan matanya, Shindy dan Dylan saling pandang.
Raka menggaruk kepalanya yang tidak gatal, "apa kau marah padaku?". tanya Raka
"aku marah? tidak sama sekali! ". jawab Raya ketus
"itu artinya Kau marah..! ". jawab Raka
"tidak.." bela Raya
"katakan saja kau marah..! kau mau apa? aku buang semua makanan itu? ". tanya Raka
"untuk apa dibuang? ". tanya Raya dengan alis menyatu
__ADS_1
"biar kau tidak marah lagi". jelas Raka
"aku tidak marah". elak Raya dengan mata melotot
"terus kenapa bicaramu seperti itu? aku kan sudah bilang tidak mungkin memukul gadis-gadis itu mendekat padaku..! apa aku minta mereka memberiku makanan? aku sama sekali tidak merespon mereka! tapi mereka tetap saja melakukan itu". ujar Raka
"hah? tidak merespon? aku sampai tidak sarapan karna gadis-gadis desa itu, kau bilang tidak merespon? aku lihat kau tampak menikmatinya? ". desis Raya dengan berkacak pinggang
"kapan aku menikmatinya Raya? aku tidak bisa bergerak saja di tengah-tengah mereka, terlebih lagi bibi penjual nasi goreng itu sengaja melama-lamakan masakannya". bela Raka
"aku bilang mau makan buaya itu tapi kau mencegahku". Raya masih terpancing.
"Raya...! buaya itu bukan makananmu." ucap Raka dengan sabar
"bodo amat..! kau makan saja semua milik mereka dan jadi bab* ! aku menantikan itu". Raya bangkit dan memukul kesal bahu Raya dan segera berlari memasuki lift
Raka menghela nafas panjang,
krik.. krik..
Raka menyadari masih ada Alya yang terbelalak dengan raut wajah tak percaya sedangkan Shindy matanya melebar lucu dan Dylan bersidakap dada menatap tenang Raka tapi makna nya minta penjelasan.
"apa kak Raya cemburu bang? ". tanya Alya dengan polos
"kenapa Alya bisa berpikir begitu? ". tanya Raka balik
"biasanya Papi begitu ngomel-ngomel sendiri sama Mami kalau udah kesenggol pria lain". jawab Alya
"jelaskan...! ". titah Dylan dengan tegas membuat Raka menghela nafas pasrah.
Raka menceritakan apa yang terjadi dengan dirinya juga Raya dikota Y, tapi Raka tidak menceritakan dirinya melihat penampilan asli Raya juga membawa kabur Raya di malam hari.
"astagah...! Raya itu cemburu Raka". gemas Shindy
"hahaha...! kak Raya lucu sekali sedang cemburu". Alya tertawa terbahak-bahak membayangkan kakak perempuannya mengomel dan marah seperti tadi di kota Y.
"kalau Raya mendiami mu artinya sangat membekas di hatinya, hati-hati kedepannya..! jangan sampai kau mengulangi kesalahan yang sama! usir kasar saja para gadis-gadis gatal itu". Dylan memberi peringatan pada Raka
"baik Om". jawab Raka
.
.
Raka pun pergi dari mansion Melviano, Alya pun tertawa memeluk Papinya dengan manja, disisi lain Dylan ada Shindy yang di rangkul mesra oleh Dylan.
"kak Raya cinta sama bang Raka ya pi? ". tebak Alya dengan mata berbinar senang akhirnya Raka benar jadi abang iparnya.
"mungkin saja". jawab Dylan tersenyum tipis.
__ADS_1
"terlalu cepat dikatakan Cinta! mungkin Raya masih suka dengan Raka". Shindy menyahut.
"Alya nggak sabar memamerkan bang Raka sama teman-teman kampus Alya". gumam Alya lalu memekik persekian detiknya.
"memang kenapa sayang? ". tanya Shindy
"Alya punya teman dekat Mi..! dan dia sangat ngefans sama abang-abang Alya yang sangat tampan apalagi abang ipar? uufft... bahkan beberapa minggu lagi dia ulang tahun dan keinginannya hanya 1 ucapan selamat ulang tahun dari abang ipar". jelas Alya dengan heboh
Shindy dan Dylan saling pandang lalu menggeleng kepalanya dengan gemas, Dylan tau latar belakang setiap teman Alya jadi tidak keberatan sama sekali. Alya yang memang Royal berteman.
.
Raka di mansionnya disambut oleh bawahannya,
"kalian makanlah itu". tunjuk Raka dengan ekor matanya melihat banyaknya makanan di belakang mobil Raka
tentu mereka berbondong-bondong memperebutkan makanan gratis itu, Jon dan Rio mengikuti Raka berjalan masuk Lift.
"berita apa? ". tanya Raka dengan datar
"Rubah betina sudah dalam genggaman kita tuan..! perlahan orang kita telah meracuninya". jawab Rio
"hmmm... beri racun itu sebanyak mungkin dan sesering mungkin, aku ingin dia cepat mati supaya tidak lagi membuat masalah". ujar Raka
"baik tuan". jawab Rio tanpa berani berbicara sebab Raka mengeluarkan aura dingin yang artinya Mood nya tidak baik membahas wanita itu.
"kau Jon? masalah apa dengan Wanita ular itu? ". tanya Raka
"dia benar-benar jadi jal*ng tuan..! seperti ibunya". jawab Jon
Raka tersenyum sinis, "baiklah..! biarkan dia bersenang-senang dengan pekerjaannya itu hmmm... setelah itu kau hancurkan dia dengan menyebarkan adegan **** nya ke publik".
"baik tuan". jawab Jon
"sekarang aku ingin sendiri...! jangan ada yang berani menggangguku! ". Raka keluar dari Lift meninggalkan kedua bawahannya yang tak bergerak sedikitpun lalu Lift pun tertutup.
.
.
Raka mandi dibawah pancuran shower, ia menikmati air yang menghujani kepalanya menjadi dingin dan menyegarkan.
"Raya cemburu? ". gumam Raka dengan kedua sudut bibirnya tertarik ke atas.
bayangan Raya yang tersenyum dan tertawa padanya selama berada di kota Y membuat bibirnya melengkung sempurna, sesekali ia tertawa sendiri mengingat akan hari-hari yang ia lalui bersama Raya.
"di hari pesta topeng nanti di negara M, aku akan mengungkapkan perasaanku padanya". gumam Raka penuh tekat.
.
__ADS_1
.
.