
.
.
Siang harinya
Arya membawa Nia ke Mansion Melviano karna hari ini adalah hari kepulangan Al dari pelatihannya bersama Pasha, Dylan, Randy dan Alvan.
"T.. tuan? ". sapa Nia ragu-ragu
"hmnm.. bicara formal lagi aku akan membunuh kakakmu". ancam Arya
Nia terdiam sesaat lalu menarik nafas dalam-dalam.
"tidak Tuan,, S.. eh.. Aku tidak bicara formal". jawab Nia
"hmm.. katakan! ". titah Arya
"boleh aku ke tempat kos'an aku Tuan? sebentar saja Tuan, ak.. aku harus mengambil sesuatu". Nia
"tidak perlu..! semua barang-barangmu yang ada di tempat kos'an mu itu sudah aku pindahkan". jawab Arya
"hah? dimana letaknya Tuan? ". tanya Nia
"oh.. di penyimpanan Lobi Apartemen". jawab Arya
Nia tidak berkata-kata lagi hanya bisa diam tampak berpikir
"tidak ada yang kurang sedikitpun..! Ayu yang aku suruh memindahkan barang-barangmu tenang saja". Arya menekan kepala Nia
Nia tersenyum malu karna ketahuan oleh Arya dirinya sedang berpikir dalam*nnya disentuh oleh lelaki
"Tuan..? ini? ". Nia kaget Arya malah masuk ke Area Rumah Sakit.
"Papa dan mamamu tidak ingat lagi? ". tanya Arya
Nia membeku, ia bukannya tidak ingat dengan keluarganya tapi bersama Arya membuatnya takut berbicara untuk sekedar menjenguk orangtuanya, akhir-akhir ini Nia selalu bersama Arya dan keluarga Arya.
"tidak apa..! besok aku belikan mobil untukmu". kata Arya dengan santainya
"hah? mobil? ". beo Nia dengan mata melotot
"kenapa? tidak mau mobil baru? ". tanya Arya
"t. tidak usah beli mobil Tuan, tidak usah". elak Nia menggeleng-geleng kepalanya
"baiklah nanti aku berikan mobilku yang lain tidak baru". pasrah Arya
"mobil yang lain? ". beo Nia
Arya terkekeh dengan kepolosan Nia, "apa kamu tidak tau gedung Apartemen itu milik keluargaku? tempat parkiran mobilku ini ada berapa mobil yang kamu lihat? ".
__ADS_1
Nia tampak mengingat pun menjawab, "9 ".
"hmm... 3 mobil balap dan lebihnya mobil biasa". jawab Arya dengan enteng
Nia mengerutkan keningnya, "mobil biasa? ".
Arya terkekeh geli melihat ekspresi Nia, Nia tentu ingat mobil yang terparkir di area tempat parkiran mobil Arya ini adalah mobil Langka yang hanya di buat oleh Perusahaan besar dengan hitungan jari saja bagaimana bisa disebut mobil biasa.
"ayo turun..! " Ajak Arya membuyarkan lamunan Nia
Nia pun masuk ke Rumah Sakit beriringan dengan Arya, Nia merasa jadi tontonan saat ini karna berjalan bersama Arya.
diam-diam Nia melihat ke arah Arya, "T. tuan? "
"lihatlah jalan..! tuanmu memang luar biasa jadi tidak usah bingung jadi pusat perhatian". Arya mengelus kepala Nia
Nia kaget saat mendengar jeritan heboh dibelakangnya saat Arya mengelus kepalanya.
"abaikan saja..! ". Arya menggenggam tangan Nia menariknya untuk cepat meninggalkan keramaian itu.
Nia melihat tangannya yang menyatu mesra bersama tangan Arya, memang bukan pertama kalinya Nia digenggam oleh Arya tapi tetap saja Nia berdebar setiap kali bersentuhan dengan tangan Arya.
sesampainya di ruang Inap Bio, Bio terduduk seketika saat pintu di ketuk Nia dan Aryalah tamu nya.
"Nia? kamu datang nak? ". tanya Wendy tersenyum meletakkan kembali bubur untuk Bio.
Nia berjalan mendekati Bio, "bagaimana keadaan Papa? ".
"mana kakak ma? ". tanya Nia celingukan
Arya menghela nafas mendengarnya, terbuat dari apa hati Nia hingga masih mencari wanita berhati iblis itu.
"tadi dia marah-marah terus keluar pergi entah kemana". jawab Wendy
Arya bersidakap dada memperhatikan situasi yang kikuk dan canggung diantara mereka.
"aku membawa Nia kesini ada alasan". Arya mendekati Bio yang terlihat ketakutan dan gelisah.
Arya berbicara dengan serius dan terlihat datar dan dingin namun aura ancaman memenuhi ruangan inap Bio.
