
.
.
Raya mengobati tangan Raka dengan telaten, sementara Raka terus saja menatap Raya dengan sendu.
"sayang? ". panggil Raka dengan nada lirih.
Raya mengangkat pandangannya dan mata birunya bersitatap dengan mata hitam-kecoklatan Raka,
"nanti kamu bisa jelaskan Raka..! makan dulu ya? kamu harus sehat besok pagi, karna Papiku ingin kamu yang mengantarku besok! dia ingin bicara 3 mata denganmu". canda Raya dengan senyuman miringnya seolah mencoba menghibur Raka.
benar saja Raka menerbitkan senyum tipisnya, "3 mata? apa papimu punya 1 mata? ".
"punya 2 mata..! cuma Raka Mahawira seorang Presdir New R Group memiliki 1 mata". jawab Raya membuat Raka gemas mencubit pipi Raya.
Raya bisa merasakan Raka sedang lemas saat ini, entah apa yang membebani pikiran Raka hingga bisa mengurung diri seperti hari ini, Raya tidak tau kalau Raka mengetahui masalah Morett terhadapnya.
"ayo makan..! apa bayi besarku ini perlu disuapkan? ". tanya Raya membuat Raka mengangguk-ngangguk.
Raya mengambil mangkuk bubur sayur yang masih panas, Raya menghembusnya dengan hati-hati bahkan mencicipnya sejenak seolah menguji panas atau tidaknya, Raka terkejut melihatnya, tapi perlakuan kecil Raya yang seperti itu malah membuat jantungnya Raka berdebar kencang.
Raya dengan sabar merawat Raka, sesekali Raka memeluk Raya dengan manjanya seperti bocah kecil tapi Raya benar-benar berubah peran menjadi seorang Ibu bagi Raka malam ini.
"sayang? ". Raka seolah protes saat Raya hendak membenahi kamarnya yang berantakan.
"ini tidak akan lama". ujar Raya
Raka menggeleng, "duduk dan aku yang akan bereskan, aku sudah punya tenaga untuk beres-beres kamar".
Raya diam mendengarkan perkataan Raka, bibir Raya tertarik ke atas dengan sempurna melihat Raka begitu serius membenahi kamar yang tadinya berantakan.
.
.
"kenapa bergerak coba? kan aku bilang duduk aja tadi..! kamu kan belum sembuh Raka". Raya akhirnya mengeluarkan suara sejak tadi berusaha diam melihat Raka berbenah sebab Raka tak tega melihat Raya bekerja.
"kamu adalah ratuku sayang..! saat aku kamu menikah denganku kamu tidak boleh bekerja seperti membereskan kamar yang sudah aku berantakin sayang..! kamu hanya tinggal memerintah suamimu ini untuk melakukannya". kata Raka sempoyongan berjalan ke arah Raya.
Raya sampai berlari kecil ke Raka dan menangkap tubuh Raka yang kini langsung melingkarkan kedua lengan kekar Raka di pinggang Raya.
"lalu aku sebagai istrimu? apa kerjaanku? ". tanya Raya memancing.
__ADS_1
dengan mata terpejam Raka berbicara, "kerjamu hanya melayaniku, mengandung anakku..! mengganti popok dan segalanya biar aku sayang..! aku bisa membesarkan anak kita dengan baik, kamu boleh melakukan apapun bahkan menghabiskan uangku juga boleh".
Raya mengerutkan keningnya, "bagaimana jika aku selingkuh? ". pancing Raya.
"aku akan jauhkan selingkuhanmu itu". racau Raka tidak sadar.
"kau tidak membunuhku? ". tanya Raya
"tidak sayang..! aku tau kamu tidak akan selingkuh, keluarga Melviano tidak pernah terkena skandal berselingkuh. kata orang buah jatuh tidak jauh dari pohonnya jadi aku yakin sifatmu tidak akan berbeda jauh dengan orangtuamu yang bersih dari skandal".
Raya tersenyum mendengar penjelasan Raka yang terputus-putus tapi masih bisa Raya mengerti, perlahan Raya membawa Raka ke ranjang dan merebahkannya dengan hati-hati, Raya cukup kuat menahan tubuh Raka.
ke esokan paginya.
Raya telah membersihkan diri di kamar mandi Raka saat pria yang telah menjadi kekasihnya itu masih tertidur pulas, kini Raya telah berpakaian baru. pakaian itu Raya dapatkan dari bi Asih yang seperti biasa telah menunggu di luar kamar Raka.
"sayang? ". gumam Raka pelan perlahan membuka matanya.
