
.
.
Alya pura-pura tak melihat Al, biarlah waktu yang membuktikan bahwa pria yang berada di dalam Lift bersamanya kini memanglah Pria yang akan tulus mencintainya sampai tua nanti.
Alya tidak akan pernah mempermasalahkan masa lalu Pria kelima jika dia memang yang terbaik untuk Alya, Alya percaya pasti ada sebab mengapa seseorang bisa menjadi nakal dan jahat.
Al melirik ke arah Alya, "kenapa? kenapa aku bisa jatuh cinta padanya melihat wajahnya di malam itu? kenapa aku tidak bisa berpikiran kotor padanya? apa karna dia sangat berbeda". batin Al.
"Al dan Alya". gumam Al pelan lalu menyunggingkan senyum tampannya.
Alya menoleh ke Al, "apa yang kau bilang? ". tanya Alya pura-pura tidak dengar apa yang Al katakan.
"aah.. tidak.. siapa Veer bagimu? apa dia mantanmu? ". tanya Al to the Point.
"bukan". jawab Alya lalu membekap mulutnya seketika
Al melangkah ke arah Alya tapi masih jarak aman, Al adalah pria ranj*ng selalu menatap wanita dengan pandangan nakal tapi mengapa dengan Alya berbeda.
"kenapa aku harus menjawab pertanyaanmu? ". tanya Alya dengan galak menatap tajam ke Al.
Al tersenyum, "mungkin karna terhipnotis dengan ketampananku".
Alya melebarkan matanya menatap tak percaya pria di sampingnya ini adalah Pria yang sangat narsis dan cukup aneh.
Alya segera keluar dari Lift saat sudah tiba di lantai teratas,
"Eeh..? ". Al mengikuti Alya
Alya berbalik menatap tajam Al yang tengah menggaruk tengkuknya tertangkap basah oleh Alya karna berani mengikuti Alya seorang putri bungsu Melviano.
"kamu tidak perlu menganggapku ada.. anggap saja aku ini patung atau kodok". ucap Al dengan senyuman.
Alya mengerutkan keningnya lalu berbalik, saat membelakangi Al bibir Alya berkedut ingin tertawa, Pria setampan Al dianggap patung atau Kodok? sungguh lucu sekali begitulah pikiran Alya tapi dirinya harus jaga image sebagai gadis mahal yang tidak bisa di rendahkan oleh pria manapun termasuk Al.
Alya memasuki tangga menuju Rooftop sedangkan Al terus mengikuti Alya berniat hanya menemani Alya saja tidak lebih.
Alya menarik nafas menatap pemandangan di depannya, Al terkejut melihat pemandangan indah itu apalagi rembulan malam saat ini begitu bulat cantik nan memukau.
"ckkk...! ". Alya berdecak kesal saat Al menabraknya.
"ehh.. Maaf.. maaf". cengir Al melangkah mundur.
Al tadinya melongoh melihat pemandangan itu dan tak melihat ke depan hingga dirinya menabrak Alya yang berhenti didepannya.
"sana pergi...!! ". usir Alya dengan galak.
Al melangkah mundur saja tidak pergi dari sana, ia menatap langit.
__ADS_1
Alya menghela nafas, dari tatapan Al saja sudah bisa Alya tebak bahwa pria itu tidak pernah melihat rembulan malam yang bulan sempurna seperti saat ini.
Alya duduk dengan raut wajah murung, Alya sedang memikirkan masalah yang menimpanya saat ini.
"bagaimana caranya mengusir Veer? aku sudah lelah berkata kasar dan dingin padanya, dia seperti tidak punya rasa malu sama sekali". batin Alya
Al melihat ke arah Alya yang termenung, Al mendekat lalu meletakkan jas nya ke tubuh Alya.
Alya melirik ke arah Al yang duduk disampingnya, "jangan ganggu aku kodok".
"aeeeh? ". Al kaget di sebut kodok.
"bisa tidak kau pergi saja? aku ingin menangis". usir Alya dengan serius.
"kenapa? aku akan berada disini untuk menjagamu". Al gigih tak ingin pergi dari Alya.
Al merasa tidak sanggup melihat wajah murung Alya, entah apa yang di pikirkan Alya yang pasti hal yang tidak menyenangkan hingga gadis galak yang tadi Al lihat berubah seperti kucing rapuh yang butuh perhatian.
