
.
.
"abang...! ". protes Raya saat bibir Raka mulai agresif di lehernya.
"uughh...! ". Raya mendesah pelan mulai menikmati perlakuan lembut Raka dalam memuja lehernya.
mengecup, mencium, menjilati, menyesap dan terakhir memberi jejak di leher Raya.
"maaf sayang..! aku terlalu senang". ucap Raka dengan nada berat menyandarkan keningnya di bahu Raya.
Raya tersenyum tipis mengusap punggung Raka, "tidak apa bang..! ". balas Raya
Raka menegakkan kepalanya dan menatap lekat istrinya.
"aku berusaha untuk sabar tapi...? ". jelas Raka tergantung saat Raya menggeleng-geleng kepalanya.
"abang adalah pria tersabar bagiku, kita sudah menikah hampir 2 bulan tapi abang tidak pernah melakukan hal lain, abang bilang akan menungguku siap kan? ". Raya mengusap rahang Raka.
"aku milik abang sepenuhnya jiwa ragaku milikmu bang, abang berhak atas tubuhku tapi 1 pintaku hubungan suami istri di lakukan saat berbulan madu, aku memang sering keluar negri bersama keluargaku tapi aku ingin bersama abang. apa permintaanku terlalu berlebihan? ". tanya Raya
"kamu sama sekali tidak berlebihan sayang, tidak berlebihan ! aku mencintaimu dan yang kamu minta bukan hal yang tidak wajar, aku memang ingin membawamu berbulan madu tapi aku tidak mau merusak kesenanganmu yang masih ingin bebas". jelas Raka menangkup pipi Raya.
"kalau begitu aku bisa bebas walau sudah berbulan madu dengan abang, selama aku belum mengandung aku bisa bekerja seperti biasa kan? ". tanya Raya
Raka mengangguk lalu menciumi seluruh wajah Raya yang tersenyum lebar sambil memejamkan matanya.
dikamar Raka dan Raya hanya ada keromantisan sementara di kamar Dita dan Jon hanya keributan dan pertengkaran tiada henti.
sesampainya di pelabuhan negara kelahirannya, mereka disambut oleh Boy.
"Tuan.. Nona? ". hormat Boy
Raka dan Raya mengangguk menghargai itu, Boy memperhatikan tubuh Raka seolah mencari luka di sana.
"tidak ada..! aku baik-baik saja berkat istriku ini". jawab Raka seolah tau pikiran Boy.
Boy beralih ke Raya dengan tatapan terkejut, persekian detiknya ia menggeleng kepalanya menghilangkan pikiran nya yang merasa Raya seperti Pria padahal Boy tau Raya adalah tuan putri Melviano yang artinya sudah tau memiliki kelebihan yang tidak terduga, darah Mafia masih ada mengalir di tubuh Raya.
"tuan..? ". Boy memberi hormat juga pada Jon
"Boy.. bisa kau bawakan koper kami? lenganku sakit tidak bisa membawa kopernya yang seberat batu akik". pinta Jon
"lengan? ". beo Raka dan Raya hanya menoleh ke Jon.
"baik tuan". balas Boy langsung masuk ke dalam kapal.
"kau terluka? ". tanya Raka dengan serius.
"iya sedikit tuan, saat saya meloncat ke daratan saya nyebur ke air dan tidak sengaja terkena ranting pohon". jelas Jon
"apa lukanya sudah di obati? ". tanya Raya
__ADS_1
"tidak nona..! saya berpikir sakitnya tidak terlalu parah tapi saat Dita memukul lengan saya rasa sakit ini bertambah parah". jawab Jon dengan serius.
Dita melebarkan matanya tak percaya
"Dita..? kenapa tidak diobati lengan orang? kenapa kau malah menambah rasa sakitnya? ". omel Raya tak percaya Dita akan bertindak sejauh itu.
"Nona salah dia sendiri, saya bertanya apa lukanya sakit? dianya malah jawab lebih senang terluka seperti itu dari pada ditempelin cicak seperti saya. saya marah jadi saya tambah aja lukanya itu katanya dia senang". jelas Dita dengan mata melotot ganas ke arah Jon.
Raka dan Raya menggeleng kepala,
"kenapa kau bilang dia cicak Jon? apa kau senang disebut cicak hah? ". tanya Raka juga tak habis fikir akan perkataan Jon yang ternyata kejam juga.
"sekarang hukumanmu harus mengobati luka Jon Dita, kamu harus buat lengannya sembuh total baru bisa kembali melindungiku". ucap Raya.