Raka mengedarkan pandangannya dan melihat Raya tengah serius menatap lukisan besar dengan tatapan lucunya itu. entah mengapa Raka bisa tau Raya sedang kebingungan melihat lukisan besar itu.
"sayang? ". Raka memeluk Raya dari belakang.
"hmm! ini lukisan siapa? ". tanya Raya menunjuk lukisan besar di dinding kamar Raka.
Raya tau ada Raka dibelakangnya sebab melihat Raka lewat pantulan kaca lukisan besar yang ditatapnya kini.
"tapi kenapa lukisanku begini? aku tidak suka". protes Raya membuat Raka terkekeh gemas.
walau Raya tidak tau pose Raya di dalam lukisan itu, tapi Raya tau didalam lukisan itu Raya memakai baju SMA, di lukisan itu Raya terlihat norak tidak seperti penampilannya saat ini lebih kekinian.
.
.
Raya tersenyum tipis melihat lukisan kecil diberikan Raka untuknya, Raka kini telah sehat dan mengantarkan Raya dengan mobil samarannya.
"aku baru tau kamu jago melukis Raka..! benar-benar hidup! apa kuliahmu bagian seni? ". tanya Raya penasaran.
Raka menggeleng, "sejak kecil hobyku memang melukis, aku tidak sekolah seperti orang biasa, sekolahku keras mengajarkanku untuk bisa membunuh dan bersiasat".
Raya jadi malu bertanya, ia merasa bersalah telah menyinggung Raka.
"maaf..! ". cicit Raya
__ADS_1
"kenapa minta maaf..? ". tanya Raka mengelus kepala Raya dengan penuh kasih.
Raya tersenyum, "terimakasih lukisan nya..! aku akan letakkan di dinding kamarku".
Raka menggenggam tangan Raya dan mengecupnya mesra, "aku ingin cepat menikah denganmu".
Raya melebarkan matanya, "untuk apa menikah cepat? aku tidak mau dikekang Raka..! aku tau kamu mencintaiku tapi aku masih ingin bekerja, bertemu saudaraku, aku juga belum siap jadi seorang istri".
"aku ingin menikah cepat denganmu bukan karna aku ingin cepat punya anak sayang..! aku hanya tidak bisa jauh darimu, lagian kita biasa berteman kan? aku bisa menahan diri.. cukup biarkan aku memelukmu, menciummu, dan melihat rambut indahmu setiap malam". Raka menyahut
Raya membeku, pipinya mulai merona. Raka sering mengatakan kalau Raka itu bukan pria romantis tapi mengapa kata-kata Raka begitu profesional hingga Raya yang dingin meleleh mendengarnya.
"bagaimana kamu sayang? diluar sana biasanya pria yang berpikiran kotor, tapi saat ini kenapa kamu yang berpikiran kotor sayang? ". gemas Raka mengecup punggung tangan Raya berkali-kali.
Raya yang malu mengalihkan pandangannya ke arah lain, dirinya merutuki diri. apa salah jika Raya berpikir seperti itu sebab pria manapun minta menikah dengan cepat pasti ingin cepat dapat momongan.
.
.
di mansion Melviano.
Raya menjatuhkan rahangnya seketika saat Dylan mengatakan ingin Raka dan Raya menikah dengan cepat.
"tapi papi? ". protes Raya
"papi ingin kalian menikah sah dimata agama dan hukum saja, papi sama mami tidak minta kalian untuk menggelar pesta besar". kata Dylan
"mami setuju usulan papimu sayang..! lagian kalau kalian menikah bisa bebas pergi berdua kemana aja, walau sudah menikah kami tidak memaksa kalian untuk tinggal satu atap. mami hanya ingin kalian terikat saja satu sama lain". sambung Shindy.
"kami bisa bertunangan mami". bela Raya
"tidak ada alasan sayang..! mami dan papi tidak berpacaran tapi kami menikah juga karna di grebek padahal kami tidak melakukan apapun. sekarang papi tidak mau anak Papi pacaran lama-lama kalau cocok langsung menikah". Dylan
"sayang..? apa kamu tidak mau menikah denganku? ". tanya Raka membuat Raya mematung.
"katakan saja sayang..! aku akan menundanya jika kamu memang belum siap". sambung Raka lagi dengan lembut.
Dylan bersidakap dada. Dylan sudah mencari tau data diri Raka dan ia baru mengetahui Raka adalah pria yang selama ini diam-diam mengawasi serta melindungi Raya.
Shindy saja gemas mendengar Raka bertanya seperti itu. pria pengertian.
.
__ADS_1
.
.