Alya melihat arah lain, ia melepaskan jas yang membungkus tubuhnya, Al dengan cekatan memasangkannya kembali dan Alya menjatuhkannya lagi.
Alya dan Al tidak berbicara sama sekali, Alya yang tidak mau menerima kebaikan Al tapi Al bersikeras menutupi tubuh Alya supaya tetap hangat.
"aku tidak pernah melihat rembulan secantik malam ini, aku merasa kamu lebih cantik dari rembulan ini". Al tersenyum ke arah Alya.
Alya mengabaikannya saja, ia membelakangi Al dan menangis seketika tanpa mengeluarkan suara.
Alya tidak memilih pria yang sempurna untuknya tapi hanya ingin Pria yang mencintainya selamanya, apa Alya salah percaya pada ramalan Alice? Kata-kata Alice sangat dipercaya oleh Alya, Alya ingin hidup bahagia seperti kakak perempuannya yang mendapatkan hati Pria baik dan tulus mencintainya hingga tua nanti.
"kamu menangis? ". tanya Al hendak membelai kepala Alya tapi tergantung.
Al hanya diam di belakang Alya, benar-benar seperti patung tidak bisa menghibur Alya, Al mengeluarkan ponselnya banyak panggilan masuk dari wanita-wanita bayarannya.
Al memang pria yang jahat tapi bagaimanapun jahatnya seorang Pria pasti menginginkan gadis baik-baik untuk menjadi pendampingnya, untuk pertama kalinya Al merasa tidak mengingat kesenangannya itu, ia malah senang menjadi patung di samping Alya dibanding melayani wanita-wanita matre di luar sana.
.
"kau? ". Alya berbalik ke Al yang tampak terkejut karna Alya berbalik secara tiba-tiba.
"kenapa kau disini? apa kau mau mati ditanganku? ". tanya Alya dengan galak.
"cantik-cantik kok galak sih". Al mengelus dada menatap Alya dengan senyuman.
"kau? ". Alya memukul kepala Al hingga makin kaget saja pria tampan itu.
"aawh.. kamu memukulku cantik? ". tanya Al tak percaya.
"aku sudah mengusirmu dari tadi kenapa tetap disini? kau anggap aku apa? sana pergi...!! ". ketus Alya dengan garangnya.
Al cengir kuda, "mau ini? ".
__ADS_1
Alya mengerutkan keningnya melihat bungkus kecil yang di keluarkan Al dari saku kemejanya.
"apa itu? ". tanya Alya penasaran.
"Basreng". jawab Al membukakannya lalu memberikannya pada Alya.
Alya dengan ragu-ragu melihatnya
"aku tidak memasukkan apapun". Al mengambil satu basreng dan memakannya didepan Alya.
Alya melihat Al baik-baik saja pun dengan cepat merampas makanan yang dikenal sebagai makanan khas pulau jawa itu, Al membelinya saat di indonesia bukan di negara mereka kini.
Alya tidak pernah memakannya tapi penasaran juga rasa Basreng itu.
"waah.. enak juga! kau beli dimana? ". tanya Alya berbinar seketika seperti anak kecil.
"di jalanan sebelum menuju bandara ada anak kecil menjualnya jadi aku beli semua dagangannya". jawab Al merasa paling manusia paling berguna bisa membuat mood gadis cantik disampingnya berubah.
Alya terdiam menatap basrengnya kini, ia tidak menyangka Al memang punya sisi baik
jujur saja Alya berharap kalau Al memang pria kelima yang dimaksud Alice untuknya, tidak peduli masa lalu Al yang penting Alya bisa bahagia untuk kedepannya.
"oh ya? mana lebihnya? ". tanya Alya melihat saku baju Al yang terlihat tidak ada lagi snack itu.
"di mobil". jawab Al.
"aku tidak tau ada snack rasanya akan seenak ini". gumam Alya ketagihan.
.
.
"terimakasih! ". ucap Alya dengan malu melihat arah lain menerima semua makanan ringan yang diberikan Al untuknya.
"sama-sama". balas Al sambil tersenyum menatap Alya.
"ayo kembali ke acara! ". ajak Al
Alya mengangguk memeluk semua makanan ringannya.
.
.
hehe.. ralat... wkwk..
.
.
__ADS_1