"Nona..? ". protes Dita dan segera menunduk melihat tatapan serius Raya.
"kau jangan berbicara dengan Dita Jon.. kau harus bisa menahan mulutmu supaya tidak berkata kejam yang membuat Dita terluka, kau melukai hatinya. sakit hati perempuan akan mendatangkan bencana untuk kaum pria." peringatan Raka.
Raka membawa pergi Raya memasuki mobil mewahnya yang sudah dibawa oleh anak buah Raka tadi, Jon dan Dita melihat satu sama lain lalu kompak buang muka.
"mari tuan..! ". ajak Boy yang sudah membawa koper-koper tuannya dibantu oleh rekannya yang lain.
Dita menatap sengit ke arah Jon hanya tampak tak peduli tatapan Dita itu.
.
.
"abang yakin sama keputusan abang? ". tanya Raya melihat banyaknya persenjataan mewah diatas ranjang kingsize mereka.
"kenapa sayang? aku tidak peduli lagi pekerjaan itu, aku akan kembangkan perusahaan New R Group saja". Raka menggenggam tangan Raya dan mengecupnya mesra.
Raya tersenyum lebar, "baiklah..! aku suka ide abang".
Raya tertegun saat Raka mencium pipi kiri dan kanannya, "issh.. kenapa sih bang? ". tanya Raya memukul pelan bahu Raka.
"lesung pipimu sayang? aku gemas melihatnya". jawab Raka menusuk-nusuk pipi Raya
"masa sih? ". cibir Raya namun dirinya kembali tersenyum manis bahkan matanya sampai menyipit memandang sang suami.
"luar biasa..! kamu cantik sekali sayang". puji Raka malah menyukai pemandangan indah itu.
"ihhhh". Raya memeluk Raka menutupi wajahnya di bahu Raka hingga siempunya tertawa gemas.
"aku tidak sabar membawamu berbulan madu sayang". bisik Raka.
Raya mengangguk malu-malu di bahu Raka.
.
.
kini Raka dan Raya saling pandang satu sama lain saat dapat kabar dari Perusahaan masing-masing sedang bermasalah.
__ADS_1
"sepertinya kita harus menunda waktu berbulan madu kita? ". ucap Raka dan Raya serentak.
Raya terkekeh sedangkan Raka malah tak bersemangat, ia tidak sabar membawa Raya berbulan madu dan memiliki Raga istrinya disana tapi masalah baru muncul membuatnya tidak punya pilihan lain harus berada di Perusahaan.
.
pagi-pagi
Raya dan Raka sudah bersiap dengan Pakaian formal masing-masing.
"sini bang..? ". pinta Raya kini duduk di atas sandaran sofa.
Raka mendekat dan Raya langsung memasangkan dasi suaminya, Raka menatap lembut Raya yang tampak serius namun tenang saat memasangkan dasi di lehernya.
"dasimu mana sayang? biar aku pasangkan? ". goda Raka membuat Raya memukul kedua bahu suaminya.
"aku ngga pake dasi bang". jawab nya santai sambil tersenyum turun dari duduknya.
Raka mengekori Raya seperti anak Ayam, Raya membenahi jas kerja Raka lalu membentangnya dan Raka langsung memasukkan tangannya sambil menatap wajah istrinya, Raya memasang kancing jas Raka.
"abang...? ". sapa Raya
cup..
"hah? ". cengo Raya membeku saat Raka mengecup bibirnya.
"abang..? ". protes Raya saat jemari Raka mulai mengusap bibirnya.
"kamu tidak pakai pemerah bibir sayang? ". tanya Raka menatap bibir Raya saja.
"abang kan udah tau, ngapain nanya coba? ". gerutu Raya
"hmmm? ". Raya terkejut saat bibirnya bertabrakan dengan benda kenyal.
Raya memejamkan matanya saat Raka memuja bibirnya, biarlah Raka melakukan kesenangannya selagi suaminya itu bahagia.
"tuan.. Nona..? ". tiba-tiba Bi Asih masuk dan terkejut seketika melihat pemandangan itu.
"maaf Nona.. Tuan.. saya akan menunggu diluar". ucap Bi Asih langsung keluar dari kamar tuannya.
"ada apa bi? ". tanya para Koki.
"bibir nona dan tuan bersatu". jawab bi Asih malu-malu.
kompak saja mereka saling pandang dan tertawa mesum satu sama lain.
sementara Raya yang membuka matanya ingin melepaskan diri dari Raka tapi suaminya itu tidak mau melepaskan pangutannya, alhasil Raya pasrah kembali memejamkan matanya.
.
.
.
__ADS_1