"apa kalian marah pada Nia? bukan Nia yang menghasutku untuk menyebarkan foto-foto itu, bukankah aku sudah mengancamnya di depan kalian, tapi sepertinya dia tidak takut dengan ancamanku, anak kalian itu masih berani menyentuh Nia, atas dasar apa dia berani memaksa Nia, menjambak rambutnya, menamparnya bahkan membuat tangan Nia memar, aku tidak bisa tinggal diam..".
"kalian terlalu memanjakannya hingga berani berbuat seperti itu, jangan salahkan Nia jika aku bertindak ! Nia milikku tidak ada satupun orang yang berani menarik sehelai rambutnya, jika bukan karna Nia membelanya aku sudah meminta bantuan pada rekanku untuk membotakkan rambut anak kalian itu".
glek...!
"..tidak ada orang yang berani menyentuh milik anda Tuan, kami tidak tau apa-apa kalau Tia berani berbuat seperti itu dibelakang anda padahal dia tau Nia adalah milik anda". Bio berbicara dengan nada terputus-putus.
"iya Tuan.. kami tidak menyalahkan Nia". Wendy
Nia melihat ke arah Arya dengan mata mengerjab-ngerjab lucu,
__ADS_1
"Tuan? ". cicit Nia
Arya merangkul bahu Nia dan mengecup kening Nia, "kelinciku tidak boleh terluka, aku bahkan tidak pernah melukaimu, Kamu milikku tidak boleh disakiti oleh siapapun..! bahkan keluargaku saja menyayangimu kenapa ada orang lain yang berani menyakitimu? aku bahkan merawatmu saat sakit karna apa.. ... ?".
"tidak tau Tuan". jawab Nia tergagap
"karna aku tidak suka kelinciku sakit aku suka kelinciku aktif dan melompat-lompat". jawab Arya mengelus kepala Nia sambil tersenyum miring.
perlakuan Arya pada Nia membuat Bio dan Wendy mengerti, Arya menganggap Nia sebagai harta berharganya tentu saja tidak ada yang boleh menyakitinya termasuk saudara Nia sendiri (Tia) itulah arti ancaman kata-kata Arya.
Nia berkaca-kaca mendengarnya, ia memeluk Arya dari samping.
Arya terkekeh, "cengeng sekali kelinciku seekor ini".
Nia tidak berbicara sama sekali, "apa aku akan terus menjadi Kelinci Tuan? apa Tuan akan meninggalkanku jika Tuan sudah menikah dengan perempuan lain? ". batin Nia bertanya-tanya
Nia benar-benar berpikir Arya hanya menganggapnya peliharaan tidak pernah terbesit di pikirannya Arya memandangnya sebagai lawan jenis.
peliharaan dimana-mana pasti disayang, dikasihi, dicintai oleh tuannya, dicium dan dibelai tapi tidak untuk dinikahi itulah makna Peliharaan dalam pikiran Nia.
Bio dan Wendy saling melirik satu sama lain, suasana mereka saat ini memang romantis tapi mengapa hawa ancaman Arya masih terasa oleh mereka.
.
"kapan Papa pulangnya? ". tanya Nia
"Papa dengar Mama menjual rumah untuk biaya operasi Papa, kami akan keluar nanti sore dan mungkin harus cari kontrakan terlebih dahulu dengan sisa uang yang ada". Bio kini sudah bisa berbicara pada Nia tidak lagi tergugu-gagap.
"maaf ya Pa..! Nia tidak punya tabungan yang cukup, Nia terlalu banyak hutang padahal sudah hemat-hemat tapi baru-baru ini Nia sudah bisa melunasi hutang-hutang Nia, jadi....? " Nia mengeluarkan uang dari dompetnya dari dalam tas.
Bio melongoh bodoh
Arya tidak melarang apa yang Nia lakukan, ia menonton saja perlakuan tulus Nia terhadap kedua orangtua Nia yang bodoh itu.
Wendy menolak uang pemberian Nia.
"ini uang gaji terakhir Nia Ma.. tidak banyak tapi setidaknya cukup untuk cari kontrakan yang lumayan besar dengan isi 2 atau 3 kamar". Nia
Arya mengangkat panggilan telfonnya dan menjauhkan ponselnya seketika mendengar pekikan Alya yang tak kunjung membawa Nia ke Mansion Melviano.
"iya dek.. iya.. Kakak iparmu sedang bersama orangtuanya di Rumah Sakit". jawab Arya dengan nada malas.
"kakak ipar? ". batin Bio
perkataan Arya itu membuat Bio berkeringat dingin, ia melihat ke arah Nia, Nia yang selama ini menderita akhirnya memanen buah manis yang tidak ternilai harganya yaitu memiliki Arya bahkan Keluarga Arya mengakui Nia.
.
.
.
__ADS_1